
Alex tersenyum ramah, lelaki itu sedang meeting secara online dengan kolega ayahnya.
“Jadi bagaimana konsepnya?”
“Begini.-” Klien tersebut menjelaskan bagaimana konsep yang di inginkan, sesekali mendiskusikannya dengan Alex. Tentu saja Alex mendengar dengan seksama, bahkan menulis sendiri poin-poin penting dari hasil meeting mereka.
Sampai apada saat bulpoinnya terjatuh diikuti melodi jantungnya yang begitu cepat. Pikirannya tiba-tiba fokus pada Efira. Firasat buruk menghampirinya namun, lelaki itu segera menampik segala pikiran buruknya.
Memangnya apa pedulinya? Efira sendiri yang memintanya pergi.
Alex kembali melanjutkan meeting-nya hingga tuntas.
Bingung.
Satu kata yang sanggup mengungkapkan perasaannya. Dia sedang meeting tapi, otaknya itu entah kemana.
Lelaki itu hanya memikirkan sahabat kecilnya, Efira. Tidak bisa dipungkiri bahwa kegundahannya ini menunjukkan bahwa sesuatu terjadi dengan sahabatnya.
Alex langsung membatalkan semua jadwal meeting-nya hari ini, tidak mempedulikan resiko apapun nantinya, lalu berlari ke luar ruangan dengan sangat kencang.
Entahlah, apa yang terjadi dengan lelaki itu.
Bianjaya Group adalah tujuannya kali ini.
Ya, Alex belum kembali, dia masih ada di dekat Efira. Namun, memang rasa kesalnya masih membekas. Lelaki itu bahkan sering melihat Efira bersama tuan Rian. Hal itu, membuat Alex kalap dan semakin tidak ingin menemui Efira, meskipun rindunya tidak bisa tertandingi.
“Efira di dalam?” Tanya Alex pada asisten tuan Rian. Nadanya terdengar sangat tergesa-gesa.
“Iya tuan”
“Sejak kapan?”
“Sejak pukul 10.00 tadi”
“Bodoh!” Alex langsung berlari ke arah pintu ruangan tuan Rian. Membuka pintu tersebut dan hasilnya?
Ceklek
Ceklek
Ceklek
“****, kenapa dikunci?”
“KATAKAN DIMANA KUNCI CADANGAN RUANGAN INI?”
Lelaki itu sudah kalut, menghampiri meja asisten tuan Rian (lagi) dengan penuh emosi. Bagaimana bisa wanita itu membiarkan atasannya bersama seorang gadis begitu lama dengan pintu dikunci?
“Saya tidak tau tuan”
“Ck, kenapa Rian mempekerjakan orang bodoh sepertimu?”
BRAK
BRAK
BRAK
Suara tabrakan antara tubuh Alex dengan pintu terdengar sangat nyaring. Lelaki itu mencoba mendobrak pintu ruangan tuan Rian.
Tidak hanya dengan kekuatan, lelaki itu juga meluapkan emosinya bersama dengan tubuhnya saat menggebrak paksa pintu itu.
Gotcha!
Terbuka.
Lelaki itu segera memasuki ruangan, pandangannya menyapu kesana dan kemari. Tapi, tidak menemukan adanya insan yang sedang dicari.
Lalu pandangannya jatuh kepada sebuah pintu di pojok ruangan, tanpa pikir panjang, Alex segera membuka paksa pintu tersebut.
BRAK
Tuan Rian mendengar suara orang lain di ruangannya. Menolehkan kepalanya perlahan, lalu kembali menatap Efira, “Lihat! Pahlawanmu datang untuk menolong”.
“Sayangnya, hari ini adalah hariku dengannya, Alex. Biarkan aku memilikinya” Lanjut tuan Rian.
“Kau sudah sering bersamanya jadi, bisa bukan kita bergantian merasakannya?” Lagi-lagi mulut kotor tuan Rian berucap.
“Jaga mulut kotormu itu, bedebah”
Bug
Bug
Bug
Tanpa ampun Alex menghujani tuan Rian dengan bogeman mentahnya. Perkelahian diantara dua lelaki jantan itu tidak bisa terelakkan. Mereka sudah sama-sama dipenuhi emosi. Tapi, Alex lebih emosi disini. Menghajar tuan Rian dengan sangat brutal.
“Hah, aku akan akan melaporkanmu ke polisi”
“Aku. Tidak. Peduli” Jawab Alex penuh penekanan lalu mengusap bibirnya yang berdarah. Lelaki itu menatap Efira dalam. Gadis itu tengah duduk di tengah kasur, memeluk tubuhnya dengan derai air mata. Gadis itu mencoba menutupi bagian tubuhnya yang terbuka.
Alex dibuat kalap oleh pemandangan itu, ingin rasanya lelaki itu menghajar tuan Rian lagi. Tapi, diurungkan niatnya, lebih memilih menolong Efira.
“Sialan sekali kau Rian” Lirik Alex tajam. Lelaki itu membuka jasnya, sisa meeting tadi untuk menutupi tubuh Efira. Lalu menggendong gadis itu keluar dari neraka.
“Akan segera aku kirimkan surat pembatalan kerjanya” Ucap Alex saat melewati bangkai klien Efira itu.
...***...
“Efira” Alex menepuk pelan pipi gadis itu.
Saat ini mereka sudah berada di kamar hotel milik Efira, sayangnya gadis itu tertidur sejak perjalanan tadi.
“Tidak mungkin dia tidur dengan pakaian seperti ini” Gumam Alex, melihat pakaian formal sahabatnya yang sudah koyak sana-sini, bergantian melihat piyama yang dia ambil dari lemari Efira.
Geram jika mengingat bagaimana tuan Rian memperlakukan Efira tadi.
Alex berdiri bingung, apa yang harus dilakukan sekarang? Batinnya.
Berfikir.
Satu.
Dua.
Tiga.
Tidak menemukan jawaban apapun.
Alex kembali menatap sahabatnya bimbang.
“Baiklah, ayo lakukan”
Alex mengambil napasnya berat, tidak lupa meneguk ludahnya kasar.
“Efira, maafkan aku. Semoga nanti kau tidak membunuhku”
Alex mematikan lampu utama ruangan, hanya tersisa lampu tidur remang-remang yang menjadi sumber pencahayaan. Lelaki itu membuka perlahan pakaian Efira dengan susah payah, menggantinya dengan piyama yang lebih nyaman.
Lima menit berlalu begitu lambat, Alex benar-benar gugup.
Ayolah Alex, kau sering memeluknya saat tidur, apa seperti ini saja kau tidak bisa? Pikir Alex memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Pasalnya, Alex tetap saja lelaki normal, meskipun tidak memandang tubuh Efira dengan rinci, tetap saja kulit gadis itu membuat Alex meremang.
“Huh” Alex menghembuskan nafasnya lega, saat piyama yang ia bawa tadi kini berganti menjadi pakaian kotor Efira. Lelaki itu langsung membuangnya ke tempat sampah. Tidak sudi Efira kembali mengenakan pakaian yang disentuh tuan Rian.