
Wira Side Story
Namaku Wira, orang yang membalas cinta yang tulus dengan pengkhianatan. Terlahir sebagai anak seorang ksatria di kerajaan membuat kehidupanku menjadi begitu bahagia. Apapun yang kuinginkan, selalu dikabulkan oleh kedua orang tuaku yang begitu menyayangiku terlebih lagi karena aku adalah anak satu-satunya yang mereka miliki. Masyarakat begitu menyegani keluarga kami layaknya bangsawan.
Ayahku selalu melatih kemampuan tandingku, baik itu pertarungan tangan kosong ataupun dengan menggunakan pedang, sedangakan ibuku melatih kemampuanku menggunakan panah dan cara membuat perangkap untuk musuh. Kehidupanku benar-benar sempurna bagi seorang keturunan ksatria, terlebih aku adalah jenius muda yang bisa menangkap semua ilmu bela diri yang diajarkan kepadaku dengan sangat cepat. Orang - orang di sekitar istana bahkan memanggilku "si jenius muda".
"Kamu adalah masa depan keluarga ini, kami sangat bergantung padamu, nak," itu adalah kalimat yang selalu diucapkan kedua orang tuanya sebagai motivasiku untuk selalu menjadi yang terkuat. Kata-kata itu selalu berhasil membuatku untuk terus berlatih dan berlatih untuk menjadi lebih kuat dan aku bahagia terlahir sebagai anak seorang ksatria.
Namun, tak selamanya kehidupanku berjalan lurus dalam roda kebagiaan. Tak ada kebahagiaan yang abadi. Semua bermula sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu, Shia. Aku begitu menyayanginya dengan segenap cinta yang kupunya. Sekalipun akhirnya cinta itu seakan berakhir menjadi sebuah pengkhianatan. Ya, aku mengkhianati cintanya yang tulus kepadaku hanya demi kedudukan dan kepercayaan masyarakat. Aku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi; kesalahpahaman itu dan semuanya tentang Shia, tapi aku hanya diam saja.
Setiap kenangan yang telah berlalu di antara kita, tak ada satupun yang pernah kulupakan. Kamu adalah gadis baik hati yang menolongku saat tersesat ketika aku sedang mencari hewan buruanku, selalu bermain denganku di danau, dan gadis yang ingin kunikahi suatu saat nanti. Ya, seperti itulah kamu yang selalu terlukis diingatanku.
Aku ingin meminta maaf atas segala kesalahan yang telah kulakukan kepadamu. Seharusnya aku tak mengikuti rencana kedua orang tuaku untuk menyingkirkanmu. Seharusnya aku mencari cara lain untuk membuatmu kembali dan tetap bersamaku. Seharusnya kuyakinkan diriku saat itu jika pasti ada cara lain yang dapat dilakukan tanpa melukaimu. Seharusnya saat itu kita bisa hidup bersama dan melangsungkan pernikahan. Aku yang telah berjanji untuk menikahimu suatu hari nanti, namun aku juga yang malah membuatmu terbunuh. Kamu benar, sekalipun aku adalah seorang ksatria, nyatanya aku adalah orang yang lebih jahat daripada seorang penyihir. Kalimat itu memang tepat menggambarkan diriku.
Shia, berapa banyak dosa yang harus aku tanggung? Berapa banyak penyesalan yang harus kukumpulkan di sisa hidupku ini? Jika aku tak bisa menebus semua kesalahanku padamu, bagaimana mungkin aku bisa menjalani sisa kehidupanku? Hidupku menjadi abadi dengan mencuri cintamu, namun hidupmu berakhir dengan jatuh cinta padaku. Ini sama sekali bukan anugerah atau hadiah setelah membunuhmu, ini adalah kutukan abadi yang harus kujalani untuk menyesali semua kesalahan yang telah kulakukan padamu. Seandainyapun aku abadi, aku ingin hidup abadi bersamamu.
Aku sudah melalui banyak kehidupan tanpa dapat mati ataupun sirna. Ya, aku memang telah dikutuk. Aku berjalan menelusuri sang waktu, mencari cara untuk dapat mengakhiri hidupku atau menebus kesalahanku padamu. Memikirkanmu, hanya itu yang terus saja kulakukan untuk menunjukan rasa penyesalanku yang dalam.
Aku telah melalui banyak dekade yang terus berganti. Menyaksikan kelahiran dan kematian dari orang yang sama; mereka terlahir, tumbuh, menua, dan mati. Selalu seperti itu.
Suatu ketika, aku mendengar cerita masyarakat bahwa ada seorang pertapa hebat yang tinggal di tengah hutan kematian. Mereka bilang, pertapa itu mungkin bisa membantuku menemukan jalan keluar dari masalahku. Mereka menganggapku sebagai pahlawan yang menyelamatkan Kerajaan, namun bagiku, tak lebih hanyalah cemoohan sebagai seorang pembunuh sang penyihir dengan cara mengkhianati cintanya.
Aku berusaha menembus rintangan yang menghalangi jalanku, aku tak pernah mati, itu yang membuatku berhasil menemukan sang pertapa sekalipun dengan berbagai rintangan yang seharusnya sudah membunuhku berkali-kali. Entah siapa yang memasang semua rintangan itu? Apakah pertapa itu?
Ketika pertama kali bertemu dengannya, ia menyambut kedatanganku dengan tepuk tangan dan memberikan senyuman yang hangat, seakan tidak terkejut dengan keberhasilanku dan sudah meramalkannya. Mungkin ia berpikir jika aku adalah orang yang sangat hebat karena berhasil menemukannya di dalam hutan kematian, padahal seharusnya aku sudah mati berkali-kali di dalam perjalanan itu.
Pertapa itu tidak terlihat tua, jauh sekali dari gambaran yang kubayangkan selama menuju ke tempat ini. Ia terlihat benar-benar muda, kira-kira seumuran denganku dan Shia, 25 tahun. Rambutnya hitam lebat, kulitnya tidak terlihat keriput, dan pakaian yang ia kenakan tidak tampak compang camping. Mungkin karena ia adalah seorang pertapa, jadi ia dapat mempertahankan diri dari pengaruh usia. Siapa sebenarnya pertapa ini?
Segera setelahnya, aku menceritakan apa yang telah aku alami dan memohon bantuan padanya. Pertapa itu sejenak terdiam dan memikirkan sesuatu. Iapun tersenyum sebelum akhirnya memberikan jawaban.
“Ada satu cara untuk membuatmu dapat menebus kesalahanmu pada gadis itu atau mengakhiri kutukan abadimu,"
"Bagaimana caranya? Apa yang harus aku lakukan?" Tanyaku penasaran.
Tenanglah, kamu terlalu bersemangat. Ini akan sedikit sulit, tapi inilah satu-satunya cara. Kita bisa saja menghidupkan kembali Shia dengan mengembalikan jantungnya yang telah kamu ambil. Tapi itu terlalu beresiko dan malah akan semakin membangkitkan jiwa iblis dalam tubuhnya, dan tentu saja cara itu akan langsung membunuhmu. Jadi aku memikirkan cara lain, gadis itu akan terlahir kembali di masa depan. Ia akan terlahir menjadi seorang gadis baik hati dan bukan sebagai seorang penyihir lagi. Namun, karena jantungnya sudah diambil dari masa lalu, ia tidak akan memiliki rasa untuk mencintai seseorang. Ia bisa saja jatuh hati namun sangat susah dilakukan. Jika kamu bisa membuatnya mencintaimu di masa depan, maka Shia yang ada di masa depan akan kembali mendapatkan jantungnya dan akan berubah menjadi Shia kecil seperti yang pernah kamu kenal dulu. Dan kutukan keabadianmu akan terlepas saat ia mengatakan bahwa ia mencintaimu dengan tulus. Kamu dapat memberitahunya jika kamu berasal dari masa lalu. Tapi tidak semua orang akan mudah percaya dengan ucapan tidak masuk akal seperti itu,"
Pertapa itu juga memberitahuku jika ia bisa membawaku ke masa depan untuk bertemu dengan Shia yang telah terlahir kembali. Aku merasa bahagia karena setidaknya ada peluang yang bisa kuambil.
"Aku siap melakukan apapun untuk menyelamatkan Shia,"
"Baguslah, itu adalah jawaban yang aku harapkan,"
Saat pertapa itu pertama kali membawaku ke masa depan, aku bertemu dengan Shia yang telah terlahir kembali sebagai Ratih. Pertama kali bertemu dengannya, membuatku sangat terkejut karena apapun yang ia miliki, benar-benar sama dengan Shia; suaranya yang merdu, parasnya yang cantik, dan kebaikan hatinya.
Aku ingat Ratih pernah mengatakan suatu hal kepadaku, "Apapun yang telah kamu lakukan padaku di masa lalu, itu tidak ada hubungannya lagi dengan kehidupanku saat ini. Aku hanya ingin menjalani kehidupanku dan kamu dapat pergi. Aku tidak ingin orang asing mengusik kehidupanku,"
Aku selalu memikirkan ucapannya. Entah sebenarnya aku atau Shia yang butuh pertolongan itu. Bukankah aku juga berharap kutukan keabadianku dapat berakhir?
"Pertapa, aku ingin bertanya," ujarku suatu ketika.
"Ada apa?" tanya pertapa itu.
"Apakah aku adalah orang yang lebih membutuhkan pertolongan dengan melalukan perjalanan waktu ini dibandingkan Shia?"
"Iya, kamu juga menyadari itu, " jawab pertapa itu dengan singkat.
"Tapi jika Shia tidak mendapatkan kembali jantungnya di perputaran kehidupannya yang ke-9, ia akan benar-benar menjadi manusia yang tidak memiliki perasaan dan saat itu, kekuatan kegelapannya yang tertidur, akan terbangun kembali,"
"Bagaimana mungkin?" tanyaku panik.
"Itu karena siklus kekuatannya akan dimulai lagi dan kembali ke titik awal. Orang tua Shia memang mewariskan kekuatan yang menakutkan padanya. Kamu tidak bisa meragukan kekuatan kegelapan kedua orang tua Shia. Wajar saja jika saat itu pihak istana ingin menyingkirkan mereka. Aku saja sebenarnya ragu jika kedua orang tua Shia dikalahkan saat itu. Maka dari itu, kamu harus menyelamatkannya dan dia juga dapat menyelamatkanmu. Bukankah ini adalah bentuk hubungan yang saling menguntungkan?" tanya pertapa itu.
"Tapi, bagaimana mungkin pertapa bisa mengetahui apa yang telah dilakukan orang tua Shia 300 tahun yang lalu? Apakah pertapa ada disana saat itu? Bukankah berarti saat ini pertapa sudah berumur ratusan tahun?"
"Apapun jawabannya, itu tidaklah penting bagimu saat ini. Yang terpenting bagimu adalah kamu harus menyelamatkan Shia saat ini. Kamu mengerti?"
Aku hanya mengangguk perlahan sebagai pertanda iya dan bersiap kembali menemui Ratih. Sayangnya, aku terlambat kembali. Ratih telah terbunuh karena peperangan.
Aku bersedih namun tetap tidak berputus asa. Sangat menyakitkan bagiku untuk melihat kematian gadis yang kucintai lagi bahkan disaat tidak ada yang bisa kulakukan untuknya. Aku meminta pertapa itu untuk mengulang waktu agar aku bisa menyelamatkan Ratih, namun ia tak dapat menyanggupinya dan memberi saran agar aku bertemu dengan Shia yang terlahir di kehidupan selanjutnya lagi. Akupun menyetujuinya.
Aku datang lagi ke masa depan dimana Shia dilahirkan sebagai seorang gadis yang bernama Rara. Aku berusaha mendekatinya di awal pertama kali bertemu, namun ia selalu menganggapku sebagai seorang penjahat. Ia selalu menghindariku dan menolakku. Aku tahu Rara sangat membenciku, namun aku tidak tahu alasan mengapa ia sangat membenciku.
Rara meninggal beberapa tahun setelahnya dalam kesendirian yang dingin. Bencana kelaparan saat itu benar-benar menghabiskan sebagaian populasi penduduk yang bukan berasal dari golongan atas termasuk Rara.
Lagi-lagi, tidak ada yang dapat kulakukan, bahkan aku tidak dapat menyelamatkan hidupnya kala itu. Saat kembali ke masa itu, hanya tubuh Rara yang sudah membiru yang kujumpai saja.
Aku tidak dapat selalu berada di dekatnya. Pertapa itu tidak dapat mengirimku ke masa depan sesering dan selama yang aku inginkan. Ada batasan untuk itu semua dan hal itu benar - benar membuatku tak bisa berbuat banyak. Butuh banyak energi untuk mengirimku masuk ke masa depan.
Aku benar-benar tidak sanggup lagi harus melalui ini semua; berkali-kali melihat kematian seseorang yang sangat dicintai benar-benar menghancurkan hati dan perasaanku. Rasanya ingin menyerah saja, namun harus tetap kulakukan untuk menebus semua kesalahan yang pernah kulakukan pada Shia di masa lalu.
Entah sudah berapa kali aku mengarungi waktu hingga akhirnya bertemu dengan Shia yang terlahir sebagai Shanvierra. Mungkin ini yang ke-7. Shanvierra sangat berbeda dengan Shia yang sebelumnya kukenali. Apakah itu karena pengaruh zaman atau memang ia yang memutuskan untuk terlahir berbeda. Setidaknya ia tidak sedingin Shia yang pernah kutemui sebelumnya dan yang terpenting, ia membenciku.
Pertama kali mengusiknya, mungkin ia tidak menyadarinya. Aku mengiriminya sebuah pesan di facebook, ia membalasnya dan hal itu membuatku senang. Namun entah mengapa ia tak lagi mengirimiku pesan, apa caraku mengungkapkan rasa rindu dan bahagiaku salah? Kuperhatikan setiap album foto-fotonya di halaman facebook-nya. Ia terlihat bersinar bersama teman-teman dan kehidupannya, bukankah saat ini ia terlahir dengan kebahagiaan dan kehangatan orang-orang yang ada di sekelilingnya? Sejenak, kurasakan sedikit kelegaan di dalam diriku menyadari kehidupannya yang jauh lebih baik. Mungkinkah Shanvierra telah memiliki jantungnya?
Aku mengikutinya pergi ke toko buku. Ia tampak begitu manis saat mengenakan baju berwarna merah. Warna merah selalu cocok dengan dirinya; warna merah selalu terlihat kontras dengan kulitnya yang seputih salju. Aku melihat ke masa depan sekilas dan mengetahui bahwa ia akan mengambil salah satu komik di toko buku itu. Akupun berusaha mengambil buku itu terlebih dahulu untuk menarik perhatiannya. Kami sempat berbicara sebentar namun lagi-lagi ia menjauhiku. Apakah caraku benar-benar salah saat berbicara dengannya? Awalnya aku bingung harus bersikap bagaimana menghadapi gadis yang sangat kucintai di zaman yang berbeda ini. Apakah aku harus langsung menyatakan cintaku dan mengajaknya menikah?
Ia pergi dan aku terus mengikutinya. Ia memesan beberapa makanan dan duduk di sudut ruangan sambil memandang keluar jendela kaca. Wajahnya yang saat itu terkena kilauan cahaya terlihat begitu anggun bagaikan bidadari.
Saat pelayan akan mengantarkan pesanan, aku meminta supaya aku yang mengantarkannya pada gadis itu. Awalnya pelayan itu menolak, tapi setelah kuberikan beberapa “pelancar” akhirnya ia mengizinkanku.
Aku membawakan pesanannya dan ia melihatku dengan terkejut. Saat itu wajahnya terlihat lucu. Aku memandang ke arah pelayan itu dan ia memperhatikan apakah aku benar-benar mengantarkan pesanan itu. Aku tersenyum dan pelayan itu tak lagi memandangku.
Kami banyak berbicara saat itu. Shanvierra benar-benar berbeda. Aku menyukainya. Tapi aku selalu meyakini, Shia adalah Shanvierra dan mereka tetap sama. Jadi sekalipun aku benar-benar jatuh cinta pada Shanvierra, maka ia tetaplah Shia di mataku dan selalu menjadi Shia, bukan orang yang berbeda. Aku tak ingin mengkhianati perasaan yang kupunya pada Shia lagi. Aku selalu meyakini, bahwa ini semua adalah hal terbaik yang bisa kulakukan untuk Shia yang selalu ada di hatiku.
Pertapa memberitahuku bahwa waktuku tak banyak dan aku harus segera kembali, sehingga dengan berat hati, aku meninggalkan Shanvierra. Aku ingin lebih banyak berbicara dengannya. Tapi apa daya keadaan memaksaku untuk sejenak meninggalkannya.
Tunggulah aku, aku akan datang menemuimu lagi. Kali ini aku yakin, kita bisa memperbaiki semuanya kembali. Apa yang telah terjadi di masa lalu, aku harap itu segera terselesaikan.
Kekuatan sang pertapa mulai melemah karena terlalu sering mengirimku ke dimensi yang berbeda. Penggunaan kemampuan itu benar-benar memiliki dampak yang besar. Pertapa terus bertambah tua setiap bulannya. Aku pernah memintanya untuk berhenti membantuku, namun ia benar-benar berniat untuk membantuku menyelesaikan masalahku sampai akhir. Ia pernah mengatakan, jika bukan dia, siapa lagi yang akan membantuku menyelesaikan masalah ini.
Aku melakukan perjalanan waktu menuju masa dimana keberadaan Shanvierra nyata untuk kedua kalinya. Namun aku merasa ada yang salah ketika sang pertapa mengirimku. Tapi setelah sejenak berada di hadapan Shanvierra, aku merasa tidak ada yang salah.
Aku menyamar sebagai salah seorang karyawan di tempat karaoke. Kami bertemu secara tidak sengaja bagi Shanvierra dan tentunya sangat sengaja bagiku. Ia begitu senang melihat kedatanganku. Aku pikir ini akan berhasil dan ia akan benar-benar jatuh hati padaku.
Ia mengajakku untuk bertemu malam itu, padahal sebelumnya aku sudah merangkai kata yang tepat untuk mengajaknya bertemu terlebih dahulu. Tentu saja aku menerima ajakannya dengan senang hati. Aku benar-benar berharap malam ini akan menjadi malam yang indah; saat yang tepat bagiku untuk menebus kesalahanku pada Shia sekaligus mengakhiri kutukan abadiku. Jika malam ini Shanvierra jatuh hati padaku dan mengatakannya, aku ingin melanjutkan sisa hidupku di zaman yang sama dengannya. Aku ingin memulai segalanya dari awal lagi tanpa memandang ke belakang lagi. Mungkin aku akan melupakan Shia yang dulu dan berusaha sebaik mungkin pada Shia yang telah terlahir sebagai Shanvierra.
Malam itu, aku datang ke danau angsa, tempat yang sudah dijanjikan untuk bertemu. Aku datang sebelum waktu yang ditentukan. Aku duduk di tepi danau sambil mengingat kenanganku bersama Shia di danau dulu. Mungkinkah ini danau yang sama dengan danau yang biasa kukunjungi bersama Shia? Aku memandangi sekeliling danau itu, walaupun sedikit terlihat berbeda, tapi aku yakin ini adalah danau yang sama yang dulu pernah kuhabiskan waktuku bersama Shia.
Dari kejauhan, aku melihat kedatangan Shanvierra. Ia mengenakan gaun putih dan tampak sangat cantik. Mungkin gaun putih lebih terlihat cantik padanya daripada gaun merah atau semuanya memang sudah berubah semenjak terlahirnya Shanvierra sehingga membuat segala tentang Shia terlihat berbeda sekarang. Rambutnya yang hitam dan panjang tergerai panjang membuat penampilannya benar-benar sempurna, ia terlihat begitu indah.
"Shanvierra, aku disini,"
Perlahan, kupanggil namanya saat ia masih berada di kejauhan. Tapi ia tak mendengarku, kupikir karena jarak kami terlalu jauh sehingga ia tak dapat mendengar suaraku. Aku memanggil namanya lagi namun ia tetap tak memperdulikanku.
"Shanvierra..."
Ia berjalan ke arahku namun seolah tak menyadari keberadaanku. Aku jelas menyadarinya, ada sesuatu yang salah dengan perjalanan waktuku.
Aku masih mencoba memanggil namanya sebelum akhirnya mencoba meraih tangannya. Namun aku terkejut, keberadaanku tidak nyata di dunia ini. Aku terus memanggil namanya namun ia tak juga menyadari keberadaanku. Aku terus menemaninya disana hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang.
Aku mendengarnya memanggilku, melihatnya menangis dan itu benar-benar membuatku sedih dan terlebih karena semua itu adalah karena kesalahanku. Aku tidak pernah mengingkari janjiku, aku datang ke tempat yang telah kami janjikan walaupun ia tidak mengetahuinya. Apa yang salah? Kenapa ia tidak dapat melihatku?
"Shanvierra, aku di sini, tepat di sebelahmu. Tolong, lihatlah aku!"
Aku mencoba kembali ke masa lalu namun tak kunjung berhasil. Keberadaanku menjadi seperti ilusi di dunia ini, tak bisa kembali ke masa laluku ataupun pergi ke duniamu. Seperti terpenjara dalam dimensi yang berbeda, baik itu dengan masa lalu, maupun masa depan dimana kamu berada. Aku terus berada di dekat Shanvierra, mengikutinya bagaikan hantu. Aku tahu ia merasakan keberadaanku, tapi ia tak bisa melihatku. Aku mengikutinya ketika ia pergi bersama Geri, atau saat ia bertemu Rival.
Aku bersedih ketika melihat ia terjatuh di danau. Geri tidak menemaninya sepanjang perjalanan pulang, aku yang menemani. Ia benar - benar menangis sepanjang jalan. Malam itu, aku mengingatnya; ia terus memanggil namaku. Sayangnya, aku tak bisa muncul di hadapannya. Aku ingin sekali memelukmu saat itu.
Ketika Rival mencium keningnya saat tidak sadarkan diri juga membuatku sangat kesal. Saat itu aku benar-benar cemburu dan ingin memukul wajah Rival. Namun sekeras apapun usaha yang kulakukan, aku tak bisa meraih Rival ataupun mencoba membangunkan Shanvierra. Aku merasa ada yang salah dengan Rival, aku tahu dia mengetahui sesuatu tentang Shia. Tapi aku tak benar-benar yakin. Apakah ia ada hubungannya denganku atau bukan. Tapi aku yakin ia bukanlah aku yang ada di masa depan. Mungkin ia hanyalah peramal yang memiliki kemampuan melihat di masa lalu.
"Bukankah kamu menyadari keberadaanku, Rival?"
Ketika Shanvierra bertengkar dengan Rival, itu membuatku sangat sangat bersedih dan ingin marah. Ia menangis seorang diri di kamarnya. Aku memandanginya seperti orang bodoh yang tak berperasaan dari sudut kamar tanpa bisa berkata apapun. Seandainya aku dapat memelukmu, aku pasti akan datang menghiburmu.
"Shanvierra, jangan menangis, aku selalu berada di sampingmu, tolong, hentikan air matamu,"
Sampai saat dimana Shanvierra melihat Shia yang muncul di cermin untuk pertama kali, hal itu membuatku sangat khawatir. Tentu ada hal buruk yang akan terjadi dan ada alasan mengapa aku bisa sampai terseret ke dimensi yang berbeda dengan Shanvierra. Shia dan Shanvierra tidak boleh berada di masa yang sama. Itu hanya akan menyakiti salah satu di antara mereka, dan mereka yang terlemahlah yang akan "terhapus". Namun aku menyadari, sosok yang ada di kaca itu bukan Shia. Aku mencoba memberitahu Shanvierra agar ia tidak kembali ke masa lalu dan pergi dari sana, tapi ia tak juga mendengarkan. Ia akhirnya pergi ke masa lalu dan melahirkan kenangan baru bagiku.
Aku terkejut melihat keberadaan Shanvierra di masaku. Aku senang, tapi aku sangat mengkhawatirkan keselamatannya. Ia tidak dapat bertahan lama di zaman ini, dan terlebih lagi ia benar-benar dalam bahaya jika ada penyihir lain yang mengambil jantungnya untuk menghidupkan Shia kembali dengan alasan tertentu. Jika dihidupkan kembali pada masa ini, Shia tentu saja akan membalaskan dendamnya dan bertindak lebih kejam dari sebelumnya. Aku tak ingin dia dikenal sebagai penyihir jahat lagi. Aku harus mencegah Shanvierra mengatakan cinta padaku, tapi aku terlambat, ia sudah mengatakannya. Jika ia mengatakannya, jantungnya akan benar-benar dapat digunakan untuk menghidupkan Shia dan sekaligus menghapuskan keabadianku. Itu berarti, tidak ada hal yang dapat kulakukan lagi. Shia yang dihidupkan kembali, akan menjadi sangat jahat dan abadi. Kekuatan kebencian yang semakin besar akan memperparah keadaan. Mungkin aku tak akan mampu mengalahkannya kali ini. Yah, sejak awal aku memang tidak pernah mengalahkannya dengan kekuatanku, aku hanya menipunya.
Aku ingin meraih tangan Shanvierra, namun hembusan angin yang kencang memisahkan kami. Aku mencoba mencarinya namun saat kudapati dirinya, hanya Shia yang terlihat olehku. Zaman telah berubah dan keberadaan Shanvierra benar-benar telah terhapus. Aku tak dapat mengingat gadis yang bernama Shanvierra. Siapa Shanvierra yang sedari tadi sempat terpikirkan olehku?