
Seorang gadis tengah mengelilingi taman kota sekarang, pasalnya gadis itu sudah menghilang dari kediamannya sejak siang tadi. Setelah melakukan meeting dengan tukang yang akan mengurus proyek pembangunan butiknya, gadis itu langsung keluar kantor pergi entah kemana dan berlabuh di taman pada malam hari.
“Aku harus mendapatkan sesuatu yang spesial untuknya”
Begitulah gumamannya saat bangun tidur tapi, apa?
Alih-alih mendapatkan hal yang dia inginkan, gadis itu malah berakhir dengan tampang lesunya.
Ya, dia adalah Efira. Yang dilakukan hanya menendang batu tidak bersalah di hadapannya. Sesekali melihat buku catatannya.
Sudah tercentang semua namun, tidak ada yang bisa dia temukan untuk bertukar kado bersama Alex di hari lusa.
Kalian tau apa yang ada di catatannya?
Biar kuberi tau,itu adalah daftar toko yang ia kunjungi dengan tujuan mencari kado untuk Alex.
“Hah, melelahkan” Gumam Efira pelan, gadis itu mendaratkan bokongnya di bangku taman. Menikmati hiruk pikuknya taman, mengingat ini adalah malam Minggu.
Banyak sekali pasangan muda berkeliaran di sana. Bahkan tak jarang segerumbul keluarga kecil berlalu lalang di hadapan gadis itu. Itu menenangkan. Sungguh.
Cause I-I-I’m in the stars tonight
So watch me bring the fire and set the night alight (hey)
Shining through the city with a little funk and soul
Suara dering ponselnya membuyarkan lamunan. Tertera nama Alex disana.
‘Halo’
…
Gadis itu menghela napasnya sedikit kasar setelah panggilan mereka berakhir. Bukan tidak senang karena mereka akan bertemu. Itu hanya, sepertinya gadis itu kedinginan. Terlihat dari caranya memeluk tubuhnya sendiri.
Sembari menunggu Alex, gadis itu kembali tenggelam dalam pikirannya. Lebih tepatnya pada segerombol keluarga kecil di depannya.
Sekelompok keluarga yang bahagia. Wanita dan lelaki yang sepertinya seumuran dengannya sedang bercanda ria menemani buah hati mereka bermain kembang api. Mungkin usianya baru 2 tahun. Gadis kecil yang sangat manis, dua pita berwarna merah muda bertengger manja di kepalanya yang diikat dua juga, beserta sweater dan celana hangat berwarna rose senada dengan sepatunya. Ah lucu sekali.
Efira jadi teringat dengan masa kecil membahagiakan bersama keluarga sederhananya.
Efira kecil berlarian kesana kemari mengejar sang ayah di halaman belakang rumah. Sedangkan sang bunda sibuk membuat camilan di dapur. Setelah selesai, bundanya akan segera berteriak seperti, “Efira, ayah. Ayo ini dicicipi dulu. Bunda baru saja membuatnya. Mumpung masih hangat”
Itu benar-benar menyenangkan dan juga merindukan. Tatapan Efira berubah menjadi sendu. Merindukan moment masa kecilnya adalah hal yang wajar bukan?
“Mau membuatnya?” Bisik seseorang. Efira sukses dibuat kaget dengan suara seduktif di telinga kirinya. Gadis itu langsung menolehkan kepalanya. Melihat seonggok Alex sedang duduk menatapnya tanpa dosa.
Alex tertawa puas melihat ekspresi Efira.
“Apa maksudmu?” Tanya gadis itu.
“Kau terus memperhatikan gadis kecil itu. Mau membuat yang lebih lucu? Bersamaku?” Ucap Alex vulgar.
Pletak
Kepala Alex mendapatkan hadiah atas ucapannya. Satu jitakan rasanya belum cukup menyalurkan kekesalan Efira.
“Bahasamu sangat liar” Bisik Efira, lalu merebut bungkusan plastik di pangkuan sahabatnya. Itu berisi makanan yang dipesan tentunya.
“Kau membawakan apa?” Tanya Efira, membuka plastik tersebut.
“Salad van Java langganan kita waktu SMA” Jawab Alex.
“Wow. Gado-gado? Apa ibunya masih tetap sama?”
“Masih. Ibu itu bahkan masih ingat denganku”
“Lalu, apa yang beliau katakan?” Efira memberikan satu buah foam bagian Alex, tidak lupa air putihnya.
“Begini,…”
Flashback On
“Selamat malam bu” Sapa Alex. Saat itu warung sedang terlihat senggang, tidak ramai seperti dulu, mungkin karena anak muda sekarang lebih suka berkumpul di Café atau restoran.
“Iya, mau pesan apa?” Tanya ibu itu.
“Gado-gado seperti pesanan Alex dan Efira” Jawab Alex.
“Ibu masih ingat?” Lanjut Alex saat melihat raut wajah sang ibu yang tiba-tiba melihatnya secara lamat-lamat.
“K-kau Alex?” Ibu itu sedikit tidak percaya rupanya, ucapannya seperti ragu.
“Ibu masih mengingatku ternyata” Alex terkekeh di akhir kalimatnya.
“Bagaimana aku bisa lupa? Siswa SMA ternama, mampir hanya untuk beli gado-gado murah ini. Anak-anak manis itu selalu membekas diingatan ibu” Ibu itu menjelaskan kesannya saat bertemu Alex dan Efira.
Ibu warung itu membuat pesanan Alex sambil terus bercakap.
“Setelah lulus, kalian kemana? Ibu tidak pernah lagi melihat kalian setelah lulus”
Rupanya ibu itu tidak tau jika Alex dan Efira tinggal jauh dari tanah kelahiran setelah lulus SMA.
“Melanjutkan pendidikan kami jauh dari sini, bu. Ibu apa kabar, terlihat semakin kurus dari terakhir kita bertemu”
“Saat itu ibu masih muda, ini sudah lima tahun terlewat, tentu saja sudah banyak hal yang menurun termasuk kesehatan ibu”
“Ngomong-ngomong, kalian sudah bekerja?” Lanjut ibu itu.
“Ya, kami sudah bekerja” Jawab Alex singkat, tanpa mau membuka identitasnya.
“Kalian pasti menjadi orang sukses” Ibu itu tersenyum sambil memberikan bungkusan makanan kepada Alex.
“Apa harganya sudah berubah?” Tanya Alex, mengambil dompetnya.
“Tidak usah, anggap saja itu salam pertemuan kita kembali setelah beberapa tahun”
Ibu itu sangat baik bukan tapi, Alex tidak kalah baik. Lelaki itu menjawab dengan kekehan manly, “Ibu masih mengurus anak bukan? Terimalah ini, anggap saja untuk jajan anak ibu” Ucap Alex lalu tersenyum ramah.
“Lain kali aku akan membawa sahabatku itu kemari, dia pasti senang. Aku permisi dulu bu” Pamit Alex.
“Terimakasih, nak. Hati-hati di jalan, semoga kau dan dia diberikan kisah yang indah hingga tua” Balas sang ibu
Flashback Off
“Kalian bahkan sudah berbicara banyak ya?” Ucap Efira setelah mendengar cerita sahabatnya.
“Begitulah” Jawab Alex.
Mereka menikmati gado-gado itu dengan baik. Tidak ada yang berubah rasanya.
“Ayo kesana lain kali” Ucap Alex.
“Baiklah” Jawab Efira.
Di malam itu, Alex dan Efira menghabiskan waktu bersama di taman kota dengan perasaan bahagia.