You

You
Pusing part 2



“Bagaimana? Apa yang kau pilih?”


Sebenarnya kenapa harus aku yang memilih? Pikir Devan. Dia bingung dengan sederet menu makanan dan dessert yang ada di hadapannya.


Pikirannya melayang, sebenarnya yang memiliki acara ini siapa? Kenapa harus dirinya yang merasakan pusingnya?


Tidak apa-apa, latihan menjadi calon suami yang baik. Pikir Devan positif.


Padahal di dalam hatinya sudah mengumpat sejadi-jadinya.


Namun, ditengah kepusingannya, otak cerdasnya itu menemukan sebuah nama.


“Mira!” Gumam Devan sebelum akhirnya mengambil ponsel dan menghubungi sekretaris kekasih atasannya itu.


Ini masih pukul 07.00, kemungkinan Mira masih belum masuk jam kerjanya.


“Halo”


Terdengar suara Mira dari seberang sana, Devan tersenyum kecil mendengar suara halus itu.


“Bisa bantu aku?” Ucap Devan to the point.


“Apa?”


“Nanti saja ceritanya, hari ini kau harus cuti seharian dan bantu aku. Aku sangat kesusahan gara-gara bos yang mengutusmu itu” Ucap Devan.


“Penjelasanmu tidak berguna”Jawab Mira sarkatis.


Devan langsung mematikan sambungan teleponnya secara tiba-tiba tanpa sepatah kata pun keluar lagi dari mulutnya.


“Tunggu sebentar” Ucap Devan pada temannya, sang pemilik restoran. Lelaki itu langsung melajukan mobilnya entah kemana.


...***...


“Dasar lelaki tidak jelas” Gumam Mira setelah mendapati sambungan teleponnya dengan Devan ditutup begitu saja.


Ada rasa penasaran sebenarnya di dalam benaknya. Apa yang sedang direncanakan oleh tuan Alex? Kira-kira seperti itu isi pikirannnya.


Saat ini masih belum memasuki jam kerjanya, setelah memberikan paket untuk Efira tadi, Mira membereskan mejanya, seperti beberapa berkas dan melihat ulang jadwal atasannya hari ini. sampai Devan menelfonnya, membuatnya harus menghentikan segala aktivitasnya dan berakhir dengan Devan yang memutuskan sambungan mereka.


“Mira, apa aku ada jadwal keluar kantor hari ini?” Tanya Efira, mengagetkan ssegala lamunan sekretarisnya.


“Tidak ada nona, anda hanya ada meeting sebentar, selebihnya anda berada di dalam ruangan anda sendiri” Jelas Mira.


Efira mengangguk paham, “Terimakasih” Ucapnya.


“Anda mau kemana? Ada yang bisa saya bantu?”


“Tidak, aku akan membuat minumanku sendiri” Ucap Efira lalu pergi ke pantry?


Mira menghidupkan komputer kerjanya, sambil menunggu dia bermain ponselnya sebentar sampai dia dikejutkan dengan, “Sekarang ikut aku, tidak ada penolakan”


Itu adalah Devan, seseorang yang tadi menelfonnya saat ini malah berada di depan matanya secara nyata.


Tanpa aba-aba lelaki itu langsung menarik Mira tanpa ampun, dia sedang butuh gadis itu segera.


Di tengah perjalanan, mereka tidak sengaja berpapasan dengan Efira. Mira yang ingin meminta bantuan langsung tidak bisa berkata apapun karena Devan mendahuluinya.


...***...


“Pilih” Devan memberikan isyarat kepada Mira agar segera memilih menu.


“Sebenarnya ini untuk acara apa?” Tanya Mira kesal. Sudah dibawa seenaknya, disuruh-suruh seenaknya juga.


“Ulang tahun nyonya besar Harrison. Tuan Alex ingin ini semua selesai tepat pukul 17.00 nanti, Javonte’s Group juga diundang jadi, cepat pilih saja. Kita tidak punya banyak waktu” Jelas Devan.


“Baiklah” Jawab Mira, gadis itu sudah memasang wajah yang siap menerkam siapapun saat ini.


“Apa dia kekasihmu?” Tanya teman Devan, tentu saja pada Devan.


“Siapa yang mau dengan wanita seperti dia?” Gumam Devan pelan.


Sayangnya, Mira mendengar hal itu. Gadis itu langsung menolehkan kepalanya, menatap Devan tajam “Semoga kelak jodohmu lebih spektakuler daripada aku” Sumpahnya.


“Maafkan aku, cepat saja pilih karena masih banyak hal yang harus kita siapkan”


Mira langsung memilih menu pra-acara, menu utama, hingga menu penutup dan juga beberapa dessert.


Baru selesai dengan menu, Mira lagi-lagi dibuat pusing dengan Devan, “Tolong atur bagaimana seharusnya kita mendekorasi tempat ini” Begitulah tutur Devan yang sukses membuat Mira naik darah.


“Serahkan saja semuanya pada orang-orang dekorasi, mereka pasti tau apa yang kau butuhkan. Aku kembali ke kantor” Ucap Mira bersiap untuk membalikkan badan namun, belum sempat ia melangkahkan kaki, langkahnya sudah terhenti karena Devan mencengkram kerah bajunya dari belakang.


“Aku seperti anak kucing jika begini” Gumam Mira pelan.


...***...


Karena acara inti diadakan di malam hari, Mira memerintahkan mas-mas dekorasi untuk memasang lampu-lampu yang bukan hanya berfungsi sebagai penerangan tapi, juga berfungsi sebagai pemanis dekorasi.


Tidak lupa, tema diambil Mira adalah tema piknik, dimana dia ingin nantinya suasana santai dapat tercipta di acara tersebut. Para tamu dapat berbincang menikmati malam sambil duduk-duduk manis pada karpet yang sudah disediakan.


Devan menatap Mira takjub, pantas saja tuan Alexnya tidak perlu berpikir panjang untuk merekrut Mira sebagai salah satu tangan kanannya dalam menjaga Efira, ternyata Mira sangat cekatan dalam pekerjaannya.


“Kau hebat” Puji Devan setelah melihat hasil akhir dekorasi outdoor tersebut. Padahal jam masih menunjukkan pukul 15.00 tapi, semuanya terkesan hampir selesai.


Drrrt


Drrrt


Drrrt


Ponsel milik Devan berbunyi, menandakan seseorang tengah mengirim panggilan untuknya.


“Halo tuan Alex?”


“Kau belum menyetak undangan ha?”


Sial


Devan benar-benar tidak habis pikir dengan atasannya itu. Bisa-bisanya dia mengatakan perihal percetakan undangan dua jam sebelum deadline?


Ini bukan salahnya, ini salah atasannya. Kenapa juga harus menyiapkan semuanya secara mendadak begini? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin?


“Aku bisa gila jika seperti ini” Ucap Devan lalu segera berlari menuju tempat percetakan undangan.