You

You
Engagement



Alex dan Efira keluar dari butik dan langsung menuju tempat dekorasi yang diolah oleh salah satu rekan kerja Alex.


“Ini adalah katalog-katalog yang aku punya, kalian bisa cek dan juga pilih-pilih lebih dulu” Ucap teman Alex itu pada pasangan yang ada di hadapannya.


Efira dan Alex menerima buku katalog yang di berikan untuk mereka, melihat-lihat tema yang disajikan untuk memanjakan para customer.


“Dekorasi romantic vintage, terlihat cantik dengan perpaduan warna merah. Kami biasanya menaruh warna romantis ini di backdrop, taplak, gorden, dan beberapa dekorasinya. Misalnya pada dekorasi bunga, menggunakan bunga daisy merah, mawar merah, hibiscus merah, dan lain-lain, kalian juga bisa request jika mau. Dan untuk menambah kesan tidak monoton, kami juga menambahkan beberapa bunga dengan warna berbeda”


Penjelasan yang cukup detail dari rekan Alex ini membuat Efira segera tertarik untuk melihat konsep apa saja yang disediakan untuk mereka.


“Selanjutnya ada dekorasi tema flowers, kalian bisa memilih menggunakan bunga asli atau bunga artifical, yang pasti mereka punya budget yang berbeda”


“Apa yang membuat keduanya istimewa?” Tanya Alex.


“Dengan bunga asli, kau bisa merasakan euforianya. Wangi bunga asli tentu membuat suasana lebih berkesan. Sedangkan artifical, lebih hemat budget saja, dan lebih awet tentunya. Dekorasi bunga ini membuat ruangan menjadi lebih feminim dan lebih sempurna dengan dedaunan hijau yang melengkapinya”


“Kami mengadakannya di luar ruangan, menurutmu apa yang cocok untuk itu?” Tanya Alex lagi.


Efira tidak banyak bicara, dia hanya fokus dengan penjelasannya dan katalog yang disajikan di depannya.


“Acara di outdoor akan lebih apik dan meriah dengan lampu-lampu outdoor berwarna kuning, kerlipan cahaya lampu kuning di malam hari menambah suasana dan kehangatan di acara tersebut. Biasanya lampu ini bisa ditempatkan di area pohon. Sebenarnya konsep ini bisa dipadukan dengan konsep yang lain”


“Aku ingin memadukan tema white glamour dan flowers, selebihnya kau bisa aturkan yang terbaik” Ucap Efira final.


Ternyata gadis itu lebih suka dengan tema putih suci yang lebih tenang daripada warna merah seperti yang dijelaskan di awal tadi.


“Baiklah” Jawab rekan Alex.


“Langsung saja paket lengkapnya sekaligus dengan MC dan makanannya” Ucap Efira lagi, dia pikir ini tidak akan menjadi acara yang begitu besar. Hanya kerabat dan juga teman-teman dekat yang datang. Tidak perlu mewah yang penting berkesan.


“Kau yakin hanya begitu saja?” Tanya Alex.


“Kau jangan suka menghamburkan uangmu, kau tidak tau jika esok hari mungkin kau bisa jatuh miskin” Jawab Efira sarkatis.


Dan itu tentu saja membuat Alex langsung terdiam.


“Okey, kami pamit dulu. Terimakasih, aku harap kau bisa memuaskan ekspektasi kami” Ucap Alex pada rekannya.


Mereka berpamitan dan kembali ke rumah di sore hari.


...***...


Hari Pertunangan


“Alex, kenapa lama sekali?” Ucap nyonya Harrison.


“Sebentar bunda” Jawab Alex dari kamarnya, rupaya lelaki itu masih sibuk dengan setelannya.


Tidak lama Alex langsung keluar dari kamarnya, berlari menuju rombongannya.


“Rumah Efira hanya ‘lima langkah dari rumah’ kenapa harus terburu-buru?” Ucap Alex, diselingi dengan nyanyian di tengah kalimatnya.


“Apa kau tidak dengar? Aku lapar” Celetuk Gio.


Mereka akhirnya berangkat untuk datang ke rumah Efira.


Susunan acara pun di susun seperti acara lamaran pada umumnya.


Yang pertama, tentu saja kedatangan si laki-laki ke rumah sang perempuan. Bersama dengan rombongannya yang membawa seserahan, Alex memasuki rumah kekasihnya.


Seperti yang sudah dikatakan dan sudah direncanakan sebelumnya, hanya ada keluarga inti dan teman-teman dekat yang menghadiri acara tersebut.


MC juga langsung membuka acara dengan ucapan terimakasih, dan lain-lain.


“Sama sekali tidak terasa, Efira ternyata mendahului kita” Ucap Bella.


Mereka sedang berada di tempat dimana letak duduknya berseberangan dengan pihak laki-laki.


“Shut, kita sudah memasuki acara inti. Biarkan Efira meresapi calon mertuanya meminta dirinya mewakili Alex” Ucap Aulia.


Memang Aulia yang sangat religius diantara yang lain.


“Efira, aku sebagai ayah dari Alex disini memintamu menjadi bagian dari keluarga Harrison, beranjak dan juga berkembang bersama putra kami, Alex” Ucap tuan Harrison.


Malam itu, suasana haru melingkupi acara tersebut. Entah bagaimana ceritanya, Devan yang saat itu duduk bersebelahan dengan Mira merasa begitu damai.


“Kau terlihat sangat meresapi acara ini” Ucap Mira.


“Entahlah, aku tidak melihat mereka sebagai atasanku, melainkan keluargaku. Aku bahagia, akhirnya mereka sampai di titik ini” Jawab Devan, tanpa menoleh ke arah Mira yang notabennya sekarang adalah tunangannya.


“Ayo segerakan menikah” Ucap Devan yang langsung di hadiahi dengan tepukan penuh dendam dari Mira.


“Jaga mulutmu, memangnya siapa yang mau menikah denganmu?”


“Mau tidak mau, kau harus tetap mau” Jawab Devan santai.


Kembali ke Efira dan juga Alex yang sudah memasuki sesi tukar cincin, terlihat keduanya tersenyum bahagia.


“Terimakasih” Ucap Alex lalu mencium kening sahabat sekaligus kekasihnya dengan penuh sayang.


“Samuel, kau harus segera masuk ke ajaran Aulia atau kau tidak akan bisa merasakan apa yang dirasakan mereka” Ucap Gio pada Samuel.


Samuel saat itu hanya terdiam, tidak begitu banyak omong. Sedang memikirkan sesuatu?