You

You
Memanas



Hari ini Efira memilih untuk kembali lembur, mengingat waktunya hanya tersisa satu minggu, gadis itu harus bekerja dengan ekstra.


Tuan Rian pun terlihat sedang lembur, tanpa berniat menemani Efira atau menunggu Efira seperti biasanya, pekerjaannya memang sedang menumpuk.


Pukul 21.00 waktu setempat, Efira mengakhiri pekerjaannya lalu bersiap pulang. Menoleh ke kanan dan ke kiri.


“Firasatku mengatakan aku tidak akan mendapatkan kendaraan umum lagi” Gumam Efira pelan.


Dua puluh menit lebih gadis itu menunggu taxi tapi, tidak ada satupun yang melewatinya sejak tadi.


“Baiklah, mari lakukan saja seperti yang terjadi beberapa waktu lalu” Efira bergumam pelan lalu melangkahkan kakinya untuk pulang sambil jalan kaki. Sebenarnya di lubuk hatinya merasa was-was tapi, mau bagaimana lagi? Daripada menunggu tanpa kepastian.


Sampai pada jalanan sepi, gadis itu dihadang oleh segerombol geng motor?


“Halo cantik”


“Sepertinya kau bukan dari Jepang benar?”


“Seperti seorang asia seberang”


Efira tidak mempedulikan mereka, dia terus berjalan cuek. Percayalah, jantungnya hampir copot sekarang. Gadis itu butuh seseorang untuk menyelamatkannya.


Baiklah, lihat seorang lelaki tengah mengikutinya, mencoba menggapai tangan gadis itu. Efira tentu saja panik, gadis itu memilih berlari tunggang langgang daripada harus menyerahkan diri pada segerombol orang gila itu.


Tapi, sayang seribu sayang, aksi para preman itu harus berhenti tatkala sebuah mobil berhenti tepat di depan Efira.


“Naiklah, akan kuantar. Kali ini aku tidak menerima penolakan” Ucap tuan Rian sarkas, menatap tajam orang-orang pecundang yang berani menganggu Efira.


Tanpa disentuh pun, mereka tau mobil mewah itu milik seorang yang sangat berpengaruh di seluruh penjuru kota Jepang. Rian Bianjaya, sekali saja kau cari masalah dengannya, tamat riwayatmu di penjara atau bahkan bisa jadi di kuburan yang fana.


Efira akhirnya masuk, keringat dingin memenuhi keningnya, perasaannya campur aduk.


“Tenanglah, kau sudah aman” Ucap tuan Rian, mengambil salah satu tangan Efira yang tergenggam erat, mengelusnya pelan, menyalurkan rasa aman untuk gadis itu.


Sedangkan Alex? Lelaki itu sudah uring-uringan menunggu Efira. Dia bersiap sebentar ingin menyusul sahabatnya itu tapi, tepat di loby hotel, lelaki itu menghentikan langkahnya.


Dia melihat Efira turun dari mobil tuan Rian, belum lagi tuan Rian yang terlihat merangkul pundak Efira sembari mengantar gadis itu masuk. Pemandangan itu sukses membuat Alex langsung putar balik ke kamarnya (sekaligus kamar Efira).


“Kau tidak bilang jika kau lembur” Ucap Alex saat Efira baru saja menginjakkan kaki di kamar.


Raut wajah Efira sudah tidak tegang, sebisa mungkin gadis itu mengendalikan diri, dia tidak ingin Alex tau tentang apa yang sudah terjadi hari ini, atau gadis itu tidak akan diijinkan lembur lagi di tengah pekerjaannya yang begitu tidak bisa ditunda sekarang.


“Apa aku harus meminta izin?” Jawab Efira. Gadis itu sedang lelah, pikirannya pun masih merasa ketakutan, bahkan perasaanya tidak karuan hingga saat ini. Lalu sekarang Alex?


“Tidak juga, aku memang tidak penting”


Perkataan Alex membuat Efira memandang sahabatnya sengit.


“Kau ini bicara apa?” Ketus Efira.


“Apa kencanmu dengannya berjalan baik?” Tanya Alex semakin melantur.


“APA YANG SEDANG KAU BICARAKAN?”


“Kau dan tuan Rian” Jawab Alex, kali ini dengan nada santai yang terkesan menyindir.


“Kau bilang kau terganggu dengan kehadirannya tapi, kau malah jalan berdua dengannya. Haruskah aku mengatakan bahwa sahabatku ternyata munafik?” Lanjut Alex.


Perkataan lelaki itu sukses menyulut emosi Efira, apa begini cara menyambut orang sepulang kerja?


“Terserah apa katamu. Aku lelah” Efira langsung masuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya, mengganti setelan formalnya dengan setelan piyama kuning lucu bergambar chimmy lalu beranjak tidur tanpa peduli dengan sahabatnya.


Alex menatap Efira, bukan tatapan marah. Tatatapannya terkesan sendu. Lelaki itu segera merebahkan dirinya di sofa. Melihat wajah Efira sekarang, malah mengingatkannya tentang kejadian-kejadian hari ini.


...***...


Sinar mentari masuk melalui sela-sela jendela, Efira menggeliat manja di kasurnya, Dia merasa ada yang kurang?


Alex tidak ada di sampingnya? Tidak juga memeluknya?


“Bisa-bisanya dia ini” Ucap Efira ketika melihat sosok sahabatnya malah tertidur di sofa.


Gadis itu menyelimuti Alex sebelum akhirnya dia memesan makanan untuk sarapan. Lalu membersihkan diri, bersiap berangkat ke kantor.


Tidak butuh waktu lama, hanya 30 menit untuk Efira menyiapkan diri dan Alex terlihat belum juga terbangun dari tidur tampannya.


‘Jangan lupa sarapan’


Begitulah note yang Efira tulis.


...***...


“Pagi Efira”


Kali ini mereka bertemu di lobi agensi, tidak seperti biasanya yang selalu bertemu di lift. Tuan Rian kembali menyapa Efira seperti kemarin. Rasanya itu jauh lebih menyenangkan menurut Efira.


Tatapan tuan Rian pun tidak seperti pedofil lagi.


“Selamat pagi kembali” Jawab Efira tersenyum.


“Alex tidak ikut?” Tanya tuan Rian.


“Tidak tuan Rian” Jawab Efira.


“Ah, tumben sekali”


Efira hanya tersenyum menanggapi perkataan kliennya itu.


“Kau tidur nyenyak?” Tanya tuan Rian.


“Lumayan” Sahut Efira, mereka menghabiskan waktu bersama sepanjang perjalanan menuju ruang kerja, mengingat ruangan mereka berada di lantai yang sama. Tidak lupa pula tuan Rian menanyakan kabar gadis itu setelah kejadian semalam.


“Bagaimana perasaanmu? Tentang semalam?”


“Rasa takut menyelimutiku tapi, itu kalah dengan rasa lelahku. Aku langsung tertidur setelah sampai di hotel, hehehe” Jawab Efira.


Banyak pasang mata yang memandang iri pada Efira. Banyak yang mengatakan bahwa tuan Rian adalah tipe seseorang yang sulit didekati. Tapi, Efira?


Gadis itu dengan santainya berbincang layaknya teman dengan CEO Bianjaya Group.


Percayalah, itu tidak benar, gadis itu sebenarnya memikirkan perdebatannya dengan Alex. Dia hampir saja menguliti sahabatnya semalam, bahkan gadis itu sempat menahan kantuk, menunggu Alex menaiki ranjang dan memeluknya tapi, hal itu tidak terjadi hingga pagi menyapa.


“Kau terlihat kurang bersemangat, apa ada masalah?”


Sudah Efira katakan, tuan Rian menjadi lebih dewasa dari biasanya.


Itu juga sebuah kebohongan saudara-saudara, biasanya setiap pagi dia akan berhadapan dengan tingkah konyol Alex, kali ini malah berbeda. Ketika bangun saja, Alex tidak ada di sampingnya.


Katakanlah gadis itu tidak peka dengan keadaan sekitar.


“Ah jadi begitu, aku rasa kau tidak perlu terlalu memforsir dirimu. Aku yakin kau bisa menyelesaikan kurang dari deadline” Ucap tuan Rian. Itu terdengar sangat tulus.


“Terimakasih nasehatnya tuan Rian” Jawab Efira tersenyum manis.


“Baiklah, selamat bekerja. Semoga harimu menyenangkan”


Rupanya Efira sudah sampai di depan ruangannya. Ucapan dari tuan Rian menjadi penutup percakapan singkat mereka.


Sedangkan Alex baru saja terbangun. Semalam lelaki itu tidak bisa tidur dengan damai, membuatnya bangun lebih siang dari biasanya.


Tapi, apa ini?


Dia mengambil sticky note yang tertempel di dahinya.


‘Jangan lupa sarapan’. Tentu saja itu membuat Alex mengulum senyumnya. Lalu beralih menatap selimut yang menutup tubuhnya. Pasti Efira, pikir Alex. Lelaki itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, Efira sudah tidak ada. Jelas saja, itu terlalu siang.


“Ah, pusing sekali kepalaku” Alex bangkit dari tidurnya, sudah ada beberapa bungkus makanan di meja. Bukannya mandi atau minimal cuci muka dulu, lelaki itu malah langsung mencomot makanan di meja.


Tidak ada yang istimewa dari apa yang di kerjakan Alex, setelah acara sarapannya selesai, dia langsung membersihkan diri, lalu bermain ponsel.


Bermain ponsel lagi.


Bermain ponsel terus.


Dan masih bermain ponsel.


Hingga mendekati jam makan siang, lelaki itu memilih keluar dari kamar. Berniat menemui sahabatnya.


Dengan senang hati Alex memasuki pekarangan agensi itu, menenteng satu plastik besar berisi makanan untuk Efira.


Namun, lagi-lagi dia harus menelan kecewa, saat melihat sahabatnya malah bersama dengan CEO Bianjaya Group di parking area.


“What the f*ck” Gumam Alex, lelaki itu untuk kedua kalinya, memutar balik tubuhnya dan kembali ke hotel.


“SIAL SIAL SIAL!!!”


BRAK


BRAK


BRAK


Alex terus meninju tembok di hadapannya. Lelaki itu sedang mengeluarkan sisi iblisnya.


“Aku yakin, pasti ada sesuatu yang direncanakan baj*ngan itu” Alex berbicara dengan udara.


Baiklah, setelah mengobati lukanya, Alex memilih berdiam diri saja. Memainkan tabletnya untuk melihat perkembangan perusahaan milik ayahnya. Tidak ada yang istimewa, itu hanya kebiasaan di waktu senggang, mengingat ayahnya masih memegang kendali atas perusahaan.


Satu jam.


Dua jam.


Tiga jam.


Waktu terus berputar, bahkan hingga jam makan malam, Efira belum juga kembali.


“Apa dia lembur lagi” Gumam Alex.


Karena merasa suntuk, Alex memutuskan untuk menghampiri Efira di agensi, tidak peduli apapun itu nanti yang akan dia lihat.


“Efira masih di dalam?” Tanya Alex dalam bahasa inggrisnya pada satpam yang sedang berjaga.


“Masih tuan” Jawab satpam tersebut.


Alex langsung masuk menuju ruangan Efira.


Ceklek


Duar


Lihat! Tuan Rian dan Efira memang sudah sedekat itu, mereka bahkan terlihat sedang membenahi gaun rancangan Efira bersama. Sialan sekali.


“Hah, kurasa percuma aku mengkhawatirkanmu. Kau sedang asik pacaran ternyata” Ucap Alex sarkatis, lelaki itu masih berada diambang pintu.


“Pacaran? Bicara apa kau ini?” Jawab Efira.


“Bicara kenyataan” Sahut Alex.


“Kau ini sebenarnya kenapa?” Tanya Efira, bingung dengan sahabatnya yang uring-uringan sejak kemarin.


“Tidak ada apa-apa, silahkan lanjutkan kemesraan kalian”


“Jangan mengucapkan hal yang tidak-tidak, Lex. Atau kau ingin bokongmu kutendang kali ini?” Efira sedikit memberikan candaan untuk mencairkan suasana.


“Hahaha, tidak lucu sama sekali Efira”


“Alex, kita perlu bicara berdua rupanya”


Efira segera menarik Alex ke luar ruangan. Menuju atap perusahaan.


“Katakan! Apa maksudmu?” Ucap Efira memecahkan keheningan.


“Tidak ada, aku mengkhawatirkanmu karena kau tak kunjung pulang, aku menyusulmu dan boom aku melihat sepasang kekasih yang serasi sedang bekerja bersama, ajaibnya kau tidak memberitahu apapun padaku”


“Lex, aku tidak terlibat hubungan apapun dengan tuan Rian selain rekan kerja”


“Tapi, kalian tidak terlihat seperti rekan kerja"


“Terserah apa katamu. Sejak kemarin kau benar-benar aneh” Ucap Efira akhirnya.


“Kau yang aneh, sejak kapan kau tidak terbuka begini?”


“Apa aku harus selalu membagi apapun denganmu? Bahkan urusan pribadi atau urusan pekerjaan sekalipun? Stop melakukan hal itu, Lex. Aku sudah dewasa. Aku tau mana yang baik dan yang buruk untukku” Nada bicara Efira kali ini terdengar sedikit menekan setiap katanya, seolah memperingatkan Alex untuk tidak lagi mendekati urusan pribadinya.


“Pulanglah. Jika kau mau tau, kau menganggu pekerjaanku kali ini. Aku ingin cepat selesai tapi, tingkah kekanakanmu ini membuatku membuang waktu” Lanjut Efira, kembali ke ruangannya.


“Fine, kau yang meminta ini” Alex menjawabnya lirih, tentu saja Efira tidak dapat mendengarnya.