
“Efira” Sapa Devan, lelaki kepercayaan keluarga Harrison dalam pembangunan proyek anak perusahaan Harrykiel Company. Lelaki ini juga merupakan sekretaris tuan Harrison dulunya tapi, sekarang sudah menjadi sekretaris Alex.
Usianya dan Devan tidak jauh berbeda. Mungkin terpaut sekitar lima tahun?
Tentu saja Devan sangat tampan, terkesan lebih tampan daripada Alex. Devan adalah lelaki blasteran Indonesia-New York, mereka bertemu dan mulai akrab beberapa tahun silam dalam sebuah project perusahaan besar disana, saat itu Efira sedang menenemani Alex bekerja dan tidak sengaja bertemu Devan yang ternyata juga ikut dalam project tersebut mewakili tuan Harrison.
Mau tau bagaimana sosok Devan? Baiklah, sebutkan saja ciri-cirinya. Hidungnya mancung, alisnya menawan, rambutnya mullet sempurna dengan potongan undercut melelehkan jiwa raga, rahangnya pun tegas, tubuhnya? Tinggi dan atletis.
“Iya?”
“Boleh aku duduk disini?”
Sopan sekali, Efira mempersilahkan Devan untuk segera duduk, menggeser bokongnya sedikit menjauh.
“Jadi, ada apa?” Tanya gadis itu, setelah dilihatnya Devan sudah mendaratkan bokongnya ke sofa dengan selamat.
“Hanya ingin menemanimu yang sedang ditinggal kasih tercinta, bukankah aku baik?” Devan terkekeh sendiri dengan kalimat yang ia ucapkan.
Tentu saja kekehan itu menular kepada Efira. Bagaimana tidak? Devan sangat manis.
Mereka pun akhirnya larut dalam percakapan seru disana, terlihat sangat akrab, bahkan candaan sesekali melingkupi mereka. Tanpa sadar, sepasang mata Alex sedang memperhatikan mereka sejak tadi.
Alex POV
Aku sedang bersama Lyona sekarang, menemaninya berbincang. Tamu jauhku ini sangat asik diajak berbincang, kebetulan pula perusahaan ayahnya menjalin kerjasama yang baik dengan Harrykiel Company.
Aku tidak meninggalkan Efira sendirian dengan benar, sesekali meliriknya meskipun dia tidak tau. Aku bahkan tau saat dia menggerutu kesal disana, hal itu membuat bibirku terangkat. Lucu sekali.
Sampai disaat Devan dengan santainya menghampiri Efira, bercanda tawa disana, lelaki itu dengan beraninya duduk di samping Efira.
Cih, apa-apaan itu? Lihat! Efira tertawa lepas. Selucu itukah wajah Devan? Atau wajah Devan seperti badut?
Hahaha, sial!
Sayangnya tidak. Dia sangat tampan jika dibandingkan dengan orang lokal. Lelaki blasteran Indo-New York itu bisa merebut hati gadis manapun dengan wajahnya, bahkan hanya dari melihat bayangannya saja, aku yakin itu.
Apa yang terbakar di dalam diriku? Rasanya panas! Batinku.
Niat hati ingin membuat Efira kesal, malah aku sendiri yang kesal. Sekarang aku tau, definisi ‘Karma is real’ yang sebenarnya.
Setengah jam bukanlah waktu yang sebentar, setelah urusanku dengan Lyona selesai, aku langsung menghampiri meja sahabatku itu.
“Ekhem, apa aku mengganggu?” Tanyaku.
“Kenapa kembali? Pergi saja sana!” Sahut Efira, sebenarnya Devan sudah ingin menjawabku tapi, sepertinya dia kalah cepat dengan Efira. Gadis itu tidak melihatku, memilih mengacuhkanku dan melihat wajah Devan.
Apa yang lebih menyakitkan dari ini?
“Efira? Do you hear me?” Aku masih terlihat sabar mengahdapi sahabatku ini, manikku menatapnya lembut.
“Aku tuli, pulang saja. Aku akan pulang dengan Devan, iya kan Devan?”
Bagus Efira, bahkan Devan hanya me-nyengir kuda disana. Aku tau, Devan sudah berniat pergi. Tapi, ucapan gadis itu menghentikan niatnya.
Sial, aku semakin kesal.
“Tidak, memangnya tadi kau berangkat dengan siapa? Dia atau aku?” Tanyaku.
“Aku tadi terbang”
Lihat!
Gadis ini sungguh!
“Baiklah, kau tidak mau diajak dengan cara halus ya?”
Aku langsung menarinya berdiri, lalu kugendong sahabatku ini ala bridal style. Tidak peduli dengan orang-orang yang memperhatikan kami. Aku hanya terus membawa gadis ini sampai rumahnya dengan selamat.
Sesampainya di mobil, aku langsung menghempaskan tubuhnya sedikit kasar di kursi samping kemudi.
“Aw” Tentu saja dia mengaduh. Lalu apa peduliku?
“Seharusnya aku yang marah, bukan kau!” Ucapku ketika aku sudah mendaratkan bokongku di kursi kemudi.
“Hei, apa maksudmu?”
“Kenapa dekat-dekat dengan Devan?”
“Kenapa dekat-dekat dengan Lyona?”
Bagus, aku menarik sedikit ujung bibirku, hanya sedikit. Mungkin Efira tidak menyadarinya.
“Jadi kau cemburu? Lalu membalas perlakuanku begitu?” Tentu saja, aku sedang menggoda gadis kecil ini. wajahnya bahkan sudah semerah tomat karena ucapanku.
“Aku? Cemburu? Cih” Balasnya ketus.
“Jika kau dekat-dekat lagi dengan Devan, akan kucium kau di hadapannya”
“Memangnya kau siapa?”
“Aku? Alex” Jawabku tenang, melajukan mobilku dengan santai. Sebenarnya aku tau kemana arah pembicaraan ini tapi, aku tidak ingin memperpanjang apapun. Sejatinya aku dan dia memang hanya sejemang sahabat rasa saudara.
Alex POV End