You

You
Rencana



“Ini album foto yang aku temukan di gudang. Disini berisi foto-foto masa kecilnya, mulai dari saat dirinya berada di kandungan bundaku hingga usianya 1 tahun setelah dia lahir” Ucap Efira memberikan buku album foto yang ia temukan semalam di hadapan Alex.


“Lalu foto selanjutnya? Tidak ada?” Tanya Alex di akhir halaman album foto tersebut.


Sesaat setelah itu, Efira memberikan sebuah kertas. Itu adalah surat kematian, “Kecelakaan keluargaku yang terjadi 25 tahun yang lalu membuat dia harus merenggang nyawanya. Ini surat kematiannya” Ucap Efira.


Alex mengambil surat tersebut, membacanya dengan seksama.


“Ada surat ijin pemakamannya?” Tanya Alex setelah membaca isi dari kertas tersebut.


“Tidak ada” Ucap Efira.


“Aneh sekali bukan?” Lanjut Efira.


“Semua berkas-berkas tentang dia sudah lengkap tapi, hanya surat ijin pemakamannya saja yang tidak ada” Lanjut Efira lagi.


Alex mengangguk setuju, “Kecelakaan ini terjadi antara apa dengan apa ya kira-kira?” Gumamnya.


“Aku juga mempertanyakan hal itu” Sahut Efira.


“Ini sudah cukup. Selain mengandalkan dunia IT, kita harus bergerak ke tempat-tempat ini. Mau mencobanya?” Tanya Alex.


“Tentu” Jawab gadis itu.


“Aku akan menyuruh orang-orangku untuk mencari tau” Alex menjanjikan hal itu kepada kekasihnya.


“Rumah sakit itu milik keluarga Gio. Tidak perlu menyuruh orang-orangmu, kita bisa langsung minta tolong kepada Gio” Sahut Efira.


“Boleh juga” Ucap Alex.


Mereka mulai merencanakan step by step untuk memulai penyelidikan tersebut.


“Kita akan memulainya besok, pastikan jadwalmu benar-benar kosong. Seharian kita akan bolos kerja dan mencari bukti valid dari masalah ini” Ujar Alex, mengambil kunci mobilnya dan mengambil tangan gadisnya pelan. Ingin mengantarkan gadis itu kembali ke kantornya?


“Kau akan dicurigai ayahmu jika kau terlihat selalu disini” Ucap Alex.


Saat diluar, Devan melihat keduanya dengan tatapan heran. Menurutnya, ada yang aneh dengan dua sejoli itu. Efira juga bisa dibilang terlalu sering datang ke sana.


“Devan, apa kabar? Lama tidak bertemu” Sapa Efira.


Lagi-lagi Alex dibuat cemburu dan kesal. Tadi pagi ditanyakan, sekarang malah disapa.


“Seperti yang terlihat, sangat baik” Jawab Devan ramah.


Efira tersenyum lalu mengangguk, mengajak Alex untuk segera mengantarkannya ke kantor.


...***...


“Dokter Gionya ada?”


Efira bersama dengan Alex, sepulang kerja mereka langsung pergi ke rumah sakit dimana Gio praktek.


“Kira-kira kapan dia selesai?” Tanya Alex.


“Kemungkinan setengah jam lagi jika operasi berjalan lancar seperti yang dijadwalkan”


“Buatkan janji dengannya atas nama Alexander Harrison dan Efira Javonte” Ucap Alex.


Mbak recepsionist sedikit terkejut, ternyata dua orang dengan masker hitam dihadapannya adalah para CEO muda yang baru saja kembali dari pendidikannya di luar negeri.


“Baik, akan saya hubungi asisten tuan Gio” Jawabnya, mengetik dial nomor di telepon kantornya.


“Tuan Alexander Harrison dan nona Efira Javonte ingin membuat janji dengan dokter Gio, kira-kira kapan bisa kau jadwalkan?” Ucapnya di telepon.


“Begitu? Baiklah terimakasih”


Mbak recepsionis mengembalikan telepon tersebut ke tempatnya, “Setelah operasi selesai, anda akan langsung bertemu dengan dokter Gio. Anda bisa menunggunya di ruangannya, ada lantai tiga”


“Terimakasih” Jawab Efira, langsung membawa kekasihnya ke lantai atas, tepatnya ke ruangan Gio.


Tok


Tok


Tok


Efira mengetuk pintu di hadapannya, di pintu tersebut sudah terpampang nama Gio.


“Seorang Gio yang kau tau selalu bertingkah begitu, sekarang sedang berada di ruang operasi mengeksekusi orang” Gumam Alex, tidak percaya bahwa Gio yang kemarin saat liburan adalah seseorang yang paling julid, sekarang malah mengoperasi seseorang.


“Aku harap dia tidak mengomentari organ dalam orang itu” Jawab Efira.


Mereka terkikik bersama. Memang pasangan random, tadi serius dan sekarang tertawa bersama.


Seperti itu saja sudah sangat menjadi kebahagiaan yang sederhana.


Tok


Tok


Tok


Efira mengetuk pintu itu lagi.


Ceklek


Pintu tesebut berhasil terbuka, “Silahkan masuk tuan, nona” Ucap gadis itu. Sepertinya dia adalah asisten Gio.


“Silahkan duduk, mau minum apa?” Tanyanya menawarkan tamu dari dokternya.


“Tidak usah, terimakasih” Ucap Efira.