
“Ini harusnya menjadi liburanku, kenapa malah aku harus menemanimu disini?” Protes Efira. Gadis itu menekuk wajahnya malas, rasanya ingin mengamuk karena tidak melakukan apapun.
“Bukankah kau juga bersenang-senang sejak tadi?” Jawab Alex.
Efira tengah duduk di pinggiran kolam, sedangkan Alex masih sibuk berenang kesana kemari sembari sesekali menyahuti perkataan Efira.
Alex tidak main-main dengan hukumannya kemarin. Lelaki itu sama sekali tidak membiarkan Efira menjauh dari jangkauannya barang sedetik saja. Benar-benar tidak bisa bergerak bebas.
“Iya tapi, aku mulai bosan” Ucap Efira.
Mendengar hal itu, Alex langsung menghampiri Efira. Menyentuh tangan gadis itu, “Kau bosan?” Tanya Alex.
“Menurutmu? Hampir 4 jam kita disini dan hanya berenang kesana kemari. Kau pikir aku spesies ikan?” Ucap Efira.
Alex terkekeh dibuatnya. Lelaki itu segera keluar dari kolam, mengajak Efira mendekat pada sebuah balai dimana itu adalah balai pijat pribadi di bawah pohon kelapa yang disediakan oleh pihak villa.
“Tolong pijat dia, buat gadis ini se-rileks mungkin. Dia selalu marah-marah sejak kemarin, rupanya dia kelelahan” Ucap Alex pada salah seorang pegawai wanita disana.
Efira sukses membuat wajah kesalnya lagi-lagi terbentuk dan Alex gemas sekali dibuatnya.
“Aku akan memanggil yang lainnya. Tunggu disini dulu. Aku akan segera kembali” Lanjutnya pada Efira.
Efira hanya mengangguk mengerti lalu dilanjutkan dengan rileksasi dari petugas pijat.
Ditemani angin sepoi-sepoi membuat Efira mengantuk dan akhirnya tertidur. Begitu pula dengan rekan-rekannya yang lain.
Hingga satu jam kemudian, mereka terbangun satu per satu.
Hmm, sore sudah menyapa. Mereka memutuskan kembali masuk ke villa, bersiap untuk kegiatan selanjutnya.
Jika Frans dan Elena memilih berenang, Para cowok yang lain memilih menggoda gadis-gadis di restoran terdekat, dan para cowok lainnya malah asik dengan dunia game maka, Alex dan Efira sedang asik jalan-jalan mengelilingi Vila untuk hunting foto di spot yang instagram-able sambil menikmati sore hari.
Lalu Devan?
Lelaki itu hanya mengikuti dua sejoli di hadapannya. Sungguh miris.
“Hah, hari terakhir. Besok sudah harus kembali ke ibu kota lalu, kembali dengan segudang pekerjaan. Aku lupa jika aku adalah seorang CEO dari perusahaan besar sekarang” Ucap Efira.
“Ya, kau tidak akan mengingat apapun jika sudah bersamaku” Balas Alex singkat.
Cih, percaya diri sekali.
Meskipun begitu, Efira hanya mengangguk sambil terkekeh pelan. Memang benar, dia melupakan segalanya saat bersama dengan sahabat lelakinya itu.
“Hey, disana bagus” Alex menunjuk salah satu tempat indah untuk ber-foto.
Mereka beberapa kali mengambil gambar hingga lelah dan langit menjadi petang.
Pukul 18.00, Alex serta Efira dan juga yang lainnya kembali ke villa. Alex memutuskan untuk mandi lagi, katanya gerah. Maka, Efira segera berkutat dengan alat dapur. Memasak menu makan malam yang sudah dia siapkan di otaknya selama perjalanan tadi.
Tidak perlu mandi lagi, tadi sore sudah mandi. Pikir Efira.
...***...
“Setelah makan malam, kita harus melihat film di home theater yang sudah disediakan disini” Ucap Efira.
“Ide yang bagus” Jawab Elena.
Sedangkan, Frans hanya mengangguk. Mulutnya penuh dengan makanan.
“Aku selesai” Ucap Efira, gadis itu membawa piringnya ke dapur lalu mencucinya dilanjut dengan membuat pop corn untuk camilan nontonnya nanti.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Frans, menghampiri Efira.
“Membuat pop corn”
“Boleh aku bantu?” Frans mulai mendekati Efira.
“Ini mudah, tunggulah disana bersama yang lain” Jawab gadis itu menunjukkan senyum malaikatnya.
“Kalau begitu, biar aku temani saja” Ucap Frans.
Efira hanya mengangguk.
Sambil menunggu pop corn meletup, mereka berbincang santai. Sesekali bercanda, menimbulkan tawa diantara keduanya.
Bagaimana dengan Alex?
Lelaki itu memandang sinis, jika bukan karena dirinya harus menyelesaikan laporan pekerjaan di Paris bersama Devan, mungkin dirinya lah yang sudah berada di dapur bersama Efira.
“Lirikan matamu menarik hati” Gio bernyanyi saat matanya menangkap Alex yang melihat dua sejoli di dapur dengan tajam.
“Beginilah nasib diriku, yang kini sedang cemburu. Cemburu padanya” Bella menyahuti, mengganti lirik yang tidak seharusnya ada itu.
“Sudah aku katakan untuk tidak terlalu lama mengikatnya dalam zona pertemanan, kau memang tidak bisa dibilangi oleh yang lebih profesional” Ucap Gio.
“Berkacalah, kau ini mengaku sebagai lelaki jantan tapi, lihat? Jika memang kau tidak pernah menggantung seseorang pada zona sulit, sekarang Deva tidak akan menyebar undangan bersama pria lain” Sahut Alex.
Jleb
Perkataan itu tepat mengenai ulu hati seorang Gio dan perkataan itu juga megundang tawa yang lainnya. Sangat menyenangkan jika Gio sudah tersudutkan begini.
“Kau melukai hatiku mas” Balas Gio, lelaki itu memegang dadanya yang terasa nyeri atas ucapan Alex.
“Kau tidak bakat dalam hal akting” Komentar itu keluar dari mulut Deva.
“Itu mantan kekasihmu, Dev” Ucap Bella, mengingatkan sahabatnya akan hubungan masa lalu Deva dan juga Gio.
“Aku tidak mengakuinya” Balas Deva singkat.
Double Kill.
“Aku sakit dua kali” Ujar Gio, wajahnya dibuat se-melas mungkin untuk menghayati perannya.
“Sudahlah, kenapa tidak langsung di tembak dor dor dor ha?” Ucap Nando, mempertanyakan ketidak lelakian seorang Alex kepada Efira.
“Aku sudah memiliki wanita yang harus tunggu jawabannya” Jawab Alex.
“Alex, kau harus sabar jika misalnya nanti kau malah tidak bersama Efira” Ucap Aulia.
“Kau juga harus sabar, jika misalnya nanti kau dan Samuel tidak bisa bersama” Balas Alex sarkas.
Saat itu juga, semuanya langsung terdiam. Orang yang termakan api cemburu memang memiliki aura berbeda.
“Selesai” Ucap Efira, membawa dua kotak berisi pop corn hangat, dan tiga kotak lainnya dibawa oleh Frans.
Bersamaan dengan itu, Alex dan Devan selesai dengan laporannya.