
Tuan dan nyonya Javonte sudah selesai bersih diri, mereka segera pergi ke ruang keluarga. Disana sudah ada Efira dan juga Alex yang duduk dengan santai.
“Jadi, ada masalah penting apa?” Tanya tuan Javonte, sembari mendaratkan bokongnya di sofa.
Efira terlihat menghela nafasnya sebentar.
“Boleh aku bertanya?” Tanya Efira pada kedua orang tuanya.
“Tidak boleh” Ucap tuan Javonte, terkekeh pelan disana. Sedikit bercanda untuk menghilangkan ketegangan.
“Ayaaah, aku sedang serius. Tidakkah raut wajahku mengatakan begitu?” Efira merengek bak anak kecil.
“Maafkan ayah sayang, silahkan bertanya” Ucap tuan Javonte, terkekeh pelan di awal kalimatnya, lalu memberikan kesempatan untuk putrinya mengutarakan niatnya.
“Siapa Julio Gevandri Javonte?” Tanya Efira.
Glek
Tuan Javonte bingung, bagaimana mengatakannya? Nyonya Javonte pun sudah terlihat menegang di tempatnya.
“Tidak usah mengelak lagi ayah, bunda. Katakan saja siapa dia? Efira menemukan bukti-buktinya di gudang, mulai sari surat kelahiran hingga surat kematiannya” Tutur Efira lagi.
Tuan Javonte terlihat memeluk sang istri, menenangkannya di sana. Pria paruh baya itu juga menghembuskan nafasnya berat.
“Julio Gevandri Javonte, putra sekaligus anak pertama keluarga Javonte. 25 tahun yang lalu, kami mengalami kecelakaan na’as dengan keluarga Johnson. Saat itu kami membawa Julio ikut bersama, sayang sekali di tengah perjalanan kami harus mengecap pahitnya keadaan. Remnya blong, entah kenapa dia tidak berfungsi sama sekali. Setelah kejadian, ayah dan bundamu ini tidak sadarkan diri, kepala kami terbentur cukup kuat dengan bagian depan mobil. Entah bagaimana keadaan Julio, dia berada di kursi belakang saat itu.”
Ucapan tuan Javonte berhenti sejenak, mengelus lagi pundak sang istri yang mulai mengeluarkan air matanya.
“Tidak ada satupun orang yang tau dimana keberadaan putra kami setelah kejadian itu terjadi. Pihak kepolisian mengatakan bahwa Julio terbakar bersama mobil yang meledak saat itu padahal mobil itu milik keluarga Johnson, bahkan tuan Johnson yang dinyatakan meninggal di tempat masih utuh dalam bentuk manusia. Lalu, pihak kepolisian malah memberikan tulang belulang yang di duga adalah Julio dan mereka menutup rapat kasus tersebut hingga hari ini” Ucap Lanjut tuan Javonte.
“Ayah tidak mencari tau tentang keberadaan Julio dari orang-orang ayah?” Tanya Efira.
“Tentu saja kami mencari tau tapi, tidak ada satupun bukti yang menyatakan bahwa Julio masih hidup, bahkan setelah kecelakaan itu CCTV langsung mati semua” Jawab Tuan Javonte.
Pihak nyonya Johnson yang merentasnya kurang pandai atau pihak IT tuan Javonte yang sedang bermain-main? Pikir Alex, merasakan kejanggalan dari cerita itu. Bahkan dirinya bisa menemukan rekaman CCTV itu dengan mudah lalu, kenapa pihak IT tuan Javonte malah tidak menemukan apapun? Oke, mari dengarkan dulu penjelasan selanjutnya dari tuan Javonte.
“Bundamu mengalami depresi selama kurang lebih 1 tahun karena kehilangan Julio, dia selalu menangis setiap malam sambil terus memanggil dan memeluk baju atau foto masa kecil anak itu. Tentu saja ayah merasa kasihan dan khawatir dengan kondisi bundamu ini, ayah membawanya ke dokter psikolog satu minggu setelah kejadian na’as itu dan kami pindah ke rumah ini. Kami meninggalkan mansion itu karena disana terdapat banyak kenangan tentang putra kami, aku takut bundamu malah menjadi kembali terganggu jika mengingatnya lagi”
Diam, tidak ada percakapan lagi setelahnya. Alex juga pada akhirnya mengerti alasan kedua orang tuanya tidak membantu keluarga Efira untuk mencari tau hal ini, ternyata kedua keluarga itu belum mengenal satu sama lain.
“Yakin, memangnya kenapa Alex?” Tanya tuan Javonte.
Alex mengeluarkan laptopnya, mengutak-atiknya sebentar, mencari folder khusus yang disimpan sebagai tempat beradanya bukti-bukti kasus kekasihnya itu.
“Anda bisa lihat, ini adalah hasil CCTV yang berhasil kurentas dari restoran terdekat. Setelah kedua mobil bertabrakan sempurna, bayi itu keluar dari mobil kalian, dia seperti menangis bingung” Jelas Alex. Kedua orang tua Efira tentu saja tercengang dengan bukti di hadapan mereka.
“I-Itu Julio” Ucap nyonya Javonte, suaranya terdengar bergetar karena tangisnya yang mulai pecah.
“Kenapa ayah dan bunda tidak pernah menceritakannya? Lalu, dimana makamnya?” Tanya Efira.
“Makamnya ada di pemakaman khusus keluarga Javonte. Maafkan ayah jika kau mungkin merasa tidak adil dengan hal ini tapi, ayah benar-benar ingin mengubur segalanya dalam. Mental bundamu pasti akan kembali rapuh, seorang ibu mana yang akan sanggup melihat tulang belulang anaknya sendiri?” Jawab tuan Javonte.
Jika mengingatnya Efira jadi kesal sendiri, gadis itu sedikit menggeram.
“Bongkar saja makamnya, itu bukan makam Julio” Ucap Efira, membuat kedua orang tuanya terkejut.
“Bukankah begitu? Terlihat jelas disana bahwa Julio masih hidup. Bahkan saat mobil itu terbakar, semua orang sudah berhasil dikeluarkan dari mobil” Ucap Efira, menahan emosinya yang meluap-luap karena mengingat pernyataan polisi tadi.
“La-Lalu d-dimana Julio sekarang ayah?” Gumam nyonya Javonte, semakin memeluk erat suaminya.
“Tenanglah dulu, kita akan mencari tau hal ini nanti” Ucap tuan Javonte.
Sudah saatnya Alex mengeluarkan ponselnya, memutar kembali rekaman percakapannya dengan polisi yang menangani kasus mereka beberapa waktu lalu.
Terdengar suara polisi itu memenuhi seluruh ruang keluarga, membuat baik nyonya Javonte dan tuan Javonte diam. Jadi, apa begitu cerita yang sebenarnya?
Mereka sama-sama terdiam kaku mendengarkan hal itu, antara kabar baik atau kabar buruk karena mereka pun tidak tau keberadaan putra mereka sampai hari ini, seperti tidak ada celah tersisa untuk mereka.
“Nyonya Johnson yang membawa putra kalian” Ucap Alex.
“Menurut data-data yang aku cari, wanita itu terbang ke New York saat makam suaminya masih basah. Aku berhasil menemukan sosoknya pada data-data pribadi di bandara dan juga kantor polisi tapi, nyonya Johnson sepertinya sangat licik karena dia menghilangkan jejak keberadaannya di New York. Bisa jadi wanita itu mengganti identitasnya” Ucap Alex, memberikan sebuah lembaran kertas berisi foto nyonya Johnson di masa itu.
Bingung
Entah kata apalagi yang sanggup dikatakan oleh keluarga Javonte, khususnya tuan dan nyonya Javonte.