
Alex berjalan dengan santai seperti biasa, ia tidak mau memilih sekretaris baru. Lelaki itu lebih memilih bekerja lembur daripada harus memiliki sekretaris baru, memgingat dirinya benar-benar ingin menjaga perasaan Efira kedepannya.
“Cyntia, tolong siapkan berkas-berkas meeting dan reschedule semua jadwalku dimulai dari minggu depan hingga dua minggu setelahnya” Perintah Alex pada Cyntia.
“Tapi, ada apa tuan?” Tanya Cyntia.
“Aku akan pergi ke italy selama dua minggu, pastikan selama itu aku tidak diganggu dengan pekerjaan, Devan akan menggantikan aku untuk sementara waktu”
“Pak Devan?” Gumam Cyntia.
“Ya, sebagai kakak iparku dia akan menggantikanku untuk sementara waktu” Ucap Alex lalu melenggang pergi meninggalkan Cyntia sendirian.
“Aku masih tidak percaya ini, Devan dulunya memiliki posisi yang sama denganku kini malah menjadi atasanku” Gumam gadis itu lalu melanjutkan pekerjaannya.
...***...
“Pagi” Efira menyapa Aulia dan beberapa karyawan butiknya yang lain.
“Efira? Kau masuk bekerja?” Tanya Aulia terkejut sekaligus bingung?
“Ya, apa ada yang salah?” Tanya Efira.
“Tidak ada hanya saja, kenapa langsung masuk setelah kemarin kau menikah huh?”
Aulia meneter sahabat sekaligus atasannya itu dengan pertanyaan-pertanyaan klasik.
“Aku merasa aku cukup baik untuk bekerja, aku akan ke ruanganku jika kau masih ingin mengobrol, ayo ikut bersamaku” Sahut Efira, tidak enak jika percakapan mereka nantinya di dengar oleh pegawai yang lain. Ya, meskipun mereka juga tau apa yang sudah terjadi kemarin di acara resepsinya tapi, tetap saja ini adalah masalah pribadi yang tidak layak dijadikan konsumsi publik.
Ceklek
Efira memasuki ruangannya dibuntuti oleh Aulia.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Aulia, khawatir dengan kondisi sahabatnya.
“Apa kau melihatku sakit hm? Aku baik-baik saja Au” Jawab Efira meyakinkan sahabatnya.
“Lalu, apa penjelasan Alex tentang kejadian kemarin?”
“Biasa, persaingan di dunia bisnis tapi, Alex sudah mengatasinya dengan baik”
“Kau ini kenapa? Apa ada yang salah dengan penampilanku?” Tanya Efira, memutar tubuhnya slay.
Aulia menggelengkan kepala pelan, “Bagaimana rasanya?” Tanya gadis itu tiba-tiba.
“Rasanya apa?” Sahut Efira bingung.
“Tidur bersama Alex?”
Efira mengerutkan keningnya, “Ya memejamkan mata saja, memangnya apa yang istimewa?”
Ternyata Efira tidak kalah lemotnya dengan Aulia.
“Maksudku, apa malam pertamamu berakhir baik? Kau seperti baik-baik saja saat berjalan, katanya itu akan sakit dan mungkin membuatmu tidak bisa berjalan seperti biasanya tapi, kau terlihat tidak seperti itu” Cerocos Aulia tidak sopan.
Baiklah, sekarang Efira mengerti.
“Yak, aku sedang halangan. Dia sudah uring-uringan sejak pagi tadi” Ucap Efira menjelaskan sedikit.
Aulia yang mendengar hal itu hanya tersenyum menahan tawa, dia sedang membayangkan wajah Alex ketika sedang menahan diri untuk tidak menyentuh Efira.
“Pasti menyenangkan ya Efira bersama dengan seseorang yang sudah sangat kau kenal sebelumnya, pasti tidak ada kecanggungan di antara kalian” Ucap Aulia.
“Biasa saja, tidak tau juga jika mungkin akan melakukan-nya akan merasakan vibe yang berbeda” Jawab Efira gamblang, membuat Aulia malah melotot kaget.
“Kau ini bicara perihal itu memangnya tidak canggung ha?” Protes Aulia.
“Hahahaha” Efira tertawa pelan.
“Bukannya tadi kau duluan yang memancingku, Au? Kenapa sekarang kau malah panik hm? omong-omong, bagaimana dengan Samuel? Apa kalian tidak akan segera menyusul” Tanya Efira, kali ini gadis itu menelisik hubungan beda keyakinan sahabatnya itu.
“Entahlah, aku mungkin hanya akan mengikuti alur saja, syukur jika Samuel mau masuk ke dalam agamaku jika tidak ya tidak apa, kami mungkin punya jalan masing-masing” Jawab Aulia.
“Baiklah, semangat. Kabari yang lain, minggu depan aku akan pergi ke Italy, katakan oleh-oleh apa yang kalian inginkan” Ucap Efira riang.
“Baiklah, aku pergi ke ruanganku dulu, selesaikan seluruh pekerjaanmu sebelum berangkat yaa” Ujar Aulia lalu pergi menuju ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.