
Efira sedang sibuk dengan tumpukan berkasnya. Semalam tidurnya sangat nyenyak, meskipun pesta baru selesai tengah malam.
Mungkin karena rasa bahagianya, gadis itu nampak sangat bersemangat bekerja hari ini.
“Nona, ini jadwal anda hari ini” Ucap Mira, memberikan tabletnya kepada Efira.
“Terimakasih” Jawab Efira sambil tersenyum.
Efira melihat daftar jadwalnya. Tidak ada yang spesial, hanya seperti biasanya. Meeting, meeting, meeting sampai pulang. Efira langsung memeriksa berkas-berkasnya lalu beranjak ke ruang meeting. Tentu saja ditemani Mira.
Sedangkan Alex sudah kalang kabut di rumahnya. Pagi-pagi sekali Devan meneleponnya, mengatakan bahwa dirinya harus segera berangkat ke Paris.
Seperti dejavu, lelaki itu juga tidak sempat mengatakan apapun kepada Efira, yang penting sudah pamit kepada ayah bundanya.
“Kau sungguh ingin menyerahkan nyawamu rupanya” Ucap Alex pada Devan. Sekretarisnya itu sudah siap di bandara dengan wajah tenangnya.
Tidak peduli dengan bagaimanapun umpatan yang dilontarkan oleh Alex untuknya. Karena sebenarnya, Devan juga sama kalang kabutnya tadi pagi.
Di tempat yang sama, seorang lelaki dan seorang perempuan baru saja mendarat dari negeri orang. Mereka seperti bukan orang lokal.
“Akhirnya sampai” Ucap lelaki misterius itu dengan aksen Inggrisnya yang fasih.
“Ya ya, mari langsung ke perusahaannya” Ucap si perempuan. Setelah itu, mereka terlihat menaiki taxi.
“Sepertinya aku pernah tau dengan perawakan itu” Gumam Alex menatap dua sejoli yang baru saja melewatinya.
“Tuan” Tegur Devan membuat sang pemilik nama langsung menoleh dan tersadar.
Alex melangkahkan kakinya diikuti Devan, tak berselang lama, akhirnya mereka memasuki kabin pesawat pribadi keluarga Harrison dan lepas landas.
...***...
“Sekian rapat hari ini, sampai jumpa di pertemuan selanjutnya” Ucap Efira ramah.
Gadis itu keluar dari ruang meeting bersama Mira namun, kenapa ruang kerjanya terbuka?
Kemana perginya sekretaris kantornya, Keisha?
Gadis itu terus melangkahkan kaki jenjangnya mendekati pintu ruangannya.
“Nona, ada tamu” Ucap Keisha. Sesaat sebelum Efira masuk, Keisha lebih dulu menyapa Efira, dia baru saja meletakkan minuman untuk tamu itu sepertinya.
Jika diingat-ingat, sepertinya Efira tidak memiliki janji apapun dengan siapapun.
Lalu?
“EFIRA”
Suara itu terdengar familiar. Apa mungkin?
Efira segera menggeser tubuh Keisha untuk melihat siapakah tamu dadakannya.
Disana, berdiri seorang gadis manis. Efira tau dia siapa.
“Elena?” Efira langsung berlari, ingin melepas rasa rindunya kepada rekan kerjanya saat masih berada di butik dulu.
“Bukankah seharusnya kau datang besok?” Tanya Efira pada Elena. Mereka sudah duduk santai setelah melewati masa berpelukan yang lama.
“Dan kau? Woah kau juga jauh lebih tampan dari terakhir kali kita bertemu” Lanjut Efira pada seorang lelaki yang diketahui rekan Efira juga saat bekerja di Amerika.
“Tidak juga. kau jauh lebih banyak berubah, bahkan kurang dari satu tahun. Lihat saja, seorang CEO perusahaan interior terbaik se-Asia” Ucap lelaki itu.
“Kau bisa saja” Ucap Efira.
“Oh iya, kalian tinggal di hotel atau bagaimana?” Lanjutnya.
“Kami akan ke hotel setelah dari sini” Jawab Elena.
“Euum, tinggal saja di rumahku. Ayah dan bundaku sedang pergi berlibur. Aku merasa kesepian di rumah sendirian” Tukas Efira.
Mereka pun setuju, hitung-hitung hemat pengeluaran.
Gotcha, Efira melihat jam tangannya. Sudah jam makan siang, dia mengajak kedua rekannya untuk menyantap makan siang di kantin.
Tidak sedikit pasang mata yang memperhatikan mereka. Kadang ada saja yang berbisik.
“Siapa lelaki itu? Tampan sekali”
“Bos kita saja dulunya kuliah di luar negeri, mana sempat mencari teman lokal”
Kira-kira begitulah bisik-bisik karyawan disana.
Karena keberadaan kedua rekannya, setelah makan siang Efira mengantar keduanya ke rumahnya untuk beristirahat.
“Kalian istirahat saja dulu. Disini ada beberapa pelayan, kalian bisa memanggil mereka tapi, ingat. Jangan berbuat seenaknya dengan pelayanku. Jika kalian ingin camilan, pergi saja ke dapur. Jika tidak tau letaknya, tanyakan kepada pelayan disana. Mengerti?” Jelas Efira.
“Ah baiklah, apa kami satu kamar?”
“Tentu saja tidak. Kau bisa tinggal di kamar sebelah, sedangkan Frans bisa tinggal di kamar tamu itu” Efira menunjuk sebuah pintu di sebelah ruang tamu pada Elena. Sebenarnya itu bukan kamar tamu, itu kamar lamanya. Efira sudah pindah ke lantai atas satu tahun sebelum kepergiannya kuliah di luar negeri dulu.
“Oke, aku mengerti”
“Aku kembali ke kantor, jangan buat kekacauan” Efira berpamitan.
“Efira, aku ingin melihat proyeknya. Apa sudah berjalan?” Tanya lelaki yang diketahui bernama Frans itu.
“Sudah berjalan. Lusa kita bisa melihatnya, kalian harus istirahat. Aku juga ada beberapa meeting hari ini. Apa tidak masalah?”
“Tentu saja tidak. Kembalilah ke kantor. Aku menunggu kepulanganmu” Ucap Elena.
Saat itu juga Efira tersenyum, melambaikan tangan kepada kedua rekannya sebagai tanda perpisahan.
“Mobilnya di rumah? Apa dia tidak bekerja?” Gumam Efira saat melihat sebuah mobil mewah masih terparkir di halaman rumah Alex. Itu mobil Alex.
Cause I-I-I’m in the stars tonight
So watch me bring the fire and set the night alight (hey)
Shining through the city with a little funk and soul
Suara ponselnya membuyarkan lamunan Efira, gadis itu segera melihat siapakah gerangan yang menghubunginya di tengah hari begini?
Oh Mira
“Halo”
‘Nona, 20 menit lagi anda ada meeting. Kenapa masih belum kembali?’
Woah, lihat! Sekretarisnya lebih garang daripada bosnya.
“Iya, aku akan datang. Aku ingat, kau saja yang cerewet” Jawab Efira lalu mematikan sambungan panggilan mereka secara sepihak.
Dengan sedikit terburu-buru, Efira menginjak pedal gas mobilnya. Lupa dengan misteri Alex dan mobilnya.
“Nona, Devan mengabari saya bahwa dia dan juga tuan Alex melakukan perjalanan bisnis ke Paris” Ucap Mira, setibanya Efira di kantor.
What the hell?
Efira dibuat ternganga dengan pernyataan Mira. Apa begini rasanya ditinggalkan tanpa sebuah pesan?
Gadis itu memastikan ponselnya. Memang tidak ada pesan satupun dari Alex.
Benar-benar sialan, pikir Efira. Baru semalam mereka merayakan hari bahagia, sekarang sudah pergi tanpa kabar? Apa sahabatnya itu memang sedang mengibarkan bendera peperangan?
Cih
Efira memilih untuk segera bersiap untuk meeting lagi setelah ini.
Berpikir positif saja, mungkin Alex tidak sempat mengabarinya. Nanti jika transit, lelaki itu pasti akan memberi kabar.
TAPI, DEVAN SAJA BISA MEMBERI SEBUAH KABAR UNTUK MIRA, KENAPA ALEX TIDAK?
Wait?
“Memangnya ada hubungan apa kau dengan Devan?” Tanya Efira pada Mira. Tatapannya penuh selidik.
Tentu saja Mira dibuat gugup. Hey, benar juga. Kenapa Devan menghubungi Mira tentang hal itu?
“Tidak nona, Devan memberitahuku mungkin karena dia tau tuan Alex belum mengabari anda”
Alasan yang bagus Mira. Terbukti dari Efira menganggukkan kepalanya mengerti.