You

You
Sama-Sama Sandiwara



“Lalu bagaimana selanjutnya?” Tanya Efira pada Alex.


Mereka sedang ada pada perjalanan pulang.


“Cari tau dulu tentang keluarga Johnson, aku akan melacaknya nanti. Semoga saja masih ada yang bisa direntas. Lalu besok kita pergi ke lokasi kejadian, mungkin saja disana ada CCTV atau apa yang bisa membantu kita menemukan titik terang dimana letak bayi itu ketika kejadian” Ucap Alex.


Efira mengangguk setuju, melihat jam tangannya. Ternyata mengambil data begitu saja memakan waktu yang cukup lama, pikirnya.


Mengambil data begitu saja? Jika Alex bisa mendengar suara hati Efira, pasti lelaki itu sudah mengomel. Mungkin dipikir Efira membobol sistem dan merentas rekaman video CCTV itu tidak membutuhkan otak jenius?


Alex juga terlihat menatap jam tangannya, “Sudah hampir jam makan malam. Mau makan di rumah atau mampir saja?” Tanya Alex pada kekasihnya.


Efira terlihat berpikir sebentar, “Makan malam di rumah saja” Jawab gadis itu yang dihadiahi anggukan kecil oleh Alex.


Lelaki itu pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal.


“Alex, kira-kira jika nanti kita sudah menemukan titik terang dan sudah memiliki cukup bukti. Ketika aku menanyakannya ke ayah dan bunda, apa mereka mau menjawabnya?” Tanya Efira di tengah keheningan mereka.


“Jika kau ada di posisi orang tuamu, apa yang akan kau lakukan?” Tanya Alex, membalik pertanyaan sang gadis.


“Aku akan menceritakannya, kepalang tanggung juga. Kenapa harus mengelak saat bukti sudah ada di depan mata?”


“Jika kau sudah tau jawabannya, kenapa kau harus bertanya?” Ucap Alex.


Efira tertegun sebentar, benar juga yang dikatakan kekasihnya itu.


“Tenang saja, kau pasti mendapatkan apa yang kau mau” Ucap Alex, mengelus pelan punggung tangan sang gadis.


...***...


Di ruang keluarga kediaman Javonte, tuan dan nyonya Javonte sedang berbincang serius juga.


“Efira sudah menemukan berkas itu, apa tidak seharusnya kita ceritakan saja padanya?” Tanya nyonya Javonte kepada suaminya.


Katakanlah keluarga Javonte adalah keluarga drama terbaik kali ini. Bahkan tuan dan nyonya Javonte pun bersikap seolah biasa saja di hadapan putrinya, padahal mereka juga resah dengan penemuan sang anak.


“Tidak, Efira tidak boleh tau. Dia sudah dewasa, akan sangat terlambat jika diceritakan hari ini” Ucap tuan Javonte.


“Lagipula, bukti-bukti sudah tersapu bersih. Dia tidak akan menemukan apapun” Lanjut lelaki paruh baya itu.


“Bukankah dia berhak tau? Dia juga anak kita” Ucap sang istri memberikan masukan untuk suaminya.


“Kisahnya sudah terlalu lama terjadi tapi, kau pasti akan kembali merasakan sakit itu jika kita menceritakannya lagi. Ini demi kesehatanmu, aku tidak ingin mentalmu terganggu lagi” Ucap tuan Javonte.


Memang setelah kecelakaan itu terjadi, nyonya Javonte terasa seperti kehilangan hidupnya. Rasa trauma karena kecelakaan dan kehilangan sang bayi jelas membuatnya harus merenggang mental dua kali lebih terpukul.


“Tapi, dia perlu tau. Jika Efira menanyakannya maka, sudah seharusnya kita menceritakan yang sebenarnya”


“Buktinya Efira tidak lagi mempersalahkan hal itu, bunda. Efira terlihat biasa saja dan tidak membuat buntut dari penemuannya tempo hari” Jelas tuan Javonte.


Tidak ada buntut?


Mereka belum tau atau bahkan sepertinya mereka tidak mengawasi gerak-gerik putri semata wayangnya. Tidak tau saja di belakang sana apa yang sedang dilakukan gadis itu bersama sang kekasih.


“Cepat atau lambat dia pasti akan mempertanyakannya lagi. Dia gadis yang cerdas, dia tidak akan semudah itu untuk percaya dengan apa yang kita ungkapkan tempo hari. Percayalah, dia juga pasti sangat penasaran”


“Sudahlah, tidak usah berdebat begini. Efira juga tidak mempermasalahkannya lagi sekarang. Justru karena dia adalah gadis yang cerdas, dia tidak akan memberikan respon sesantai itu. Seharusnya dia memaksa kita untuk menceritakannya tapi, apa? Efira terlihat sangat netral dan natural” Sahut tuan Javonte, memeluk pelan bahu sang istri untuk tidak terlalu memikirkan yang tidak begitu penting menurutnya.


“Efira pulang”


Terdengar suara anak gadis mereka dari ruang tamu sana. Baru kembali di jam makan malam sepertinya akan menjadi kebiasaan baru Efira.


“Kau selalu pulang lebih lambat dari jam pulang kantor. Apa masih mampir ke butik?” Tanya tuan Javonte, berbicara seolah tidak ada perbincangan serius sebelumnya dengan nyonya Javonte.


“Seperti biasa saja ayah, sudah seharusnya kontrol di awal-awal pembukaan begini” Ucap Efira berbohong.


Maafkan aku ayah, bunda. Aku harus berbohong kali ini. Batin Efira.


“Kau sudah makan?” Tanya nyonya Javonte pada putrinya.


Putrinya itu terliat sangat lelah, rupanya setelah melewati hari yang panjang membuatnya terlihat lebih kurus dari biasanya.


“Belum, aku ingin makan di rumah bunda” Jawab Efira.


“Kalian sudah makan?” Lanjut gadis itu, berharap kedua orang tuanya belum menyantap makan malam mereka agar dirinya dan orang tuanya bisa makan malam bersama.


“Belum, menunggu dirimu pulang” Ujar tuan Javonte.


“Yasudah, ayo makan” Ajak Efira, mulai berdiri dari tempat duduknya.


“Kau tidak ingin bersih dulu, Efira?” Tanya sang bunda, mengingatkan anaknya.


“Nanti saja bunda, yang penting cuci tangan cuci kaki. Cuci badannya nanti saja, perut Efira sudah konser ingin disawer nasi”


Perumpamaan yang bagus Efira. Lihat saja, ungkapan itu sanggup membuat orang tuanya geleng-geleng tidak percaya. Bingung, sebenarnya sikap konyol Efira ini menurunnya dari siapa? Bukankah tuan dan nyonya Javonte tidak se-aktif itu meskipun di masa mudanya dulu.


“Pergaulan di luar negeri membuatku jadi pecicilan begini tapi, ini menyenangkan bukan? Daripada aku harus menjadi seorang introvert?” Ucap Efira seperti dapat membaca pikiran ruan dan nyonya Javonte.