
“Ini akta kelahiran siapa?”
“Dia siapa?”
“Apa hubungannya dengan ayah dan bunda?”
“Apa aku harus menanyakannya kepada ayah dan bunda?”
“Apa sebenarnya aku memilikinya?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk di otaknya. Semalaman Efira masih dibuat bingung dengan isi dari berkas-berkas yang ia temukan.
“Otakku mau meledak rasanya” Gumam Efira.
Pukul 03.00 dini hari, Efira baru bisa memejamkan matanya, itupun jika bukan karena ketiduran mungkin dirinya tidak akan dapat tertidur.
Kriing
Kriing
Kriing
Suara ricuh alarm dari kamar Efira terdengar memenuhi pendengaran.
“Hoaaaam”
Tepat di pukul 06.00 pagi, Efira terbangun dengan mata bengkak akibat kekurangan tidur.
“Efira, ada dengan dirimu? Kurang tidur?” Tanya tuan Javonte ketika putrinya turun dari kamarnya untuk ikut sarapan bersama.
“Hm. Efira hanya terlalu sibuk semalam, ayah” Jawab Efira, mengucek pelan matanya.
“Memangnya kau tidur jam berapa?” Tanya nyonya Javonte.
“Kira-kira pukul 03.00 dini hari”
Efira mulai mengambil sepotong roti untuk sarapannya.
“Sebenarnya apa yang kau lakukan hingga tengah malam begitu?” Tanya nyonya Javonte kepada putrinya.
“Rencananya ingin membuat sketsa terbaru di butik”
“Lalu?” Ucap tuan Javonte, meminta penjelasan lebih dari putrinya.
“Begini, karena sedang stuck. Tidak tau apa yang harus digambar tapi, aku sudah berada di semangat 45 tidak mungkin jika aku hanya diam berpikir tanpa menghasilkan apapun. Aku teringat dengan sketsa pertama waktu sekolah. Saat mencari di seluruh penjuru ruang kerja, tidak menemukan satu buku gambar pun” Jelas Efira panjang lebar.
“Apa ayah atau bunda membersihkannya saat Efira masih kuliah? Ada melihatnya dimana begitu?” Lanjutnya, mengingat dirinya tidak menemukan itu bahkan di gudang.
Ah tidak, gadis itu memang tidak mencarinya hingga tuntas kemarin.
“Tanyakan pada bundamu yang selalu membersihkan kamarmu” Jawab ayahnya.
“Hmm, sepertinya bunda menaruhnya di gudang. Di tumpukan kardus dekat pintu” Ucap sang ibunda.
Aku perlu memancing atau langsung tanyakan saja? Batin Efira mengingat berkas-berkasnya.
Omong-omong tentang berkas tersebut, Efira sudah membawanya di tas miliknya.
“Bunda bisa bantu mencarinya?” Tanya Efira, memasukkan satu potong roti selai coklat ke mulutnya.
Seolah tidak tau apa-apa, gadis itu tetap berlagak tidak pernah datang ke gudang kemarin malam. Lihat saja ekspresinya sangat natural.
“Boleh, kapan kau menginginkan buku gambarmu itu?”
“Sebenarnya Efira membutuhkannya segera tapi, sebisanya bunda saja. Jangan mencari sendiri, nanti biar aku bantu”
Setelah berbincang beberapa waktu dan menyelesaikan acara makannya, gadis itu akhirnya berpamitan pergi untuk bekerja.
“Efira berangkat” Begitu kata perpisahan untuk kedua orang tuanya.
...***...
Di kantornya, Efira masih memikirkan berkas yang ia bawa. Gadis itu membukanya satu per satu hingga habis halamannya. Tidak banyak, hanya penjelasan singkat dari biografi seseorang itu.
“Apa benar jika dia,-”
Tok
Tok
Tok
Belum sempat gadis itu menyelesaikan gumamannya, seseorang telah mengetuk pintu ruangannya. Mungkin Mira atau Keisha yang ingin memberikan jadwalnya hari ini?
“Masuk” Ucap Efira.
Pintu tersebut terbuka, dan dugaannya salah. Ternyata itu adalah Alex.
“Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini?” Tanya Efira pada kekasihnya.
Lelaki itu memasuki ruangan tersebut, meletakkan paperbag entah berisi apa di dalamnya.
“Untuk makan siangmu. Aku yakin kau tak akan menjaga kesehatanmu setelah ini” Ucap Alex.
“Kau membawakan apa?” Tanya Efira.
“Itu ayam suwir dan juga bolu coklat kesukaanmu. Bolunya bisa kau bagi dengan Mira dan Keisha jika mungkin kau tak sanggup menghabiskannya sendirian” Ujar Alex.
Efira tersenyum sebentar, menatap paperbag itu singkat. “Terimakasih untuk perhatianmu” Ucapnya.
“Kau pikir itu gratis?”
“Apa harus bayar?” Tanya Efira menanggapi kekasihnya, menahan kesal asal ketidak sopanan lelaki itu.
“Tentu” Jawab Alex dengan santai, seperti tidak ada dosa di wajahnya.
“Berapa aku harus membayarnya?” Tanya Efira, memasang wajah sedatar mungkin.
“Bukan berapa tapi, dengan apa” Alex mengubah pernyataan gadisnya.
“Maksudnya?” Tanya Efira kebingungan.
“Ayo ulangi ucapanmu” Pinta Alex, meminta Efira segera meralat ucapannya.
Dengan perasaan dongkol di dalam hatinya, gadis itu tersenyum dengan paksa lalu mengatakan “Dengan apa aku harus membayarnya tuan Alexander Harrison?”.
Alex menarik Efira dari singgasananya sedikit keras hingga menumbuk dada kekasihnya. “Sweet kiss on my lips” Bisik Alex seduktif di telinganya.
Seketika, Efira menelan ludahnya susah payah. Alex segera memajukan wajahnya, ingin menggapai bibir kekasihnya. Sampai di satu centi lagi, “Nona, maaf. An,-”
Mira terdiam ditempatnya mendapati atasannya sedang berciuman?
Ah tidak, rupanya masih hampir.
Tapi, hal itu tentu saja membuat Efira langsung mendorong kekasihnya. Sangat tidak estetik sekali dipergoki sekretaris di ruang kerjanya sendiri.
“Maafkan saya nona, saya hanya ingin memberi tahu bahwa anda ada pertemuan dengan perusahaan asing pagi ini. Permisi”
“T-Terimakasih Mira” Jawab Efira gugup. Sangat memalukan.
Mira menutup pintu ruangan atasannya dengan hati-hati, tidak berani menatap atasannya. Apalagi menatap Alex, pasti dia akan dipanggang setelah ini.
“Sekretarismu itu seperti tidak punya sopan santun. Bisa-bisanya dia membuka pintu ruanganmu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?” Protes Alex.
“Kau juga yang salah, tidak tau tempat” Balas Efira. Membayangkan bagaimana dirinya nanti jika bertemu dengan Mira.
“Ah, nanti pasti akan aku lakukan ditempat yang lebih tepat. Aku sudah tidak bergairah, kau harus membayar double suatu saat nanti. Aku pamit, love you” Ucap Alex mengecup pelan puncak kepala gadisnya.
“Hati-hati” Gumam Efira.
Alex hanya mengangguk sambil tersenyum manis menanggapi Efira.
...***...
“Aku pulang” Ucap Efira saat memasuki ruang tamu keluarganya. Terlihat kedua orang tuanya sedang bersantai sembari menonton acara talk show di ruang keluarga.
“Kenapa malam sekali pulangnya, Efira?” Tanya nyonya Javonte.
Memang Efira baru menginjakkan kaki di rumahnya kira-kira pukul 20.00, memang terlalu malam dari jam kerja yang normal dan setau nyonya Javonte, perusahaan tidak ada lembur hari ini.
“Efira mampir dulu ke butik” Balas Efira pada bundanya.
“Sayang, jangan terlalu memaksa tubuhmu untuk bekerja. Kau bisa menyambangi butikmu dengan jangka waktu, mungkin satu minggu atau satu bulan satu kali. Bukankah tidak apa-apa seperti itu?” Ucap nyonya Javonte, menasehati putri semata wayangnya.
“Istirahatlah” Tutur tuan Javonte, meminta anaknya untuk mengistirahatkan diri setelah bekerja seharian.
“Efira ingin mencari buku gambar dulu. Bunda, bisakah saat ini?” Ucap Efira menagih janji sang ibunda tadi pagi untuk membantunya mencari buku gambar sketsanya.
“Tentu bisa sayang tapi, setidaknya makan malam dulu. Biar Bi Inah yang siapkan untukmu. Kau tidak ingin bersih-bersih tubuh dulu?” Saran nyonya Javonte.
“Nanti saja bunda, ayo cari dulu. Disana kan sedikit berdebu, akan lebih baik jika aku tidak bersih diri dulu”
Benar juga. Efira dan bundanya akhirnya berjalan bersama menuju gudang. Mencari buku gambar yang sempat tak ia cari semalam.
Ceklek
Suara pintu gudang terbuka. Nyonya Javonte langsung menuju pada suatu tempat, membuka kardus-kardus disana.
Tidak butuh waktu lama, wanita paruh baya itu langsung menemukan satu kotak berisi buku gambar Efira dulu.
“Ini kah?” Ucap nyonya Javonte menunjukkan kotak tersebut pada Efira yang tengah jalan-jalan mencari cela untuk membongkar berkas lain tentang seseorang yang ia temukan semalam.
Pikirnya bundanya akan membutuhkan waktu yang lama untuk mencari buku gambarnya tapi, ternyata tidak. Itu bahkan belum sepuluh menit tapi, sang ibunda sudah menemukan buku gambarnya.
“Ah, iya bunda. Itu buku gambar Efira” Jawab Efira semangat.
Ralat, pura-pura semangat.
“Yasudah, bawa ini dan mari pergi dari sini. Kau bisa flu jika terlalu lama menghirup debu” Bagitu ucapan nyonya Javonte untuk mengakhiri pencarian mereka.
“Bunda duluan saja, Efira ingin mencari buku-buku untuk penambahan bakti sosial”
Itu tidak berbohong. Kata pepatah, sambil menyelam minum air, sambil mencari berkas bisa sembari mencari amal baik.
Efira memang ada kegiatan bakti sosial beberapa waktu lagi. Selain dari makanan dan buku-buku pelajaran yang baru, gadis itu juga ingin menyumbangkan buku-buku novelnya yang disimpan di sana.
“Mau bunda bantu?” Tanya Bundanya.
“Tidak,bunda. Efira akan menyelesaikannya sendiri”
“Atau ingin dibantu pelayan? Kau ini bagaimana, memiliki banyak pelayan tapi, kau tidak memberikan mereka pekerjaan sedikitpun” Ucap sang ibunda.
“Tidak, bunda. Mereka sudah punya tugas masing-masing. Biar Efira mengurus ini sendiri” Tolak Efira halus.
“Baiklah, hati-hati. Jangan lama-lama lalu segeralah bersih-bersih dan makan” Ujar nyonya Javonte.
“Iya bunda”
Nyonya Javonte keluar kembali menemani sang suami.