You

You
Satu malam di Florence



Florence, terletak di sepanjang Sungai Arno.


Tiba di hotel siang hari, dari Roma menuju Florence hanya membutuhkan waktu 15 menit menggunakan taxi Alex dan Efira langsung check in hotel.


“Ya Tuhan, nikmatnya” Efira segera merebahkan tubuhnya ke kasur, selalu seperti itu bukan?


Alex hanya tersenyum melihat istrinya tergeletak nyaman disana.


“Hari ini kita istirahat saja ya, nanti kita pergi bar atau café saja sebagai pembuka liburan di kota ini” Ucap Alex, lelaki itu mulai membuka kopernya dan menata beberapa barang disana, begitupun milik Efira.


“Alex, sini” Efira menepuk space kosong di sebelahnya.


Alex melihatnya, “Sebentar” Ucap lelaki itu sambil terus melanjutkan pekerjaannya.


“Tinggalkan saja itu, aku ingin tidur memelukmu” Ucap Efira manja. Maklum, di sana tidak ada guling.


“Manja sekali ya” Alex menghampiri istrinya, memeluk wanita itu agar tertidur pulas.


Setelahnya, lelaki itu melanjutkan pekerjaannya.


Tengah malam, Efira belum juga terbangun sedangkan Alex masih terjaga dengan laptop yang masih setia di depannya.


“Sebenarnya apa yang dilakukan Devan disana sampai tidak sempat melihat pekerjaan ini” Gumam Alex.


Benar-benar tidak tau diri bukan?


Drrrt


Drrrt


Drrrt


Alex melihat ponselnya, “Devan?”


“Hah, panjang umur sekali” Gumamnya lalu mengangkat panggilan itu.


“Halo, kakak ipar” Sapa Alex, terkesan kurang ajar memang.


“Kau dan Efira harus pulang!” Devan membalas dengan nada serius dari seberang sana.


Hal itu tentu membuat Alex bingung dan juga khawatir.


“Apa yang sudah terjadi?” Tanya Alex, paham dengan situasi yang terjadi.


“Efira bersamamu?” Tanya Devan.


“Sedang tidur” Jawab Alex singkat.


“Aku sudah mengirim pesawat ke Florence, pergilah ke bandara secepatnya” Devan berucap begitu to the point.


“Wait, katakan ada apa sebenarnya?”


Deg


“WHAT THE HELL BRO?” Alex terkejut, tentu saja.


Tiba-tiba menikah?


“Kau tau aku sama liciknya denganmu kan? Sepertinya tembakanku tepat sasaran malam itu”


“Perset*n dengan pernikahanmu, aku tidak mau pulang” Ucap Alex lalu menutup panggilan mereka secara sepihak.


“Gila, apa dia benar-benar menghamili Mira sampai menikah secepat ini? Pantas saja pekerjaan masih menumpuk, ternyata malah melakukan hal yang lain, sedikit kaparat memang tapi, ya sudahlah” Alex memijat keningnya pelan, tidak mau ambil pusing dengan kakak iparnya.


Lelaki itu melihat Efira sebentar, menatap ponsel wanita itu yang terus hidup, “Pasti kakaknya itu sedang mencoba menghubungi gadis manisku ini, sorry bro tapi, kau tidak bisa mengganggu kami” Gumam Alex, mengambil ponsel Efira dan mematikannya.


Sudah jam makan malam tapi, kenapa Efira tidur nyenyak sekali?


“Sayang, kau tidak mau bangun hm?” Alex menepuk pipi Efira pelan, membangunkan wanitanya minimal untuk makan malam.


“Eungh” Efira melenguh pelan, menarik tangannya ke atas, merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


“Bangunlah, aku sudah memesan makan malam” Ucap Alex, mengelus surai hitam istrinya yang selalu menjadi favoritnya sejak dulu.


“Sudah malam?” Tanya Efira, melihat sekitar yang sudah terlihat gelap, hanya lampu-lampu terang yang menyinari kota tua nan indah itu.


“Kenapa tidak membangunkanku dari tadi? kan jadi tidak bisa jalan-jalan” Efira merajuk, membayangkan betapa indahnya florence di sore hari.


“Masih ada waktu besok sayang, kau bisa jalan-jalan semaumu okey” Alex memberikan kecupan singkat di puncak kepala Efira.


“Ayo bangun, kau mau makan atau bersih-bersih dulu?”


“Makan saja dulu” Sahut Efira.


Tidak ada percakapan istimewa di antara keduanya malam itu atau mungkin karena Efira baru saja bangun?


“Aku mau mandi” Ucap Efira setelah membereskan pantry tempat mereka makan.


“Hmm” Gumam Alex sebagai jawaban, matanya sudah fokus dengan laptopnya lagi.


“Kau tidak mau ikut?”


Alex segera menolehkan kepalanya, menatap Efira bingung, “Apa boleh?” Tanyanya.


“I’m yours, Lex” Jawab Efira langsung masuk ke kamar mandi tanpa mempedulikan Alex yang menatapnya bingung.


Setelah mendengar jawaban itu, Alex langsung berdiri, smirk andalannya muncul di wajah tampan itu.


“Sayang, aku ikut” Lelaki itu segera menyusul istrinya masuk ke kamar mandi.