You

You
Mati Lampu



Sepulang dari acara tersebut, Efira menyempatkan diri mampir ke toko kain katanya ingin membeli beberapa ornamen untuk gaun yang sedang ia rancang. Sedangkan orang tua Alex dan Efira katanya sedang pergi ke puncak, menyegarkan diri sebelum pesta nyonya Harrison esok hari.


“Sayang, bagaimana kau akan beristirahat jika begini hm?” Ucap Alex, sedikit tidak terima dengan jam kerja kekasihnya yang seperti ini.


“Butik dan perusahaan sudah menjadi tanggung jawabku. Tenang saja, aku pasti akan menjaga pola tidur, pola makan, dan juga kesehatanku” Jawab Efira santai.


Alex menghela napas berat, sebenarnya lelaki itu tidak setuju dengan cara kerja Efira yang seperti ini. Terkesan seperti robot saja.


“Aku hanya takut kau sakit, kondisimu sedang banyak pikiran jadi aku tidak bisa meremehkan kesehatanmu” Tegur Alex, pandangannya lurus ke depan. Satu tangannya untuk menyetir sedangkan tangan yang lain digunakan untuk mengelus pelan punggung tangan kekasihnya.


“Alex, aku akan baik-baik saja. Percayalah” Ucap Efira yakin.


Apa boleh buat?


Alex terus mengeluh pun akhirnya dia akan terkena imbasnya. Mereka pasti akan berakhir dengan debat pikiran seperti biasa. Efira juga bukan gadis yang sangat kalem, dia bisa menyerang kapan saja.


...***...


“Efira, kita sudah sampai”Ucap Alex menepuk pelan pipi gadisnya.


Ini sudah 5 menit sejak dia membangunkan Efira bangun tapi, gadis itu tidak kunjung membuka matanya. Sepertinya gadis itu kelelahan?


Alex memutuskan untuk menggendong Efira hingga ke kamar gadis itu yang terletak di lantai dua, tepat berseberangan dengan kamarnya. Bi Inah jelas sudah mengizinkan Alex untuk memasuki kamar nona muda keluarga Javonte itu.


Setelah menidurkan Efira, lelaki itu berjalan menuju walk in closet. Dia mengambil piyama milik kekasihnya.


Tidak ada yang istimewa, dia sudah pernah melihat itu jadi, ya lakukan saja.


Alex mematikan lampu utama, lampu yang menerangi seluruh ruangan. Lalu Alex menghidupkan lampu tidur di nakas Efira. Gadis itu sedikit terganggu dengan cahaya yang tiba-tiba hilang dari pandangannya dan kali ini Alex tidak peduli. Yang penting selesaikan saja dulu urusannya lalu pergi, begitu pikir Alex.


Setelah selesai, Alex dapat bernafas dengan lega, menghidupkan lagi lampu utama dan menatap sekitarnya. Ternyata masih banyak ornamen-ornamen K-pop di kamar gadis itu.


Alex jadi ingat saat di Amerika, kekasihnya itu sering sekali membeli merchandise BTS. Katanya, membantu perekonomian suami masa depan.


“Sebenarnya apa pentingnya kau membeli semua ini ha?” Kesal Alex. Dia sedang menemani Efira membuka paket dari agensi kesayangan sahabatnya itu.


“Kau tau? Karena aku tidak bisa menonton konsernya saat masa kuliah begini maka, aku membantu mereka dengan cara lain” Jawab Efira.


“Alasan. Ini hanya untuk kepusan pribadimu, Efira. Memangnya membantu apa kau dengan membeli semua merchandise ini ha?” Tegas Alex. Dia kesal dengan gadis di hadapannya itu.


“MEMBANTU PEREKONOMIAN SUAMI MASA DEPAN, ALEX” Teriak Efira, gadis itu tak kalah kesal dengan sahabatnya yang terus mengoceh sejak tadi.


“Bagus jika kau benar-benar dinikahi oleh salah satu dari mereka tapi, sayangnya itu hanya ada di mimpimu maka, hentikan buang-buang uang begini” Sahut Alex.


“Kalau kau hanya ingin mengomel, pulang saja sana” Usir Efira.


Alex tersenyum mengingat hal manis itu, dia mengelus pelan surai hitam kekasihnya, lalu mengecup keningnya. Sedikit lama, mungkin 10-15 detik sebelum akhirnya dia pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya juga.


Awalnya semua berjalan baik-baik saja. Efira tidur dengan tenang, begitupun Alex namun tepat di pukul 00.00.


Dep


Lampu tiba-tiba padam, Efira langsung membuka matanya dan bingung. Dia adalah gadis yang takut dengan kegelapan.


Gadis itu mencari ponselnya di nakas, lupa jika dirinya sampai di kamar saja tidak tau bagaimana.


Bingung.


Bayangan masa lalunya terus menghantui dirinya.


“Kau harus mati”


“TIDAK” Teriak Efira.


“Kau mau mati dengan cara apa, cantik?”


Efira menutup telinganya rapat-rapat, berharap suara-suara mengerikan itu enyah dari bayangannya.


Alex juga terbangun saat dia merasa suasana sekitarnya sedikit berbeda.


“Euhm, mati lampu” Gumam Alex lalu melanjutkan tidurnya.


Namun, hanya berselang dua menit sebelum, “APA?”


Alex lari tunggang langgang menuju rumah kekasihnya. Pasti gadis itu sedang ketakutan setengah mati. Apalagi rumahnya sedang kosong, semua pelayan pasti ada di mess mereka saat ini.


BRAK


“EFIRA?” Teriak Alex mencari keberadaan kekasihnya.


Lampu senter dari ponselnya segera dihidupkan.


Dia melihat kekasihnya sedang menangis di pojok ruangan, ada rasa lega karena Efira baik-baik saja, maksudnya tidak terluka.


“Efira?” Panggil Alex lembut, dia menghampiri gadis itu perlahan lalu memeluk gadisnya erat.


Tentu saja Efira membalasnya tak kalah erat, menyalurkan ketakutannya disana.


“Hei, lihat aku” Ucap Alex, dia mendongakkan kepala Efira agar dapat melihatnya.


Mata keduanya bertemu, Alex menatap kekasihnya dengan lembut dan hangat.


“Everything will be okay. Aku temani ya, kau harus istirahat” Ucap Alex, menuntun Efira menuju ranjangnya.


Awalnya gadis itu nampak enggan, dia sedikit takut meskipun sudah ada pencahayaan dari ponsel Alex. Namun, lelaki itu tetap sabar membujuk Efira hingga gadis itu menurut.


“J-Jangan pergi” Ucap Efira pelan, dia memeluk Alex erat. Sepertinya mereka akan tidur berdua malam ini.


Tapi, Alex tidak menjawab. Dia hanya terus mengelus surai kekasihnya.


Efira merasa nyaman namun, matanya tidak ingin terpejam. Dirinya terus menatap wajah Alex, ada rasa bersalah saat melihat wajah sayu kekasihnya.


Pasti dia lelah, pikir Efira.


Efira akhirnya mengecup pelan bibir Alex, memberikan kehangatan sekaligus permintaan maaf lewat ciuman itu.


Mereka hanyut dalam dunia mereka sendiri, tidak ada hal lain yang terjadi. Mereka hanya menghabiskan waktu dengan ciuman hingga lelah dan mengantuk.


Dalam remangnya malam, terlihat bibirk keduanya sedikit membengkak karena permainan mereka sendiri.


Sesekali tanpa sadar, Efira semakin mengeratkan pelukannya kepada Alex.