You

You
Trastevere



Hari kedua di Roma, Efira benar-benar merasa badannya remuk redam.


“Ini gara-gara Alex” Gumam Efira, melihat lelaki yang masih tidur dengan tenang di sampingnya.


“Kau sedang membicarakan aku sayang?” Tanya Alex, menarik tubuh Efira lebih dekat padanya.


“Tidak, ayo bangun. Aku tidak mau kesiangan seperti kemarin lagi” Sahut Efira, memberontak ingin segera mandi.


“Mau mandi bersama lagi?”


Efira segera lari tunggang langgang membawa selimut bersamanya, tidak mau jika kejadian kemarin terulang lagi, bisa-bisa acara jalan-jalannya hari ini gagal total.


Hari itu mereka walking tour, keluar pukul 08.00 pagi ditemani dengan seorang tour guide, Alex ingin saja menggunakan jasa itu, dia ingin menghabiskan waktunya dengan maksimal, mendengarkan sejarah kota Roma dari yang lebih tau.


“Buongiorno, signore” Ucap seseorang yang terlihat seperti orang lokal, menyapa Alex dan Efira di depan hotel.


“Buongiorno” Sapa Alex ramah.


“Perkenalkan, dia Alberto, tour guide kita hari ini” Ucap Alex, memperkenalkan pria itu pada Efira.


“Efira” Wanita itu mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan.


“Alberto” Lelaki itu menerima uluran tangan Efira sopan.


Sambil berjalan, Alberto menjelaskan tentang kedahsyatan kota Roma, ia juga menjelaskan potongan-potongan sejarah dan filosofi di balik tempat-tempat yang mereka lewati.


“Aku seperti berada di museum terbuka yang tidak pernah habis ceritanya” Bisik Efira pada Alex, wanita itu menggandeng tangan suaminya mesra. Lupakan saja tentang lelahnya tubuh tadi pagi, Efira siap bersenang-senang hari ini.


“Trastevere dulunya di huni oleh orang-orang Yahudi dan Syria namun, seiring dengan berjalannya waktu kami berubah menjadi salah satu daerah bohemian yang hip dan artistic” Sedikit demi sedikit penjelasan itu keluar dari mulut Alberto.


Pukul 09.00, mereka berhenti pada salah satu restoran mengingat Efira dan Alex belum sarapan, mereka mengajak Alberto ikut serta meski pada meja yang berbeda, lelaki itu menghargai privasi kliennya.


“Hmm, kenapa makanan disini terlihat seperti sama saja yaaaa?” Gumam Efira, kali ini serius membolak-balikkan menu yang terlihat mirip-mirip dari gambarnya.


“Saltimbocca adalah makanan yang sulit kau temui, kau hanya memiliki dua pilihan untuk menyantapnya, satu pesan di restoran ternama dua mengikuti kelas memasaknya” Jelas Alex.


Efira terlihat antusias, membolak-balik menu mencari nama saltimbocca di dalamnya.


“Apakah disini ada?” Ucap Efira, masih terus mencari.


“Ada, kita bisa memesannya”


Alex memesannya untuk Efira. Sarapan pagi itu terkesan biasa saja, hanya obrolan ringan yang keluar di antara keduanya sebelum mereka melanjutkan perjalanan.


Sepanjang jalan Efira terus melihat pada gang-gang dengan Cobbled streets dan medieval houses yang masih sangat terasa.


“Kurasa ini adalah karakter original Trastevere” Gumam Efira.


Mereka melewati banyak tempat bersejarah seperti Jewish Ghetto, Monumento a Vittorio, Emanuele II, Piazza Farnese,Piazza Vanezia, Fontana di Trevi dan Forum Romanum. Semua itu memiliki sejarah yang bisa di dengar oleh keduanya.


“Aku tidak begitu menyukai pelajaran sejarah dulu tapi, ini begitu indah sangat menarik untuk di dengar” Efira terus berkomentar takjub, melihat Roma secara langsung membuatnya terasa hidup di dunia kerajaan.


“Kau pernah dengar pernyataan Rome was not built in a day? Aku rasa itu benar” Efira berjalan santai, menikmati pemandangan di sekitarnya.


Tempat terakhir yang mereka kunjungi adalah Fontana di Trevi, air mancur besar dari marmer yang cukup ikonik di Roma. Disana ada patung Neptune, dewa laut yang berdiri di atas kereta kencana, berbentuk seperti kerang dan di tarik oleh dua kuda.


“Ini berusia ratusan tahun, dia hanya memiliki satu sumber mata air yang ajaibnya tidak pernah berhenti mengalir padahal dia mengisi puluhan air mancur lainnya di sekitar Roma” Ucap Alex singkat.


Alberto?


Lelaki itu sudah disuruh pulang oleh Alex saat mereka tiba di air mancur itu karena walking tour mereka memang berakhir di air mancur itu. Alex akan menghabiskan waktunya hanya berdua dengan Efira disana hingga nanti, bagus juga jika Efira mau diajak ke bar atau café.


“Kau tau, disini ada satu legenda yang unik” Alex memeluk Efira dari belakang, menyalurkan kehangatan untuk wanitanya.


“Apa?” Tanya Efira.


“Lihat, di bawah sana ada banyak sekali koin bukan?” Alex menunjuk mata air jernih itu.


“Ya, lalu kenapa?” Tanya Efira setelah melihat tumpukan koin yang tenggelam di bawah air mancurnya.


“Jika kau melempar satu koin menggunakan tangan kanan dan melewati bahu kanannya, dipercaya kau akan kembali lagi kemari. Jika melempar dua koin, kau akan menemukan pria/wanita rupawan. Dan jika kau melempar tiga koin, kau akan menikah dengan seseorang tersebut” Jelas Alex, masih memeluk Efira.


Gadis itu tersenyum, terlintas untuk menggoda suaminya, “Aku ingin melempar dua dan tiga koin saja, itu pasti akan menyenangkan bisa berkenalan dan menikah dengan orang lokal sini” Ucapnya.


Pletak


Satu jentikan pelan sukses mendarat di kening Efira, “Apa permainanku kurang memuaskanmu sayang hingga kau mau mencari suami lain hm?”


“Kenapa otakmu itu hanya berpikir tentang ranjang hm?” Balas Efira.


“Siapa yang mengatakan tentang ranjang? Kau saja yang sudah kotor pikirannya, aku sedang membicarakan tentang kebahagiaanmu, kebebasanmu bersamaku, apa kurang puas?”


Blus


Wajah Efira sukses memerah seperti udang rebus.


“A-Aku ingin melempar satu koin saja. Dimana aku bisa mendapatkan koinnya?” Ucap Efira, mengalihkan pembicaraan.


“Di saku celanaku, ambillah” Alex merentangkan tangannya, siap dieksekusi di tenpat umum?


Plak


Lagi-lagi tangan Efira begitu gemas dengan bahu Alex.


“Berikan saja cepat” Efira sudah mulai cemberut.


“Baiklah, mari melemparkannya bersama”


Alex mengeluarkan dua koin, mereka melemparkan koin itu bersama dengan senyum mengembang, tidak lupa mungkin dengan doa yang mereka rapalkan di dalam hati.