
Keesokan harinya, di markas Aiken terlihat semua anggota masih terlelap terkecuali orang-orang yang memang sedang berjaga.
Jleb
Jleb
Tidak butuh banyak suara dan membuat keributan, orang-orang Alex dengan santai memasuki markas setelah menghabisi para penjaga dengan halus.
Orang-orang Alex langsung menuju dapur, menyamar menjadi salah satu penjaga disana. Bersikap natural untuk memasukkan daging Aiken di dalam makanan mereka.
Sret
Obat bius yang dibawa berhasil membuat koki dapur di markas itu tidak sadarkan diri. Orang-orang Alex langsung segera memasak.
Hanya 45 menit untuk semua makanan siap, karena memang di markas tersebut tidak banyak orang yang tinggal, kecuali di mess yang memang disediakan untuk pelatihan.
Setelah semuanya selesai, mereka segera menata makanan tersebut di meja makan, tidak ada yang curiga karena memang tidak ada yang aneh dari gelagat mereka.
“Makanan ini sangat lezat, dagingnya juga matang dengan sempurna” Komen seseorang yang tengah menyantap ayam kecap itu.
Sedangkan seseorang yang telah memasaknya hanya menunjukkan smirk dibalik masker yang ia gunakan.
Tidak lama setelah memastikan seluruh anggota menyantap daging ketua mereka sendiri, dia segera pergi, menyiapkan kejutan selanjutnya di ruang meeting yang biasa mereka gunakan.
“Selamat menikmati” Ucapnya lalu pergi dari ruangan itu dengan kepala Aiken tergantung di tengah-tengahnya.
...***...
“Devan, tolong handle pekerjaanku dulu, sisanya kirimkan via e-mail. Aku harus mengurus beberapa hal bersama Efira hari ini” Ucap Alex pada sekretarisnya, mereka hanya berbincang via ponsel sekarang, Alex ingin mengurus acara pertunangannya se-segera mungkin sebelum ada hal lain yang tidak diinginkan terjadi.
“Baik tuan” Jawab Devan dari seberang sana.
“Terimakasih” Ucap Alex lalu memutuskan sambungan panggilan mereka.
Alex segera berangkat menuju rumah kekasihnya, menggunakan setelan kasual saja sudah cukup.
“Non Efira, tuan?” Tanya sang tukang kebun, melihat Alex di taman depan kediaman keluarga Javonte.
“Iya pak, ada kan?” Jawab Alex ramah.
“Ada, silahkan masuk” Sahut pak tukang kebun, melanjutkan pekerjaannya.
Alex menekan bel rumah beberapa kali hingga akhirnya nyonya Javonte membukakan pintu untuk Alex.
“Bunda, Efiranya ada?” Tanya Alex sesaat setelah nyonya Javonte sedikit berbasa-basi di depan pintu.
“Tentu saja ada, dia tidak ke kantor hari ini katanya mau ke butik. Ayo masuk dulu, bunda panggilkan Efiranya” Jawab nyonya Javonte, memberikan jalan untuk Alex masuk ke kediamannya.
“Eh, Alex? Tumben sekali pagi-pagi sudah kemari, dengan setelan kasual?” Ucap Efira, gadis itu turun tepat waktu sebelum sang ibunda memanggilnya.
“Aku ingin mengajakmu memilih dekorasi untuk pertunangan kita”
Deg
Efira terdiam, melihat kekasihnya tak percaya.
“Kau benar-benar akan memeriahkannya?” Tanya Efira.
“Tentu saja, apa aku pernah main-main dengan perkataanku?” Jawab Alex.
Efira terdiam sejenak.
“Jangan banyak berfikir, aku sudah izin kepada bunda. Aku akan mengantarmu dulu ke butik” Sahut Alex.
“Sudah sarapan?” Tanya Alex lagi, membawa kekasihnya itu duduk di sofa dengan lembut.
Efira hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Kau ini kenapa kagetnya lama sekali” Ucap Alex, menowel hidung kekasihnya pelan, gemas sendiri dengan gadis itu.
Efira menunjukkan sebuah cengiran tanpa dosa, “Maafkan aku, kau mengatakannya terlalu mendadak, baru kemarin kau mengatakannya, sekarang sudah masuk proses persiapan saja” Ucap Efira.
Alex terkekeh pelan, “Aku tidak mau menunggu terlalu lama, lagipula aku punya banyak waktu luang jika itu untukmu” Sahutnya.
Fly di pagi hari, mungkin itu yang Efira rasakan.
“Apa sudah lebih baik? Ini sudah pukul delapan, mau membawakan sesuatu untuk Aulia di butik?” Tanya Alex.
Efira terlihat berpikir sejenak, “Aku sudah lebih baik tapi, untuk Aulia mungkin belikan saja beberapa camilan untuk bersama dengan pegawai yang lain, sudah terlalu siang jika ingin membawakan makanan” Jawab gadis itu.
Alex mengangguk paham, “Baiklah, ayo” Ucap Alex lalu membawa Efira keluar rumah setelah berpamitan dengan tuan dan nyonya Javonte.
“Hati-hati di jalan” Ucap nyonya Javonte, wanita paruh baya itu bahkan mengantarkan anaknya sampai ke depan rumah.
How a best mommy?
...***...
“Aku tidak akan lama di butik, aku hanya sedikit memberi tambahan ornamen di sebuah gaun yang dipesan temanku” Ucap Efira, memecahkan keheningan mereka di dalam mobil.
“Mau seberapa lamapun kau disana, aku tidak akan mempermasalahkannya” Jawab Alex.
“Katanya mau mengurus dekorasi?”
“Dahulukan apa yang menurutmu penting”
“Apa menurutmu acara pertunanganku tidak penting?” Sahut Efira cepat.
“Lalu, apa menurut seorang desainer sepertimu, klien tidaklah penting?” Tanya Alex.
Ah, benar juga. Keduanya sama-sama penting untuk Efira.
“Jadi, jalankan semuanya dengan seimbang” Lanjut Alex.
Efira hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Omong-omong, aku ingin menggunakan desain gaun sendiri untuk pernikahan kita nantinya” Ucap Efira.
Alex menghela napasnya pelan.
“Persiapkan sejak sekarang sayang, aku pastikan acara pernikahan kita tidak jauh dari hari pertunangan kita” Ucap Alex.
Efira sukses membelalakkan mata, melihat Alex dengan tatapan horornya.
“Kau bercanda?” Tanya Efira.
“Tentu saja tidak, aku serius dengan perkataanku. Aku tidak ingin menunda terlalu lama, memangnya kau mau menunggu apa?” Jawab Alex.
“Apa tidak terlalu cepat?” Ucap Efira.
Alex mengambil tangan kekasihya untuk digenggam.
“Tidak. Aku sudah cukup mantap hati denganmu, tidak perlu lagi mempertanyakan keseriusanku dengan hubungan kita” Jawab Alex.
“Kita mampir dulu beli camilan untuk Aulia dan karyawanmu yang lain” Lanjut Alex. Bukan bermaksud memotong pembicaraan tapi, mereka memang sudah sampai di minimarket terdekat dengan butik Efira.