
Hal ketiga: Konon ada kuntilanak di WC perempuan yang ada di dekat lab. Jika berbicara masalah mitos, aku pernah mendengar bahwa hantu itu takut jika melihat perempuan tanpa berbusana. Jadi, apakah mungkin ia akan mendekam disana? Kami pernah sekali mengadakan praktikum hingga malam hari. Saat itu, aku sedang berada di dalam WC sendirian dan temanku Aisyah sedang berjalan di depan WC itu. Tak lama kemudian aku keluar dari WC dan Aisyah melihatku, dia bertanya apakah aku ada tertawa di dalam WC. Namun, aku menjawab bahwa aku tidak tertawa sama sekali di dalam WC. Jadi, suara tawa siapa yang ia dengar? Aku tidak tahu pasti apakah saat itu Aisyah berbohong atau tidak, atau mungkin saja ia sedang berhalusinasi setelah menggunakan eter saat praktikum tadi, mungkin kepalanya sedikit pusing.
Rumahku di kampung halaman berdekatan dengan hutan dan sedikit menyeramkan walaupun dekat dengan pusat kota kabupaten. Aku ingat, saat itu ketika SMA, aku pernah bernyanyi bersama dengan ibuku saat mati lampu di luar rumah sambil mengamati bintang. Tak lama kemudian, aku dan ibuku mendengar suara seperti suara ayam betina yang sedang mengeram, namun sedikit mirip suara cicak. Awalnya suara itu pelan.
“Ibu, itu suara apa?” tanyaku sambil berbisik.
“Suara kuntilanak, pasti ada laki-laki pendatang baru di desa ini yang lewat jalan itu” jawab ibuku sambil menunjuk ke arah jalan yang ia maksud.
“Memang selalu begitu ya, bu?” tanyaku.
“Iya,”
Ibukupun mengajakku untuk berdoa, dan saat itu suaranya malah semakin nyaring. Aku sedikit ketakutan namun ibuku terlihat santai. Tak lama berselang, suara itupun hilang.
“Katanya, suara kuntilanak itu jika nyaring berarti jauh, dan jika pelan berarti dekat,” bisik ibuku sambil mengajakku masuk ke dalam rumah.
Kembali lagi dengan cerita WC dan Aisyah, aku tidak berpikir jika itu adalah suara kuntilanak, sebab suara kuntilanak versi ibuku berbeda dengan suara yang Aisyah dengarkan tadi.
Aku bukan tipe orang yang tidak mempercayai keberadaan hantu, aku meyakini jika mereka memang ada. Tapi sebaiknya mungkin harus bersikap untuk tidak terlalu paranoid dengan hal-hal tersebut, sebab malah akan membuat cemas dan ketakutan.
“Shan, mau ini gak?” tanya Nini yang seketika membuyarkan lamunanku.
“Apaan?” tanyaku sambil melihat barang yang ia tawarkan.
“Rujak asam, tadi pagi aku ngambil di depan kost sebelah,” jawab Nini sambil dilanjutkan tawanya yang khas.
“Ngambilnya udah minta, kah?” tanyaku lagi.
“Nggak,” jawab Nini lalu tertawa.
Akupun tertawa dan mulai mencicipi rujak itu, namun karena begitu terasa masam, aku tidak mampu untuk makan terlalu banyak.
“Enak, kan?” tanya Nini.
“Enak sih, tapi masem banget,” jawabku.
“Nini, boleh nanya, gak,” tanyaku tiba-tiba.
“Boleh, kenapa?”
“Kenapa Nini kok gak mau pacaran sekarang?”
“Ha..ha.. pertanyaan macam apa itu?”
“Serius nih,” ujarku lagi.
“Kenapa ya? Kayaknya aku belum mau aja. Belum ketemu yang sesuai juga. Ntar kalo ketemu yang sesuai criteria, baru dipikir-pikir lagi deh,” jawab Nini.
“Di kelas kita gak ada yang masuk criteria, gitu?”
“Hem… kayaknya nggak ada,”
“Wew,” jawabku kecut.
“Ah, Valen, kamu kasihan sekali nggak masuk kriterianya Nini. Sabar, ya,” lirihku dalam hati.
“Mau nanya itu aja? Terus, kamu sendiri kenapa masih jomblo? Nungguin cowok yang tadi kamu bilang?” tanya Nini balik.
“Ahahahahahaha.. Gak baik loh nanya balik. Gak kreatif namanya. Itukan pertanyaanku tadi,”
“Jangan ngeles deh, Shan. Jawab aja,”
“Kenapa ya? Mungkin karena belum ketemu yang pas di hati aja. Sama kayak Nini, he.. he..” jawabku seenaknya.
“Wih, kasihan kak Geri,” sambung Nini.
“Apaan sih?” ujarku sambil mencubit pipinya dengan geram.
Tak lama berselang, aku meminta izin pada Nini untuk pulang. Sudah cukup lama bagiku untuk bermain, dan masih ada pekerjaan kantor untuk besok yang harus aku kerjakan.
Sesampainya di kost, aku segera mandi dan membeli makanan di luar. Hari ini aku malas memasak, pikirku.
Bunyi pesan masuk bbm sedikit mengganggu game online yang sedang kumainkan. Namun begitu, tak langsung kubaca pesan yang masuk. Aku masih harus menyelesaikan war-ku apapun yang terjadi. Selesai war, aku melihat-lihat monster yang sudah kudapatkan selama ini di akunku. Sudah ada 37 monster bintang 6 yang kubuat. Aku tersenyum sambil memandangi salah satu monster bintang 6 yang paling tercakep, Trevor transmogrifikasi.
Sebuah pesan bbm dari Novi, akupun segera membacanya.
“Shan, malam ini ketemuan bentar yuk di danau angsa, aku mau ngajakin anak-anak yang lain ngumpul juga,”
“Boleh, tapi bisa gak tempatnya jangan disana?” balasku sambil mengingat beberapa kenangan yang kurang mengenakan di sana.
“Kamu maunya dimana?”
“Di tempat yang banyak menu kue-nya, terserah deh tempatnya dimana,” jawabku.
“Hem, oke deh,” jawab Novi lalu mengirimkan salah satu alamat yang menyediakan menu berbagai macam jenis kue dan es krim. Aku tersenyum melihat tempat itu. Aku belum pernah ke sana, tapi aku pasti menyukainya.
Jam 07. 00 malam, sesuai jam dan tempat yang sudah dijanjikan. Aku sudah menempati salah satu kursi di sudut ruangan yang mengarah ke jendela. Aku sudah terlebih dahulu memesan kue yang ingin kunikmati. Saat aku tengah asyik menyantap hidanganku, Geri menghampiriku sambil memberikan bunga mawar merah.
“Hai, sudah lama menunggu kah?” tanya Geri lalu menempati kursi kosong di depanku.
“Kok kak Geri yang datang?” tanyaku kaget.
Akupun menyadarinya, Novi adalah sepupu Geri. Pastilah Geri yang meminta Novi melakukan ini.
“Aku minta maaf Shan kalau aku udah bohongin kamu, tapi aku benar-benar ingin menemui kamu,”
“Tapi gak usah pake bohong kayak gini juga, kali,”
“Kalau gak seperti ini, kamu gak mau diajak ketemu, Shan. Kamu masih marah ya soal yang di danau angsa? Aku benar-benar minta maaf,”
“Kan aku bilang kalau aku sudah memaafkan kakak,”
“Trus kenapa kamu gak mau ketemu?”
Aku hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan itu.
“Oke, kalau kamu gak mau jawab, gak apa-apa kok. Aku cuma butuh maaf dari kamu yang tulus aja. Aku janji, setelah ini aku akan pergi dari kamu dan gak akan mengganggu kamu lagi,”
Pernyataan Geri barusan membuatku terkejut dan sedikit merasa bersalah. Seharusnya aku tidak mendiamkan saja orang yang benar-benar tulus meminta maaf padaku seperti ini. Sedikit saja, iya sedikit saja aku harus menahan rasa egoisku.
“Aku udah maafin kakak, jadi kakak gak perlu seperti ini. Oke, aku minta maaf karena sudah menjauhi kakak beberapa hari ini. Deal?” tanyaku.
“Makasih ya, Shan, deal!” jawab Geri.
“Senyum sedikit donk, Shan. Kalau muka kamu kayak gitu, kelihatan banget kalau kamu masih marah,” sambung Geri lagi.
Akupun tersenyum simpul sebelum akhirnya mulai bisa tersenyum sedikit lebih lepas. Geri mulai membuka beberapa topik pembicaraan walaupun pada awalnya memang terasa sangat canggung. Setelah beberapa waktu berlalu, barulah suasana mulai sedikit terasa lebih hangat. Kamipun tertawa dan saling bercerita. Aku berpikir bahwa aku tak seharusnya berbuat hal yang buruk pada orang yang telah baik selama ini padaku dan terlebih lagi banyak membantuku diperkuliahan dulu. Namun, aku masih tidak tahu bagaimana cara untuk meyakini Geri bahwa aku tak bisa menerimanya.
Sepertinya Geri tidak mengingat atau sengaja mengabaikan tentang janjiku untuk memberikan jawaban. Namun, aku merasa senang karena setidaknya hal itu tidak membebaniku, setidaknya untuk saat ini.
“Shan, kamu suka ikan, kan?” tanya Geri.
“Iya, kenapa memangnya?” tanyaku.
“Kamu kapan ada waktu lagi? Aku mau ngajakin kamu beli akuarium buat disimpan di kamarmu,”
“Sabtu ini kosong kok, kak,” jawabku.
“Oke, ntar Sabtu siang aku jemput ya,”
“Oh, iya kak,”
“Aku juga lagi pengen beli akuarium buat disimpan di kamarku,” ujar Geri lagi.
Tepat pukul 9 malam, Geri mengantarku pulang dan setelahnya, iapun pulang ke rumahnya juga. Aku menempati kost dengan aturan yang sedikit lebih ketat dari kost pada umumnya. Ada beberapa aturan yang ibu kost berikan pada kami kami, mulai dari dilarang membawa laki-laki ke dalam kost, pintu kost akan ditutup pukul 21.30, dan di larang berpakaian minim di lorong kost tersebut.
Kost ku lumayan besar di bandingkan kost lainnya di sekitar tempat tinggalku. Ada 51 kamar dengan fasilitas kamar mandi dan dapur di setiap kamar. Ada meja belajar, lemari pakaian, tempat tidur, dan meja dapur. Sebenarnya, kost ini ada 52 kamar, hanya saja salah satu kamar sudah dibongkar supaya memperlebar bagian garasi. Tapi, alasan utama mengapa kamar itu dibongkar sebenarnya bukan untuk memperluas garasi namun mencegah hal buruk yang terjadi di dalamnya.
Kamar yang dibongkar itu adalah kamar 13A. Menurut cerita sesepuh penghuni kost ini, kamar itu dulunya memang sedikit menyeramkan. Setiap penghuni yang menempati kamar itu sering bermimpi buruk dan lebih parahnya lagi akan kesurupan. Sehingga banyak yang tidak betah mendiami kamar itu. Tidak hanya kamar 13A, kamar 13B yang berada di lantai atas kamar itu juga menyeramkan. Walapun tidak seseram kamar 13A. Sejak kamar itu di bongkar, tidak ada lagi kamar 13 di kost ini, walaupun di lantai atas kamar 13 tidak dibongkar, namun pemilik kost mengganti nomor kamarnya dan melewati angka 13. Jadi disebelah kamar 12 adalah kamar 14. Tidak ada kamar 13 lagi.
Sesampainya di kamar, aku ingat apa yang harus kulakukan saat itu. Aku harus mengembalikan file rekaman video yang Rival hapus. Segera kuunduh aplikasi yang Nini sarankan dan mulai menjalankannya. Aku berharap video itu dapat dikembalikan.
Sinyal internetku saat itu benar-benar tidak bersahabat sama sekali. Kelajuan unduhannya begitu lama. Mungkin aku bisa mengadu kelajutan unduhanku dengan kecepatan gerak keong atau cacing tanah seperti yang pernah kami lakukan dulu saat praktikum di kampus. Sambil menunggu unduhan selesai, kuputar beberapa koleksi lagu anime di hp-ku, dan salah satu lagu yang sangat aku sukai adalah Ost lagu Sword Art Online 2 yang berjudul Courage. Nini pernah mengatakan jika aku sangat hafal lirik jika bernyanyi lagu-lagu anime tapi sangat kacau jika menyanyikan lagu-lagu berbahasa Indonesia.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya aplikasi itu terunduh juga dan segera kujalankan. Benar saja, video itu dapat dikembalikan lagi. Aku begitu senang namun dilain sisi aku merasa was-was. Perlahan kuputar rekaman video itu yang telah menempati salah satu ruang penyimpanan di laptopku.
Aku memperhatikannya dengan seksama, bagaimana aku mulai tertidur dan pertanyaan apa yang Rival ajukan.
“Siapa nama kamu?” terdengar suara Rival yang mulai mengajukan pertanyaan padaku.
“Shia,” jawabku sambil memejamkan mata.
Shia? Aku menjawab Shia? Iya aku tahu ia mitosnya adalah gadis di kehidupanku sebelumnya. Namun aku tak menyangka jika aku akan benar-benar menjawab pertanyaan itu dengan namaku di kehidupan sebelumnya.
Kulihat Rival tak melanjutkan pertanyaan lagi dan hanya terdiam menatapku. Aku heran mengapa ia tak melanjutkan pertanyaannya. Rekaman video itu terus berjalan tapi tak menunjukkan adanya kejadian atau percakapan yang aneh, mendadak aku terkejut ketika melihat Rival tiba-tiba memelukku dan mencium keningku.
“Astaga, ini pelecehan,” teriakku sambil seketika menutup mulutku yang menganga.
Video itu tak lama kemudianpun berakhir. Aku masih bertanya-tanya mengapa ia memelukku. Ternyata itu yang membuat tubuhku saat itu memiliki aroma yang berbeda.
Satu sisi aku merasa ingin marah pada Rival, tapi di sisi lain aku merasa tidak bisa melakukannya. Apa yang harus kulakukan padanya jika bertemu nanti? Apakah aku harus menghindarinya seperti saat aku menghindari Geri? Kuakui aku memang buruk dalam hal bersosialisasi dengan lingkungan. Mungkin seharusnya aku dulu tidak menarik diri dari lingkungan di saat aku berputus asa dalam menghadapi masalah yang kualami.
“Rival, ternyata kamu pedofil,” ejekku lirih dengan senyum simpul.
Aku bisa-bisa gila jika terus-terusan seperti ini. Rasanya aku ingin men-delcont Rival dari list kontak bbmku dan memblokirnya dari pertemanan di facebook. Malam itu, aku tertidur tanpa mematikan laptopku dan membiarkannya menyala semalaman.
“Astaga, aku telat bangun!” teriakku ketika mendapati jam di dinding mengejekku di tepat pukul 8 pagi. Aku tidak sempat mandi dan hanya sebatas mencuci muka dan gosok gigi saja. Buru-buru aku berkemas dan segera berangkat ke kantor.
Benar saja, aku diomeli bos karena terlambat datang. Ini kali pertama aku terlambat datang dan hal itu benar-benar membuatku shock. Shanvierra yang sempurna dalam pekerja bisa terlambat ke kantor hanya karena seorang pedofil memeluknya.
Aku mendengarkan detak jam tangan yang kugunakan. Setiap detakannya terdengar seperti tawa ejekan di telingaku, “Kamu terlambat,” Mungkin aku harus lebih fokus bekerja lagi dan mengabaikan masalah pribadiku. Aku benar-benar butuh liburan dan hiburan.
Aku bertanya-tanya, kenapa si pembuat masalah dalam hidupku tak pernah datang lagi menemuiku. Kemana sih sebenarnya Wira pergi? Dia seenaknya saja pergi meninggalkan masalah dalam hidupku. Dia begitu curang.
Aku segera teringat sesuatu, tentang penampakan Shia yang kulihat di cermin kamarku. Aku yakin ada sesuatu hal yang ingin ia sampaikan. Apa aku mungkin bisa bertemu dengannya lagi jika melihat diriku dalam cermin, ya?
Tanpa pikir panjang, segera kuambil cermin dari dalam laci kerja dan menatap wajahku di cermin.
“Aku cantik,” bisikku tiba-tiba sambil tersenyum setiap kali melihat pantulan wajahku di cermin. Mungkin ini yang dinamakan efek pujian otomatis pada diri sendiri.
Sepertinya bukan seperti itu caranya. Tak kulihat kehadiran Shia di dalam kaca. Lalu apa yang harus kulakukan? Apakah ada mantra yang harus diucapkan? Aku berpikir sejenak memikirkan beberapa mantra pemanggil yang pernah kutonton di beberapa film fantasi yang mungkin akan berhasil. Tapi sepertinya terlalu sulit untuk melafalkannya, lidahku seakan melilit saat kucoba melafalkannya. Mungkin aku harus mencoba melafalkan salah satu mantra pemanggil dari anime yang pernah kutonton saat masih SD dulu, “Henpokopono, henpokorino, nyanggggggg!!!!!”
Aku bergegas pergi ke kamar kecil ketika tiba-tiba merasa ingin buang air kecil. Mungkin mantra barusan yang kulafalkan adalah mantra pemanggil rasa ingin buang air kecil. Tapi mantra hanyalah mitos yang terdiri dari rangkaian kata saja, jadi hal itu tidak mungkin terjadi.
Sesampainya di kamar kecil, aku mencium aroma jengkol yang sangat pekat. Pasti ada yang sarapan jengkol dan buang air kecil disini, pikirku. Aku membatalkan niatku untuk buang air kecil disana dan pergi ke kamar kecil yang lebih jauh. Dalam perjalanan menuju kamar kecil itu, aku berpikir, “Jika dengan jengkol dapat meredam perasaan yang dongkol, dan jika dengan petai dapat menyatukan hati yang tercerai, maka kehidupan ini dapat terasa indah walaupun sedikit berbau,”
Aku cengengesan sambil mengganti status bbmku dengan kalimat yang baru kurangkai tadi. Setelah keluar dari kamar kecil, sebuah pesan bbm masuk tak lama setelah statusku di update. Pesan dari Rival.
“Kamu bau,” ejek Rival.
Ah, dia mengirimiku pesan di saat yang tidak tepat. Aku membaca pesan itu tanpa membalasnya.
Hari-hari berlalu dan sampai di hari Sabtu. Aku pergi bersama Geri membeli akuarium. Mungkin sekarang ia sadar tentang status hubungannya denganku. Dia harus sadar jika ingin tetap bersamaku maka hubungan yang ada diantara kami hanyalah sebatas berteman.
Oke, sebuah akuarium berukuran tidak terlalu besar dan tidak kecil dengan background rumput-rumputan seharga Rp 80.000 berhasil kami tawar menjadi Rp 65.000 di toko penjualan kaca dan bukan toko hewan. Kami membeli dua akuarium yang sama. Setelah di masukkan ke dalam mobil, kami melanjutkan perjalanan ke toko hewan untuk membeli kelengkapan akuariumnya, mulai dari pompa air, hiasan, dan lampu pijarnya. Tentu saja hal yang paling utama kami beli di toko hewan adalah ikannya.
Sepasang ikan komet dengan warna dominan merah menjadi ikan pilihan yang kubeli saat itu. Sedangkan Geri membeli sepasang ikan mas koki dan sepasang ikan sapu-sapu. Rasanya begitu menyenangkan, ini pertama kalinya aku akan memelihara ikan di akuarium.
Entah hanya perasaanku saja atau memang kenyataannya begitu, aku merasa sedang diperhatikan seseorang dari suatu sisi yang tidak dapat kulihat. Apa itu Wira? Kulayangkan pandangan di sekitar, mencoba mencari celah yang dapat menangkap bayang orang itu. Namun tak kujumpai apapun. Akupun menyerah dan menganggapnya hanya sebatas imajinasiku.
Sejak saat itu, aku merasa kehidupanku sedang diamati oleh seseorang yang terasa mengikuti. Apa orang itu Wira? Jikapun begitu, aku tidak akan mempermasalahkannya dan akan sangat senang jika itu benar-benar Wira. Mungkin ada alasan mengapa ia melakukannya. Namun, jika itu bukan Wira, aku akan merasa benar-benar tidak nyaman menjalaninya.
Beberapa kali kucoba menjebak orang yang mengikutiku, namun tak pernah kudapati. Ia terlalu hebat atau ia memang tidak terlihat? Aku takut jika lagi-lagi aku berfantasi tentang sesuatu yang tidak nyata. Aku takut jika itu hanyalah khayalan yang kubuat-buat saja.
Sebenarnya aku sangat membutuhkan bantuan Rival di saat seperti ini, terutama jika ia mau membantuku. Namun, aku ragu untuk meminta tolong lagi padanya. Mungkin aku harus pergi ke psikiater lagi atau dokter saraf. Siapa tahu saraf di kepalaku benar-benar ada yang konslet atau putus. Tapi aku tak bisa membayangkan jika sarafku benar-benar ada yang putus. Bagaimana aku bisa menikmati sisa hidupku jika aku mengalami penyakit alzhaimer. Penyakit itu begitu menyeramkan. Aku pernah menonton salah satu film tentang seseorang yang mengidap penyakit alzhaimer. Film itu berakhir dengan kesedihan dan berhasil membuatku menangis haru.
Tak lama berselang aku menerima panggilan dari Valen. Ia memberitahuku bahwa Nini masuk rumah sakit. Sepulang dari kantor, akupun bergegas ke sana.
Valen memberitahuku bahwa Nini sakit tipes. Aku melihat Nini yang tertidur setelah disuntik oleh seorang perawat. Kuletakkan buah yang telah kubeli sebelumnya di meja pasien. Tampak wajah asli Nini di saat seperti ini. Nini bukanlah orang yang kuat seperti yang terlihat. Ia sebenarnya begitu lemah apalagi setelah kehilangan mama yang sangat ia cintai. Aku duduk di sebelah Valen sambil memandangi Nini.
“Nini cantik, ya,” ujarku perlahan.
Valen mendadak menatapku seolah memberi tanda untuk tidak berbicara yang aneh-aneh.
“Ya… Ya….Ya….,” ujarku lagi.
“Valen, malam ini aku aja yang jaga Nini disini ya,”
“Iya Shan, makasih ya, sebenarnya aku mau jagain dia. Cuma aku agak gak enak soalnya aku cowok. Kalau jaga sama-sama malam ini boleh, gak?” tanya Valen.
“Terserah sih, tapi habis ini aku mau pulang bentar ya, mau siap-siap dan mandi juga,”
“Iya, pulanglah dulu, nanti cepat datang lagi ya,”
“Oke deh,” jawabku lalu bergegas pulang.
Tak lama berselang, aku kembali ke ruangan dimana Nini di rawat. Ia telah bangun. Kulihat Gina dan Devi tengah menghibur Nini yang tengah sakit.
“Udah mendingankah, Ni?” tanyaku.
“Udah, Shan. Tapi masih pusing-pusing,” jawab Nini lemah.
“Kasian, sini Ayank peluk,” ujarku sambil mencoba memeluk Nini.
“Ish, jangan! Shan lesbi ya,” ledek Nini.
“Aku nggak nyangka orang se-strong Nini ternyata bisa sakit juga,” ledek Devi.
“Capek, Dev, salah makan juga kali,” jawab Nini.
“Dirimu makan beling, kah?” ledek Devi lagi.
“Issshhhh…” sahut Nini geram.
“Cepat sembuh ya, nanti kita main lagi,” ledek Gina juga.
“Astaga, aku benar-benar berasa kayak anak TK yang lagi sakit,” keluh Nini.
Menjelang pukul 23.00 malam, suasana rumah sakit semakin hening. Nini sudah tertidur lagi. Hanya aku dan Valen yang tersisa di ruangan itu yang masih terjaga. Valen memainkan game online yang biasa kami mainkan. Aku melihat akun game-nya dan terkejut dengan perkembangan pesatnya. Beberapa hari yang lalu, ia keluar dari guild-ku dan memilih untuk bergabung dengan guild lain yang lebih kecil. Sebab terlalu sulit untuk bersaing di guild-ku.
“Keren momonmu,”
“Iya, donk. Baru dapat kemarin,” ujar Valen.
“Kalau udah kuat, balik ke guild-ku ya,” ajakku.
“Iya,” jawab Valen sambil tetap fokus memainkan game-nya.
Aku bangkit perlahan ke luar ruangan karena merasa terlalu pengap di dalam ruangan. Samar-samar terlihat bintang di langit yang memberi salam hangat padaku. Udara malam yang dingin dan bau khas rumah sakit berbaur menjadi satu menghiasi malam itu.
Kulayangkan pikiranku pada Wira, sedikit kurasakan rasa rindu yang mendalam padanya. Kurasakan hembusan angin yang mulai bertiup dan menitipkan salam untuk Wira.
“Katakan padanya, aku merindukannya,” bisikku.
‘Shia,” panggil seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi bagiku.
“Wira,” sapaku dengan bersemangat sambil mencari arah suara itu.
Saat kupalingkan pandanganku, kulihat Wira tengah berdiri di koridor rumah sakit yang terlihat remang-remang. Perlahan ia melangkah menuju ke arahku.
“Wira, kamu dari mana saja?” tanyaku perlahan sambil menuju ke arahnya pula.
“Dari masa lalu, aku baru saja sampai disini,”
“Wira aku rindu kamu,”
“Aku juga,” jawab Wira singkat.
“Shan, tolong jaga diri kamu ya, aku janji aku pasti akan datang menemuimu lagi,”
“Lagi? Jadi kamu akan pergi lagi?” tanyaku.
“Waktuku tidak akan lama untuk saat ini, terlalu sulit untuk berada disini terlalu lama,”
“Kamu jahat Wira, kenapa waktu itu kamu tidak datang ke danau angsa?” tanyaku.
“Aku datang, aku ada disana, walaupun hanya mampu melihatmu saja” jawab Wira singkat.
Wira mulai memudar dalam kegelapan malam. Aku memanggil-manggil namanya namun tak ia hiraukan. Aku terus berteriak memanggil namanya sebelum akhirnya kurasakan tamparan di pipiku.
“Shan, kamu kenapa?” tanya Nini panik yang tiba-tiba ada di hadapanku.
Ternyata hanya mimpi, tapi mengapa terlihat nyata?
“Aku hanya mimpi,” ujarku.
“Kamu ngigaunya kenyaringan, Shan. Wira siapa?” tanya Nini lagi.
“Wira? Aku manggil dia ya? Wira itu cowok yang aku ceritakan waktu itu,” jawabku sambil menutup mataku yang mulai terasa memanas.
“Nini, kamu tidur lagilah, udah malam. Aku mau cuci muka dulu,”
“Iya,” jawab Nini.
“ Shan… Shan…” ujar Valen yang sejak tadi berdiri di belakang Nini.
Aku berjalan lurus ke kamar mandi. Mencoba mengingat sejak kapan aku tertidur. Aku memimpikannya. Rasanya begitu nyata. Ah, kenapa tiba-tiba malah menangis juga sih?
Kubasuh wajahku dengan air yang dingin. Kukumpulkan perlahan setiap nyawa yang kupunya. Aku mulai tersadar sepenuhnya dari mimpiku. Saat aku berjalan menuju kamar dimana Nini di rawat, kudapati sesosok bayangan perempuan melintas di depanku dan menghilang di balik dinding. Aku terkejut dan sebenarnya ketakutan. Namun aku bersikeras mencoba berani.
“Ah, cuma hantu lewat,” lirihku sambil terus berjalan.
Kulihat Nini telah tertidur kembali begitu juga dengan Valen. Ada 4 tempat tidur di ruangan ini, tapi hanya satu yang berpenghuni. Valen tidur di lantai dekat tempat tidur Nini yang sudah beralaskan tikar. Aku memutuskan untuk tidur di ranjang sebelah tempat tidur Nini yang kosong.
Keesokan harinya, aku segera bangun dan bersiap pulang untuk berangkat ke kantor. Valen tetap menunggu Nini sebelum nanti Indah yang akan menggantikan berjaga.