You

You
Serba-Serbi Kehamilan



Trisemester pertama sudah dilewati Efira dengan baik, meskipun kadang ada beberapa hal yang sedikit absurd, seperti di bulan kedua kehamilannya, dia malah meminta Alex untuk berburu burung dara untuk di masak sebagai sarapan pagi nanti.


Flashback On


Tepat pukul 01.00 dini hari, Efira terbangun. Dia melihat kanan dan kiri, berniat tidur lagi tapi, kenapa susah sekali. Akhirnya, wanita itu memutuskan untuk melihat ponselnya, mencari hiburan pada salah satu aplikasi disana.


Tidak sengaja, Efira melihat suatu olahan burung dara goreng kelapa.


Glup


Bahkan suara salivanya yang ditelan terdengar begitu nyaring.


“Alex”


Ya, di jam tengah malam itu Efira membangunkan suaminya.


“Hmm, kenapa sayang?” Ucap Elex, masih memejamkan matanya sambil memeluk Efira lagi.


“Aku menginginkan sesuatu” Gumam Efira.


“Kau mau apa sayang?” Tanya Alex, tidak begitu panik karena yang biasa diminta Efira adalah hal-hal yang wajar dan lumrah.


“Aku mau burung dara goreng kelapa”


“Iya, besok kita cari” Alex masih setia dengan kenyamanan tidurnya.


“Aku mau kau berburu dulu burung daranya, besok pagi ketika sarapan dia sudah ada”


Kalimat itu sukses membuat Alex terbangun membelalakkan matanya, melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah dua dini hari.


“Apa harus sekarang juga?” Tanya Alex, memastikan bahwa permintaan istrinya itu tidak salah.


“Terserah, intinya aku mau burung dara goreng kelapa besok pagi dan burung daranya harus hasil berburu”


Alex menepuk jidatnya, pusing juga pikirnya.


“Apa tidak bisa besok saja kita mencarinya?” Tanya Alex, mencoba meminta keringanan hm?


“Tidak mau, Alex. Aku tidak mau juga jika itu beli, harus kau yang memasak” Sahut Efira, membuat Alex semakin pusing karena harus dirinya yang memasak?


“Baiklah, biarkan aku mencari teman untuk berburu burung dara yang kau inginkan”


Alex langsung menghubungi Cris, meminta lelaki itu untuk mencarikan tempat yang cocok untuk berburu burung dara dan tentu saja juga menemaninya, tidak lupa membawa anak buah.


Hey, ini masih tengah malam, hanya burung hantu yang membuka matanya di jam begini.


“Aku pergi dulu, sayang. Aku pasti akan mendapatkannya untukmu” Ucap Alex mengecup kening istrinya setelah bersiap.


Alex menggeleng tidak setuju, “Tidak bisa, tetaplah di rumah. Kau istirahat saja, udara di luar apalagi di hutan begitu tidak baik untukmu, tunggu saja aku pulang dan membawakan burung dara itu untukmu” Ucap Alex lalu pergi meninggalkan Efira sendirian.


Flashback Off


“Lalu, apa dia benar-benar membawa burung dara goreng kelapa hasil masakannya sendiri kepadamu?” Tanya Mira, saat ini mereka berdua sudah berada di rumah sakit, menunggu jadwal operasi caesar kakak ipar Efira itu.


Alex dan Devan sedang mengurus beberapa hal di resepsionis, sedangkan para orang tua hanya menunggu di luar, karena memang tidak banyak yang di perbolehkan masuk untuk menunggu pasien.


“Saat aku ke bawah, aku melihatnya masih masak dengan tutorial dari chef yang entah dia bawa dari mana. Aku juga tidak tanya burung daranya benar-benar hasil berburu atau tidak, yang penting itu sudah ada di depanku ketika jam sarapan” Ucap Efira.


“Manis sekali. Lalu reaksi mertuamu?” Tanya Mira.


“Entahlah, waktu itu mereka sedang berada di luar kota, katanya sih liburan berdua, menikmati masa tua bersama”


“Sepertinya mereka ingin kembali ke masa muda” Komentar Mira akan mertua Efira yang masih saja berlibur di usia yang tidak lagi muda.


“Tentu, lalu bagaimana denganmu? Apa kau pernah ngidam hal-hal aneh seperti itu saat hamil?” Tanya Efira, kepo juga dengan masa kehamilan kakak iparnya.


“Tidak ada yang istimewa, Efira. Ngidamku masih dalam batas wajar dan tidak aneh-aneh, mungkin juga karena aku yang sebelumnya terkesan kaku jadi, ketika hamil aku hanya ingin mangga muda atau nanas muda, yang paling merepotkan menurutku ketika aku minta pecel lele di jam tengah malam tapi, setelah makanannya datang aku sudah tidak selera”


“Hahaha, pasti Devan sangat kesal bukan?”


“Sepertinya begitu tapi, pada akhirnya dia yang menghabiskannya di kamar kami” Ucap Mira.


Tidak seperti Efira yang excited, Mira terkesan lebih cuek dan biasa saja saat menceritakan pengalaman kehamilannya.


“Nona Mira, kami akan mulai operasinya ya” Ucap sang dokter yang entah kapan dia tiba di ruangan tersebut, bersama Devan di belakang dokternya.


“Apa aku tidak bisa ikut menemaninya” Tanya Efira.


“Anda sedang hamil juga, nona. Kami tidak yakin anda tidak trauma nantinya jadi, biarkan suaminya saja yang menunggu” Ucap sang dokter, mengusir Efira dengan halus.


1 jam berlalu, akhirnya terdengar suara tangisan bayi dari dalam sana.


Oek


Oek


Oek


Seluruh keluarga tersenyum senang, setelah menunggu sekian lama akhirnya cucu keluarga Javonte yang pertama telah lahir.


“Ibu dan bayinya sehat. Bayinya laki-laki, begitu tampan seperti ayahnya” Ucap sang dokter setelah keluar dari ruang operasi.


Keluarga terlihat tenang dan senang mendengar penuturan dokter kala itu.