
Satu minggu berlalu dengan cepat, tiba di malam sebelum pemberkatan Alex dan Efira dilaksanakan besok pagi.
Bella, Aulia dan Deva sudah berada di kediaman Efira, bermalam dengan sahabat mereka yang akan segera melepas lasa lajangnya.
“Bagaimana perasaanmu?” Tanya Bella.
“Masih tidak menyangka, aku menikah di usia muda dan mind blowingnya adalah dengan sahabat masa kecilku sendiri?” Jawab Efira.
“Definisi selama ini kau menjaga jodohmu sendiri” Ucap Deva.
“Cinta tau kemana dia harus pulang” Sahut Aulia.
“Kau berbicara tentang cinta Au? Bagaimana perkembanganmu dengan Samuel?” Tanya Bella.
Aulia terdiam sejenak, “Tembok pemisahku dan dia setinggi langit. Aku hanya akan menjadi pasangan dari lelaki yang seiman dan yang bisa membimbingku menuju surga-Nya nanti” Jawabnya.
Semua terdiam, mereka tau Aulia dan Samuel sebenarnya memiliki rasa yang sama hanya saja keduanya juga sama-sama kuat iman di jalan masing-masing.
“Ya sudah, ikhlaskan saja. Tuhan tau kemana cinta umatnya harus dipulangkan” Jawab Efira sembari mengelus punggung sahabatnya itu.
“Dress kalian sudah ada di walk in closetku, MUA sudah aku siapkan juga so girls don’t worry about anything” Lanjut Efira sambil tersenyum, mencoba menghilangkan rasa kaku yang tiba-tiba menyerang setelah topik religius tadi.
“Apa kau mau menggunakan masker? Seharusnya kita menggunakan malam ini dengan perawatan mandiri agar besok terlihat lebih fresh dan cantik” Ucap Bella centil.
“Kau benar sekali, aku sudah membawakannya untuk kita” Ucap Deva, mengeluarkan masker wajah untuknya dan teman-temannya.
Malam itu mereka bersenang-senang dengan baik. Melakukan perawatan pada wajah mereka, lalu berkaraoke dan marathon film bersama hingga tertidur. Keseruan yang mungkin akan sangat dirindukan Efira setelah menikah nanti.
Sedangkan Alex di kamarnya masih terjaga hingga dini hari menyapa, melihat kamar Efira dari balkon kamarnya dibarengi dengan video call yang masih menyala bersama Cris.
“Perketat keamanan besok. Pastikan tidak ada tamu tak diundang yang datang ke acaraku, banyak fokuskan keamanan kepada Efira, mereka hanya mengincar Efira sebagai umpan untuk menghancurkanku” Ucap Alex.
“Baik, Tuan. Lalu bagaimana dengan perdagangan kita tempo hari dengan Yakuza? Apa anda menyetujuinya?” Tanya Cris.
“Tentu, mereka menawarkan hal yang begitu berharga untuk perusahaan. Beli dan berikan mereka imbalan yang setimpal, pastikan data-data yang mereka kirim adalah asli dan tidak memiliki salinan apapun” Jawab Alex, smirk muncul di wajahnya. Mengakuisi perusahaan IT di Asia adalah satu dari banyaknya impian yang ia miliki.
“Baik tuan” Sahut Cris dari seberang sana.
Alex memutuskan sambungan video callnya, lalu tersenyum iblis di tengah kegelapan “It’s time to play the game”
...***...
“Alexander Harrison? It’s time, mari kita lihat apa kekuasaanmu sama dengan ayahmu?” Ucap seseorang di tengah kegelapan malamnya.
“Acara pernikahannya akan dilaksanakan besok di salah satu gedung ternama di ibu kota”
“Pagi adalah acara pemberkatan sedang sore hingga malam hari digunakan untuk resepsi, Tuan”
“Pastikan kalian bisa masuk dan bawa gadis itu dihadapanku dalam keadaan hidup-hidup” Ucapnya pada anak buahnya mungkin?
“Baik, tuan”
“Biarkan acara pemberkatan mereka berjalan dengan baik, biarkan mereka menikmati kebahagiaan itu sejenak. Kerahkan banyak anak buah untuk melawan anak buahnya, mereka pasti akan bersiap lebih ketat dari biasanya. Setelah sekian tahun menunggu akhirnya tiba waktu untukku membalaskan dendamku pada kaparat keluarga Harrison. Pergi dan pastikan besok berjalan dengan baik, jika tidak maka bersiaplah untuk menerima hukumanmu” Ucapnya.
Dengan sedikit meneguk ludah, anak buahnya itu pamit undur diri.