
Setelah semuanya siap, Efira segera berlari ke dalam kamarnya untuk mandi.Gadis itu terdiam sebentar di depan standing mirror.
“Ternyata aku jorok juga” Ucap Efira memandangi dirinya sendiri sambil tertawa renyah.
“Tapi, aku tetap cantik” Lanjut Efira penuh percaya diri. Jika ada Alex di sana mungkin lelaki itu akan langsung mengeluarkan bahasa kasarnya untuk sahabatnya itu.
Tidak butuh waktu lama, hanya 15 menit untuk Efira bersiap. Tidak perlu berdandan, hanya makan malam biasa, cukup lipbalm agar tidak terlihat pucat.
Definisi gadis sederhana bukan?
Saat Efira turun dari kamarnya menuju ruang makan, gadis itu melihat orang tuanya beserta Alex sudah duduk manis disana.
Alex?
Ah, lelaki itu membuat jantungku berdetak sangat kencang saat aku melihat matanya. Aku bahkan tidak sanggup memandang matanya lebih dari 5 detik. Batin Efira.
Meresahkan.
...***...
Tepat pukul 19.00, kedua orang tua Alex tiba, anggap saja itu adalah acara perayaan kedatangan Alex dan juga Efira kembali ke rumah.
“Ayo, silahkan dimakan. Efira dan Alex yang memasak semua ini” Ucap nyonya Javonte, bunda Efira. Wanita paruh baya itu sedang menghidangkan nasi untuk suaminya.
“Hebat ya, sepertinya sudah saling siap menikah” Jawab nyonya Harrison. Tentu saja Efira bersemu dengan ucapan tersebut.
“Maksudnya Efira menjadi seorang istri? Bahkan kekasih saja dia tidak punya” Ucap Alex menimpali perkataan bundanya.
Oke, mood Efira tiba-tiba merosot jatuh. Pada nyatanya, Alex memang sangat menyebalkan.
Tuan dan nyonya Javonte hanya tersenyum melihat Alex menggoda putri mereka.
“Kau sendiri memangnya sudah memiliki kekasih?” Ucap tuan Harrison.
Telak sudah, Alex sendiri juga masih sendiri bukan?
Efira yang awalnya menekuk wajah, kini sudah tertawa bahagia melihat wajah linglung sahabatnya.
“Apa kau?” Alex menunjukkan garpunya di depan wajah Efira.
“Apa?” Jawab Efira melotot, garpunya pun menunjuk di wajah Alex.
Orang tua mereka hana mampu geleng-geleng kepala. Kelakuan anak-anak mereka memang tidak pernah berubah sejak dulu.
“Kalian sudah cukup dewasa dan matang untuk menikah, usia kalian sudah tidak muda lagi. Segeralah menikah, kami ingin menggendong cucu” Ucap tuan Harrison, lelaki paruh baya itu mengucapkan kalimat yang sedikit ambigu mungkin?
“Kami pasti akan menikah ayah, tunggu saja waktunya tiba” Jawab Alex.
“Aku menjadi ambigu” Ucap Efira santai, mengambil piring Alex dan mengambilkan lelaki itu nasi beserta lauk pauknya.
Alex hanya diam saja, sudah biasa bagi mereka berbagi perhatian. Mengingat mereka hidup berdua di negeri orang sudah lama.
“Ehehe, sudahlah ayo makan. Tidak baik berbicara di depan makanan seperti ini” Jawab Alex, tidak memberi penjelasan apapun.
“Enak” Puji nyonya Javonte.
Wanita paruh baya itu baru pertama kali merasakan masakan putrinya. Sebab dulu, saat Efira masih belum pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya, nyonya Javonte tidak mengizinkan Efira menginjakkan kakinya di dapur barang sedikit pun. Fokus saja dengan pelajaran. Begitu pikirnya, lalu sekarang?
Efira bahkan lebih pandai memasak daripada dirinya sendiri.
“Tunggu, aku punya dessert” Ucap Efira, kembali ke dapur. Melihat hasil puddingnya yang sudah mengeras jadi.
Gadis itu menumpahkannya pada sebuah piring lebar. Memotongnya hingga beberapa bagian, lalu di tata pada piring saji.
“Taraaa, ini namanya pudding strawberry milk. Efira membuatnya dengan lapisan pudding susu dan pudding jus strawberry” Ucap Efira sambil meletakkan piring itu di meja.
Mereka langsung menyerbu makanan tersebut, merasakan sensasi manis dari susu dan segar dari strawberrynya, kecuali Alex. Lelaki itu hanya mengatakan “Sebentar lagi” tanpa memakannya sampai pudding tersebut tersisa setengah porsi.
Acara makan-makan pun usai. Mereka semua sudah bubar, para orang tua memilih untuk berbincang ringan di ruang tamu.
Sedangkan Alex dan Efira?
Alex hanya melihat Efira yang sedang membereskan meja makan. Memandang sahabatnya itu dengan pikiran yang berkecamuk.
“Bagaimana bisa kau tidak ingin dibantu oleh para pelayan ha?” Ucap Alex, memecahkan keheningan diantara keduanya.
“Ya terserah padaku saja” Jawab Efira santai.
Setelah itu keduanya kembali diam, mungkin hingga pekerjaan Efira selesai.
“Apa lihat-lihat?” Ketus Efira, merasa risih saat mata Alex menjadikannya objek.
“Tidak apa-apa. Apa sudah selesai?” Tanya Alex.
“Sudah”
“Ayo ke taman belakang, sepertinya makan pudding bersamamu disana akan terasa sangat menyenangkan” Ajak Alex, mengambil sisa pudding di meja, lalu menarik tangan sahabat kecilnya.
“Cih” Efira berdecih pada awalnya namun, akhirnya ikut terseret juga.
“Ayo, cepat makan puddingnya. Habiskan!” Ucap Efira, duduk di samping Alex.
“Hm” Alex bergumam ringan, memasukkan pudding tersebut ke dalam mulutnya.
“Bagaimana rasanya?” Tanya Efira.
Niat hati hanya ingin menyuapi Efira, ternyata gadis itu malah menjawab, “Aku tidak mau, sudah merasakannya tadi”
“Kalau begitu kenapa kau tanya rasanya?”
“Lidah setiap orang itu berbeda, Alex. Aku kan hanya bertanya tentang pendapatmu”
“Rasanya benar-benar manis seperti dirimu” Jawab Alex yang sukses membuat Efira tersipu.
Mereka akhirnya terdiam beberapa saat.
“Efira, apa kau ingin makan pudding ini dengan cara yang lebih manis?” Ucap Alex.
Efira mengerutkan keningnya, “Bagaimana caranya?” Tanyanya.
Alex mengeluarkan senyum mautnya, lalu memasukkan satu bagian kecil pudding ke mulutnya.
Cup
Di bawah sinar bulan dan taburan bintang, pudding itu pindah ke mulut Efira. Bahkan Alex memulas sedikit bibir Efira, menunggu gadis itu menelan puddingnya dengan baik.
Efira?
Kaget!
Bahkan puddingnya tertelan utuh-utuh. Beruntungnya gadis itu tidak tersedak begitu saja.
“A-Alex?” Efira sangat gugup saat mengatakan hal itu.
“Bagaimana rasanya?” Tanya Alex, tersenyum. Sebenarnya lelaki itu juga gugup.
Hah, hei Alex!
Masih bisa kau tersenyum setelah mencuri ciuman pertama seorang gadis? Terlebih lagi itu adalah sahabatmu sendiri.
Demi apapun, aku tidak bermaksud melakukan itu tapi, naluriku saja yang memang sebodoh itu. Bibir cherry-nya itu membuatku selalu mabuk, sudah sejak? Ah, aku tidak tau sudah sejak kapan. Intinya aku ingin merasakannya sendiri. Batin Alex.
Dasar Alex bodoh!
Lihat! Wajah Efira sangat menggemaskan saat sedang melongo begitu.
Bagaimana dia menjelaskannya?
“Maafkan aku” Alex berucap demikian saat dirinya tak kunjung mendapat suara dari Efira.
“A-Aku masuk d-dulu” Efira langsung beranjak.
“Apa kau menghindariku?” Ucap Alex yang langsung mendapat sahutan dari sahabatnya.
“Tidak”
Efira membalik badannya dan langsung mengatakan hal itu dengan cepat. Alex tersenyum lagi kali ini, sahabatnya sedang salah tingkah?
“Kalau begitu, duduk kembali”
“A-aku kedinginan” Titahnya beralasan.
“Pakai jaketku bodoh, memangnya siapa yang akan membiarkanmu kedinginan?”
Alex melepas jaketnya, melemparkannya kepada Efira. Gadis itu dengan sigap menangkapnya, mari kita lihat alasan apa lagi yang akan dia buat?
“T-tapi aku-”
“Jika kau banyak bicara lagi, aku akan menciummu lagi beratus-ratus kali” Alex memotong kalimat sahabatnya dengan sebuah ancaman?
“Baiklah, kau memang menyebalkan” Ucap Efira lalu duduk kembali di samping Alex.
“Apa kau marah?” Tanya Alex, tanpa memandang wajah Efira. Bulan dan bintang sedang menjadi titik fokus matanya.
“Sebenarnya aku ingin marah”
Kenapa berhenti?
“Lalu?” Tanya Alex.
“Kau ini bodoh atau gimana, aku tidak pernah marah denganmu. Kau itu curang, kenapa kau selalu bisa membuatku tidak marah sebesar apapun kesalahanmu padaku?”
Hening. Lelaki itu masih mencerna kata-kata Efira dengan baik.
“Aku-Kau, mencuri ciuman pertamaku” Lanjutnya.
Alex? Tentu saja dia terkejut dengan pernyataan itu. Apa itu? Tidak seperti itu konsepnya.
“Maafkan aku, itu terjadi begitu saja. Kau saja yang memang menggodaku dengan wajah polosmu”
“Maksudmu?”
“Ah, tidak apa-apa” Jawab Alex, lelaki benar-benar merasa bodoh dengan jawabannya tadi.
“Kau benar, ini dingin. Ayo masuk saja” Ucap Alex lalu beranjak, tidak lupa membawa tangan Efira bersamanya dan juga piring pudding itu?
Puddingnya masih tersisa banyak, apa kalian mau? Alex sudah kenyang katanya.