You

You
Gudang



Saat acara telah usai, Efira memerintahkan anak buahnya untuk segera membereskan sisa-sisa pesta di halaman butiknya. Bukan apa-apa, pasalnya besok butik itu sudah ber-operasional.


“Bagaimana perasaanmu?” Tanya tuan Javonte saat keluarga itu sedang berkumpul di ruang keluarga, melepaskan lelahnya perjalanan.


“Aku bahagia, ayah. Mimpi untuk memiliki butik sendiri tidak kusangka akan terwujud di usia yang masih terbilang muda” Jawab Efira.


Nyonya Javonte mengelus pelan surai putri semata wayangnya, “Itu artinya perjuanganmu tidak sia-sia” Ucap wanita paruh baya itu.


“Terimakasih ayah, bunda. Kalian telah mendukung Efira hingga hari ini” Efira memeluk bundanya dan juga ayahnya yang berada di samping kanan-kirinya.


“Sudah menjadi kewajiban kami sebagai orang tua untuk selalu mendukung mimpi-mimpi baikmu” Jawab tuan Javonte.


Mereka banyak berbincang malam itu, hanya perbincangan tentang rencana Efira membagi waktu kerjanya di perusahaan dan juga butik.


Sebenarnya gadis itu bisa bekerja secara fleksibel di butik, mengingat tadi saat acara berlangsung, dia telah memastikan bahwa Aulia akan menjadi manager yang akan mengurus dan mengolah butik mewahnya itu.


“Bunda tidak ingin kau sakit karena bekerja, jaga pola hidupmu dengan sehat” Komentar nyonya Javonte setelah mendengar penjelasan Efira.


“Pasti bunda” Jawab Efira.


“Yasudah, ayo istirahat. Ini sudah tengah malam, kau besok harus kembali ke kantor kan?” Ujar tuan Javonte.


Efira hanya menganggukkan kepala tanda setuju dengan pernyataan ayahnya. Sang bunda mengecup puncak kepala Efira sembari mengucapkan perpisahan malam.


“Selamat malam, semoga mimpimu indah”


Begitulah kalimat manis penuh kasih sayang yang diucapkan nyonya Javonte kepada putrinya. Lalu mereka beranjak pergi ke kamar masing-masing.


...***...


Efira memasuki kamarnya, membawa beberapa camilan dari dapur. Satu botol soda ditambah dengan chiki-chiki sepertinya menjadi ide yang tidak buruk untuk menemaninya menggambar sketsa busana.


Sebelum mengeksekusi buku gambarnya, gadis itu memilih untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sambil memikirkan desain seperti apa yang akan ia rancang untuk pajangan best seller-nya di butik.


Menurutnya, ide-ide baik akan selalu muncul saat dirinya berada di kamar mandi. Kenapa bisa begitu? Entahlah, itu mungkin hanya sebuah mitos atau kebetulan yang sering terjadi.


15 menit membersihkan diri, menggunakan piyama biru langit dengan gambar salah satu karakter BT21 yang bernama koya. Ah, dia memang pecinta Korea sejati.


“Baiklah, apa yang bisa kita gambar untuk malam ini?” Efira bergumam, memasukkan satu buah isi chiki-chiki ke mulutnya.


Setelah menggambar sketsa kepala, gadis itu mulai bingung dengan apa yang akan ia gambar selanjutnya. 10 menit berlalu hanya menggambar abstrak lalu dihapusnya lagi, begitu terus. Sepertinya dia sedang stuck atau idenya ikut mengalir bersama air saat mandi tadi?


“Apa hanya aku yang memiliki ide-ide cemerlang saat di kamar mandi dan ide itu seketika hilang saat sudah keluar dari tempat itu?”


Terdengar sangat tidak masuk akal tapi, Efira benar-benar ingin menggambar sekarang. Sialnya dia tidak memiliki inspirasi apapun. Mungkin dia lelah karena seharian diforsir untuk bekerja?


“Itu bukan alasan, aku mencintai hobiku jadi, aku mungkin bisa menyelesaikannya dengan baik jika aku mendapat sebuah inspirasi” Gumam Efira lagi.


Sambil bersantai memikirkan gambaran-gambaran baru, gadis itu pun berpikir sambil melahap camilannya. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang dia dustakan?


“Ah, sepertinya memamerkan karya pertamaku dibutik tidak buruk juga”


Begitu ucapan Efira, memungkinkan bahwa akan sangat membanggakan jika dirinya berhasil merancang dan memajang desain pertamanya di ruangan pribadi miliknya di butik.


Tanpa berpikir panjang, Efira segera mencari tumpukan buku gambarnya yang seingatnya masih ia simpan di kamarnya itu.


Berlarian kesana kemari, mencari kesana kemari, membuka lemari ini dan itu. Hasilnya nihil, buku gambarnya itu tidak terlihat oleh mata sedikit pun, bahkan sampulnya saja tidak terlihat. Tapi, dia ingat betul bahwa dirinya masih menyimpannya di kamar itu tapi, apa sudah dibersihkan?


“Aku sudah mencari ke seluruh penjuru ruangan, masih tidak ada juga”


Karena sudah lelah, Efira memutuskan pergi mencari seseorang yang bisa ia tanyai mengenai hal itu.


“Bi Inah” Panggil Efira pada kepala pelayan di rumahnya. Bi Inah sedang? Entah apa yang dilakukan di bawah tangga sana.


“Ada apa non?” Tanya Bi Inah.


“Bi Inah membereskan buku gambar di kamar Efira tidak? Efira menyimpannya di lemari belajar waktu masih sekolah” Tanya Efira to the point.


Bi Inah terlihat berpikir sejenak, “Ah, saya kurang tau non. Tuan dan nyonya mungkin meringkasnya di gudang. Saya ingat mereka yang selalu membersihkan kamar non Efira. Bibi tidak pernah diperbolehkan masuk sebelum non Efira kembali ke rumah” Jelas Bi Inah.


Efira mengangguk paham. Meskipun sudah tengah malam dan orang tuanya sudah tertidur, Efira dengan beraninya berjalan ke arah gudang seorang diri.


Sesampainya di gudang, dia segera mengeksekusi tumpukan kardus disana.


“Dimana bunda meletakkannya?” Omel Efira saat dirinya sudah lelah mengobrak-abrik isi gudang tersebut.


Hingga pada tumpukan ke-berapa, Efira tidak tau. Efira menemukan sebuah berkas kelahiran seseorang?


“Berkas penting ya?”


Karena penasaran, gadis itu membuka satu per satu lembaran di dalamnya.


“Apa ini?”


Semakin dibaca lebih dalam, Efira dibuat semakin bingung tentunya.


“Siapa dia?”


Lagi-lagi Efira bergumam seorang diri. Semakin penasaran, gadis itu melupakan tujuan utamanya di gudang.


Brak


Suara itu, seseorang mungkin sedang ada di luar pintu sana. Efira segera menyimpan berkas tersebut, membereskan kembali ke-berantakan yang telah ia ciptakan pada ruangan tersebut. Jika mencari lebih jauh, gadis itu mungkin akan tertangkap basah oleh kedua orang tuanya.


Setelah selesai merapikan kardus-kardus itu, Efira segera keluar kembali ke kamarnya membawa berkas penting yang ia temukan bersamanya.