
Pukul 07.00 waktu setempat, saat semua rekan-rekannya sudah bangun bahkan sudah ramai menyiapkan sarapan. Alex dan Efira masih betah terpejam di sofa ruang tengah.
“Kemarin di kamar, sekarang di ruang tengah” Protes Gio. Lelaki itu selalu saja merasa sial, kenapa tidak orang lain saja yang menemukan dua buntalan manusia itu dulu? Kenapa harus dirinya yang pertama memergoki keduanya?
Saat itu Gio baru saja bangun, dia ingin bersantai sebentar di ruang tengah sambil menunggu yang lainnya bangun tapi, apa yang ia dapat? Mendapati Alex dan Efira asik tidur dan berpelukan manja di sofa empuk ruang tengah. Setelah itu, Gio langsung membalikkan badannya menuju dapur, meneguk satu gelas minuman dingin.
“Gio, apa kau melihatnya tadi?” Ucap Bella, gadis itu juga baru bangun rupanya. Kamarnya harus melewati ruang tengah untuk bisa ke dapur. Dia juga harus melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat di ruang tengah.
“Aku melihatnya, mungkin lima menit sampai aku sadar bahwa posisiku disini sangat menyedihkan. Kemarin, aku yang pertama mendapati mereka di kamar. Sekarang, aku juga yang pertama melihat mereka di ruang tengah. Sangat tidak bermoral sekali aku ini” Protes Gio, meratapi nasib kesendiriannya.
Bella saat itu hanya menahan tawa, tidak ingin membuat kegaduhan di pagi hari.
“Ayo bangunkan yang lain, sepertinya aku butuh bantuan untuk membuat sarapan” Ujar Bella yang dibalas sebuah anggukan dari Gio.
Mereka pergi ke kamar masing-masing untuk segera membangunkan yang lainnya.
“What the hell?” Nando yang pertama kali mengumpat setelah bangun melihat Alex dan Efira. Lalu, diikuti yang lain. Tidak kalah heboh, mereka melihat keduanya dengan gemas.
Aulia saja sampai langsung berkomentar, “Mereka kapan nikahnya sih?”.
“Guys, daripada kalian melihat kemesraan itu di pagi hari begini. Ada baiknya jika kalian membantuku saja membuat sarapan” Ucap Bella.
Semuanya mengangguk, mulai membagi tugas satu dengan yang lain. Ada yang memasak, ada yang bersih-bersih. Karena ini hari terakhir mereka di villa, tidak mungkin mereka meninggalkan villa dalam keadaan berantakan. Sungguh manusia-manusia budiman.
“Enggghhh” Alex melenguh pelan, merasa terganggu dengan sinar mentari yang menyilaukan matanya. Lelaki itu membuka matanya perlahan dan lagi-lagi seperti malam sebelumnya, ia menemukan Efira di dalam pelukannya.
Alex tersenyum kecil.
“Kau cantik saat sedang tidur begini” Ucap Alex lirih, mengusap pelan surai hitam Efira.
Tanpa dia sadari, banyak pasang telinga yang mendengar dan banyak pasang mata yang melihat keromantisan itu.
Tidak ingin ada suara, penghuni rumah yang sudah seperti numpang di dunianya Alex hanya mampu berkacak pinggang dan melotot melihat temannya begitu. Devan? Hanya mampu menepuk dahinya pelan tapi, tidak ada niatan untuk menghentikan aksi atasannya.
“Jadi, aku tidak cantik saat sudah membuka mata?” Tanya Efira dengan suara serak khas bangun tidur.
Sial, apa Efira mendengar ucapan Alex?
Lelaki itu mengumpat pelan di dalam hatinya, “Apa kau mendengarnya?”, tanya Alex.
“Hm, saat aku ingin membuka mata. Aku mendengar seseorang mengatakan bahwa aku cantik saat sedang tidur” Ucap Efira diakhiri dengan kekehan.
Menggoda Alex lebih tepatnya.
“Cih, lupakan saja. Kau menyebalkan” Ucap Alex lalu turun dari sofa, ingin berjalan ke kamar mandi tapi, saat membalikkan badan?
Alex menemukan teman-temannya tengah melihat dirinya?
“Kau cantik saat sedang tidur begini” Ucap Samuel, menirukan kalimat Alex tadi.
Efira saat itu juga langsung bangun dari tidurnya. Itu memalukan.
“Jadi, aku tidak cantik saat sudah bangun?” Sahut Aulia, berperan menjadi Efira yang membalas ucapan manis dari Alex.
“Cut. Oke cukup” Balas Gio, seolah Samuel dan Aulia sedang menjadi sutradara.
Efira berlari tunggang langgang ke kamarnya. Menahan malunya yang setengah mati.
“Akan aku buat kalian semua pulang jalan kaki” Ucap Alex pada teman-temannya. Itu bukan sebuah ancaman yang serius, itu terjadi hanya untuk menutupi wajahnya yang mungkin sudah sangat kentara menahan malu.
“Kami masih punya cukup uang untuk membeli tiket kembali ke ibu kota” Jawab Nando.
“Lagipula kenapa bisa kau tidur di ruang tengah bersama Efira? Bukankah kemarin kau tidur di kamar, kenapa paginya malah bersama seorang gadis di tempat lain ha?” Tanya Gio.
“Insiden mengerikan terjadi” Jawab Alex singkat, mencari keberadaan Frans yang wajahnya mungkin sudah penuh memar pagi ini. Sebenarnya, Alex merasa risih jika mengingat pengakuan bule itu semalam. Rasanya seperti takut menjadi korban dari ketidak normalan seorang Frans.
“Alasan” Gumam Frans yang bahkan bisa di dengar oleh semua orang.
“Hey bule, kenapa ikut-ikut sih?” Ujar Samuel.
“Kalian tau, ini adalah hasil dari hal mengerikan yang dikatakan Alex” Frans berucap sembari membuka masker dan kacamatanya, mempertontonkan lebam dan memar di wajahnya.
Frans semalam tidak kembali ke kamar, lelaki itu tidur entah dimana. Setidaknya lukanya itu tidak diketahui yang lain saat bangun tidur di pagi hari. Dia pasti akan terlihat seperti zombie jika mengagetkan teman-temannya yang lain saat mereka terbangun.
“Wow, apa yang sudah kami lewatkan?” Ucap Bella.
“Tidak ada yang istimewa, temanmu itu hanya terlalu cemburu denganku” Jawab Frans.
Ingin rasanya Alex menghajar lagi wajah tampan itu tapi, dia ingat bahwa Frans bukanlah pria normal sepertinya yang akan terpancing saat kekasihnya didekati orang lain.
“Katakan, apa yang kalian lakukan semalam” Deva menimpali dengan nada penasarannya. Apa yang sudah terjadi diantara ketiga orang itu?
“Bukankah akan sangat membahagiakan jika kalian tidak membahas hal ini? Frans sudah menjelaskannya secara garis besar” Tutur Alex.
“Oh jadi tuan muda Harrison tengah dilanda kebutaan akan kecemburuan?” Goda Samuel.
“Hentikan godaan kalian atau aku akan memotong kelima jari kalian sebagai sup untuk sarapan pagi ini” Balas Alex.
“Itu terdengar mengerikan jika kau mau tau” Sahut Aulia, bergidik ngeri membayangkan jarinya yang akan dijadikan sup.
“Elena, bisa kau panggil Efira? Sudah waktunya sarapan dan gadis itu malah tidak kunjung keluar” Ucap Bella, gadis itu menyuruh Elena bukan karena apa-apa tapi, Elena adalah teman satu kamar Efira, akan lebih baik jika Elena yang memanggil Efira.
“Oke”
Elena berjalan menuju kamarnya, menemukan Efira tengah menutupi wajahnya dengan bantal di kasur king size itu.
“Apa yang sudah terjadi hingga kau sampai sebegini malunya?” Goda Elena.
“Aku? Tidur. Apalagi?” Jawab Efira singkat. Membenarkan posisinya menjadi duduk.
“Tidur saja atau tidur yang lain yang kau maksud?”
“Tidur saja, memangnya ada berapa jenis tidur?”
Bukankah itu skakmat yang bagus? Elena hanya senyum-senyum menggoda menanggapi perkataan Efira.
“Keluarlah, teman-temanmu sudah kelaparan menunggumu sejak tadi” Tutur Elena yang segera dibalas anggukan oleh Efira.
Sarapan pagi itu, berjalan dengan baik tanpa suatu godaan apapun yang terjadi diantara mereka semua.