
Ceklek
“Tuan Alex” Sapa Devan setelah membuka pintu ruangan Efira. Disana hanya ada Alex dan juga kekasihnya itu yang tengah terbaring di ranjang pasien tapi, matanya masih terbuka sempurna. Gadis itu juga menyambut mereka dengan senyuman.
Alex menolehkan kepalanya, mendapati sekretaris pribadinya bersama dengan sekretaris pribadi Efira.
“Ah, maafkan aku. Semuanya jadi kacau jadi, apa yang sudah terjadi disana?” Tanya Alex.
Lelaki itu benar-benar lupa menanyakannya kepada orang tuanya tadi jadi, dia tidak tau apa yang sudah terjadi di tempat yang seharusnya menjadi acara pertunangannya juga tadi.
“Hahaha, apa yang terjadi?” Mira sudah benar-benar seperti setan sekarang. Bahkan caranya tertawa bukan lagi seperti manusia.
“Pertunangan anda dengan nona Efira mungkin tidak terjadi, parahnya sekretaris bodoh anda ini malah menjadikan itu sebagai acara pertunangan kami”
Mira mengangkat tangan kirinya dan juga mengangkat tangan kiri Devan, memperlihatkan jari manis mereka yang saat ini sudah dilingkari cincin yang sama.
Untuk sejenak, Alex dan juga Efira terdiam namun tidak lama. Akhrinya mereka berdua tertawa akan hal itu. Bukannya merasa bersalah, hal itu justru terlihat lucu di mata keduanya.
Kenapa tidak dibatalkan saja acaranya? Kenapa menjadikan itu sebagai acara pertuanangan mereka?
“Tapi, bagaimana kalian menadapatkan cincin itu?” Tanya Alex.
“Tanyakan saja pada sekretaris bodoh anda ini tuan” Ucap Mira yang juga tidak tau bagaimana asal usul cincin yang melingkar di jari manis kirinya itu.
“Aku menyuruh seorang anak buah membeli ini 15 menit sebelum aku menaiki panggung” Jawab Devan menjelaskan.
“Tanpa kau datang langsung ke tempatnya?” Tanya Alex lagi.
“Ya, mana sempat aku datang ke tempatnya tuan jika anda saja sangat sulit untuk dihubungi” Ucap Devan.
Alex meringis mendengar hal itu, benar juga yang dikatakan Devan.
“Bukankah itu artinya kalian memang sudah ditakdirkan berjodoh?” Ucap Alex memberikan komentar.
“Berjodoh? Dengan lelaki seperti dia? Rasanya akan lebih baik jika aku melajang seumur hidupku tuan Alex” Jawab Mira.
“Hei wanita cerewet, kau sudah terikat denganku jadi jangan mengatakan hal macam-macam di hadapanku atau kau akan habis di tanganku” Sahut Devan.
“Di tanganmu atau di ranjangmu?” Goda Alex.
Keduanya diam, Mira menahan kesal dan Devan yang tersenyum setan.
Sejenak hal itu membuat Efira sedikit terhibur. Melihat wajah kesal Mira dan juga wajah tidak berdosa milik Alex benar-benar tidak sinkron.
“Sebenarnya aku tidak habis pikir, aku kira kalian akan membatalkan poin acara pertunangan itu” Ucap Alex.
Tapi, tunggu. Apa tadi Mira mengatakan acara pertunangan Alex dan Efira?
“A-Alex?” Efira menolehkan kepalanya pada Efira.
Ah, Alex seperti mati kutu. Dia tau maksud tatapan dari gadisnya itu. Kenapa jantungnya berdebar keras sekali?
“A-Apa?” Jawab Alex tak kalah gugup.
“Apa maksud mereka?” Tanya Efira.
“A-Ah, M-Mungkin mereka s-salah bicara. B-Bukan begitu?”
Sial, kenapa nada biacaranya seperti itu?
“Tidak nona Efira. Seharusnya itu menjadi acara pertunangan kalian. Kenapa anda ini sangat tidak gentle tuan? Devan saja bisa mengatakannya dengan lancar” Ucap Mira sarkatis.
“Hei, itu karena dia tidak memiliki perasaan padamu. Bukan begitu alasannya?” Ucap Alex tidak terima.
“Kau sedang memujiku sayang?” Tanya Devan pada Mira.
Okey, Mira jadi salah tingkah sekarang.
“Baiklah akan aku katakan tapi, setelah dua orang ini enyah dari sini” Lanjut Alex pada Efira.
“Ya ya, baiklah. Mari kita pulang” Ucap Devan lalu lagi-lagi menarik tangan Mira.
Setelah mereka menutup pintu ruangan, Efira menatap Alex serius.
“Jadi, ada apa sayang?” Tanya Efira pelan.
“Jadi, sebenarnya…”
Alex menghentikan ucapannya, menetralisir degup jantungnya.
“Aku mencintaimu. Mencintaimu dan tidak akan berubah baik itu kemarin, sekarang dan selamanya”
Alex sukses mengatakannya dengan memegang tangan Efira halus.
Tok
Tok
Tok
Ah, siapakah dia yang mengetuk pintu? Haruskah Alex menempatkan banyal bodyguard di depan pintu agar tidak ada yang mengganggunya?
“Masuk” Ucap Alex.
Ceklek
“Selamat malam”
Lihat, itu adalah Devan.
Sialan sekali lelaki itu.
“Tuan Alex, anda harus menandatangani dokumen-dokumen ini karena besok, kita harus melakukan meeting terkait dan maaf, ini tidak tidak dapat ditunda lagi” Ucap Devan lalu memberikan setumpuk berkas di tangannya untuk Alex.
Katakan, sekretaris mana yang mampu kurang ajar seperti itu?
Alex menghela napasnya kasar sambil menerima dokumen-dokumen itu. Jika dipikir-pikir, Devan memang memiliki kompetensi yang tinggi. Saat dirinya sakit saja, masih sanggup diberikan pekerjaan apalagi sehat sejahtera begini?
“Saya permisi” Ucap Devan.
“Terimakasih” Jawab Alex, melihat sekretarisnya keluar dari ruangan itu.
“Tidurlah, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu. Besok saja kita bahas masalah ini ya, boleh?” Ucap Alex.
“Baiklah, kerjakan saja. Aku akan menemanimu” Jawab Efira.
“No, aku akan menunggumu hingga terlelap. Kau harus istirahat, jangan membantahku, paham?” Sahut Alex, mendekati ranjang pasien kekasihnya setelah meletakkan dokumen-dokumennya di meja yang ada di ruangan tersebut.
Tangan kanan Alex mengelus pelan puncak kepala Efira, sedang tangan kirinya sibuk mengelus tangan kekasihnya itu. Bayangkan saja, how sweet boy friend he is?
Mungkin karena merasa nyaman, Efira segera pergi ke alam mimpinya.
Setelah memastikan Efira benar-benar terlelap, Alex segera membuka dokumen-dokumennya untuk secepatnya di selesaikan.
“Rasanya punggungku mau patah” Gumam Alex, melihat jam ternyata sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari.
Lelaki itu benar-benar menyelesaikan pekerjaannya hingga pagi buta menjemput, ah tidak ada yang benar-benar menyenangkan menjadi seorang pimpinan dari perusahaan besar.
Bukan suat rahasia lagi, bahwa kesuksesannya hari ini pun masih dirasa kurang untuk anak tunggal keluarga Harrison itu.
Terbukti dengan pembukaan cabang baru yang ia bangun di beberapa negara luar Asia.
“Begini sekali cari uang, ya Tuhan” Keluh Alex setelah melihat dan menandatangani dokumen terakhirnya. Membanting kertas pelan kertas itu dan menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan tersebut.
Efiranya sudah benar-benar tertidur, tadi gadis itu sempat terbangun dan sangat menuntut penjelasan, katanya hal itu terbawa ke mimpinya. Beruntung nyonya Javonte menelfon, mengatakan bahwa anak gadisnya itu tidak boleh tidur terlalu larut. Sehingga Efira segera beranjak menutup tubuhnya dengan selimut, jangan lupakan raut wajahnya yang menahan kesal kepada kekasihnya.
“Hei, aku begini juga mencari nafkah untuk anak-anak kita nanti” Ucap Alex pada gadisnya. Tidak peduli meskipun Efira tidak mendengarnya.
“Kau tau? Aku ingin sekali segera mengikatmu. Rasanya aku tidak rela jika kau berlama-lama bebas di luar sana”
“Ah, aku tidak mengijinkanmu bekerja jika nanti kita menikah”
“Biar saja kau menjadi ibu rumah tangga di rumah”
“Mengurus anak-anak kelak”
“Bicara soal anak, aku mau punya 11 anak agar dapat membentuk tim sepak bola pribadi”
Alex terus mengoceh sendirian sepanjang malam itu hingga ‘mungkin’ dia lelah dan berakhir tidur dengan posisi duduk pagi itu.