You

You
Kembali Dari Rumah Sakit



“Aku ingin menikah” Gumam Alex.


Mereka masih berada di taman sekarang.


“Apa menurutmu menikah itu lelucon ha?” Ucap Efira sewot.


“Efira, aku sedang tidak bercanda. Aku ingin menikah. Menikahimu, menjadikanmu milikku seutuhnya. Memangnya kau mau menunggu apalagi?” Terang Alex.


“Menunggu apalagi katamu? Tentu saja menunggu karirmu dan karirku sama-sama baik Alex”


“Aku sudah mengenalmu kurang lebih 20 tahun, aku rasa kita bisa meniti karir bersama. Aku akan membiarkanmu menjadi wanita karir selama pekerjaan rumahmu tidak terbengkalai” Jawab Alex.


21 tahun mungkin masih terdengar terlalu muda untuk mereka menikah. Apalagi Alex, usianya masih sangat muda untuk usia seorang lelaki menikah.


“Alex, dengarkan aku. Ini terlalu mendadak dan tiba-tiba untukku. Kita baru saja menjalani hubungan belum genap satu hari. Apa kau sudah gila? Kita masih terlalu muda dan masih banyak tujuan yang harus kita capai bukan? Jalani saja seperti ini” Ucap Efira.


Gadis itu membawa sepetik bunga untuk kekasihnya. Jika biasanya ini dilakukan oleh seorang pria maka, kali ini Efra lah yang menyelipkan bunga di telinga Alex.


Menggelikan sekali.


“Seharusnya aku yang melakukan ini” Ucap Alex berkomentar.


Sebenarnya lelaki itu masih ingin membahas tentang pernikahan tapi, perkataan Efira ada benarnya.


Jalani saja seperti ini dulu.


“Biar saja. Kapan lagi aku bersikap manis kepadamu hm?”


Benar juga, Efira kan seperti singa betina.


“Kata dokter, besok aku sudah bisa pulang” Ucap Alex.


“Apa lukamu sudah membaik?” Tanya Efira.


Gadis itu nampak masih tidak percaya jika Alex sudah bisa pulang kurang dari satu minggu lelaki itu dirawat inap.


“Aku rasa sudah. Apalagi jika kau merawatku seperti ini, pasti perkembangan kesehatanku melaju pesat”


Cih


Alex itu benar-benar seperti remaja yang dimabuk cinta.


“Kau terlihat seperti anak muda” Ucap Efira. Wajahnya menunjukkan seolah dirinya geli dengan ucapan Alex.


Padahal sebenarnya, hatinya sedang berbunga-bunga di dalam sana.


“Ck,aku masih 21 tahun. Memang masih muda, Efira” Ucap Efira.


“Ya ya terserah padamu saja. Ayo masuk, hari mulai petang dan kau tau apa yang paling buruk?” Ucap Efira.


Alex mengerutkan keningnya.


“Memangnya kenapa?”


“Aku belum mandi”


“Pantas aku tadi mencium aroma tidak sedap sejak tadi. Ternyata itu berasal dari dirimu” Ucap Alex sambil mengapit hidung dengan jarinya.


“Sialan. Kembali sendiri kau ke ruanganmu”


Efira pergi dengan menghentakkan kakinya. Merasa tidak ingin menyapa Alex lagi.


“Hey sayang, tunggu aku” Alex memutar kursi rodanya sendiri.


Lalu kembali ke belakang, mendorong kursi roda Alex dan membawa lelaki menyebalkan itu ke ruangannya.


“Sakit saja menyebalkan, apalagi jika tidak” Gumam Efira.


“Ya semakin menyebalkan” Jawab Alex yang mendengar gerutuan kekasihnya.


...***...


“Wellcome home Alex” Ucap nyonya Harrison saat Alex menginjakkan kaki di ruang tamu kediaman Harrison.


Alex bersama dengan tuan Harrison dan juga Efira yang menuntunnya tersenyum ramah.


“Bunda, kau jarang sekali menjengukku disana” Ucap Alex, lelaki itu ingin merajuk.


“Calon istrimu menunggumu 24 jam, tidak membiarkan bundamu ini menunggu dirimu sayang”


Efira sukses dibuat memerah menahan malu. Alex yang sadar akan hal itu langsung merangkul Efira di hadapan orang tuanya. Gemas, begitulah pikirnya.


“Lihat bunda? Dia malu” Jawab Alex.


Pasalnya, apa yang dikatakan nyonyha Harrison memang benar adanya.


Semalam, saat tuan dan nyonya Harrison ke rumah sakit, berniat menggantikan Efira menjaga putra tunggal mereka.


Begini, saat Efira mencari makan di kantin. Orang tua Alex datang untuk menemani Alex tapi, lelaki itu sudah nyenyak di alam mimpi.


“Ayah? Bunda? Ada apa kemari malam-malam begini?” Ucap Efira setelah masuk ke dalam ruangan.


Gadis itu terlihat lebih segar setelah mengurus Alex sejak tadi. Kekasihnya itu benar-benar seperti bayi besar.


“Menurutmu apalagi?” Jawab Nyonya Harrison.


“Aku akan menjaga Alex dengan baik ayah, bunda” Begitu kata Efira.


Padahal, saat itu Efira sedang membawa pekerjannya ke kantin. Memeriksa beberapa laporan dan juga file meeting disana.


Rencananya dia akan melanjutkan pekerjaannya di kamar Alex.


“Apa tidak merepotkanmu, nak? Pulanglah, kau pasti lelah menunggunya seharian” Ujar nyonya Harrison.


“Tidak bunda, lagipula besok Efira sudah boleh pulang. Jadi, aku akan menemaninya hingga dia sampai di rumah dengan selamat” Jelas Efira.


Saat itu jam sudah menunjuk pukul 21.00, Efira yang memaksa Alex tidur. Tentu saja agar dirinya dapat menyelesaikan pekerjaannya tanpa gangguan dari Alex.


“Baiklah, kami akan menginap disini” Ucap tuan Harrison.


“Paman, akan lebih baik jika kalian tidur di rumah, menikmati masa-masa kalian berdua. Siapa tau Alex akan mendapatkan adik di usianya yang ke 21 tahun” Goda Efira.


Efira dan juga keluarga Harrison memang sudah sangat dekat. Efira menganggap keluarga Harrison sudah seperti keluarga kedua untuknya.


“Kau mengusir kami secara halus” Ucap nyonya Harrison sambil terkekeh.


“Baiklah, kami titip Alex. Besok akan aku jemput untuk kepulangan Alex” Ucap tuan Harrison sebelum akhirnya pamit pulang bersama istrinya.


“Sebenarnya aku tidak tau apa yang sudah terjadi tapi, sepertinya itu menyenangkan untuk diceritakan kembali” Ucap Alex menatap ayah dan bundanya.


Berharap kedua orang tuanya berubah pikiran, mau menceritakan sedikit tentang apa yang terjadi semalam.


Ah, harusnya Alex tidak tidur sebelum orang tuanya datang.


“Aleeex” Efira merengek, mencubit perut keras Alex.