You

You
Telur Gulung Sebelum Persalinan



Memasuki bulan ke-8 kehamilan Efira, dia dan Alex sudah mulai menyiapkan keperluan bayi. Masih belum tau jenis kelamin anak mereka, Alex dan Efira memilih untuk membeli keperluan yang terkesan netral, bisa digunakan perempuan dan bisa juga digunakan laki-laki.


“Alex, kenapa siap-siapnya lama sekali” Ucap Efira, kali ini mereka berniat mencari baju anak dan beberapa keperluan lain yang masih belum sempat terbeli.


“Sebentar sayang” Jawab Alex, lalu turun dari lantai dua ke bawah.


“Maafkan aku, ayo berangkat” Ucap Alex setelah sampai di hadapan istrinya.


Mereka pun berangkat setelah sarapan, menuju tempat perlengkapan bayi.


“Apa yang belum di beli?” Tanya Efira setelah sampai toko.


“Stroler, gendongan bayi, box bayi juga belum, kenapa banyak sekali ternyata yang belum di beli?” Ucap Alex diakhiri dengan pertanyaan heran untuk dirinya sendiri.


“Kemarin-kemarin kita membeli baju-bajunya” Ucap Efira.


Mereka berkeliling toko, memang di luar dugaan, lihat saja keranjang belanjaan sudah dipenuhi dengan baju-baju bayi, tidak lupa sarung tangan dan kaos kakin yang gemas-gemas kata Efira. Bedak bayi juga banyak Efira ambil.


“Selera ibu hamil memang bukan main” Gumam Alex, melihat istrinya yang masih asyik dengan barang-barang yang menurutnya lucu.


“Ambil semua yang kau inginkan, lalu kita pulang” Ucap Alex, memberi tau istrinya bahwa dia adalah suami yang baik dan dermawan.


Puas berputar-putar, tiba-tiba Efira terdiam di tengah-tengah rak.


“Kenapa sayang” Tanya Alex, sedikit panik juga melihat istrinya tiba-tiba terdiam begitu.


Efira tiba-tiba berbalik, menunjukkan wajah melasnya, “Aku ingin telur gulung”


Singkat, padat, tidak jelas. Mood ibu hamil memang suka naik turun begitu kan?


“Kita bayar ini dulu, lalu kita cari apa yang kau mau” Ucap Alex, mengajak Efira sambil mendorong dua keranjang belanja yang sudah full isi semua.


...***...


“Sayang, apa tadi yang kau mau? Telur gulung ya?” Ucap Alex, sambil melihat kanan kiri jalan, sambil memastikan bahwa ingatannya tidak salah.


Duar


“Telur gulung yang biasa di luar sekolah tidak mau?” Tanya Alex, lagi-lagi mencoba bernegoisasi dengan ibu hamil.


“Tidak mau, maunya yang di ibu-ibu SMP dulu”


Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Baiklah, kita kesana” Ucapnya, memutar balik mobilnya menuju arah SMP mereka dulu.


Melihat jam, sepertinya ini adalah jam istirahat sekolah, pasti kantin sedang ramai-ramainya.


“Ada yang bisa kami bantu?” Sapa satpam sekolah itu saat Alex dan Efira sampai.


“Saya mau masuk, sudah ada janji dengan kepala sekolah” Melihat Alex dan Efira di dalam mobil, dia segera membukakan pagar sekolah dan mempersilahkan mobil ferari itu memasuki lapangan, tidak perlu konfirmasi dulu dengan kepala sekolahnya, siapa yang tidak mengenal pasangan itu? Bahkan Alex adalah investor terbesar di sana.


Mobil mewah memasuki lapangan saat jam istirahat berlangsung, tentu menjadi pusat perhatian para murid disana. Apalagi saat yang keluar adalah Alexander Harrison dan Efira Javonte, nama yang selalu keluar di setiap cerita guru-guru berumur.


“Maaf, tuan. Ada yang bisa kami bantu?” Sapa salah seorang guru yang kebetulan lewat. Saat itu juga, Alex dan Efira ‘salim’ dengan guru tersebut, unggah ungguh-nya benar-benar masih terjaga.


“Mau ke ruang kepala sekolah sebentar, bu” Ucap Alex.


“Oh, mari saya antar” Ucap guru tersebut, berjalan di depan Alex dan Efira menuju ruang kepala sekolah.


Sesampainya di ruang kepala sekolah, Alex langsung to the point, izin kepada kepala sekolah untuk membeli makanan di kantin yang notabennya tidak boleh digunakan selain oleh warga sekolah.


“Tentu saja boleh, kalian bisa makan di kantin sepuas yang kalian mau” Jawab sang kepala sekolah.


“Terimakasih pak, kami permisi dulu” Ucap Alex tanpa banyak alasan langsung menggandeng istrinya ke kantin.


“Bu, mau telur gulugnya sepuluh ribu” Alex memesannya di tambah dengan air mineral.


Makan sambil duduk di kantin membuat mereka mengenang masa-masa sekolah, tidak terasa waktu cepat berlalu bahkan mereka sekarang sudah mau memiliki anak.