You

You
Dalio Phyton Javonte



Devan menatap Mira sendu, “Terimakasih” Ucapnya mengecup puncak kepala istrinya.


Sedangkan Mira hanya terus menangis, menangis bahagia?


“Siapa namanya Devan? Kau sudah menyiapkan nama untuk putramu?”


“Dalio Phyton Javonte, nantinya dia akan aku fokuskan di keluarga tuan Pyton mengingat beliau juga ayahku dan beliau butuh penerus di keluarganya” Ucap Devan singkat, menjelaskan secara to the point bahwa tuan Phyton juga bagian dari keluarganya.


Tuan Pyton terlihat tersenyum haru, ternyata Devannya masih mengingat dirinya sebagai orang tua.


“Terimakasih, nak” Gumam tuan Pyton, lekaki paruh baya itu mengambil sang cucu dari gendongan Devan.


“Apa kau sudah tau ini, Mira? Kau setuju?” Tanya nyonya Javonte.


Mira mengangguk, “Kami sudah membicarakannya bunda, lagipula dia akan tetap bersama kami” Jawabnya.


“Ponakan tante lucu sekali, kau akan punya teman sebentar lagi, tunggu ya, kau harus menjaga adik sepupumu dengan baik ketika sudah besar nanti, jangan nakal seperti pamanmu yaa” Ucap Efira, menyelipkan wejangan-wejangan kecil yang mampu membuat sang bayi tersenyum di gendongannya.


“Kau sedang membicarakan aku pada bocah itu?” Tanya Alex.


“Ups, apa kau merasa tuan Alex? Maafkan aku tapi, bagus jika kau mulai peka dengan ucapanku” Ucap Efira, malah tersenyum jahil pada suaminya.


“Sebentar lagi kalian itu akan menjadi orang tua, kenapa masih saja suka bertengkar seperti anak kecil begini hm?” Tanya nyonya Harrison.


“Dia duluan, ma” Ucap Alex pada mamanya.


“Cih, anak mama sekali. Sama sekali tidak ingat umur, seperti bocah saja” Sindir Efira.


“Hei, bocah yang kau maksud ini bahkan bisa membuat bocah di dalam perutmu” Ucap Alex gamblang, rasanya Efira sangat malu saat kalimat itu sukses membuat seisi ruangan tertawa.


“Lalu, kau Efira? Rencananya mau operasi atau normal saja?” Tanya nyonya Javonte, ibunya.


“Aku ingin normal saja. Bukankah mau itu normal atau operasi, resikonya sama saja? sama-sama mempertaruhkan nyawa pada akhirnya” Ucap Efira lugas.


“Alex, sudah siap menemani istrimu melahirkan? Melahirkan secara normal naupun caesar, sama-sama membutuhkan mental yang kuat” Nyonya Javonte melihat menantunya dan juga putrinya bergantian.


“Tentu sudah siap, bunda” Jawab Alex.


Saat itu, anggota keluarga silih berganti membawa Dalio ke gendongan mereka, gemas juga dengan bayi yang masih merah itu.


Kadang, sesekali bayi mungil itu menangis minta susu. Setelah dia anteng lagi, di gendong lagi. Hal yang sangat ingin Efira rasakan juga di hari persalinannya nanti.


“Kalian juga pasti akan berkumpul begini kan ketika aku melahirkan nanti?” Tanya Efira.


“Tentu saja sayang, kami akan berkumpul seperti ini, membawa bayimu begini juga ke gendongan kami. Apalagi ini adalah kali pertama keluarga kita langsung diberi keberkahan berlimpah, selain dari bertemunya kakakmu, cucu keluarga Javonte dan keluarga Harrison lahir di tahun yang sama” Ucap nyonya Harrison.


Mereka semua tersenyum bahagia. Hari itu mungkin menjadi hari yang tidak akan dilupakan oleh pasangan Mira dan juga Devan.


Meskipun saat ini keduanya terlihat tersenyum tipis melihat ruangan yang dipenuhi gelak tawa keluarga masing-masing, pasti di lubuk hati terdalam mereka merasa begitu bahagia.


“Mira, apa ibumu tau kau sudah melahirkan?” Tanya nyonya Javonte, sebagai mertua yang baik dia selalu mengingatkan menantu perempuannya itu untuk tidak membenci ibunya meskipun sudah mengusir Mira dari rumah.


“Aku sudah menghubunginya kemarin, bunda tapi, sepertinya dia tidak menginginkan kabar itu” Ucap Mira lemas.


Baiklah, mungkin itu alasan Devan dan Mira terlihat sedikti sedih hari ini.


“Tidak apa, kami kan juga keluargamu. Suatu saat nanti, ibumu pasti mengerti akan keadaan ini” Ucap nyonya Harrison, menenangkan hati Mira.