You

You
Puncaknya



“Ahh, rasanya perutku kembung” Ucap Alex mengelus perut sixpack-nya. Bagaimana tidak? Tiga buah minuman pengar ia habiskan dalam sekejap. Melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Alex memutuskan berjalan-jalan dulu.


Sungguh indah kehidupan seorang Alex di Jepang.


Olahraga.


Makan.


Tidur.


Sedikit kerja.


Banyak jalan-jalannya.


Berjalan sendirian di tengah dinginnya malam, sesekali menatap sekeliling, atau kadang menghembuskan nafasnya kasar.


“Hei lihat, dia terbang dengan indah”


Alex seperti mengenal suara itu, di taman ini ramai orang tapi, dia yakin itu suara milik sahabatnya, Efira.


“Kau suka?” Tanya seorang lelaki. Sekali lagi, Alex kenal suara itu.


Lelaki itu segera menolehkan kepalanya pada sumber suara, berharap itu bukan seperti apa yang ada di pikirannya dan lagi-lagi dirinya harus menelan kecewa karena apa yang ia lihat saat ini benar-benar Efira dan tuan Rian.


Terlihat di sana Efira mengangguk semangat, “Rian, permohonan apa yang kau tulis?” Tanya Efira.


Rian? Rian ndas-mu! Pikir Alex.


Lelaki itu sudah tertinggal banyak kisah ternyata. Mereka bahkan sudah sedekat itu.


“Kau. Kau adalah permohonanku”


“I-itu berlebihan” Ucap Efira.


“Aku serius Efira, aku menyayangimu, tolong buka hatimu sedikit saja untukku. Aku pasti akan membahagiakan dirimu” Jelas tuan Rian.


“Ah, aku tidak pernah menganggapmu lebih dari seorang teman” Jawab Efira.


Tapi, jelas-jelas tingkah Efira sama sekali tidak menunjukkan penolakan pemirsa. Batin Alex kepanasan.


“Bagaimana dengan pelukan teman?’


Grep


Mereka berpelukan dengan manis di sana.


Alex muak melihatnya, sungguh. Lelaki itu pergi tanpa mau melihat kejadian selanjutnya.


...***...


“Dia tidak mungkin lembur kan? Tadi saja sudah keluar dari kantor” Lagi-lagi Alex bermonolog dengan dirinya sendiri.


Sudah pukul 00.00 tengah malam tapi, sahabatnya itu tak kunjung juga pulang.


Apa sudah terjadi sesuatu?


Apa ada masalah?


Pikiran Alex sudah buruk, biasanya gadis itu akan pulang paling lambat setidaknya pukul 22.00


Segera ia menyambar jaketnya, tujuannya tentu saja menyusul Efira. Namun, lagi lagi dan lagi di loby hotel, Alex melihat Efiranya baru saja turun dari mobil tuan Rian. Lelaki itu tersenyum kecut dan mengembalikan langkahnya ke kamar hotel. Mungkin mengemasi barang-barangnya dan pergi dari kamar Efira adalah jalan terbaik.


“Aku di sini” Alex, lelaki itu baru saja memasuki kamar yang biasa ia tempati bersama Efira.


“Dari mana? Kau tidak rindu padaku hm? Beberapa hari ini sepertinya kita jarang sekali berbincang, kau juga tidak menyusulku ke agensi” Celoteh Efira, masih berbicara seolah tidak ada yang terjadi.


“Bukankah itu yang kau inginkan? Tanpa aku pergi ke agensimu pun kau sudah ditemani oleh CEO Bianjaya Group. Lalu untuk apa aku disana?” Ucap Alex tenang.


“Itu lingkup kehidupan pribadimu” Lanjut Alex singkat.


Efira mengernyitkan dahi saat mendengar jawaban Alex.


“Sejak kapan hari kau terus mengungkit Rian”


Cih, berani sekali Efira.


“Ah, aku lupa kalian sudah sedekat itu. Aku hampir menyusulmu ke agensi dan aku malah melihat pemandangan romantis antara kau dan tuan Rian. Aku bahkan melihatmu menerbangkan lampion di taman kota, oh jangan lupakan aku yang kalap karena kau tidak kunjung pulang hingga tengah malam, di loby lagi-lagi aku melihatmu dengannya, tidak lupa usapan manis dan pelukan hangat seorang teman” Jelas Alex panjang lebar.


Namun, ekspektasi bahwa Efira akan sadar tentang kesenjangan mereka, dan juga harapan mengatakan ‘Ah, maafkan aku Alex, aku tidak tau kau datang ke agensi. Kau tidak mengabariku dulu?’. Itu sama sekali tidak terjadi. Hanya teriakan seorang Efira yang ia dapatkan.


“Kau menguntitku? Lagi? WOAH, KENAPA AKU MERASA SANGAT KESAL DAN MUAK DENGAN SIKAPMU ITU TUAN ALEX HARRISON”


“Aku hanya tidak sengaja melihatmu bersamanya, apa aku salah?”


Bukankah memang begitu nyatanya? Apa yang di lihat Alex memang tidak ada unsur kesengajaan. Takdir saja yang mempermainkan dirinya dengan Efira.


“BAGAIMANA MUNGKIN TIDAK SENGAJA? JIKA DARI SIANG HINGGA MALAM KAU TAU SEMUA YANG TERJADI ANTARA AKU DAN RIAN? CIH, SUDAH MENGUNTIT, TIDAK MAU MENGAKUI PULA. MENJIJIKKAN”


“Sebenarnya kau ini kenapa? Apa aku terlihat serendah itu di matamu Efira Javonte?”


Calm. Alex sangat tenang menghadapi kemarahan sahabatnya itu.


“KAU SAHABATKU BUKAN? LALU APA BEGINI CARAMU MEMPERLAKUKAN SAHABATMU? AKU LELAH KAU KEKANG ALEX, KAU MENGIKUTIKU, MEMASTIKAN AKU TIDAK BEGINI, TIDAK BEGITU, MENGATURKU BEGINI, MENGATURKU BEGITU, MELARANGKU INI, MELARANGKU ITU. APA ITU YANG KAU SEBUT SAHABAT? BUKANKAH AKU SEPERTI ANAK ANJING YANG DI PERINTAH MAJIKANNYA?”


“Tidakkah kau sadar, itu untuk kebaikanmu? Apa selama ini kau tidak mengerti hal itu Efira? Lagipula, aku tidak mengatur kehidupanmu lagi setelah kau mengatakannya tempo hari” Jawab Alex.


“PERGI SEKARANG JUGA DAN JANGAN PERNAH MUNCUL LAGI DI HADAPANKU” Kali ini Efira sudah berada di puncak amarahnya, gadis itu bahkan dengan berani berbicara dengan mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Alex.


“Ini pesan terakhirku. Jangan dekati dia!”


Alex dengan santai, mengambil tangan Efira lalu menurunkan jari telunjuk gadis itu. Apa masih kurang baik?


“JANGAN MENGURUS HIDUPKU LAGI, MEMANGNYA KAU TAU APA TENTANG RIAN?”


“Aku tau dia brengsek”


“Cih, seperti kau sangat suci saja”


BRAK


Itu adalah suara gebrakan, pertemuan antara tangan Alex dengan meja kayu di dekatnya. Emosi lelaki itu sudah tersulut karena perkataan kotor sahabatnya sejak tadi. Efira yang melihat hal itu langsung terdiam, menatap sendu tangan Alex, lebih tepatnya pada luka yang terbalut perban di sana.


Sejak kapan dia mendapatkan luka itu? Batin Efira. Seluruh emosinya surut melihat luka itu.


“Baiklah, terserah dirimu. Aku tidak akan peduli lagi. Jangan pernah mencariku jika terjadi sesuatu padamu” Alex beranjak, mengambil kopernya yang sudah di tata dengan barang-barangnya, lalu pergi begitu saja tanpa menatap Efira.


DUAR


Bantingan pintu itu menusuk pendengaran Efira, gadis itu menangis sesenggukan disana.