
Alex kembali ke rumahnya bersama dengan beberapa anak buahnya. Rupanya ia sudah ditunggu oleh keluarga Javonte, Harrison dan juga sahabat-sahabatnya termasuk Frans, Elena, Cris dan tuan Pyton.
“Sedang apa kalian berkumpul begini?” Tanya Alex cuek, seolah baru saja tidak lagi terjadi apa-apa.
“Bukan waktunya bercanda” Jawab tuan Harrison.
Alex hanya diam, melanjutkan langkahnya untuk duduk di samping Efira yang melihatnya aneh.
“Siapa?” Tanya tuan Harrison.
“Rolexio Johnson” Jawab Alex singkat.
Huh
Terlihat tuan Harrison menghela napasnya besar.
“Sebenarnya ada drama apa di masa lalu hingga ia ingin merebut kembali perusahaannya?” Tanya Alex heran, dirinya tidak begitu paham, perusahaan Johnson sudah tidak mengibarkan sayapnya di dunia bisnis sejak dirinya masih kecil.
“Kau tidak tau?” Tuan Harrison terlihat heran. Sedangkan yang ditanya hanya menggeleng mantap.
“Kentara sekali kau tidak pernah melihat bagaimana sejarah kelompok yang sedang kau pimpin” Sahut tuan Harrison meremehkan putranya.
“Itu tidak penting ayah, yang penting kan misimu yang belum selesai dan juga usahaku untuk terus maju. Urusan sejarah dan sebagainya di masa lalu tidak perlu dikorek terlalu jauh” Jawab Alex.
“Tapi, apa bisa kalian pulang saja? Kecuali Cris dan tuan Pyton” Ucap tuan Harrison pada sahabat-sahabat Efira dan Alex yang saat itu berada disana.
Tentu saja mereka mengangguk, berpamitan untuk pulang karena di usir oleh sang pemilik rumah.
Flahback On
Tuan Harrison, salah satu pengusaha yang berjalan sejajar dengan perusahaan milik keluarga Johnson. Lelaki itu terlihat duduk tenang di kursi kebesarannya.
Tok
Tok
Tok
“Masuk” Ucapnya sesaat setelah tiga kali ketukan pintu terdengar di telinganya.
Sekretarisnya berdiri di ambang pintu, berjalan mendekatinya membawa amplop yang ia yakin itu adalah berkas-berkas penting yang harus ia periksa.
“Tuan, saya ingin menyampaikan sesuatu” Ucap lelaki muda itu.
Lelaki itu adalah tangan kanannya di dunia gelap.
“Ada apa? Sampai menemuiku di perusahaan?” Tanya tuan Harrison.
Tuan Harrison mengernyitkan dahinya. Menurutnya, selama ini semua berjalan baik-baik saja.
“Jelaskan” Perintah tuan Harrison.
“Ini adalah laporan penggelapan dana yang dikirimkan oleh staff keuangan anda kepada tuan Johnson. Royalti yang harusnya dibagi menjadi dua, menjadi 75% dan 25% adalah untuk anda”
“Staff keuangan anda sepertinya bekerja sama dengan keluarga Johnson untuk menggelapkan dana perusahaan demi menguntungkan pihak mereka” Jelasnya.
Sedangkan, tuan Harrison terdiam sejenak. Mencoba memahami setiap rincian dana yang tersaji di mejanya.
“25 milyar selama satu tahun ini? Bagaimana mereka bisa menggelapkan dana tanpa sepengetahuanku?” Gumamnya bingung.
“Adik dari tuan Johnson, Rolexio Johnson adalah seorang mafia. Dia adalah bandar narkoba dan bekerja di belakang tuan Johnson”
“Kenapa? Bukankah menjadi mafia sudah cukup untuk menghidupinya?”
“Selain dari agar menyamarkan diri sebagai seorang mafia, dia juga bertekad akan mengambil posisi tuan Johnson sebagai presiden direktur di perusahaan tersebut” Jawab lelaki itu.
Tuan Harrison terlihat mengangguk paham.
“Maka, buatlah dia tidak bisa merasakan menduduki kursi itu seumur hidupnya. Kau tau bukan apa yang harus kau lakukan?”
Lelaki itu mengangguk paham, berpamitan untuk pergi.
...***...
“Tuan Johnson, ini adalah pembaruan kontrak kerjasama kita. Kau bisa melihatnya dan menandatanganinya” Ucap tuan Harrison.
Kala itu mereka sedang melakukan pertemuan bisnis di luar kantor, sengaja agar tuan Johnson tidak membawa sekretaris atau adiknya itu. Tidak mungkin juga Rolexio berani menunjukkan wajahnya di hadapan tuan Harrison.
Karena adanya pengaruh alkohol di dalam minuman yang dihidangkan untuk mereka membuat tuan Johnson hanya membolak-balik kertas tersebut tanpa membacanya dengan detail dan fokus.
“Dimana aku harus tanda tangan?” Tanya tuan Johnson.
Tuan Harrison membuka halaman paling akhir proposal dan surat perjanjian itu.
“Di sini” Menunjuk sebuah ruang kosong di antara tulisan Direktur Johnson Group dan nama tuan Johnson di bawahnya.
Dengan cepat lelaki itu menandatangani surat tersebut.
Smirk jahat keluar dari wajah tampan tuan Harrison, “Terimakasih, Tuan” Ucapnya.
Flashback Off