
“Aku mau agensimu membuat surat pembatalan kontrak dengan Bianjaya Group sekarang!” Alex mengatakan hal tersebut dengan nada dinginnya.
Setelah keluar dari kamar Efira tadi malam, Alex langsung menghubungi pihak agensi Efira. Kasus ini harus segera di selesaikan, dia tidak ingin sahabatnya terlalu lama berada di Jepang.
“Tapi, kenapa?” Itu adalah suara milik Elena. Gadis itu dibuat bingung dengan panggilan ponsel mendadak dari Alex, tanpa aba-aba atau bahkan tanpa menjelaskan apapun lelaki itu menginginkan surat pembatalan kontrak?
“Efira hampir saja celaka di perusahaan itu. Dia masuk ke dalam neraka dan kau yang bertanggung jawab untuk itu”
“Tidak-tidak, pembatalan kontrak akan membuat agensiku rugi” Ucap Elena dari seberang sana, sedangkan Alex sudah menggeram.
“JIKA KAU TIDAK MEMBUAT SURAT ITU SEKARANG. AKU PASTIKAN KAU AKAN DIPECAT DAN TIDAK AKAN BISA BEKERJA DIMANAPUN SELAIN MEMBUSUK DI PINGGIR JALAN”
Bulu kudu Elena sudah meremang mendengar teriakan Alex. Lelaki yang biasanya bersikap cuek dan dingin, saat itu mengeluarkan taringnya. Untuk pertama kalinya, dia akan menggunakan kekuasaannya sebagai anak dari CEO Harrykiel Company.
“Lalu dendanya?” Ucap Elena takut-takut.
“Aku sendiri yang akan menanggungnya. Aku berikan kau waktu 20 menit untuk menyelesaikan surat itu” Ucap Alex lalu memutuskan panggilan mereka secara sepihak.
“Selamat pagi tuan Alex”
“Selamat pagi”
“Selamat pagi Alex”
Begitulah karyawan-karyawan tuan Rian menyapa Alex. Sebentar saja berada disana, sudah membuat lelaki itu dikenal hampir seluruh karyawan disana, terlebih lagi para gadis. Mereka selalu mencari perhatian Alex.
Kesempatan emas kan saat melihat Alex tidak menggandeng Efira kesana? Menggoda Alex adalah hal yang utama. Seperti ini misalnya, “Sudah sarapan? Aku membawakanmu beberapa makanan. Aku sendiri yang membuatnya”
Alex kenal dengan gadis itu, gadis yang selalu menawarinya dengan makanan buatan sendiri, namanya Haruka. Dia sekretaris tuan Rian, gadis yang kemarin diteriaki ‘bodoh’ oleh Alex. Ternyata belum kapok dia.
“Tidak, terimakasih” Tolak Alex, lalu kembali melewati para gadis yang memperhatikan dirinya.
“Alex, ayo nanti aku antar pulang. Sekalian jalan-jalan” Bahkan saat di lift pun hidupnya tidak tenang jika seperti ini.
“Ah tidak, Efira sedang sakit” Tolak Alex, menampilkan senyum dewanya di sana.
“Bagaimana jika Efira sudah sembuh? Biarkan Efira bekerja, kau dan aku bisa mengambil cuti bersama?”
Apa itu?-Batin Alex setelah mendengar pernyataan dari gadis bernama ‘Sasi’ itu. Gadis yang memperkenalkan dirinya sendiri tempo hari.
“Tentu saja”
“Kau mau?”
“Tidak, aku akan kembali ke Amerika” Ucap Alex datar, membiarkan gadis di sampingnya itu menatapnya kesal.
Kira-kira seperti itu para gadis mencoba mendekati Alex.
Saat ini Alex sudah berada di lantai teratas agensi. Sebisa mungkin dia merancang bahkan membuat laporannya sendiri.
Sisa pekerjaan Efira tersisa sedikit kan?
Hari ini, Alex dengan telaten menata beberapa ornamen disana di bantu beberapa orang profesional yang biasa membantu Efira, menyesuaikan dengan sketsa milik Efira. Sesekali meraba sesuatu yang sekiranya harus dipindahkan agar busana tersebut terlihat lebih cantik.
Hingga jam menunjukkan pukul 11.00 waktu sekitar, Alex berhenti bekerja. Menata beberapa dokumen yang ditaruh di atas meja. Pekerjaannya sudah selesai. Kenapa cepat sekali? Entahlah, cekatan juga dalam hal ini.
“Oh, kau datang rupanya. Dimana Efira?” Ucap seseorang?
Alex menolehkan kepalanya, mendapati tuan Rian berdiri disana, di ambang pintu masuk, hal itu seperti membakar dirinya. Panas! Alex masih sangat marah dengan kejadian kemarin. Lalu sekarang? Apa lagi?
Dimana Efira?
“Bermimpilah untuk bisa bertemu Efira” Ucap Alex sinis.
“Ya, mimpi itu akan menjadi nyata jika kau tidak merusak nuansa romantis kami kemarin”
Cih, Alex membuang muka mendengar hal kotor itu.
“Pergilah. Aku akan menemuimu sebentar lagi” Usir Alex datar.
“Kau mengusir CEO?” Jawab tuan Rian.
Hening.
“Aku? Pelayan? Hahaha”
Alex tertawa hambar, mengeluarkan map berlogo perusahaan Bianjaya Group. Mengambil isinya lalu,
Srak
Srak
Srak
“Ini kontrak kerja samamu kan?” Ucap Alex sambil melemparkan kepingan kertas itu tepat ke wajah tuan Rian.
“Aku, Alexander Harrison, mewakili agensi Efira, Membatalkan kontrak kerja sama kita”
Brak
Amplop berisi surat pembatalan kontrak sudah berada di hadapan tuan Rian.
“Kau tidak tau? Ada denda saat kau membatalkan kontrak secara sepihak?”
“Tentu saja aku tau”
“Dan kau? Kau hanya pelayan di perusahaan itu kan? Kau hanya mahasiswa beruntung yang mendapatkan gelar terbaiknya. Mana mungkin kau dapat membayarnya?” Tuan Rian menunjuk Alex dengan angkuh.
“Kau terlalu meremehkan aku”
Sahabat Efira itu mengeluarkan secarik kertas berbentuk persegi panjang dari saku dalam jasnya.
“Ambil ini” Ucap Alex lagi.
Tentu saja tuan Rian mengambilnya. Lelaki itu seketika melebarkan matanya melihat Rp 10.000.000.000 tertulis di dalam cek tersebut. Itu adalah dua kali lipat dari denda yang mereka sepakati di kontrak.
“Tidak bisa, kau tidak bisa membatalkan ini” Ucap tuan Rian tidak percaya, mengembalikan cek itu ke tangan Alex.
“Memangnya kenapa? Aku bersedia membayar denda, agensi Efira juga sangat setuju dengan keputusan ini”
“Bukankah ini bentuk ke-tidak profesionalan?”
“Aku tentu saja sudah menyelesaikannya” Jawab Alex, kali ini mengeluarkan tiga map berwarna hijau, lalu menyerahkan kepada tuan Rian.
“Itu adalah laporan-laporan selama Efira disini. Pekerjaannya sudah seutuhnya tuntas”
“Kontrak Efira disini tersisa beberapa hari”
Tentu saja hal itu masih bisa di buat alasan untuk menahan Efira di perusahaannya.
“Bukankah itu deadline-nya untuk target gilamu itu tuan Rian? Dia sudah tidak memiliki urusan apapun denganmu. Kau benar-benar tidak tau malu rupanya”
“Dengarkan aku tuan Rian, Efira tidak akan kembali ke tempat busukmu ini lagi untuk seumur hidupnya” Lanjut Alex.
“Tempat busuk katamu? Jika kau tidak tau, perusahaan ini adalah agensi modeling ternama di Jepang”
“Ah, aku bahkan bisa mencabut asetmu di Jepang” Ucap Alex merendahkan tuan Rian semakin jauh. Memancing emosi tuan Rian rupanya?
Hal itu, tentu saja mengundang tawa tuan Rian yang tidak tau apa-apa tentang Alex. Dia pikir Alex adalah orang rendahan?
“Kau sedang berhayal?” Ucap tuan Rian.
Alex melihat tawa meremehkan dari tuan Rian, lelaki itu tersenyum tak kalah remeh, mengeluarkan smirk andalannya.
“Aku mengundangmu sebagai tamuku” Ujar Alex memberikan sebuah undangan berwarna hitam elegan kepada tuan Rian.
Hening.
Tuan Rian terlihat terdiam kaku di tempatnya setelah menerima undangan itu.
Terpampang jelas disana ‘New CEO Harrykiel Company’.
Salah satu perusahaan IT terbesar di Asia. Jika dibandingkan dengan agensi miliknya, memang tidak ada apa-apanya.
“Selamat siang” Pamit Alex, pergi meninggalkan segala hal buruknya di perusahaan tersebut.