
“Saya Julius Gevandri Javonte berjanji mengambil engkau Miranda Hermawan menjadi istri, saling memiliki dan menjaga sekarang dan selamanya, di waktu susah maupun senang, kelimpahan maupun kekurangan, sehat atau sakit sampai maut memisahkan”
“Saya Miranda Hermawan berjanji mengambil engkau Julius Gevandri Javonte menjadi suami, saling memiliki dan menjaga sekarang dan selamanya, di waktu susah maupun senang, kelimpahan maupun kekurangan, sehat atau sakit sampai maut memisahkan”
Janji suci itu sudah terucap di depan pendeta. Pernikahan Devan dan Mira diadakan secara sederhana, hanya keluarga dan beberapa rekan kerja yang cukup dekat saja yang bisa menghadiri acara tersebut.
Tidak ada gunjingan dari orang-orang, citra baik seorang Devan terpancar di mana-mana.
“Mari lupakan tentang dia menghamili gadisnya, dia sangat berkarisma”
“Lagipula mereka bisa melakukannya, tidak ada aturan di keyakinan mereka”
“Aku senang akhirnya dia tidak memilih bekerja seumur hidupnya”
Itu yang terdengar di telinga Efira selama acara berlangsung, tidak banyak yang berkomentar buruk, para wanita bahkan menjerit iri ingin berada di posisi Mira.
“Bodoh, apa kau ingin hamil duluan begitu?”
“Dia melakukannya karna memang sibuk, mana sempat memikirkan pernikahan, pekerjaannya saja sudah setumpuk, dia pasti butuh tempat pulang. Itu tidak menjadi masalah yang besar”
“Aku iri dengan nona Mira”
“Tapi, sangat di sayangkan gadis berkompeten sepertinya malah harus berakhir seperti ini. bagus jika mereka menikah terlebih dahulu”
“Tidak ada yang salah dengan kehamilannya, Devan dan Mira saja yang mungkin terlalu subur”
Pembahasan para wanita itu sudah biasa di dengar oleh Efira bukan?
Efira bersama Alex menyambut tamu-tamu yang hadir.
“Efira, apa sudah isi?”
Begitu pertanyaan rata-rata dari orang-orang. Sudah biasa juga untuk pasangan yang baru menikah 2 minggu yang lalu.
“Kami bahkan belum satu bulan menikah” Jawab Alex.
“Apa kalian mau menunda memiliki momongan?” Tanya rekan kerja yang lain.
“Tidak, kami akan menunggu mau itu cepat atau lambat” Jawab Alex tegas.
Efira mengerti, jika Cris sudah datang pasti ada sesuatu yang terjadi.
“Aku permisi dulu” Ucap Alex, pamit kepada rekan-rekan kerjanya untuk berbicara secara pribadi dengan Cris.
“Apa ada masalah?” Tanya Alex.
“Tuan, anda memiliki janji dengan tuan Mathew bukan di Silsilia? Kenapa anda pulang sebelum menemuinya?”
Alex menepuk jidatnya pelan, Mathew adalah ketua mafia di Italy, dia sindikat yang cukup kuat disana.
“Devan sialan, aku melupakannya” Alex terlihat memutar otaknya, mencari jalan keluar yang tepat.
“Anda tidak memiliki pilihan lain selain datang kembali kesana, tuan. Jalur laut sedang banyak sidak akhir-akhir ini. Jalur udara jika itu secara umum maka sesampainya disini dia akan di periksa, hanya anda dan pesawat pribadi anda yang paling aman” Ucap Cris menjelaskan resiko-resiko yang terjadi.
“Kau saja yang ambil ke Silsilia, aku akan mengurus perusahaan. Apa bisa dia kita runding begini?” Tanya Alex.
“Bisa tapi, itu terlalu mengambil resiko karena yang dia inginkan bukan saya tapi, anda”
“Apa bedanya? Lagipula yang dia incar uang kita, bukan kita” Jawab Alex.
“Tapi, dia ingin bertemu anda tuan”
“Siapa yang peduli hm? katakan saja bahwa dia hanya cukup mengirim barang-barang sesuai pesanan. Bersikap profesional bukankah hal paling penting di dunia mafia level tinggi?” Ucap Alex, lelaki itu memijat keningnya pelan, bingung juga dengan kondisi yang seperti ini.
“Tuan, anda tidak takut jika akhirnya dia akan menjadi musuh kita jika tidak menuruti kemauannya seperti biasa?”
“Biarkan saja kita dimusuhi, lagipula itu sudah biasa terjadi” Ucap Alex lalu pergi meninggalkan Cris.
Lelaki itu memandang atasannya yang tidak mengenal takut, malah kembali berbaur dengan tamu-tamunya yang lain.
“Apa yang sudah terjadi?” Bisik Efira saat Alex kembali untuk menemaninya.
“Tidak ada sayang, hanya masalah kecil” Jawab Alex.
“Bohong”
“Benar-benar tidak ada hal yang begitu penting, percaya padaku okey” Ucap Alex lalu menarik tangan Efira untuk mengambil minum.