You

You
Felix Alexander Harrison



“Namanya siapa?”


“Felix Alexander Harrison” Ucap Alex.


“Efira yang mengandung, namamu yang kau sematkan di antara namanya” Ucap Gio, meledek sahabatnya itu.


“Felix?” Tuan Harrison mengulang nama yang disebut putranya.


Alex dan tuan Harrison saling menatap, mengingat nama itu adalah nama samaran mereka di dunia mafia.


“It’s okay, dad. Biarkan dia tau tugasnya nanti” Ucap Alex meyakinkan ayahnya.


Tidak ada yang mengerti, selain dari mereka berdua dan juga Cris.


“Nama yang indah” Ucap nyonya Harrison.


Devan dan Mira juga terlihat disana, membawa Dalio bersama, berkumpul dengan keluarga seperti ini memang begitu berkesan.


“Rasa hati ingin menikah tapi, calon tak ada” Gumam Deva.


“Inginku menikahimu tapi, kau ingin aku menghindarimu saja” Balas Gio penuh drama.


“Efira, bagaimana rasanya melahirkan normal?” Tanya Deva, mengalihkan pembicaraan.


“Menyenangkan, apalagi jika kau sudah mendengar tangisan bayimu. Rasa lelah, sakit, semuanya hilang, berganti dengan perasaan lega dan senang” Jawab Efira tersenyum, melihat Alex yang jelas-jelas sudah terluka karena cakarannya.


“Segeralah menikah, jangan mengintrogasi saja” Ucap Alex.


“Kira-kira kapan aku boleh pulang?” Tanya Efira.


“Beberapa hari lagi, menunggu kondisimu benar-benar pulih baru bisa pulang” Ucap Alex, tentu saja memaksimalkan perawatan untuk istrinya adalah nomor satu untuknya.


Efira mengangguk lalu beralih melihat keluarganya yang menggendong Felix bergantian.


...***...


Oek


Oek


Oek


Suara tangisan bayi menggema di kamar Efira dan Alex. Setelah kepulangannya dari rumah sakit, alih-alih menggunakan jasa baby sitter, Efira memilih mengurus anaknya sendiri dibantu dengan ibu mertuanya.


Sebenarnya Efira sudah mempelajari parenting sejak awal kehamilannya, agar dia bisa merawat anaknya dengan baik dari baru lahir sampai besar nanti. Tapi, ternyata teori memang lebih mudah jika tidak ada prakteknya.


“Ma, kira-kira Felix kenapa?” Tanya Efira pada ibu mertuanya.


Nyonya Harrison menghampiri ibu dan anak itu, “Dia mau ganti pampers, mungkin sudah penuh isinya, sepertinya dia tidak nyaman. Ganti saja pampersnya, lalu ajak tidur, pasti dia akan terlelap” Ucap nyonya Harrison.


Efira menuruti perkataan ibu mertuanya dan benar saja, Felix langsung terdiam anteng.


Setelah Felix tidur, nyonya Harrison dan juga Efira bersantai sejenak di ruang keluarga.


“Apa Alex akan pulang tepat waktu lagi sekarang?” Tanya nyoya Harrison.


“Sepertinya begitu, ma” Jawab Efira.


Nyonya Harrison tersenyum, “Dia benar-benar berubah setelah menjadi ayah. Dulu saja, pulang selalu larut malam, mementingkan kertas-kertas dan juga dokumen-dokumennya itu tapi, sekarang? Dia bahkan tidak mau pulang telat sedikit saja”


“Perbedaan saat bujang, menjadi suami dan menjadi ayah memang berbeda ya ma” Timpal Efira.


“Apa kalian kewalahan mengurusnya saat malam hari?” Tanya nyonya Harrison.


“Tidak, aku dan Alex berjaga gantian di malam hari” Jawab Efira.


Nyatanya, saat malam menyapa Efira dan Alex tidak mau menganggu tuan dan nyonya Harrison, mereka benar-benar belajar menjadi orang tua yang baik untuk putra mereka.


“Apa kalian berniat menambah momongan lagi nanti?” Tanya nyonya Harrison.


“Mungkin menunggu Felix sedikit lebih besar, ma. Tunggu sampai dia mengerti agar tidak iri dengan adiknya nanti” Jawab Efira.


Tidak lama, terdengar suara mobil Alex memasuki pekarangan rumah.


“Alex pulang, biar aku menyambutnya di depan. Permisi, ma” Ucap Efira lalu berdiri menyambut suaminya pulang kerja.


Entah kenapa, sekarang Efira benar-bnar ingin fokus dengan keluarga kecilnya. Bahkan menyambut Alex sepulang kerja di depan pintu begitu seperti menjadi kesenangan tersendiri untuk Efira.


Sedangkan nyonya Harrison menatap menantu dan pitranya dari jauh, melihat keharmonisan keluarga kecil putranya.


“Apa Felix tidur?” Tanya Alex setelah mencium kening istrinya. Sebagai jawaban, Efira mengangguk.


“Kau mau disiapkan minum?” Tanya Efira.


“Tidak, nanti saja. Aku mau bersih-bersih dulu” Jawab Alex.


“Aku siapkan air hangatnya dulu” Mereka berjalan beriringan, selagi Efira menyiapkan air untuk Alex mandi, lelaki itu berbelok ke box bayi di dekat ranjang mereka, melihat Felix yang masih tertidur lelap.


“Cepat tumbuh dewasa anak daddy, agar kita bisa main bersama nanti” Gumam Alex lalu mencium kening putranya.