
“Bersiaplah” Alex mengatakannya dengan pelan, sekiranya suara itu sampai pada rungu sahabatnya. Saat ini, lelaki itu baru saja masuk ke kamar hotel mereka, membawa beberapa makanan untuk disantap sebagai makan siang.
“Kemana?” Tanya Efira bingung, gadis itu tengah duduk di kasurnya, bersandar pada kepala kasur, ditemani drama Korea di ponselnya.
“Pulang” Jawab Alex cuek.
“APA?” Mata Efira melotot, siap mengeluarkan isinya dari sana. Tentu saja kabar itu membuat Efira terkejut bukan main. Pasalnya lelaki itu tidak merundingkannya lebih dulu, jangankan berunding, memberi tau saja tidak.
“Aku sudah mengurus tiketnya, nanti pukul 14.00 kita berangkat” Jelas Alex lagi, merebahkan dirinya di sofa, itu adalah salah satu yang sangat ia sukai saat sedang lelah.
“Lalu pekerjaanku disini?”
“Aku sudah membatalkan kontrak kerjanya”
Lagi-lagi Efira dibuat tercengang dengan tingkah sahabatnya itu, suka sekali berbuat seenak jidat sendiri.
“Dendanya? Kau pasti memanfaatkan ayahmu”
“Apa kau pikir aku benar-benar miskin?” Tanya Alex tersenyum tipis.
Hening.
Tidak ada jawaban apapun dari lawan bicaranya. Pada nyatanya, Alex memang sangat kaya.
“Apa kau lupa? Aku bahkan memiliki black card sendiri”
“Berlebihan sekali kau ini”
“Dari mana kau mendapatkan kartu itu?” Lanjut Efira, tentu saja gadis itu bingung. Denda dari pembatalan kontrak mereka mencapai 5 milyar. Darimana sahabatnya dapat mengumpulkan uang sebanyak itu?
Efira tau betul bahwa selama mereka di Amerika, Alex begitu pula dirinya tidak pernah menggunakan pesangon atau fasilitas yang dimiliki orang tua mereka. Hanya sebuah mobil dari perusahaan tempat Alex bekerja.
“Dari hasil kerja kerasku”
“Kau sudah menghasilkan uang sebanyak itu?”
Gadis itu berdecak kagum dengan pencapaian sahabatnya, tidak disangka, Alex bahkan tidak perlu berpikir banyak-banyak untuk membayar denda sebesar itu.
“Hm, begitulah” Alex hanya tersenyum simpul, membawa banyak arti dalam senyuman tersebut.
“Kau mau makan dulu, atau bersiap dulu?” Ucap Alex lagi.
“Ayo makan dulu, kau pasti lelah” Jawab Efira, langsung di hadiahi anggukan kecil dari Alex. Lelaki itu mendudukkan bokongnya di sofa, disana sudah ada sahabatnya, Efira. Membuka dan menyiapkan makanan-makanan tersebut.
Tidak banyak kata diantara acara makannya. Sedangkan Alex masih sibuk mengunyah setiap bulir makanan yang masuk ke tenggorokannya.
“Hm” Gumam Alex.
“Kemana saja kau beberapa hari ini?”
Pertanyaan Efira sukses membuat Alex sedikit mendongak, menatap sahabatnya sedikit ‘tajam’? Dia tau pembicaraan ini akan berlanjut seperti apa. Jadi, mari makan dulu untuk menambah tenaga.
“Tidak kemana-mana, kamarku ada di samping kanan kamarmu. Aku sibuk mengurus banyak hal”
Efira meremas jarinya pelan. Gugup, satu kata yang mewakili Efira saat ini.
“Katakan kronologinya!” Perintah Alex.
Lihat saja, dia tidak akan mengampuni Efira setelah ini. Bukankah gadis nakal sepertinya harus diberi pelajaran?
“Kau bertanya padaku?” Tanya Efira.
“Apa aku harus menyeret Rian-mu itu kemari?” Jawab Alex sarkatis, menekankan nama tuan Rian.
“Begini,- ” Efira menjelaskan secara rinci bagaimana kronologi kejadian yang menimpanya kemarin.
Lagi-lagi Efira meremas jarinya, ini adalah pembicaraan yang serius bukan? Parahnya, tersangka utama dari masalah itu adalah Efira sendiri. Memalukan bukan?
Sedangkan Alex? Lelaki itu masih dengan santai melahap makanannya sambil mendengarkan sahabatnya bercerita. Katakanlah itu tidak sopan tapi, dirinya ingin Efira menyadari akibat dari permintaannya kepada Alex tempo hari.
“Aku minta maaf untuk segala sikapku beberapa hari lalu”
“Aku salah. Aku menyesal” Lanjut Efira. Matanya sudah memiliki air mata yang menggenang.
Hal itu membuat Alex menghentikan kunyahannya, hanya sebentar, lalu melanjutkan acara makannya.
“Katakan dimana letak kesalahnmu!”
Sial, Efira benar-benar merasa disudutkan. Alex jika sudah marah tidak main-main, kau tidak akan dibiarkan begitu saja, lelaki itu akan menanyai kesalahan lawan bicaranya terlebih dahulu. Katanya, “Agar kau bisa instropeksi diri”. Itu sedikit mengerikan.
“A-Alex”
Alex lebih dulu menyela ucapan memohon sahabatnya, “Katakan sebelum aku berubah pikiran atau aku sama sekali tidak ingin mendengar apapun dari mulutmu, Efira. Kau sendiri yang memintaku untuk berhenti mengurus kehidupanmu.”
Efira meneguk ludahnya kasar, bagaimanapun apa yang dikatakan Alex memang benar.
“A-Aku salah karena aku tidak mempercayaimu, aku juga salah karena aku tidak melihat sesuatu dari sudut pandang secara umum, aku salah karena aku terlalu terbuka kepada tuan Rian yang jelas-jelas sudah tidak baik sejak awal, aku juga salah mencampakan dirimu, aku salah mengucapkan kata-kata tak beretika kepadamu tempo hari, bahkan aku membentakmu dengan lantang” Ucap Efira panjang lebar.
“Aku tidak peduli kau mencampakanku atau tidak”
Jantung Efira terasa diremat saat itu, mendengar penuturan Alex membuat dirinya yakin bahwa Alex serius tidak akan peduli lagi dengannya.
“Sekarang kau sudah mengerti alasanku bukan?” Lanjut Alex, lelaki itu sudah meletakkan sumpitnya di piring.
Mari mulai topik ini.
“Hm” Gumam Efira, menundukkan kepalanya, memang benar seperti seekor anak anjing yang sedang dimarahi induknya.
“Efira, lihat aku!” Ucap Alex tegas, sontak gadis itu mendongakkan kepalanya. Takut dengan Alex yang sudah seperti ini.
“Kau sangat keterlaluan jika kau mau tau. Aku tidak mengerti bagaimana jalan pikirmu hari itu. Aku sudah mencoba menurunkan nada bicaraku sekalipun kata-katamu terus menusukku”
Efira hanya mengangguk setuju dengan ucapan Alex.
“Harus aku akui, aku sangat kecewa dengan penuturan sekaligus sikapmu tempo hari. Apa kau benar-benar se-tertekan itu denganku selama ini?” Alex sangat menuntut penjelasan Efira tentang bagaimana gadis itu protes atas segala peraturannya.
“T-Tidak, itu hanya luapan emosi, Alex. Aku – aku tanpa sadar mengucapkan hal itu. Kau tau aku diselimuti setan hari itu” Ucap Efira terbata dan tergesa?
“Katakan apa yang kau inginkan!” Alex berucap serius.
“Aku tidak akan mengurus kehidupanmu lagi jika kau benar-benar menginginkannya. Maafkan aku jika selama ini kau terluka akan hal itu. Kau juga tau bukan, aku selalu melakukan sesuatu bukan tanpa alasan yang jelas?” Lanjut lelaki itu.
“Bersikaplah seperti Alex yang kukenal. Seperti Alex sebelum hari itu tiba” Ucap Efira, lebih terdengar seperti sebuah permohonan. Suaranya bergetar, jantungnya berpacu sangat cepat.
“Kau mau kuatur-atur lagi? Seperti seekor anjing yang diperintah oleh majikannya, Efira?”
Rupanya Alex ingin meruntuhkan mental Efira hari ini. Ucapan Efira tempo hari terus dikembalikan kepada pemiliknya.
“Aleex” Efira menatap sahabatnya sendu.
“Jawab saja Efira. Itu perumpamaan yang kau buat sendiri bukan?”
“Y-Ya. Asal kau tidak bersikap acuh padaku” Jawab Efira cepat.
“Baiklah, mari lupakan kejadian itu. Mari bersikap seolah tidak ada apapun yang terjadi. Maafkan ucapanku tadi. Aku hanya ingin kau sadar, dan bersikap lebih dewasa untuk kedepannya. Jangan bicara jika kau sedang dalam emosi, ucapanmu bisa saja melukai hati orang lain” Alex mendekati sahabatnya, membawa gadis tu ke dalam pelukannya.
Nyaman.
Sebuah kata yang mewakili perasaan Efira. Bagaimana mungkin dia mengusir seseorang sebaik Alex hm?