You

You
Mual?



Pagi itu Efira dan juga Alex berkumpul di kediaman keluarga Javonte, sarapan bersama untuk pertama kalinya dengan Mira sebagai anggota keluarga baru.


“Mira, apa kau akan terus bekerja?” Tanya Efira pada mantan sekretarisnya yang terlihat rapi di samping Devan.


Mira mengangguk sebagai jawaban, “Ya, aku akan mengambil cuti nanti di bulan ke tujuh atau ke delapan” Jawabnya.


“Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak bekerja entah jiwa bekerjanya yang tinggi atau apa dia tidak mau berhenti, sedikit bebal memang” Sahut Devan.


“Jadilah suami siaga untuknya, jika ada apa-apa kau pasti orang pertama yang akan di salahkan” Ucap Efira.


Devan mengangguk, melanjutkan sarapannya.


Melihat makanan di meja saat itu sebenarnya membuat Efira tergugah selera makannya tapi kenapa rasanya sangat berbeda ya.


Gadis itu segera berlari ke dapur.


Huek


Huek


Mereka semua di meja makan langsung tatap-tatapan sebentar sebelum akhirnya sama-sama lari ke dapur untuk melihat keadaan Efira.


“Sayang, apa yang terjadi?” Alex mengelus pelan punggung istrinya.


“Sepertinya aku masuk angin, mengingat kemarin kita full acara outdoor” Jawab Efira.


“Pakaikan minyak kayu putih, bunda akan ambilkan” Nyonya Javonte berlalu, mengambil kotak obat.


Sedangkan Alex memapah Efira untuk duduk di sofa ruang keluarga.


“Tidak usah ke butik hari ini” Ucap Alex tegas.


“Tapi, ada beberapa hal yang harus aku persiapkan Alex” Sahut Efira.


“Mau disini atau di rumahku?”


Diam, Efira sudah tau jika sudah seperti ini itu tandanya dirinya memang tidak boleh pergi kemana-mana.


“Baiklah, sebentar lagi kita pulang. Bundamu biar istrirahat setelah kemarin repot dengan pernikahan kakak ipar” Ucap Alex mengambil keputusan.


Nyonya Javonte kembali dengan membawa minyak kayu putih, mengoleskannya pada beberapa bagian tubuh putrinya.


“Biasanya juga kau pulang larut, kena angin malam pun juga tidak sampai seperti ini” Gumam nyonya Javonte.


“Lelah, bunda. Perjalanan dari Florence lalu kemarin langsung kegiatan seharian, mungkin itu yang membuatnya sedikit down” Jawab Alex mewakili wanitanya.


“Kau berangkat dengan Mira?” Tanya tuan Javonte.


Devan mengangguk, “Tentu saja, apa yang akan dikatakan orang-orang jika pengantin baru malah datang bekerja tidak bareng bagaimana hm?” Ucapnya.


“Mereka akan lebih bingung kenapa orang yang baru kemarin menikah malah masuk bekerja” Ucap Alex.


“Apa kau butuh mirror, bro?” Ucap Devan terkekeh, ingat bahwa Alex pun juga bekerja setelah resepsi.


Benar juga, Alex menggaruk tengkuknya pelan.


“Tolonglah, Lex. Kenapa kau malah terlihat bod*h?” Sahut Efira, kocak juga dengan suaminya.


“Yasudah, ayo pulang sayang. Aku juga harus bekerja” Ucap Alex.


“Kenapa tidak disini saja?” Nyonya Javonte menyahuti, sepertinya masih rindu dengan Efira?


“Aku kira agar bunda bisa istirahat karena kemarin sibuk sekali” Sahut Alex.


“Tidak ada lah, kau ini benar-benar posesif setelah jadi suaminya hm” Sahut nyonya Javonte menyahuti.


Saat itu Devan dan Mira sudah berangkat sedangkan Alex masih asik saja berbincang disana.


“Jadi, kau mau disini atau pulang sayang?” Tanya Alex pada istrinya, membiarkan wanita itu memilih sendiri kemana ia harus pulang.


“Aku disini saja dulu, nanti aku akan kembali ke rumahmu sendiri” Jawab Efira.


Alex mengangguk, lelaki itu langsung berpamitan untuk pergi, “Hati-hati ya, jaga dirimu baik-baik” Ucapnya mengecup pelan puncak kepala Efira.


Hati siapa yang tidak luluh melihatnya? Nyonya Javonte saja tersenyum melihat perlakuan manis Alex kepada putrinya.


“Apa dia benar-benar ketua mafia? Dia bahkan lebih manis dan romantis daripada ayahmu” Ucap nyonya Javonte, menyindir suaminya sambil melihat Alex berjalan ke luar rumah.


“Kau sedang mengatakan itu untukku sayang?” Tanya tuan Javonte, melirik istrinya sekilas.


Efira gemas sendiri juga melihat orang tuanya, hal yang langka bisa bermesraan begitu di depannya tapi, Efira lagi-lagi berlari ke belakang, kali ini dia pergi ke kamar mandi belakang.


Huek


Huek


“Efira, ini bukan masuk angin. Kita beli tespect lalu pergi ke dokter” Ucap nyonya Javonte, memerintahkan anak buahnya pergi ke supermarket membeli alat tes kehamilan itu.