
“Ya, aku baru saja tiba di ibu kota. Apa ada masalah?”
‘Tidak, hanya saja sudah saatnya pengecekan lapangan’
“Aku akan segera kesana setelah bersiap”
‘Langsung ke proyek. nona’
“Baiklah, terimakasih.”
Efira dan juga Mira baru saja melakukan sambungan telepon tepat saat Efira keluar dari pintu bandara.
Devan dan yang lainnya sudah berangkat dulu dengan taxi.
“Ada apa?” Tanya Alex.
“Aku harus ke proyek setelah ini” Jawab Efira.
“Sendiri?”
“Mungkin”
“Aku temani tapi, ayo pulang dulu” Alex menarik lengan Efira, menghentikan sebuah taxi lalu, menaikinya bersama mencapai rumah.
Mungkin karena kelelahan, Efira tertidur selama perjalanan pulang. Tidak ada percakapan apapun, Alex lebih memilih untuk memandangi Efira daripada pemandangan ibu kota yang selalu ramai.
“Efira, bangun. Kita sudah sampai” Alex menepuk pelan pipi Efira, berharap gadis itu merasakan sentuhannya.
“Enggghh” Efira melenguh pelan, matanya sedikit terbuka.
“Sudah sampai?” Tanya Efira.
“Hm” Alex menganggukkan kepalanya.
...***...
Saat ini, Alex, Efira serta Mira sudah berada di tempat proyek butik milik Efira.
“Berkembang dengan baik dari yang terakhir kita lihat. Apa ada sesuatu yang baru?” Tanya Efira kepada mandor pembangunan disana.
“Tidak ada nona Efira. Pembangunan ini sudah separuh jadi, mungkin satu atau dua bulan ke depan sudah siap ditempati” Ucap pak mandor.
“Tuan” Ucap seseorang?
“Hey, sedang apa kau disini?” Alex berhasil dibuat tercengang karena Devan tiba-tiba saja berada di lokasi yang sama dengannya.
Seingatnya, dia tidak mengajak Devan untuk mengekorinya.
“Menjaga anda” Jawab Devan singkat.
“Menurutmu aku anak kecil?”
“Tidak namun, keselamatan anda adalah yang utama” Ucap Devan.
Lupakan saja, Alex malas menanggapi sekretaris pribadinya itu.
Efira hanya tersenyum mengerti, sambil berjalan diikuti Alex dan juga Mira, tidak lupa Devan. Mereka berkeliling di tempat proyek itu.
Drrrt
Drrrt
Drrrt
Ponsel Alex bergetar saat itu, mengharuskan langkahnya terhenti. Dia merogoh sakunya, memastikan siapa yang menghubunginya.
“Ah, aku angkat telepon dulu. Kalian duluan saja” Ucap Alex pada rekan-rekannya.
Saat itu, Devan memilih ingin menunggu Alex tapi, lelaki itu malah mengusirnya.
“Apa? Pergilah bersama mereka. Ini panggilan dari ayahku. Jangan coba-coba menguping” Ucap Alex.
Tenyata tidak lama, hanya lima menit hingga Alex selesai dengan urusannya.
Setelah mengembalikan ponselnya ke saku. Alex berbalik, berniat menyusul Efira dan kawan-kawan yang lain.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
“TUAN AWAS”
Devan berlari kencang menuju bosnya.
BRAK
“ARGH”
Terlambat, sebuat batako berhasil jatuh dari ruang atas tepat mengenai kepala bagian belakang Alex.
“ALEX!”
Efira, Devan dan juga Mira langsung berlari menghampiri Alex yang sudah bersimbah darah, tergeletak di tanah. Dia masih sadar tapi, pandangannya sudah mengabur.
“APA YANG KALIAN LIHAT? BANTU AKU!” Teriak Efira menatap para pekerja, gadis itu sudah memangku kepala Alex.
Jantungnya berdegup sangat kencang saat ini. Pikirannya sudah kalut.
Tidak ada yang baik, semua bertumpu pada pikiran negatif.
Bagaimana jika terjadi sesuatu hal yang buruk?
Orang-orang sekitar mulai membawa tubuh Alex ke mobilnya.
Devan sebagai pengemudi dan Mira di sampingnya, sedangkan Efira bersama Alex di kursi penumpang.
“J-Jangan menutup matamu, tetaplah sadar untukku” Efira menangis sejadi-jadinya. Seumur hidup, dia tidak pernah melihat Alex terluka begitu parah. Tapi, kali ini dia bahkan menyentuh darah yang keluar dari kepala sahabatnya itu.
“Apa kau tidak bisa cepat sedikit?” Ucap Efira pada Devan.
Kacau, dirinya sedang dalam mood yang buruk. Padahal Devan sudah mencoba secepat mungkin untuk sampai, tak jarang mereka terjebak sedikit macet.
Tin
Tin
Tin
Klakson terus dibunyikan jika kondisi mobil terhenti karena ramainya kendaraan di ibu kota.
Beruntungnya, setelah 15 menit berada di jalan, mereka menemukan rumah sakit terdekat.
“Segera tangani dia, dokter”
Pelayan rumah sakit segera membawa Alex masuk untuk ditangani. Efira resah. Dia menangis, berputar kesana dan kemari di depan pintu ruang UGD. Menunggu dokter keluar memberi kabar.
Ayah dan bunda Alex sudah dihubungi, mungkin tidak lama lagi mereka akan datang.
“Tenanglah, nona” Ucap Mira, mengelus pelan pundak Efira. Dia membawa atasannya untuk duduk, memberi gadis itu minum agar suasana hatinya lebih membaik.
Ceklek
“B-bagaimana keadaannya? A-Apa dia baik-baik saja?” Efira langsung memburu dokter yang baru saja membuka pintu ruang UGD dengan pertanyaannya.
“Darahnya keluar cukup banyak. Beruntungnya kalian segera membawanya kemari. Dia berhasil melewati masa kritisnya dengan baik. Jika telat sedikit saja, kemungkinan terburuknya adalah cedera di bagiannya yang terluka. Biarkan dia istirahat dulu, setelah dipindahkan ke ruang rawat inap kalian bisa masuk secara bergantian” Ucap sang dokter.
Efira langsung bersandar pada pintu UGD, gadis itu menghembuskan nafasnya perlahan demi perlahan. Melepaskan bebannya dalam setiap hembusan nafas kasarnya.