
Efira dibuat kalang kabut sendiri melihat kedua temannya bertanding, berselisih tanpa ampun. Sebenarnya apa untungnya juga?
Mendapat traktiran makanan?
Hey, keluarga Javonte bukanlah keluarga kurang mampu, apalagi keluarga Harrison.
Banyak pasang mata yang menatap dua lelaki itu dengan kagum. Mungkin sebagian juga bertanya-tanya tentang keanehan keduanya yang tak kunjung selesai hingga menjelang sore hari.
“Mereka terlihat hebat bukan?” Tanya Bella, gadis itu menghampiri teman semasa SMA-nya itu. Berdiri di samping kanan Efira.
“Tidak, mereka terlihat seperti anak kecil” Jawab Efira.
“Mau ikut bersama kami?” Deva bertanya. Melihat Efira sepertinya tidak menikmati liburannya dengan baik bahkan di hari pertamanya.
Saat Efira sibuk memantau kedua sejoli itu, teman-temannya yang lain ada yang bermain pasir, ada yang memilih mengambil gambar saja. Ada pula untuk para lelaki, mereka memilih bermain sepak bola di pasir daripada bermain voli pantai.
“Hah, aku lelah! Biarkan saja semau mereka” Ucap Efira lalu mengajak kedua temannya mencari tempat duduk yang nyaman.
Saat itu, Elena dan juga Aulia baru kembali dari bermain pasir.
“Kau terlihat tidak melakukan apapun disini” Ucap Elena.
“Aku hanya ingin berjemur” Jawab Efira itu sambil menyedot es kelapa muda yang ia beli beberapa waktu lalu.
“Sia-sia sekali liburanmu. Apa kau tidak tau cara menikmati liburan?” Tutur Aulia.
“Tanyakan saja kepada tuan muda Harrison itu” Jawab Efira kesal. Liburannya terasa sangat membosankan sejak tadi karena lelaki itu.
“Tau begitu, jangan pulang dari Paris” Omel Efira pada?
Angin mungkin?
Devan? Lelaki itu dengan setia menjaga tuannya. Saat Alex berselancar dengan Frans, lelaki itu selalu ada di pinggir pantai, seperti seorang ayah yang sedang mengawasi anaknya.
“Sebenarnya lelaki bule itu siapa?” Tanya Deva. Dia merasa penasaran dengan sosok lelaki yang berani menerima tantangan dari Alexander Harrison, bukankah itu seperti memberikan nyawa kepada raja singa?
“Kau sudah memiliki calon suami, Deva. Tolong matamu itu dijaga” Sahut Aulia.
“Memangnya yang menyukai lelaki itu siapa? Aku hanya bertanya-tanya kenapa dia begitu peduli dengan Alex. Maksudku, lelaki itu terlalu mengambil perasaan tentang Alex. Bukankah sangat terlihat jelas bahwa Alex cemburu, lalu dia malah menerima tantangan dari Alex. Bukankah itu aneh?” Jelas Deva.
“Atau jangan-jangan lelaki itu menyukaimu?” Lanjut Deva, melontarkan sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan untuk Efira.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Elena tersedak minumannya. Hal itu tentu saja membuat para gadis itu menolehkan atensinya kepadanya.
“Kenapa begitu?” Tanya Aulia.
“Hey bodoh, mungkin itu kekasihnya” Sahut Bella kepada Aulia, mengira bahwa Elena adalah pasangan dari seorang Frans.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Lagi, Elena lagi-lagi tersedak dengan minumannya sendiri. Membuat para gadis yang tengah berkumpul itu kebingungan, kecuali Efira? Gadis itu terlihat tenang-tenang saja.
Apa sebegitu istimewanya pernyataan dari teman-teman lokal Efira? Hingga membuat Elena kehilangan keseimbangannya saat meneguk minuman?
“Itu semakin tidak mungkin, aku sudah memiliki kekasih yang jauh lebih baik dari Frans” Tutur Elena.
“Intinya adalah tidak mungkin Frans menyukai Efira karena lelaki itu juga memiliki kekasih di negaranya” Lanjut Elena menjelaskan.
Baiklah, sudah cukup penjelasannya. Mereka semua sudah mengerti.
“Lalu, kira-kira apa motivasinya dalam menerima tantangan ini?” Tanya Deva, matanya fokus dengan Alex dan Frans yang terlihat menyudahi acara berselancarnya.
“Jangan terlalu berpikir kritis begitu, urus saja pernikahanmu. Lagipula itu tidak merugikan siapapun. Mungkin saja jika Frans hanya bersenang-senang” Jelas Aulia.
Elena saat itu langsung mengangguk setuju, membuat Bella dan Deva sedikit curiga? Berbeda dengan Efira yang terlihat santai-santai saja.
Mereka lalu menghentikan pembicaraan seru itu setelah melihat Alex dan Frans mendekat ke arah mereka.
“Hah hah hah” Frans datang terlebih dahulu, mengambil minuman milik Elena dengan paksa.
Sedangkan Alex juga langsung menyambar es kelapa muda Efira.
“Hey, beli sendiri sana” Ucap Efira tidak terima kesegarannya direnggut paksa oleh Alex.
“Kau jangan terlalu pelit denganku, nanti makammu sempit bagaimana?” Jawab Alex.
“Aku akan pesan tanah yang luas untuk pemakamanku” Sahut Efira kesal.
Tidak ada jawaban dari Alex.
Efira melirik sahabatnya yang tengah sibuk menghabiskan minumannya itu.
“Puas?” Tanya Efira.
“Ahhh” Alex melepaskan kesegarannya terlebih dahulu, “Sangat puas, dia yang akan mentraktir kita nanti” Lanjut lelaki itu, lalu menunjuk Frans.
Sangat miris nasib Devan yang hanya mampu melihat atasannya meneguk minuman segar itu seorang diri.