
Alex dan Efira terlihat diam di restoran itu, belum menyelesaikan sarapannya. Mereka terlihat begitu santai. Oh tidak, Alex yang terlihat begitu santai, seolah menunggu kabar baik menghampiri dirinya.
Drrrt
Drrrt
Drrrt
Alex melihat ponselnya, memastikan siapa yang menelfonnya.
Tertera nama Devan disana, lelaki itu segera mengangkat panggilan dari sekretarisnya.
“Ada apa Devan?”
“Tuan, apa anda tidak bisa datang hari ini? Seorang polisi tengah mencari anda”
Alex langsung menyeringai, permainannya ternyata begitu cepat sampai di over game. Tidak dikira bahwa e-mailnya sudah sampai dan di respon dengan cepat oleh pak tua itu.
“Ternyata dia kesana, suruh tunggu saja. Aku akan kesana sebentar lagi” Ucap Alex pada Devan.
“Sebenarnya anda punya masalah apa hingga anda harus didatangi polisi begini?” Tanya Devan dari seberang sana.
Ck
“Dia yang punya masalah denganku, suruh saja dia menungguku. Jangan banyak bertanya” Ucap Alex lalu memutuskan sambungan teleponnya sepihak.
Lelaki itu ingin melanjutkan sarapannya dengan santai tapi, gadisnya membuka suara terlebih dahulu.
“Siapa?” Tanyanya.
“Devan” Jawab Alex singkat, mengambil satu suap makanan untuknya.
“Apa kau tidak jadi bolos hari ini?” Tanya Efira.
Jika sudah nama Devan disebut, itu artinya sedang ada masalah kantor bukan?
“Kita akan ke kantorku, permainannya baru saja di mulai. Kau akan tau nanti, habiskan saja dulu makananmu. Aku pastikan kita akan menemukan titik terang dari masalah ini, hari ini juga” Ucap Alex.
Efira mengerutkan dahinya, bingung. Dia ingin bertanya lebih lanjut kepada kekasihnya tapi, dia urungkan. Menunggu acara makan mereka selesai saja, baru dia bertanya.
...***...
Setelah 25 menit menempuh perjalanan dari restoran ke Harrykiel company, Alex dan Efira segera pergi ke ruang CEO diikuti dengan Devan.
“Suruh dia masuk” Ucap Alex pada sekretarisnya itu.
“Duduklah di sofa. Biarkan aku menyelesaikannya sendiri, kau hanya perlu melihat dramanya” Ucap Alex pada Efira.
Gadis itu menurut, duduk di sofa seperti yang diperintahkan kekasihnya. Sedangkan Alex sendiri duduk di singgasananya dengan angkuh, menunggu seseorang yang tidak diberitahukan pada Efira.
Ceklek
“Anda mengancam saya?”
Polisi itu masuk dengan seragamnya, menodongkan tongkatnya pada Alex.
Alex hanya meyeringai remeh.
“Sudah aku katakan, aku tidak bermain-main dengan ucapanku tuan” Ucap Alex. Kakinya dengan sangat sopan meletakkan kakinya di meja kerjanya, memutar-mutar bulpoin diantara jarinya.
“Aku sama sekali tidak takut dengan anda, tuan muda Harrison” Ucap pak polisi.
“Tidak masalah, lagipula aku tidak perlu ditakuti oleh orang seperti dirimu. Katakan saja apa yang membawamu kemari” Ucap Alex santai.
Efira tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini, kekasihnya itu belajar menjadi angkuh begitu darimana?
“Jangan mengancamku dengan kata-kata bodoh itu, aku bisa membawa masalah ini kepada hukum dengan tuduhan pencemaran nama baik” Ucap pak polisi.
“Silahkan saja jika kau ingin mengangkat masalah sepele ini ke meja hijau” Jawab Alex penuh percaya diri.
“Aku tidak akan kalah, aku memiliki bukti kuat dari semua yang tertulis di pesanku tadi” Lanjut Alex.
Polisi tersebut diam, tentu saja dirinya merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan tuan muda Harrison.
“Aku ini CEO perusahaan IT, aku bisa merentas data apapun yang aku inginkan. Bahkan jika kau merasa bukti-buktimu sudah terhapus sempurna. Selingkuhanmu adalah sekretaris salah satu perusahaan kecil bukan? Dan bukti transfer dari nyonya Johnson ke rekeningmu 25 tahun yang lalu bahkan masih tersimpan. Kau bersedia menutup kasus itu dengan kebohongan karena uang 5 milyar yang diberikan nyonya Johnson?”
“Aku juga memiliki bukti data-data korupsimu. Pekerjaanmu-pun sangat tidak becus. Menyelesaikan kasus hanya dengan bayaran?”
Telak sudah, pak polisi itu tidak bisa menjawab apapun. Semua yang dikatakan Alex itu benar. Wajahnya terlihat panik dan takut.
Alex menurunkan kakinya, menyilangkannya sambil sedikit memainkan kursinya dengan tubuhnya. Tipe seorang CEO muda yang sombong.
“Jadi, silahkan laporkan aku seperti yang kau katakan tadi. Aku sama sekali tidak takut dengan sampah masyarakat seperti dirimu” Lanjut Alex.
“Silahkan pulang dan bersiaplah dengan kejutan selanjutnya dariku”
Alex mengusir pria itu masih dengan gaya angkuhnya.
Tidak mau, polisi itu malah berlutut di hadapan Alex. “Aku mohon jangan menghancurkan pekerjaan dan juga rumah tanggaku. Aku masih memiliki putri yang harus ku biayai”
Alex menyeringai, tetap di kursinya tanpa mau memberi kesopanan pada pria tua di hadapannya. Sedangkan Efira membelalakkan matanya, benar-benar sebuah drama elegan.
“Hey pak, kau menghancurkan pekerjaan dan rumah tanggamu sendiri. Aku hanya akan membantu atasan dan juga istrimu untuk mengetahuinya. Bukankah aku sangat baik? Jadi, kau tidak perlu susah payah bagaimana menjelaskan pada mereka, biar aku saja yang menjelaskannya” Jawab Alex.
“Tidak, saya mohon tuan. Saya bersedia mencium sepatu anda asal anda tidak membesarkan masalah ini”
“Bukankah kau sendiri yang ingin membesarkannya, lagipula sepatuku ini terlalu mahal untuk bisa kau sentuh. Keluarlah dari ruanganku” Ucap Alex santai.
“Tidak tuan, saya tidak mau keluar sebelum anda berjanji tidak akan membeberkan hal itu kepada istri dan atasan saya” Ucap pak polisi.
“Mari membuat penawaran, ceritakan saja apa yang terjadi 25 tahun lalu” Ucap Alex, memutar kursinya membelakangi pria itu.
“Baiklah, akan aku katakan”
Pak polisi itu mulai berdiri terburu-buru, menodongkan pistolnya ke arah Alex, dan sepersekian detik selanjutnya saat Alex kembali memutar kursinya.
DOR
“Argh”
Tak
Pistol yang ada di tangan polisi tersebut terjatuh, tangannya terluka karena tembakan dari Alex. Pria paruh baya itu kembali bersimpuh, memegangi tangannya yang terus mengeluarkan darah. Dia bersimpuh bukan untuk kembali memohon pada CEO Harrykiel Company itu tapi, karena rasa sakit luar biasa di tangannya.
Disaat yang bersamaan, Devan masuk mendengar suara pelatuk pistol. Dia kira bosnya atau Efira terkena tembak sang polisi tapi, dugaannya salah. Lelaki itu malah melihat pak polisi yang bersimbah darah.
“Keluar Devan” Ucap Alex dingin pada sekretarisnya. Baiklah, itu pertama kali atasannya itu mengeluarkan aura yang tidak biasa seperti ini.
Devan menurutinya, menutup kembali pintu ruangan atasannya.
Alex beranjak dari duduknya, berdiri tepat di depan pak polisi lalu berjongkok, memegang dagu polisi itu dengan sedikit cengkraman.
“Seharusnya kau tau untuk tidak macam-macam di kandang singa ini pak polisi yang terhormat. Beraninya kau menodongkan pistolmu itu padaku” Ucap Alex dingin.
Efira hanya melihatnya dengan pandangan yang sudah sulit diartikan. Entah pikiran apa yang saat ini menghinggapinya.
“Mau mengatakannya atau aku benar-benar akan mengahncurkan kehidupanmu. Tidak perlu khawatir dengan anakmu, dia pasti aku jamin memiliki biaya yang terpenuhi hingga pendidikannya selesai” Ucap Alex.
“A-Aku akan mengatakannya” Pak polisi itu mulai gugup, berfikir mungkin saja bahwa CEO muda Harrykiel Company adalah psikopat.
“Katakan!”