You

You
Help Me



Sudah tersisa tiga minggu Efira di Jepang, rupanya gadis itu harus berterimakasih kepada tuan Rian karena diberikan keringanan untuk menambah waktunya kurang lebih satu minggu. Gadis itu tumbuh dengan baik, semakin hari dia semakin mengeluarkan aura kecantikannya, kulitnya yang mulus, matanya juga rambutnya yang berwarna hitam pekat menambah auranya.


“Bagaimana?” Tanya tuan Rian membolak-balikkan lembaran kertas di dalam map yang ia pegang. Efira saat ini sudah berada di ruangan tuan Rian, berniat memberikan laporannya.


“Sudah 95%, mungkin lusa akan selesai" Jawab Efira yakin. Gadis itu sudah tidak pernah terlihat bersama Alex di manapun berada.


Keduanya tidak pernah lagi berkomunikasi, hubungan yang memang sudah renggang, sejak pertengkaran itu terjadi, keduanya semakin tidak sehat. Efira pun tidak tau Alex masih di Jepang atau sudah pulang. Dia saja tidak teratur mengurus kehidupannya apalagi mau mengurus Alex?


Namun, tidak menampik bahwa hati kecilnya terkadang masih memikirkan Alex.


“Secepat itu?" Tanya tuan Rian.


Efira mengerti maksud pertanyaan kliennya, memilih tidak bergeming sedikitpun. Lebih cepat lebih baik, dia sangat merindukan orang tuanya, ingin segera pulang dan menginjakkan kaki di tanah kelahirannya.


“Kau sudah yakin? Tidak ada perubahan apapun?” Lanjut tuan Rian memastikan, mungkin lelaki itu berfikir bahwa pekerjaan Efira sangat cekatan. Patut untuk diragukan bukan?


“Kau bisa mengecek semuanya. Tinggal satu desain saja yang belum kusentuh seutuhnya. Desain yang terakhir, desain itu sudah selesai kurang lebih 50%. Ini di luar dugaanku, padahal aku sering lembur tapi, ternyata waktu tiga minggu masih kurang. Maafkan aku tuan Rian, dan terimakasih sudah memberikan keringanan untukku” Ucap Efira.


“Tenang saja, pastikan itu selesai sebelum acara fashion show dimulai. Jadi, kapan kau akan menyentuhnya?” Ucap tuan Rian memandang Efira.


“Hari ini juga” Efira terlihat sangat tegas, apalagi ditambah dengan fashion-nya yang mendukung ketegasannya. Kalem namun, menggambarkan sosok pemimpin yang nyata di sana.


“Kau yakin? Apa tidak terburu-buru?” Tanya tuan Rian, bermaksud mengulur waktu gadis itu mungkin? Bukankah sangat disayangkan jika perpanjangan kontrak mereka harus tersisa sia-sia?


“Aku tidak punya banyak waktu untuk mengulur waktu lebih lama di sini tuan Rian” Jawab Efira lagi.


“Kenapa?”


“Orang tuaku sudah menunggu kepulanganku, aku akan segera memulai pengerjaannya, permisi” Jawab Efira sambil tersenyum, berniat beranjak dan pergi dari ruangan itu.


“Kenapa kau terus saja menolakku?” Tuan Rian berucap saat Efira sudah siap melangkahkan kakinya menuju pintu, duduk di kursinya dengan angkuh, mengetuk bulpoin di mejanya. Aura tuan Rian yang dulu kembali, tuan Rian yang pertama kali Efira temui, duduk disana.


Sebenarnya, Efira dan tuan Rian terlihat semakin manusiawi akhir-akhir ini, perubahan tuan Rian membuat Efira sedikit terbuka dengan lelaki itu.


Tidak berkata ketus, tidak menatap tajam, terkadang makan siang atau bahkan jalan-jalan sepulang kerja bersama.


Pasalnya, meskipun terlihat dekat, tuan Rian pun tau jika Efira menganggapnya tidak lebih dari pertemanan, selalu menolak ajakan kencan tuan Rian atau bahkan selalu menolak ungkapan perasaan tuan Rian mentah-mentah.


“Karena kita rekan kerja, tuan Rian” Ucap Efira tanpa menolehkan kepalanya, lalu melangkahkan kaki jenjangnya.


“Bahkan ketika kau bersedia menerbangkan lampion bersamaku?” Tidak ada jawaban, gadis itu terus melangkahkan kakinya. Tidak peduli dengan apa yang tuan Rian katakan.


Gadis itu sedang tidak ingin berdebat, kepalanya hampir pecah mengingat hubungan tidak sehatnya dengan Alex. Lalu sekarang? Bukankah dia dan tuan Rian akhir-akhir ini baik-baik saja, kenapa hari ini sikap buruk tuan Rian itu kembali?


“Bagaimana jika kita mencoba untuk kau menyukaiku?” Tuan Rian sudah mencengkal tangan Efira tepat sebelum gadis itu keluar dari ruangannya.


Apa-apaan ini?


Efira menatap tuan Rian tajam.


“Bermimpilah!”


Tuan Rian tidak dapat lagi mengontrol emosinya, lelaki itu langsung mengunci pintu ruangannya. Bohong jika Efira berkata dia tidak takut, nyatanya saat ini, dia sudah pening meskipun air mukanya terlihat tenang.


“Kita mulai dari sini’ Tuan Rian menarik Efira mendekat kepadanya, mengelus pelan bibir merekah milik Efira. Tentu saja gadis itu tidak terima, gila jika dia diam saja dilecehkan seperti itu. Dia menolehkan kepalanya, menghindari tangan busuk tuan Rian dari bibirnya.


“Jangan kurang ajar” Gadis itu bahkan sudah memutar tangannya, berharap lepas dari cengkraman kliennya yang semakin erat.


“Sayangnya kau yang membuatku seperti ini” Tuan Rian semakin menggenggam erat lengan Efira. Tuan Rian terlihat tidak peduli dengan rasa sakit yang menjalar di tangan Efira. Gadis itu bahkan sudah meringis sekaligus menahan tangisnya. Sangat bisa dipastikan bahwa cengkraman itu akan membekas nantinya.


“Aku bahkan sudah mengubah sikapku padamu tapi, kau masih tetap menolakku. Jika tidak bisa didapatkan dengan cara halus, akan aku dapatkan dengan cara lain”


“Lagipula kau ini percaya diri sekali untuk menolakku. Kau bahkan tidak lebih dari pelacur di luar sana. Kau tidur dengan sahabatmu bukan? Sudah berapa kali kau melakukannya hm?” Lanjut tuan Rian, perkataannya sangat kotor menurut Efira. Gadis itu bahkan tercengang dengan penuturan tuan Rian tentang perubahan sikapnya yang hanya untuk mengambil hatinya.


Lelaki itu menarik Efira dan menghempaskan tubuhnya ke sofa, berniat sangat tidak senonoh. Tapi, bukan Efira namanya jika tidak mau melawan. Gadis itu terus memberontak, mencari celah untuk lepas.


“Akh” Teriak tuan Rian, merasakan tendangan tepat pada aset masa depannya. Ngilu. Hanya itu yang dapat mewakilkan rasanya.


Sedangkan pelakunya? Sudah berlari, mencari kunci pintu yang tidak ia temukan. Bingung? Tentu saja, posisinya sudah sangat terdesak, tidak ada Alex sang pelindung sekarang.


Bagaimana aku bisa keluar dari sini? Pikir Efira.


“Kau mencari ini?” Tuan Rian mengeluarkan sebuah kunci yang memiliki gantungan kunci logo perusahaan Bianjaya Group.


Setelah berhasil menetralkan rasa sakit pada pangkal pahanya, lelaki itu bangkit untuk kembali meraih Efira.


“Buka pintu ini” Perintah Efira.


“Kau pikir aku bodoh?” Smirk keluar dari wajah tuan Rian. Sangat menyeramkan, mungkin amarahnya sudah memuncak atau egonya yang memang tidak bisa kalah? Lihat saja wajah iblis yang ia tunjukkan.


“Kemarilah sayang, sebelum aku menarikmu dengan paksa”


Tatapan itu, tatapan lapar seorang singa jantan kepada singa betina. Efira sudah hampir menangis saat itu juga, dirinya tidak kunjung mendapatkan jalan keluar.


Gadis itu memundurkan langkahnya, ,mencari apapun yang bisa ia gunakan untuk melindungi dirinya.


Nihil, mungkin banyak barang disana tapi, tidak ada satupun yang bisa digunakan, hanya tumpukan kertas dan tumpukan buku. Itu tidak berguna. Sejenis tanaman hias atau pot hias mungkin tidak ada di sana.


Intinya, ruangan itu sangat monoton. Seperti perpustakaan.


Tuan Rian semakin lama semakin mendekat, melangkahkan kakinya kepada mangsa di depan mata. Sampai pada akhirnya, Efira sudah tidak menemukan jalan lagi, gadis itu sudah sangat ketakutan. Otak cerdasnya itu tidak bisa diajak kompromi.


“Tidak, jangan mendekat”


Tap


Tap


Tap


Dimana tuan Rian tetap melangkahkan kakinya, tidak ingin peduli dengan apapun yang dikatakan Efira.


“Jangan menyentuhku”


Tepat setelah Efira mengatakan kalimat itu, lengannya ditarik paksa ke dalam sebuah ruangan?


Pintu yang selama ini dianggap adalah pintu kamar mandi ternyata adalah pintu menuju sebuah kamar.


Tuan Rian mendorong Efira kasar di atas kasur, merangkak di atas gadis itu. Matanya sudah sangat gelap, menunjukkan sisi kelamnya.


Aku menyesal membela lelaki ini di depan Alex. Batin Efira. Setitik air mata sudah timbul di pucuk matanya. Menggambarkan tekanan yang dalam di sana.


Pikirannya sudah membumbung tinggi kemana pertengkarannya dengan Alex tempo hari.


Ini pesan terakhirku. Jangan dekati dia!


JANGAN MENGURUS HIDUPKU LAGI, MEMANGNYA KAU TAU APA TENTANG RIAN?


Baiklah, terserah dirimu. Aku tidak akan peduli lagi. Jangan pernah mencariku jika terjadi sesuatu padamu


Hari itu adalah hari dimana Alex pergi dari kamar Efira dan tidak pernah kembali terlihat setelahnya.


Aku mohon tolong aku.


Siapapun tolong aku.


Aku takut.


Isi hati Efira berkata, bibirnya bergetar tidak sanggup mengatakan apapun.