
Sejak hari itu, Alex tidak lagi mengganggu Efira. Mereka melakukan kegiatan sesuai keinginan sendiri-sendiri. Anehnya, Efira tidak mengijinkan Alex untuk pergi dari kamarnya. Seperti di tusuk belati setiap hari, melihat Efira yang semakin dekat saja dengan tuan Rian, Alex memilih selalu menyibukkan diri menjelang kepulangannya ke tanah kelahiran. Seperti pergi ke tempat gym? Atau pergi jalan-jalan di taman kota, atau bahkan pergi untuk sekedar mencari kafe dan melanjutkan pekerjaannya.
Intinya, pergi keluar di pagi hari, kembali pulang di siang hari untuk mandi lalu keluar lagi dan pulang di malam hari setelah Efira tertidur.
Menghindar dari Efira jelas menjadi jalan ninjanya, daripada harus bertemu dengan kedekatan Efira dan Tuan Rian.
“Sialan sekali, sebenarnya apa rencana Rian?” Gumam Alex di tengah aktivitas lari paginya, tentu saja lelaki itu mencurigai perubahan sikap tuan Rian yang terbilang drastis hanya dalam satu malam. Lelaki itu ingat dengan jelas, sehari sebelum perubahan tuan Rian, Alex sempat adu mulut sengit dengan CEO Bianjaya Group itu.
“Apa aku harus mencari tau?”
Apa aku harus selalu membagi apapun denganmu? Bahkan urusan pribadi atau urusan pekerjaan sekalipun? Stop melakukan hal itu, Lex. Aku sudah dewasa. Aku tau mana yang baik dan yang buruk untukku
Pulanglah, jika kau mau tau, kau menganggu pekerjaanku kali ini. Aku ingin cepat selesai tapi, tingkah kekanakanmu ini membuatku membuang waktu
Cih, ucapan Efira tempo hari masih membekas, apa urusannya sekarang?
“Biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan” Batin Alex, melanjutkan kegiatannya.
Day – 4 sebelum habisnya masa kontrak Efira. Gadis itu terlihat tengah menikmati makan siangnya bersama tuan Rian. Akhir-akhir ini mereka memang terlihat sangat dekat seiring dengan tidak adanya gangguan dari Alex.
“Kau akhir-akhir ini tidak lagi bersama Alex, kalian ada masalah?” Tanya tuan Rian.
“Tidak, kami hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Lelaki itu juga terlihat sibuk” Jawab Efira.
Ah, jujur saja Efira tidak tau kemana Alex pergi jika dirinya sedang berada di perusahaan bersama tuan Rian. Tapi, itu jelas membuat Efira dapat bergerak bebas tanpa Alex. Rasanya seperti keluar dari sangkar saja. Tapi, juga perubahan atmosfer diantara dirinya dan juga sahabatnya itu membuat Efira tidak nyaman.
Mereka tinggal di tempat yang sama tapi, saling sapa pun juga sudah jarang.
“Hari ini kau lembur lagi?” Tanya tuan Rian.
“Tidak tau, tergantung pekerjaannku” Jawab Efira singkat.
“Baiklah, nanti aku antar pulang, bagaimana? Kita jalan-jalan dulu di taman kota” Tawar tuan Rian.
“Mari lihat nanti saja. Aku tidak menjanjikannya Rian” Jawab Efira.
Jangan tanya kenapa gadis itu memanggil kliennya tanpa embel-embel ‘Tuan’. So, sejak beberapa hari lalu, Tuan Rian meminta Efira untuk memanggilnya tanpa embel-embel ‘Tuan’ jika di luar kantor.
“Kumohon, panggil saja aku dengan nama. Itu terdengar lebih baik daripada kau terus memanggilku dengan formal” Ucap tuan Rian sesaat sebelum Efira turun dari mobilnya malam itu, malam dimana Efira di antar pulang oleh tuan Rian.
“Bukankah itu tidak sopan?” Jawab Efira.
“Apa harus begitu?”
“Itu perintah” Balas tuan Rian diiringi kekehannya.
“Baiklah” Jawab Efira singkat, tidak lupa senyum manis yang menghiasi wajahnya.
Kira-kira begitu cerita dibalik panggilan Efira kepada kliennya.
“Baiklah, aku menunggu konfirmasimu nona” Ucap tuan Rian lalu melanjutkan acara makan siangnya. Efira hanya tersenyum menanggapi kliennya.
Tanpa disadari, di sana ada Alex yang tengah memperhatikan mereka. Lagi-lagi bertemu di tempat yang sama seperti makan siang tempo hari.
“Aku benar-benar ingin mengumpat” Gumam Alex melihat kedua sejoli itu.
Setelah kopinya selesai disiapkan, Alex segera keluar dari restoran itu, “Aku bersumpah tidak akan pernah kembali kemari, dua kali ke sini, dua kali juga sakit hati. Sialan sekali” Alex terus mengumpat sepanjang jalannya.
...***...
BRAK
PYAR
BRAK
BRAK
Itu suara dari kamar mandi tempat gym. Alex pergi ke tempat gym setelah melihat Efira dan juga tuan Rian. Lelaki itu sedang berapi-api sekarang, luka yang sempat ia dapat beberapa hari lalu bahkan belum sembuh, sekarang sudah ditambah lagi dengan luka baru.
“Tuan, disana anda bisa meninju samsak. Kaca ini membuat anda terluka” Tegur seorang staff gym.
“Maafkan aku, aku akan menggantinya” Ucap Alex setelah menyadari kegilaannya.
Sekali lagi, setelah mengobati lukanya, Alex memilih berdiam diri di bar, sebotol wine tidak akan membuatnya mabuk.
“Kenapa Efira? Apa akan seperti ini jika kau nanti sudah memiliki kekasih? Apa akan sesakit ini di campakan olehmu?” Gumam Alex, ucapnya yang hanya ingin minum satu botol, terlewatkan hingga tiga botol. Lelaki itu terlihat sudah hampir mabuk tapi, masih tidak merenggut kesadarannya. Keadaannya masih normal, sedikit pusing saja.
Sebelum terlambat, Alex akhirnya memutuskan keluar saja dari tempat itu, memilih mampir ke supermarket terdekat untuk membeli minuman penghilang pengar.