
“Jadi Javonte’s Group akan mengganti pemimpin direkturnya?”
“Kira-kira kenapa ya?”
“Memangnya nyonya Efira ada masalah apa?”
“Bukankah nona Efira tidak memiliki masalah di pekerjaannya selama menjadi Direktur?”
Begitulah bisikan-bisikan karyawan atas kabar bahwa pimpinan teratas mereka akan di ganti.
Pagi itu semuanya berjalan baik-baik saja, Efira bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan dibarengi dengan sang ayah dan juga kakaknya.
Ya, hari ini juga mereka akan mengumumkan pergantian Efira kepada Devan, di dampingi dengan sang ayah.
“Devan, aku tetap menuntutmu kembali ke New York sebagai pemimpin perusahaan itu” Ucap tuan Pyton yang datang kala itu untuk memberi selamat dan juga ultimatum untuk putra angkatnya.
“Dad tenang saja, aku akan membuat otakku seperti robot setelah ini” Ucap Devan santai.
Plak
Efira menampar lengan kakaknya, “Sudah bagus asetmu banyak malah mau memilih tidak menikmatinya dan mau bekerja seperti robot. Nikmati saja pekerjaanmu maka, kau akan bahagia dan tidak akan tertekan” Ucapnya.
“Ya ya ya” Ucap Devan malas sambil mengancingkan jasnya.
“Mira belum datang?” Tanya Efira.
“Kau sebagai atasannya bagaimana?” Tanya Devan balik.
Ah iya, Efira hampir lupa bahwa Mira adalah asisten pribadinya. Gadis itu terlihat bingung, tidak biasanya Mira telat.
“Apa kau sebagai tunangannya tidak tau dimana keberadaannya?” Ucap Efira lagi.
“Apa menurutmu komunikasiku dengan Mira sebaik itu?”
“Aku pikir kau sudah meluluhkan hatinya” Ledek Efira.
Tak
Kepala Efira sukses mendapat satu jitakan dari Devan, “Lihat saja, aku akan menikah lebih dulu daripada dirimu” Ucapnya.
“Ya ya, baiklah. Aku akan menghubunginya dulu”
Efira mengambil ponselnya lalu menghubungi asistennya itu.
“Selamat pagi, nona” Ucap seseorang dari seberang sana.
“Tumben sekali?” Tanya Efira yang tentu saja langsung bisa di pahami oleh Mira.
“Maafkan saya nona, ada kendala dengan mobil saya hari ini. Saya sudah di jalan” Balasnya.
“Baiklah. Kau langsung saja ke perusahaan” Ucap Efira.
“Baik” Jawab Mira lalu Efira memutuskan sambungan panggilan mereka setelah mendengar jawaban Mira.
“Ayo berangkat, Mira akan menyusulku langsung ke perusahaan” Ucap Efira.
...***...
“Cyntia apa kau mampu mengerjakan ini seorang diri?” Tanya Alex pada Cyntia.
“Tanyakan saja jika ada yang tidak kau mengerti, jika kau merasa kewalahan aku akan mencari pengganti Devan tapi, jika tidak sepertinya aku akan cukup hanya denganmu saja sebagai sekretarisku” Ucap Alex.
Bukan apa, lelaki itu terlalu sibuk untuk merekrut asisten baru.
“Akan saya usahakan, tuan” Ucap Cyntia lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.
Alex duduk di kursi kebesarannya, bukannya bekerja malah memilih desain undangan dari komputernya.
“Aku rasa akan sedikit elegan jika menyatukan warna gold dan putih sebagai nuansa pernikahan kami” Gumam Alex seorang diri.
“Ah, aku harus menghubungi Efira nanti. Aku tidak sabar untuk segera menikah dengannya” Gumam Alex lagi, sepertinya lelaki ini sudah tergila-gila dengan sosok Efira sebagai calon istrinya.
...***...
Perusahaan terlihat begitu tenang ketika keluarga Javonte memasuki lobby. Banyak orang yang tentu saja penasaran dengan sosok lelaki yang dilihat tidak begitu asing tapi juga terlihat berbeda dari apa yang ada di pikiran mereka.
Mereka segera memasuki lift khusus untuk petinggi perusahaan disana.
“Mira akan menjadi asistenmu mutlak setelah ini” Ucap Efira, berbisik kepada Devan.
“Kau aka menyerahkan Mira secara cuma-cuma?” Tanya Devan.
“Aku tidak akan sibuk setelah ini, aku hanya akan pergi ke butik dan fokus di sana jadi, aku tidak membutuhkan dia lagi untuk keseharianku” Balas Efira.
“Bagaimana perasaanmu?” Tanya tuan Javonte kepada Devan.
“Sedikit canggung, biasanya aku memasuki perusahaan ini hanya untuk perintah tuan Alex tapi sekarang malah untuk direkrut menjadi direktur perusahaan. Aku mungkin butuh belajar lagi tentang perusahaan furnitur” Jawab Devan sambil terkekeh di ujung kalimatnya, masih tidak percaya dengan alur kehidupannya.
“Bertanyalah dengan adikmu atau sekretarismu di sini, dia cukup berpengalaman dan cukup baik dalam kinerjanya” Ucap sang ayah.
Devan mengangguk setuju.
Setelah sampai di lantai atas, mereka segera memasuki ruang meeting, sudah di tunggu oleh karyawan yang lain.
“Selamat pagi semuanya” Sapa tuan Javonte.
Seluruh orang langsung berdiri dan sedikit membungkuk melihat kedatangan keluarga Javonte.
“Pagi tuan” Jawab mereka serentak.
“Silahkan duduk” Ucap Efira.
“Langsung kita mulai saja meeting hari ini jadi, kita akan membahas beberapa hal terkait dengan pergantian direktur dan juga program kerjan baruya selama satu tahun ke depan serta apa saja program kerja yang harus diteruskan dari masa jabatan Efira ke direktur kita yang baru”
“Pertama akan saya perkenalkan dulu direktur baru kita yaitu Julio Gevandri Javonte, anak pertama keluarga Javonte yang hilang dn dinyatakan meninggal 25 tahun yang lalu” Ucap tuan Javonte yang langsung mendapatkan belalakan mata dari semua orang di sana. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah dinyatakan meninggal sekarang berdiri di hadapan mereka?
“Aku akan membuat kenferensi pers setelah pengangkatannya” Ucap tuan Javonte.
Sedangkan Devan baru saja membuka maskernya tiba-tiba membuat orang-orang membelalakkan mata untuk kedua kalinya, “Tuan Devan?” Gumam salah satu dari mereka.
“Ya, dia kalian kenal dengan Devan” Jawab tuan Javonte.
Selama meeting berjalan, mereka semua menyimpan berbagai pertanyaan di benak mereka atas kehadiran sekretaris pribadi tunangan bos mereka adalah kakak dari bos mereka?
Ya, mereka hanya bisa menunggu hingga konferensi pers di adakan.