You

You
Javonte's Group



Efira POV


Aku mengeluarkan mobilku dari garasi. Dengan semangat penuh, aku menginjak pedal gas, melajukan mobil putih ini santai menuju Javonte's Group.


Ini hari pertamaku, kan?


Aku tidak bersama Alex, lelaki itu menyebalkan sejak semalam. Aku ingin pergi sendiri, biar saja jika dia berpikir aku kekanakan.


Hanya 25 menit perjalanan sampai akhirnya aku bisa sampai di parkiran perusahaan. Aku mengambil tasku lalu melangkahkan kaki.


Tidak ada yang istimewa, seluruh karyawan menunduk hormat. Sebenarnya ini tidak perlu, kenapa mereka tidak menyapaku saja?


Pagi Efira, begitu misalnya. Itu akan lebih menyenangkan.


Lagipula umurku dan mereka tidak jauh berbeda, tidak jarang pula ada yang umurnya lebih tua daripada diriku.


“Selamat pagi, Mira” Sapaku saat aku sudah berada di depan ruanganku, dia sudah duduk manis di balik mejanya bersama Keisha, sekretaris kantorku.


Ah tidak, saat aku datang mereka malah berdiri menunduk, memberi hormat. Ah, ini terlalu berlebihan.


“Tidak, jangan lakukan itu! Kalian hanya perlu menyapaku. Selamat pagi! Begitu akan lebih baik daripada kalian menunduk hormat. Aku seperti petinggi perusahaan saja” Ucapku lalu tersenyum manis. Aku berniat mengajak mereka untuk lebih dekat sebagai seorang teman tapi, apa?


“Anda memang petinggi perusahaan, nona”


Cara bicaranya saja se-kaku itu, aku memutar bola mataku jengah. Ini pilihan Alex, aku akan protes nanti. Kenapa sekretaris Alex lebih baik daripada sekretarisku?


Seharusnya sekretarisku seperti Devan saja, mungkin akan terlihat lebih hidup suasananya daripada harus bersama gadis kaku bernama Mira itu.


“Selamat pagi, nona Efira” Sapa seorang lelaki?


Ini Devan yang menyapaku.


“Ya, selamat pagi kembali Devan. Kau baru datang?” Tanyaku.


“Iya, kau juga?” Tanya Devan.


“Hmm” Aku bergumam sambil menganggukkan kepala.


“Baiklah, selamat bekerja. Aku ke ruang meeting dulu” Ucapnya, tentu saja aku mengangguk paham.


“Selamat bekerja kembali”


Devan berlalu meninggalkanku dengan senyuman, begitu juga aku. Bahkan arah mataku terus tertuju padanya.


“Ekhem”


Sampai suara itu mengagetkanku. Ini dia bintang kita hari ini.


Alex!


Lelaki itu menatapku datar tapi, aku tidak peduli, menoleh padanya hanya sebuah ke-refleks-an. Aku berlalu meninggalkannya, mungkin pergi ke ruanganku akan lebih menyenangkan.


Efira POV End


...***...


Alex POV


Aku melihatnya, saat dia tidak menolehkan pandangannya dari Devan.


“Selamat bekerja kembali”


Aku bahkan mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya.


Apa aku cemburu?


Ah, tidak!


Aku kesal, pertama gadis itu tidak ada di rumah saat aku menjemputnya, ternyata dia sudah berangkat dulu dengan mobilnya.


Kedua, gadis itu tidak memakan sarapannya dengan baik, aku tidak bisa membiarkannya kelaparan sebelum bekerja kan? Lalu ketiga?


Melihatnya dengan Devan? Sepertinya baru semalam aku memperingatkannya untuk tidak dekat-dekat dengan Devan. Kenapa pagi ini dia malah terlihat lebih dekat dengan lelaki itu?


“Ekhem”


Aku sengaja berdehem, ingin tau saja reaksinya saat melihatku menatapnya sedatar ini. Dia memang langsung melihatku tapi, sepersekian detik selanjutnya, dia memilih mengabaikanku dan pergi ke ruangannya.


Hal apa yang lebih sial dari ini?


Atau yang lebih sial adalah melihat Devan tersenyum senang di kursi ruang tunggu meeting pagi ini?


Lihat!


Lelaki itu mengembangkan senyumnya sampai tidak sadar akan kehadiranku.


Argh!


Pagi yang menyebalkan, aku masuk ke dalam ruang meeting tanpa menyapa Devan. Lelaki itu sudah sakit jiwa.


BRAAK!


Aku sangat yakin Devan terlonjak kaget di luar sana atau bahkan jantungnya sudah merosot ke tanah.


Aku sengaja melakukannya.


Aku kesal. Sangat kesal!


Jadi, pintu itu adalah pelampiasanku.


“Setidaknya makan sarapanmu dengan benar” Aku meletakkan kotak makan di hadapannya, di hadapan Efira lebih tepatnya.


Aku bisa memasuki ruangannya dari sebuah pintu penghubung antara ruang meeting dengan ruangan Efira. Aku tau betul bagaimana peta ruangan Javonte's Group, karena aku sering kemari dulu, untuk bermain dengan Efira.


Sebenarnya gadis ini sangat tau akan kehadiranku tapi, sungguh dia tidak melihatku?


Dia hanya menatap datar kotak makan yang aku berikan padanya.


“Apa begitu cemburunya kau semalam?” Tanyaku mengeluarkan smirk.


Aku tidak tahan dengan kebungkamannya. Semalam saat aku mengantarkannya pulang, dia keluar dari mobil tanpa sepatah katapun, lalu hari ini juga bertemu tanpa sepatah katapun. Aku ini lelaki, aku bahkan tidak pernah memiliki kekasih.


Bagaimana aku harus bersikap dengannya? Dia bahkan hanya diam sekarang, hilang sudah Efira yang cerewet.


Sebenarnya aku ingin melanjutkan membahas masalah ini tapi, jam kerja kami sudah di depan mata. Perusahaanku dan Efira sudah menjalin kerjasama sejak di pegang oleh ayah kami dan nanti aku akan kembali merenovasi beberapa tempat di perusahaanku. Di pagi hari ini, kami akan meeting tentang beberapa proyek dari ayah kami yang akan diteruskan oleh kami, selanjutnya setelah makan siang nanti, aku dan Efira harus menyusun beberapa konsep untuk renovasi Harrykiel Company.


Kira-kira begitulah jadwal kerjaku di perusahaan Efira hari ini.


“Pekerjaan tetap saja pekerjaan, setidaknya bersikaplah profesional nanti” Ucapku lalu meninggalkan gadis itu di ruangannya.


Alex POV End


...***...


Alex, lelaki itu sedang memijat pelan pelipisnya. Baru saja dia keluar bersama Efira dari ruang meeting. Tidak ada yang salah dengan hasil perundingan mereka, tidak ada yang istimewa juga dari sikap keduanya, tetap bersikap profesional seperti biasanya.


Sayangnya, Alex sangat di bingungkan dengan tingkah sahabatnya itu. Kenapa harus marah selama ini?


Itu yang menjadi pertanyaan di pikirannya.


Bahkan setelah keluar, mereka tidak juga bertegur sapa. Efira langsung meluncur begitu saja tanpa melihat wajah Alex tapi, tetap tersenyum kepada sekretaris Alex.


Devan memang mempesona bukan?


Tentu saja Alex dibuat gemas sendiri dengan Efira.


Tuk


Tuk


Tuk


Kali ini ketukan jari Alex bertemu dengan meja ruang tunggu Efira, seiring dengan petikan jarum jam. Terlihat sangat gelisah, bukan seperti Alex yang biasanya terlihat tenang.


Alex dan Devan memilih tidak kembali ke perusahaan, karena jadwal mereka setelah ini masih dengan Javonte's Group. Lelaki itu, memilih menunggu di ruang tunggu sambil bekerja. Sedangkan Devan? Dia juga sibuk dengan beberapa pekerjaannya.


“Ah, akhirnya” Alex langsung berlalu setelah melihat detik jam tangannya sudah menunjukkan jam makan siang.


Menoleh kesana-kemari, mencari keberadaan seseorang.


Atau?


“Devan”


Suara wanita itu yang ia cari?


Efira, gadis itu sudah ada di hadapan sekretaris Alex. Entah kapan gadis itu masuk ke ruang tunggu.


Tapi, hari apa yang lebih sial dari hari itu untuk Alex?


“Ayo makan bersama?”


Devan melirik sebentar ke arah bosnya. Sangat tau, ada rasa sungkan disana.


“Tidak ada penolakan. Kau harus ikut bersamaku” Ucap Efira lalu membawa tangan Devan bersamanya.


Hahaha, Alex menertawai dirinya sendiri. Lelaki itu bisa-bisanya sangat gelisah karena seorang Efira sejak tadi. Tapi, apa? Gadis itu terlihat sangat baik-baik saja, bahkan dia sendiri yang mendatangi Devan, mengajak makan siang bersama.


“Kau tau? Aku sangat sial bertemu denganmu hari ini” Ucap Alex, rasanya kobaran api di dalam dirinya sudah tidak bisa dipadamkan lagi. Nyala kemarahan terlihat jelas di matanya saat menatap Efira. Dia pergi meninggalkan sahabat beserta sekretarisnya di sana, di dalam ruang tunggu itu.


Mira melihat kejadian itu dari jauh, hanya menatap miris kedua bosnya. Semalam saja sebelum berangkat ke acara peresmian mereka terlihat sangat manis.


Diam-diam gadis itu juga menyumpahi Devan yang mau saja digandeng tangannya oleh Efira. Sudah tau, keadaan tidak senormal biasanya.


Alex masuk ke dalam kamar mandi di ruang meeting, lebih tepatnya menyapa wajahnya pada cermin wastafel. Lelaki itu membasuh wajah, setidaknya meredakan api yang ada di dalam dirinya.


“Sial, ada apa denganmu, Alex?” Tanya Alex pada dirinya sendiri.


Sekelebat bayangan detik-detik Efira bersama Devan terus berputar di otaknya.


Geram, satu kata itu yang menguasai dirinya saat ini. lelaki itu mengeraskan rahangnya, lalu menonjok cermin di hadapannya hingga tidak berbentuk.


Aku ingatkan, bahwa itu adalah cermin dari perusahaan Javonte's Group.


“Ini sama sekali tidak sakit” Ucap Alex bermonolog, melihat bayangannya pada kaca rusak itu.