
“Eemmmhhh”
Tepat pukul 07.00, Efira membuka matanya, mendapati kekasihnya tertidur lelap di sofa dengan tumpukan dokumen yang sedikit berantakan, mungkin sudah selesai dikerjakan?
Ah, kasihan sekali. Rasa kesalnya semalam menguap begitu saja. Efira bangkit dari ranjang, mendekati kekasihnya lalu mengelus pelan surai hitam Alex. Menyalurkan kehangatan disana.
“Eungh” Alex melenguh pelan, saat dia merasakan sentuhan lembut di puncak kepalanya.
Rasanya kepalanya mau meledak, berat sekali. Tapi, matanya memaksa untuk terbuka demi melihat siapa gerangan yang mengusik tidurnya.
“Kau bangun?” Tanya Efira, gadis itu segera menghentikan elusannya.
“Hmm” Gumam Alex, bangun dan memeluk pinggang gadisnya.
Sedangkan Efira hanya mampu tersenyum melihat kekasih sekaligus sahabatnya itu tengah mengumpulkan nyawanya.
Tidak lama kemudian, Alex malah semakin memeluk Efira erat. Seperti menemukan kenyamanan disana?
“Alex”
“Sebentar Efira” Jawab Alex pelan.
Sebenarnya Alex tidak benar-benar menutup matanya, lelaki itu hanya senang dengan kehangatan ini. Lagipula, hari ini Efira sudah diperbolehkan pulang. Traumanya tidak begitu terlihat menakutkan seperti dulu katanya.
“Ah, mungkin karena kau sudah sering tidur denganku” Ucap Alex kala itu. Tentu saja ucapannya itu mengandung makna yang berbeda bagi sang dokter yang mendengarnya.
“Baiklah, hati-hati jika kalian belum menikah” Sahut sang dokter.
Lihat?
PLAK
Karena malu, Efira segera memberi hadiah terbaik seperti biasanya untuk kekasihnya.
Ah, Efira tersenyum mengingat momen-momen gila itu. Sebenarnya dia dan kekasihnya itu sama.
Sama-sama tidak tau diri jika di depan umum.
“Aku ingin ke taman, aku bosan di kamar terus” Ucap Efira, menyampaikan keinginannya.
“Efira, lagipula nanti kan kita pulang” Jawab Alex.
“Tapi, itu masih nanti siang. Apa yang harus aku lakukan disini selama kurang lebih empat sampai lima jam kedepan?”
“Ya, baiklah. Tunggu aku menyelesaikan mimpiku dulu” Dalih Alex.
“Aleeeex”
Efira mulai merengek dengan jawaban dari Alex, tidak terima dengan sikap kekasihnya.
“Iya sayang, aku bangun. Biarkan aku mencuci wajahku dulu” Ucap Alex lalu berangjak. Melepas pelukannya untuk Efira dan berjalan menuju kamar mandi khusus disana.
...***...
“Mau sarapan dulu?” Tanya Alex pada Efira se-keluarnya dia dari kamar mandi.
Efira langsung memandang kekasihnya yang terlihat lebih segar dari sebelumnya.
“Tidak”
“Bagaimana dengan sarapan di taman? Meskipun kau tidak sakit, kau tidak seharusnya melewatkan sarapanmu” Ucap Alex. Dia membawa Efira menuju kursi roda.
“Aku tidak sakit, aku bisa berjalan. Biarkan aku membawa tiang infusku sendiri” Kekeh Efira.
“Oh tidak bisa, kau duduk saja. Biar aku yang membawa ini untukmu. Kau? Pangku saja makananmu” Ucap Alex lalu memberikan satu piring makanan yang sudah disediakan pihak rumah sakit.
“Ya ya, terserah apa katamu saja”
Kurang lebih 10 menit perjalanan dari ruang VIP milik Efira menuju ke taman rumah sakit.
Tidak ada yang istimewa. Mungkin karena masih pagi, suasana disana sedikit ramai. Banyak orang-orang yang ingin menghirup udara segar di pagi hari.
Ada anak kecil yang sedang dihibur oleh orang tuanya. Atau ada seorang wanita yang tengah dirawat oleh seorang lelaki, mungkin mereka suami istri? Ada juga orang-orang lansia dan paruh baya yang dirawat oleh anak mereka.
Itu terlihat begitu menyejukkan di pagi hari begini, menurut Efira itu akan terlihat lebih menyenangkan jika saja hal ini terjadi di taman kota bukan di taman rumah sakit. Efira bersyukur karena meskipun mereka sakit, mereka tetap mendapat kasih sayang dari orang-orang terdekat.
“Efira, buka mulutmu”
Sudah menjadi kebiasaan seorang Alexander Harrison jika menyuapi Efira.
Mengagetkan gadis itu dengan sesendok nasi yang sudah siap dilahap.
“Buka mulutmu. Aku akan segera menjelaskan apa yang kau ingin dengarkan setelah ini”
Mendengar hal itu, membuat Efira menjadi lebih bersemangat, dengan lahapnya gadis itu menerima makanan jatah sarapannya hingga tandas tidak tersisa.
“Jadi, ayo katakan” Ucap Efira setelah menghabiskan separuh botol air mineralnya.
“Tunggu sebentar”
Alex menjauhi Efira, mendekat pada sebuah pohon dengan akar gantung?
Memetik beberapa helai akarnya?
Sambil berjalan, Alex menggulung akar tersebut membentuk sebuah lingkaran.
Tentu saja Efira dibuat bingung dengan tingkah kekasihnya yang seperti itu.
“Sebenarnya ini untuk apa?” Tanya Efira.
“Untuk melamarmu?” Jawab Alex singkat, lalu lelaki itu berlutut di depan Efira.
“Efira, harusnya kemarin adalah hari pertunangan kita, aku sudah menyiapkan kejutannya untukmu tapi, sepertinya aku telat beberapa menit menjemputmu. Hingga akhirnya kau harus dibawa kemari.
Dan untuk menebus hari itu, aku Alexander Harrison, melamarmu di hadapan seluruh orang yang ada di taman ini.
Will you marry me?”
Baiklah, itu benar-benar membuat orang-orang fokus pada mereka.
“Terima”
“Terima”
“Terima”
Begitulah teriakan orang-orang disekitar mereka.
Dengan antara malu dan juga bahagia, Efira menganggukkan kepalanya, “Yes, I will” Jawab gadis itu.
Dengan senyum bahagia, Alex melingkarkan cincin akar yang dibuatnya beberapa waktu lalu pada jari manis kiri gadisnya.
Ajaibnya, cincin tersebut sangat pas di tangan Efira.
“Terimakasih” Ucap Alex lalu mengecup tangan Efira, lalu pindah mengecup pelan puncak kepala gadisnya.
“Tidak estetik sekali. Seorang pengusaha muda melamar kekasihnya menggunakan cincin dari akar pohon” Celetuk Efira, merusak suasana damai pagi itu.
Tentu saja itu membuat orang-orang disana tersenyum bahkan tertawa gemas dengan tingkah keduanya.
“A-Ah, cincin itu ada di rumah sayang. Nanti setelah pulang, aku akan menggantinya dengan yang lebih baik” Jawab Alex, menahan malu mungkin?