
“Aku datang dan kau masih belum bangun?” Ucap Efira pada Alex. Mata gadis itu sayu, menyiratkan kesedihan disana.
Sedangkan, Alex? Lelaki itu masih memejamkan mata sejak insiden beberapa hari yang lalu.
Efira selalu datang di pagi hari sebelum bekerja dan kembali di sore hari sepulang bekerja.
Awalnya gadis itu mogok kerja, beruntungnya kedua orang tua Efira berhasil memberikan pengertian.
“Kau tau? Aku merindukanmu” Efira bermonolog, tangannya menggenggam jemari sahabat laki-lakinya itu.
“Kau marah padaku atau bagaimana sampai kau tidak juga membuka mata hm?”
“Apa kau sedang cosplay menjadi pangeran tidur?”
“Apa kau sedang mimpi indah disana? Kau bertemu dengan gadis –gadis cantik? Atau gadis –gadis sexy disana?”
Efira terus berceloteh sendiri, berharap ada respon baik dari Alex atau sedikit menggerakkan jari seperti di sinetron-sinetron mungkin?
Ah, itu hanya harapan belaka.
Untuk kesekian kalinya, gadis itu menangis. Memang apalagi yang bisa dilakukan? Menguatkan hati pun percuma, Alex tetap terbaring lemah di hadapannya.
“Bukankah kau ingin mendengarnya juga dariku?” Ucap Efira.
Gadis itu teringat saat senja di pantai hari itu, kala sunset di Pantai Kuta menyapa, Alex dan Efira berpelukan disana.
Tidak, hanya Alex yang memeluk Efira dari belakang.
Grep
Alex memeluk Efira dari belakang, menelusupkan kepalanya pada perpotongan leher Efira dan membisikkan sebuah kalimat menggetarkan hati.
“Aku mencintaimu”
Gadis itu terpaku sejenak, apa itu tadi Alex yang mengatakannya?
Di hadapan samudera, di hadapan sang mentari yang mulai tenggelam dan juga di tengah hamparan pasir putih nan halus.
Cekrek
Suara hasil jepretan sudah selesai. Alex segera membawa Efira menjauh dari tempat berswa foto, menyusul kawan-kawan yang lain.
“Kau tau? Aku sangat terkejut mendengar hal itu. Aku bahagia namun, juga resah secara bersamaan. Kau tau bukan jika kita adalah teman sejak masih di dalam kandungan, apa mungkin kita bisa melakukan hubungan seperti itu hm?” Efira berkata diantara sesenggukannya.
Gadis itu meremat jari Alex pelan.
“Cepatlah bangun agar aku bisa mengatakan hal yang sama. A-Aku juga mencintaimu”
Efira menundukkan kepalanya, menangis semakin hebat disana.
“Ck, kau mengganggu tidurku”
Seketika, Efira menghentikan tangisnya, menatap pemilik suara itu dengan heran.
“K-Kau sudah bangun?” Tanya Efira, dia memegang pipi Alex, lalu hidungnya, beralih ke tangannya. Lalu memeluk lelaki itu dengan kuat.
Alexnya sudah bangun.
“Aku sudah bangun sejak semalam. Cepat ambilkan aku air” Alex berujar seolah tak memiliki dosa apapun kepada Efira.
Efira dengan sigap mengambilkan air untuk sahabatnya itu.
“Jadi, apa ini hari pertama kita?” Tanya Alex setelah meneguk airnya.
“Maksudmu?”
“Kau sudah mengatakan bahwa kau mencintaiku jadi ini adalah hari pertama kita”
What the hell?
“Kau mendengarnya?” Tanya Efira, matanya sudah ingin lepas dari tempat yang seharusnya.
“Kau pikir aku tuli? Kau menangis sesenggukan sambil terus berceloteh sejak tadi. Bagaimana aku tidak bangun hm?” Ucap Alex, berniat menggoda sahabatnya.
Ah tidak, apa sudah menjadi kekasih?
“Lalu kenapa kau tidak bangun sejak tadi? Kenapa baru membuka matamu?” Efira mengomel, matanya memandang Alex dengan kesal.
“Ya tentu saja aku ingin mendengar celotehanmu. Jika aku bangun duluan, aku pasti tidak akan mendengar pernyataan bahwa kau mencintaiku, mungkin juga kau akan menggantung perasaanku untuk bertahun-tahun ke depan” Jawab Alex tak kalah panjang.
Efira sukses dibuat memerah karena Alex lagi-lagi membahas tentang pernyataan cintanya.
Seharusnya tadi aku tidak mengatakan hal bodoh itu. Pikir Efira.
Namun, sejemang kemudian gadis itu segera menetralkan raut wajahnya.
“Cih, kalau begitu katakan bagaimana kau bisa bangun?” Ucap Efira ketus.
“Aku membuka mata, apa lagi?”
Jawaban yang benar-benar tidak bermoral.
“Ceritakan detailnya”
“Kau pikir membuka mata harus diceritakan se-detail apa?”
Coba katakan, adakah makhluk yang se-menyebalkan itu selain Alex?
“Tuan, anda harus segera menandatangani surat-surat ini”
Ada, Devan salah satunya.
Lihat, dia bahkan membawa banyak sekali dokumen-dokumen dari perusahaan.
Tolong digaris bawahi Alex baru saja sadar.
“Letakkan saja disana, nanti aku periksa” Jawab Alex, menunjuk meja yang terletak tidak jauh dari ranjang pasien.
“Lalu segeralah keluar dari sini, kau sangat mengganggu” Lanjut Alex yang segera dijawab anggukan oleh Devan, diikuti langkah kakinya yang menjauh dari ruangan Alex.
Bukannya datang untuk menjenguk, malah memberikan setumpuk pekerjaan. Apakah itu sopan pemirsa?
“Baik, sampai mana percakapan kita tadi?” Ucap Alex pada Efira.
“Ah lupakan saja. Kau sangat menyebalkan” Jawab Efira, menyedekapkan kedua lengannya di depan dada. Seolah mengisyaratkan ‘Aku kesal’.
Alex mengerti hal itu, dia pun tersenyum, menarik pelan tangan Efira untuk mendekat.
Efira hanya mengikuti saja alur yang dibuat Alex.
Malu? Tidak!
Urat malunya sudah putus sejak Alex mengatakan bahwa dia mendengar semua celotehan Efira saat menangis tadi.
Efira dibawa untuk duduk di ranjang pasien, mengahadap Alex yang berbaring dengan perban di kepalanya.
“Akan aku ceritakan”
Dinginnya malam menyapa kulit. Di sebuah ruangan VIP rumah sakit, lelaki itu menggerakkan jarinya perlahan. Indranya mulai merasa lelah menutup mata. Dia merasa terpanggil untuk segera membuka kelopak matanya.
Ayahnya sedang tidur di sofa bersama sang bunda lalu Efira?
Alex mengerutkan kening, merasa kasian dengan sahabatnya itu. gadis itu tidur di samping ranjangnya dengan posisi duduk dan kepala yang menelungkup di kasur.
Tangannya menggapai surai hitam Efira, mengelusnya perlahan, memberikan kenyamanan disana.
“Alex?”
Suara itu membuyarkan atensi Alex dari Efira. Dia menatap kepada sumber suara, itu adalah bundanya.
Alex meletakkan jari telunjuknya di bibir, mengisyaratkan untuk tidak berisik. Dia tidak ingin mengganggu tidur damai Efira.
Nyonya Harrison mendekatinya perlahan.
“Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Apa lebih baik?” Beliau berucap sangat hati-hati.
“Semua baik-baik saja, bunda”
“Bunda panggilkan dokter, tunggu dulu”
Alex mengangguk sebagai jawaban. Sedangkan sang ibunda sudah pergi keluar ruangan.
“Kau menungguku hm? Kau terlihat semakin kurus dari terakhir kita bertemu” Ucap Alex bermonolog, masih mengelus surai sahabat wanitanya.
Ceklek
Alex menolehkan kepalanya, mendapati seorang dokter dan juga bundanya di depan pintu.
“Bagaimana perasaanmu?” Tanya sang dokter.
“Hanya sedikit pusing” Jawab Alex.
Dokter itu segera memeriksa kondisi Alex, memastikan tidak ada masalah apapun dengan pasiennya itu.
Tidak lama, hanya 10 menit sebelum akhirnya dokter itu pamit pergi.
“Saya permisi” Ucap sang dokter.
Alex dan juga nyonya Harrison hanya tersenyum menanggapi dokter itu. Seolah mengatakan, ‘Terimakasih’.
“Jadi begitu ceritanya” Ucap Alex di akhir ceritanya untuk Efira.
“Lalu kenapa orang tuamu tidak mengatakannya padaku?”
“Memangnya kau bertemu dengan mereka?”
“Belum, mereka tidak ada saat aku datang”
Bisakah Efira lebih cerdas?
“Lupakan saja, kemarilah! Aku merindukanmu” Alex menggeser tempatnya, memberikan ruang untuk Efira agar bisa berbaring bersama di ranjang pasien itu.
“T-Tidak, apa-apaan saja kau ini?” Ucap Efira gugup.
“Ck, lama”
Alex menarik Efira hingga gadis itu jatuh di dalam pelukannya.
“Selamat hari pertama kita, sayang”
Seperti ribuan kupu-kupu terbang di perut Efira. Wajahnya sudah memerah.
Bukankah itu sangat manis?