
Hari-hari berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan yang berarti bagiku, termasuk ketika salah satu teman kantorku memintaku untuk menjadi pacarnya dan berhasilku tolak. Aku benar-benar masih memikirkan Wira.
Sore itu, sepulang dari kantor, aku memutuskan untuk pergi ke salah seorang psikiater. Aku benar-benar ingin tahu apakah seseorang dapat mengingat sesuatu dari kehidupan sebelumnya. Tapi, itu mustahil untuk dilakukan. Bahkan teori tentang reinkarnasi saja sebenarnya masih diragukan. Hal itu tidak berarti banyak. Tapi setidaknya aku sudah mengungkapkan kegundahanku selama ini kepada dokter itu, aku tidak peduli dia akan menganggapku aneh atau gila.
Malam itu, aku sudah bisa sedikit lebih rileks. Aku mulai menyadarinya, Wira bukanlah orang jahat. Ia tampan dan baik hati, walaupun mungkin sedikit aneh, tapi itu mungkin karena pengaruh perbedaan zaman dan kebudayaan. Aku mulai merasa Wira adalah orang pertama yang kuanggap tampan dan baik hati dalam dunia nyata selain di dalam dunia game atau anime. Aku pikir, aku telah jatuh hati padanya.
Kutatap diriku dari kaca sambil memegangi komik yang pernah aku dan Wira rebutkan di toko buku. Komik ini yang pertama, ya, pikirku. Aku terus menatap diriku di kaca sampai akhirnya aku terkejut melihat seorang gadis yang benar-benar mirip denganku dari dalam kaca. Awalnya terlihat samar-samar dan lama kelama menjadi benar-benar jelas.
“Shanvierra, jangan takut,” pinta gadis itu.
“Kamu siapa?” tanyaku penasaran.
“Aku Shia, aku adalah dirimu di masa lalu,” jawab gadis itu.
Aku terdiam sejenak, berpikir bahwa gadis ini adalah Shia yang selama ini sering Wira bicarakan. Dia memang sangat cantik. Walaupun mirip denganku, tapi ia terlihat lebih dan lebih cantik dariku. Wajar saja jika Wira sangat ingin memilikinya. Suaranya yang begitu halus dan lembut, apa mungkin bahwa Shia adalah seorang putri sungguhan? Mendadak aku mengingat kembali jika Wira pernah memanggilku dengan kata putri. Aku sungguh tak sebanding dengan gadis yang bernama Shia.
Baru saja ingin kuajukan berbagai pertanyaan tentang Wira namun bayangan Shia dalam kaca menghilang dalam sekejap mata. Aku masih ragu apa yang telah kualami tadi. Apakah itu bagian dari halusinasiku belaka atau memang kenyataan. Shia memang sangat cantik, cantik sekali. Menyadari hal itu, aku merasa bersedih jika Wira akan memilih dia daripada aku.
Ah, apa yang aku pikirkan sih? Kenapa aku harus mempermasalahkan siapa yang akan Wira pilih. Seharusnya aku tidak mempermasalahkan jika Wira kelak akan kembali dengan Shia. Toh, di masa lalu mereka juga mestinya bersama. Kenapa sih dulu mereka tidak bersama saja dan tidak melibatkanku yang ada di masa depan seperti ini? Mereka menyebalkan, ah.. salah. Mungkin harus kukatakan jika di masa lalu aku menyebalkan, sangat menyebalkan, mengapa dulu aku dan Wira tidak bersama saja.
Aku mendadak mengingat sesuatu, aku pernah memiliki teman SMA yang mampu menghipnotis seseorang dan membawa orang tersebut ke alam bawah sadarnya. Mungkin sebaiknya aku harus menemuinya.
Aku mulai mencari keberadaan temanku itu di facebook, kebetulan kami pernah berteman di facebook dan semasa SMA, kami juga lumayan dekat. Namanya Rival. Tapi dia bukanlah rivalku, melainkan temanku.
Setelah cukup lama mencari namanya, akhirnya aku menemukannya. Kenapa sih beberapa orang tidak menggunakan nama aslinya di facebook dan malah menggunakan nama yang berbeda? Untung saja aku mengenali foto profilnya dan cepat menyadarinya. Rival menyebalkan. Aku mengiriminya pesan dan mengajaknya untuk bertemu.
Sambil menunggu balasannya, aku men-scroll beberapa pesan yang pernah kuterima sebelumnya. Aku menyadari sesuatu dan aku baru mengingatnya. Di hari pertama aku bertemu Wira, aku menerima chat facebook dari orang yang tidak kukenali, namun mengapa chat-nya tidak ada di inbox-ku? Seandainya ia memblokirku, pasti tetap ada pesannya walaupun tidak bisa dibuka. Sebanyak apapun aku membolak-balik pesan masuk itu, namun aku tak menemukannya. Apakah pesan waktu itu dari Wira? Apa ya isi pesannya saat itu? Aku sedikit lupa. Ah, sudahlah. Toh juga sudah berlalu, lagipula kalau tidak salah pesan itu sedikit aneh.
Tak lama berselang, nada notifikasi pesan masuk facebook-pun berbunyi. Sebuah pesan balasan dari Rival. Ia mengiyakan untuk bertemu denganku. Aku meminta pin bbm-nya supaya kami bisa berkomunikasi lebih mudah dan saat itu juga sebuah paduan angka dan huruf yang menandakan sebagai pin bbm-nya segera kuterima di dalam pesan masuk facebook-ku.
Hari yang ditentukan untuk bertemu dengan Rivalpun tiba. Aku menceritakan apa yang telah terjadi padaku. Mungkin ceritaku terdengar sedikit aneh, tapi aku berharap Rival mempercayainya dan mau membantuku.
“Kamu mau bantu aku, kan?” tanyaku.
“Gak masalah sih,” jawab Rival.
“Jadi kapan kamu bisa bantu aku? Aku benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi,”
“Sekarang kalau mau. Kamu mau dihipnotis dimana? Disini?” tanya Rival.
“Gak, kalau di tempat kamu aja boleh, gak? Soalnya kost-ku gak boleh dimasukin cowok,” pintaku.
“Ok,” jawabnya singkat.
“Tapi selama aku dihipnotis, kamu jangan macam-macam sama aku dan jangan tanya hal yang aneh-aneh, ok,”
“Iya, iya,”
"Jani ya?"
"Iya, iya,"
Sesampainya di kontrakan Rival, kami mulai bersiap-siap untuk membawaku masuk ke alam bawah sadarku. Aku meminta Rival untuk merekamnya supaya aku dapat melihat apa yang terjadi dan memastikan keselamatanku dari Rival. Rival hanya tertawa mendengar alasan yang kuungkapkan.
"Kamu kira aku binatang buas? Padahal selama SMA juga kamu dulu biasa-biasa aja, sekarang jadi aneh gini," ujar Rival.
"Ini bukan aneh. Ini normal, untuk perlindungan," jawabku.
"Iya, iya,"
Semua dimulai dan aku kehilangan kesadaranku. Aku tak dapat mengingat apapun dan ketika Rival menyadarkanku, aku merasa kepalaku sedikit pusing. Aku bertanya kepada Rival apa yang terjadi, namun ia tak menjawab pertanyaanku dan berubah tidak seperti Rival yang sebelumnya. Ia hanya terdiam dan memberikan hp-ku yang digunakan untuk merekam kejadian itu.
“Jadi semuanya ada disini?” tanyaku penasaran.
“Sudah aku hapus,” jawab Rival singkat.
“Kenapa dihapus?” tanyaku kesal sambil mengecek rekaman video yang nyatanya memang tidak ada di hp-ku.
“Kamu bilang kamu mau tolong aku,” lirihku.
“Maaf, tapi aku benar-benar gak bisa,” jawab Rival dengan sedikit menyesal.
“Memangnya kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi sih?” tanyaku pasrah.
“Kamu nggak mesti tahu apa yang sudah terjadi di masa lalu. Sebaiknya kamu belajar untuk menjalani masa yang ada aja,” pinta Rival perlahan.
“Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kamu tidak mau memberitahuku?" keluhku.
Mendadak suasana menjadi sunyi dan senyap. Detak jam di dinding terdengar begitu jelas merajai kesunyian yang tercipta di ruangan itu. Aku merasa tidak nyaman dan mencoba mencairkan suasana menjadi seperti sebelumnya.
“Ok, aku akan belajar untuk menjalani masa yang ada, aku nggak akan bertanya apa-apa lagi dan aku gak akan marah sama kamu kalau kamu gak mau cerita,” lirihku perlahan.
“Iya Shan, terima kasih,”
“Tapi….,” sambungku.
“Tapi apa, Shan?” tanya Rival.
“Kamu beneran gak ngapa-ngapain aku di dalam tadi, kan?” tanyaku tiba-tiba.
“Hahahahahah, ngapain coba aku ngapa-ngapain kamu. Badan kamu tuh kecil kayak anak kecil. Kayaknya hanya orang pedofil yang mau sama kamu,” ejek Rival.
“Issshhhh,” lirihku kesal.
“Mau minum dulu? Aku bikinkan minum ya,”
“Boleh. Kebetulan aku juga haus banget,” jawabku.
Rival pergi ke dapur membuatkanku minum. Akupun berjalan-jalan di sekitar ruang tamu. Memperhatikan beberapa foto yang terpajang di atas meja. Aku tersenyum simpul ketika melihat fotoku terpajang disana bersama teman sekelasku semasa SMA. Dia masih menyimpan foto ini, pikirku.
Rival semasa SMA bukanlah anak yang mudah bergaul dengan lingkungannya. Dia pendiam dan lebih memilih belajar di dalam kelas ketimbang bermain bersama dengan anak-anak lain saat jam istirahat. Mungkin karena memiliki kesamaan itulah aku dan Rival mulai akrab. Kami terbiasa berada di dalam kelas bersama. Awalnya kami tidak saling menyapa hingga suatu hari ia memberanikan diri menanyaiku tentang pelajaran yang tidak bisa ia pahami. Semenjak itu kami mulai akrab dan lebih sering belajar bersama. Hanya sebatas teman belajar bersama dan tidak lebih.
Entah mengapa, aku merasa ada aroma lain yang menempel di tubuhku. Bukan seperti aroma minyak wangi yang biasa kugunakan. Namun karena kupikir aromanya juga harum, jadi tidak kupermasalahkan.
“Hei Shan, ngeliat apaan?” tanya Rival yang tiba-tiba datang sambil membawakanku minuman.
“Ini, foto-foto kamu,” jawabku singkat.
“Ini, diminum dulu,” ajak Rival.
“Kayaknya enak nih, gak kamu kasi racun, kan?” tanyaku sambil tertawa.
“Gak kok, tunggu aku jadi pedofil baru aku kasi racun,” ejeknya lagi.
Kucubit lengan Rival ketika ia telah meletakkan minuman itu di atas meja karena geram.
“Badanku gak kecil-kecil banget kok, masih cocoklah jadi member SNSD,” belaku.
“Hah? Member SNSD kayak gini? Mau aku donorkan tinggiku gak?”
Aku benar-benar geram melihat tingkah Rival. Aku berlari kearahnya dan hendak mencubitnya lagi. Namun ia sudah menyadari niatku dan segera bersiap lari. Aku mengejarnya namun tak berhasil menangkapnya.
Rival sudah banyak berubah dari dirinya yang kukenal saat masih SMA. Tapi aku menyadari bahwa perubahan yang ia alami bukanlah perubahan yang buruk. Aku senang melihatnya lebih ceria.
Saat berlari, aku melewati sebuah kamar yang dapat kutebak itu adalah kamar Rival. Sejenak kulihat kamar itu begitu rapi untuk ukuran kamar seorang laki-laki. Ada beberapa foto yang terpajang di atas meja belajarnya dan aku rasa foto itu diambil saat masa-masa kuliahnya.
“Rival, udah deh, jangan lari-lari lagi, aku capek,” ujarku.
“Nyerahkan? Iya deh, tapi jangan ngejar-ngejar aku lagi,” pinta Rival.
“Iya, iya,” jawabku.
Tiba-tiba aku merasa kepalaku sedikit pusing, entah karena efek hipnotis tadi, atau karena aku terlalu lelah berlari, atau karena akhir-akhir ini aku kurang tidur. Pandanganku terasa berkunang-kunang dan aku benar-benar tidak mampu untuk berdiri. Aku merapatkan tubuhku ke dinding dan memanggil Rival.
“Val, tolong aku,” lirihku.
“Kamu kenapa Shan? Wajah kamu pucat,” ujar Rival panik.
Aku tak mampu lagi menjawab pertanyaan Rival dan dengan sigap, ia memapah tubuhku ke tempat duduk di ruang tamu. Sekilas aku menyadari bahwa aroma di tubuhku yang tadi sempat kuhirup berasal dari Rival saat ia membawaku seperti ini. Tapi mengapa bisa menempel di tubuhku? Entahlah.
“Shan, minum tehnya dulu. Kayaknya kamu kurang tidur deh,”bujuk Rival.
Aku meminum teh itu semampuku dan segera beristirahat di kursi. Kepalaku benar-benar pusing.
“Val, maaf ya aku malah merepotkan kamu kayak gini,”lirihku.
“Gak apa-apa kok. Kamu istirahat aja dulu. Kamu mau tidur di kamarku aja kah?” tanya Rival.
“Ih, kamu itu lagi sakit. Gak usah ngeyel deh. Aku juga gak bakal apa-apain kamu, kok,” perintah Rival.
“Ayo ikut,” lanjut Rival sambil mulai mengangkat tubuhku ke kemarnya. Ia segera membaringkanku dan setelah itu keluar dari kamar itu.
“Aku belikan parasetamol bentar ya, kamu tunggu aja disitu,” perintah Rival lagi.
Aku hanya mengangguk dan segera setelahnya aku mendengar bunyi pintu yang tertutup. Rival sangat baik sekali. Aku telah merepotkannya namun ia tetap bersikap baik seperti biasa. Memikirkan Rival, kembali menimbulkan tanya dalam benakku, mengapa ia memilih diam setelah menghipnotisku? Apa yang sebenarnya ia ketahui? Kenapa ia tidak memberitahuku, apa mungkin itu adalah hal yang buruk?
Setelah kupikir-pikir, seharusnya aku tidak boleh seperti ini. Tiba-tiba saja masuk ke kamar teman laki-laki yang baru kutemui setelah sekian lama tidak berjumpa. Bukan maksudku untuk menuduh Rival yang tidak-tidak, hanya saja seharusnya aku lebih waspada. Setidaknya aku harus tetap menjaga diriku. Tapi aku tetap yakin, Rival tetaplah orang yang baik seperti dulu. Aku memutuskan untuk percaya kepadanya.
Tak lama berselang, Rival kembali dengan membawakanku obat dan segelas air minum. Ia memintaku meminumnya dan setelahnya aku beristirahat kembali. Beberapa lama kemudian, aku merasa sudah lebih baik. Akupun beranjak dari tempat tidur dan mendapati Rival tertidur di kursi ruang tamu. Kupandangi wajahnya sejenak, terlihat jelas di wajah itu masih menyimpan kekhawatiran tentang keadaanku; baru pertama kali bertemu setelah sekian lama dan langsung saja aku tidak enak badan. Maafkan aku, Rival.
Akupun membangunkannya dan meminta izin untuk pulang.
“Kamu yakin mau pulang?”
“Ya yakin lah, ngapain juga aku mesti lama-lama disini, udah hampir malam,” jawabku.
“Iya deh, aku antarin ya,”
“Iya, terima kasih lagi ya, aku minta maaf banget udah benar-benar merepotkan kamu hari ini,”
“Gak masalah kok,” ujar Rival.
Rival memboncengku dengan motornya yang sedari tadi terparkir di depan rumah. Saat motornya mulai melaju di jalan, dapat kurasakan sejuknya angin sore ini. Aku masih tidak menyangka dapat bertemu dengannya lagi.
“Pegangan yang erat, Shan,” ujar Rival sambil sesekali menoleh ke arahku.
“Pegangan ya? Eh iya,” jawabku gugup sendiri. Entah mengapa seketika detak jantungku semakin berdetak kencang tak karuan. Hah, aku grogi, pikirku konyol.
“Jarang dibonceng pake motor, ya?” tanya Rival.
“Iya, jarang. Biasanya kalo kemana-mana juga pake angkutan umum,” jawabku.
“Mau muter-muter bentar, gak? Eh jangan deh, kamunya lagi sakit,”
“Haaaa.. iya, lain kali saja,”
Apa yang sedang aku pikirkan sih? Hampir saja aku merasa senang ketika Rival mengajakku untuk jalan-jalan sebentar. Andai saja hari ini kondisi badanku bisa diajak bekerja sama.
Rivalpun mengantarkanku sampai ke depan pintu kost-ku. Aku mengucapkan terima kasih kepadanya dan setelah itu ia pamit pulang. Aku segera beranjak ke tempat tidurku setelah mencuci kaki dan tanganku. Ah.. hari ini aku senang sekali, pikirku.
Biarkan aku tidur dengan nyenyak. Aku masih terlalu bahagia untuk mengalami hal-hal yang bisa membuatku bingung.
“Wira tunggu aku,” ujar seorang gadis kecil yang berusaha mengejar seorang anak laki-laki di depannya.
“Ayo Shia, tangkap aku kalau bisa. Kamu harus kuat,” balas laki-laki itu.
“Iya Wira, “
“Kamu tuan putri yang benar-benar sangat cantik,”
….
Aku terbangun segera setelah mengalami mimpi itu. Aku benar-benar yakin, kali ini aku dapat mengingat semuanya dengan jelas. Ada Wira dan Shia di dalam mimpiku. “Mereka telah bersama sejak kecil, ya?” pikirku. Mereka benar-benar terlihat bahagia. Aku merasa sedikit iri mengetahui hal itu. Lucu sekali, aku merasa cemburu hanya karena mimpi seperti itu, cemburu pada orang yang tidak jelas asal usulnya, dan cemburu pada diriku sendiri di masa lalu.
Hari ini hari Minggu, aku memutuskan untuk bermain ke tempat teman kuliahku dulu, siapa lagi kalau bukan Nini. Ia masih menetap di kota ini dan belum kembali ke kampung halamannya setelah wisuda denganku beberapa bulan yang lalu. Ia diterima mengajar di salah satu sekolah swasta yang cukup terkenal di kota ini.
Sejujurnya, aku benar-benar ingin menceritakan semuanya pada Nini, sayangnya aku tak memiliki kalimat yang tepat untuk memulai cerita ini. Entah harus dari mana menceritakannya. Semuanya terasa tidak masuk akal. Nini, maafkan aku karena menyembunyikan salah satu hal yang penting darimu.
Aku memasuki kamarnya setelah sekian lama tidak pernah mengunjunginya lagi. Kamarnya terlihat lebih rapi karena sebagian besar faktor yang menyebabkan kamarnya berantakan dulu adalah kertas-kertas skripsi dan bimbingan sudah lenyap.
“Tumben kamarmu rapi,” ejekku sebagai salam pembuka.
“Hahahahahha…” jawab Nini dengan tawa khasnya.
“Lagi ngapain?” tanyaku saat melihat Nini mengutak-atik laptopnya.
“Ini si Valen bikin hal. Masa file skripsinya cuma disimpan di dalam flash disk. Flash disknya bermasalah sekarang. Jadi data-datanya hilang semua,”
“Trus gimanalah?”
“Ini aku lagi mau balikin filenya yang hilang,”
“Gimana caranya?” tanyaku penasaran.
“Ini nih, ada aplikasinya. Cari aja, trus download, sini aku ajarin cara menggunakannya,” terang Nini sambil menunjukkan caranya.
Tak lama berselang, data-data yang tadinya hilang di flash disk itupun kembali. Gak sia-sia aku main ke sini, ada hal yang bisa di pelajari.
“Tapi gak semua data bisa dikembalikan loh, ada yang gak bisa soalnya,” ujar Nini.
“Nantilah aku coba di rumah,”
Mendadak aku terpikir dengan rekaman yang dihapus Rival di hp-ku. Aku berencana untuk mengembalikan data itu sepulang dari kost Nini.
“Valen masih betah di kampus kayaknya,” ujarku perlahan.
“Iya, sayang sekali dia sama kampus itu, pantas aja dia jomblo. Cintanya sama kampus, hahahahahha,” ledek Nini.
Nini ini, seandainya dia tahu kalau Valen ternyata menyukainya, bagaimana yang kelanjutan cerita mereka. Aku sama sekali tidak berniat untuk memberitahu Nini, aku berharap suatu hari nanti, Valen yang akan mengatakannya secara langsung.
“Nini, aku galauuuuuu,”
“Ngapa lagi, Shan? Geri buat hal lagi kah?”
“Gak kok, aku gak pernah ketemu dia lagi semenjak kejadian di danau. Udah deh, gak usah bahas dia dulu. Yang penting, sekarang aku galauuuu,”
“Trus galau kenapa?”
“Kayaknya aku suka sama seseorang dan saat aku mulai sadar kalau aku suka dia, aku langsung patah hati. Soalnya dia suka sama cewek yang lebih cantik dari aku,” ceritaku. Duh, aku ngomong apa sih? Maksudnya, aku suka Wira, gitu? Mulutku keceplosan. Aaarggghhh….
“Kasian… eh apaaa???? Kamu bisa suka sama orang? Hebat… Hebat. Kejarlah cowok itu, jangan mau kalah saing. Bila perlu, pelet dia. Hahahahahah,”
“Ih, apaan sih main pelet-peletan,”
“Jarang-jarang loh Shan kamu bisa suka sama orang. Kejadian langka. Btw sejak kapan?”
“Baru-baru ini aku baru sadar kalau aku suka dia, ah, patah hati itu menyakitkan ya,” rengekku.
“Siapa sih orangnya? Hebat ya dia bisa bikin es batu meleleh,”
“Hebat ya? Siapa ya…. Rahasia. Pokoknya dia bukan teman-teman kita,” jawabku.
“Ah Shanvi… masa kamu gak mau kasi tau aku?”
“Belum saatnya, hahahahhah..”
“Iya deh, ntar kasi tau ya,”
“Oke deh…”
“Oh, iya Shan, aku mau cerita, seram loh ceritanya,” ujar Nini tiba-tiba.
“Apaan?” tanyaku.
“Kemarin malam, aku sama Susi kan nemani Indah nyusun skripsi di rumahnya yang baru. Malam ini kami ribut-ribut di kamarnya sampai jam 12an malam. Trus pas kami mau tidur, sepanjang malam ada bunyi ketukan di atas dek kamar Indah, nyaring banget Shan. Kami ketakutan, jadi udah hampir jam 2 subuh kami berencana pindah ke kamar lain. Trus pas kami baru aja keluar dari kamar itu, bunyinya lalu hilang,”
“Lalu?” tanyaku mulai penasaran.
“Lalu kami pindah ke kamar lain, dan begitu kami baru saja masuk ke kamar lain, semua lampu di rumah Indah malah padam. Padahal gak ada yang konslet dan lampu di rumah tetangga gak ada yang padam. Paginya sekitar jam 6 barulah semua lampunya hidup lagi. Serammmm aaa Shan. Cobalah kamu nginap di sana kapan-kapan,” bujuk Nini.
“Ogah, ngapain coba, heheheh,”
“Uji nyali. Siapa tahu kamu diganggu juga,”
“Jelas-jelas nggak mau deh, ntar aku malah nggak berani tidur di kamar kost sendirian,”
Setelah membahas hal itu entah mengapa kami malah membicarakan tentang Indah. Hal yang paling kuingat tentang temanku yang satu ini adalah kejadian ketika ia kesurupan saat kami mengikuti kegiatan pembinaan di kampus. Lucu sih kalau dipikir-pikir, tapi seram juga.
Jika membicarakan masalah kampus dan hal horror, aku jadi teringat tentang kampusku. Ada beberapa mitos seram di sana yang diceritakan dari tiap angkatan ke angkatan bawahnya. Namun, walaupun alur ceritanya masuk akal, aku tidak percaya karena aku telah melakukan observasi dan eksperimen tentang mitos itu.
Hal pertama: Tidak boleh menyebutkan nama “Anita” di ruangan 6 dan di salah satu WC wanita disana, karena kabarnya ia bunuh diri di WC itu dan ruangan 6 bersebelahan dengan WC tersebut. Jadi, aku mencoba melakukan hal itu saat siang dan malam hari, namun tidak terjadi apapun. Akupun melakukan penyelidikan tentang mahasiswi yang dikabarkan bunuh diri di kampus. Namun, cerita tersebut hanya hoax sebab tidak pernah ada mahasiswi yang melakukan bunuh diri di kampus ini.
Hal kedua: Menurut cerita temanku yang bisa melihat hal gaib, ada sesosok tuyul di dekat WC laki-laki yang mengarah ke lab. Entah penuturan temanku ini benar atau tidak, tapi aku merasa tidak pernah mendengar cerita tentang mahasiswa yang kehilangan uang atau barang di kampus ini. Adapun uang yang hilang paling-paling uang yang ada di kantin jujur. Kantin jujur itu tidak ada penjaganya dan hanya ada barang dagangan dan tempat pembayarannya. Jadi ketika kita hendak membeli jajanan disana, kita harus menuliskan barang apa yang kita beli dan membayarnya sesuai dengan harga yang tertera. Aku dan Novi pernah sekali secara tidak sengaja memergoki seseorang yang mengambil jajanan secara gratisan dan lebih parahnya lagi mengambil uang disana. Hanya saja, kami memutuskan untuk berdiam diri saja dan tidak terlibat dengan masalah itu. Bukan maksud kami untuk tidak peduli, tetapi setiap hal punya batasannya masing-masing. Setidaknya, itu yang kami pikirkan saat itu. Jika ia masih punya hati, maka ia tidak akan melakukan kesalahannya lagi setelah kami pergoki, tetapi jika ia masih saja melakukannya di lain hari, tentu itu akan menjadi urusan pribadinya dengan Tuhan.