
Sepulangnya dari rumah Alex, Efira kembali ke gudang, mencari informasi lebih disana. Seperti biasa, ketika semua orang sudah melalui alam mimpinya. Berharap orang tuanya tidak begitu peka dengan keadaan, minimal tidak membereskan seluruh isi gudang.
Ceklek
“Harapanku terlalu tinggi. Mereka sudah membersihkannya” Gumam Efira saat melihat bagaimana bersihnya gudang itu.
Tapi, itu tidak mengurungkan niatnya. Gadis itu tetap masuk mencari beberapa hal yang mungkin bisa ia temukan.
1 menit
2 menit
3 menit
Hingga 1 jam mencari, tetap tidak ada tanda-tanda Efira menemukan apapun.
“Hm, apa benar-benar sudah sebersih itu?” Gumam gadis itu setelah sekian lama. Dia berkacak pinggang, menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Hey, apa itu?”
Efira melihat sebuah pintu yang menempel pada dinding, itu tertutup oleh almari.
Ceklek
“Wow”
Efira tercengang dengan pemandangan di dalamnya. Sebuah ruangan sempit?
“Selama 21 tahun aku hidup, aku baru tau disini ada tempat begini” Ucap Efira. Lagi-lagi dibuat bingung dengan hal-hal mengejutkan di rumahnya.
Gadis itu masuk ke dalamnya. Ada banyak sekali berkas-berkas yang di susun pada rak-rak disana tapi, bukan itu yang menjadi atensinya. Efira lebih tertarik dengan sebuah kotak berwarna gold yang berada di sebuah rak paling bawah.
Efira melangkahkan kakinya kesana, mengambil kotak tersebut dan membukanya.
Deg
Kejutan apa lagi kali ini?
Satu set baju dan sepasang sepatu bayi. Dibawahnya ada sebuah album foto berwarna hitam dengan aksen gold, terdapat nama seseorang itu diatasnya. Sama persis dengan album foto milik Efira, hanya saja nama album gadis itu bertuliskan namanya.
Dibukanya album tersebut. Isi yang sama, perkembangan seorang bayi.
Hingga hanya ada pada sampai di tahun pertama seseorang tersebut.
“Dimana lagi kelanjutannya?”
Efira menutup album tersebut, mencari lagi sesuatu yang ada di dalam kotak tersebut.
Sebuah kertas?
“Berkas penting lagi ya?”
Surat kematian.
Surat tersebut ternyata adalah surat kematian seseorang tersebut.
“Itu artinya, kira-kira dia meninggal di usianya yang masih satu tahun”
Efira melanjutkan kegiatan membacanya, mencari tau alasan dibalik meinggalnya seseorang tersebut.
“Kecelakaan mobil?”
Dia terus membuka kotak tersebut, mencari apapun yang bisa menjadi titik terang dari masalah ini.
Tidak butuh waktu yang lama, Efira membereskan semuanya.
“Satu kotak ini saja sudah sangat cukup untukku” Gumam gadis itu, membawa kotak berwarna gold itu ke kamarnya.
...***...
“Kau datang lebih pagi, sudah sarapan?” Tanya Efira pada kekasihnya.
“Sudah. Kau bisa sarapan dulu, aku akan menunggumu” Ucap Alex.
Lelaki itu sudah berada di ruang tamu kediaman keluarga Javonte, ditemani tuan Javonte.
“Aku akan sarapan di mobil. Tunggu sebentar, aku mengambil rotiku dulu” Ucap Efira terburu-buru.
“Hey, kau bisa sarapan di rumah” Alex mengingatkan gadisnya untuk lebih santai. Karena jam kerja pun masih jauh.
“Tidak. Jangan banyak bicara, siapkan saja jasmu dengan baik lalu mari berangkat” Teriak Efira, gadis itu lari tunggang langgang menuju ruang makan, mengambil sebuah kotak makan dan menyiapkan dua porsi roti selai, jangan lupa dua kotak susu rasa coklat dan strawberry.
“Kekasihmu itu sebenarnya anak siapa?” Tanya tuan Javonte melihat tingkah putrinya.
“Sebenarnya putrimu itu menuruni sikap siapa?” Tanya Alex membalikkan keadaan.
Mereka tertawa bersama disana, sudah seperti anak dan ayah. Sangat akrab dan sangat tidak canggung. Terasa nyaman saat berbincang satu sama lain.
“Ayo berangkat” Ucap Efira, menarik pelan kekasihnya untuk berdiri.
“Ayah, Efira berangkat” Pamit Efira pada ayahnya.
“Hati-hati” Ucap sang ayah.
“Aku tidak melihat Devan bersamamu akhir-akhir ini. Dia sudah menyetir mobilmu ya?” Tanya Efira saat masih di pekarangan rumahnya.
Alex tersenyum kecut, bisa-bisanya gadis itu menanyakan keberadaan lelaki lain saat bersama kekasihnya.
“Dia langsung ke kantor, aku yang memintanya” Balas Alex, membukakan pintu untuk Efira bak putri raja.
“Ah, begitu” Ucap Efira.
“Hm” Gumam Alex.
Lelaki itu mulai melajukan mobilnya, keluar dari pekarangan rumah kekasihnya.
Lama terdiam, Efira sibuk dengan ponselnya dan Alex sibuk menyetir. Sebenarnya Alex merasa kesal diabaikan oleh Efira, memangnya ada apa di ponselnya itu ha?
“Kau tidak akan kenyang dengan bermain ponsel, bisa-bisa jadinya kau sarapan di kantor nanti. Memangnya apa yang penting disana?” Ucap Alex tanpa menoleh pada Efira.
“Oh iya, aku hampir melupakan sarapanku”
Efira membuka kotak makannya mengeluarkan roti selai strawberrynya lalu menyodorkannya di depan mulut Alex, “Buka mulutmu” Ucap Efira.
“Apa ini?” Tanya Alex bingung. Bukankah yang seharusnya makan adalah Efira? Kenapa roti itu malah sampai di depan mulutnya?
“Roti” Jawab Efira singkat.
“Aku tau kau berbohong bahwa kau sudah sarapan. Ayo cepat buka mullutmu, tanganku pegal sekali rasanya” Lanjut gadis itu.
Soal tangannya yang pegal, itu berbohong. Sebenarnya itu hanya agar Alex segera membuka mulutnya.
Benar saja, lelaki itu langsung melahap satu gigit roti isi. Setelah itu, Efira yang menyantap roti isi selai coklat miliknya. Begitu seterusnya, Efira menyuapi kekasihnya yang sedang menyetir sambil dirinya sendiri memakan sarapannya.
Pagi yang lebih romantis mana dibanding mereka?
“Ke kantormu dulu, aku menemukan banyak sekali bukti semalam” Ucap Efira setelah mereka berhasil menghabiskan sarapan beserta susu yang dibawa Efira tadi.
“Apa sangat penting?” Tanya Alex.
“Tentu saja, apa kau sibuk?” Tanya Efira memastikan bahwa pagi ini kekasihnya tidak ada pekerjaan mendesak.
“Tidak ada, kita langsung ke kantor. Aku juga jadi penasaran dengan apa yang kau temukan” Ucap Alex, membawa mobilnya ke arah Harrison Company.
“Hati-hati saja, berkasnya tidak akan lari” Ucap Efira saat menyadari bahwa kekasihnya melajukan mobilnya sedikit cepat dari saat awal mereka berjalan tadi.
“Maafkan aku, mungkin aku terlalu antusias” Jawab Alex, menormalkan kembali laju mobilnya. Tangannya memang tidak bisa diam, lelaki itu malah mengusap pelan tangan Efira sembari menyetri. Mencari ketenangan dari tangan kekasihmu, dude?