
“Aku akan mengadakan ulang acara pertunangan kita” Ucap Alex pada Efira.
Saat ini, mereka sudah berada di perjalanan menuju rumah keluarga Javonte. Tuan dan nyonya Javonte tidak lupa kedua orang tua Alex tentu saja sudah menunggu kedatangan putri kesayangan mereka.
“Tidak perlu, tadi saja sudah cukup” Jawab Efira, menanggapi ucapan kekasihnya.
“Jika aku memaksa bagaimana? Apa kau tidak ingin punya kenangan di moment manis kita?” Ucap Alex.
“Apa menurutmu itu penting? Seharusnya tadi saja sudah cukup, tidak perlu mengadakan acara mewah-mewah, yang se-sederhana tadi saja sudah cukup dan membuatku sangat bahagia” Sahut Efira, gadis itu hanya tidak ingin kekasihnya menghamburkan uang lagi demi mengikuti keinginan gila lelaki itu sendiri.
“Itu sangat penting Efira, aku ingin setiap moment berharga di dalam hubungan kita selalu diabadikan. Menurutmu itu untuk apa? Tentu saja untuk cerita kita nanti di masa tua. Bukankah begitu wanitaku?” Ucap Alex menjelaskan maksud dan tujuannya.
Mau berdebat seperti apapun, Efira tetap tidak akan menang kali ini. Apapun itu, hari ini Efira baru saja pulang dari rumah sakit dan sudah diajak membicarakan hal seperti ini?
“Baiklah, terserah padamu saja. Bicarakan ini pada ayah saja, aku akan mengikuti perkataannya” Sahut Efira.
“Hei, memangnya yang mau tunangan aku dan kau atau aku dan juga ayahmu?” Sarkas Alex.
“Apa kau ingin aku kembali ke rumah sakit?” Tanya Efira, mulai pusing dengan kekasihnya.
“Tentu saja tidak mau, kau ini bicara apa hm?”
“Kau tau? Aku mulai pusing berdebat seperti ini denganmu. Aku sudah katakan bukan, bicarakan saja dengan ayah, lalu ayah pasti akan menyampaikannya padaku tanpa harus berdebat seperti ini. Itu terdengar lebih baik, mengingat aku juga baru saja melepas infusku. Apa kau tidak memikirkan hal ini?” Celoteh Efira panjang lebar, mencoba memberikan pengertian kepada kekasihnya.
Alex seketika terdiam, apa yang dikatakan kekasihnya sangat benar. Dirinya jadi merasa bersalah.
“Baiklah, aku akan membicarakan ini dengan ayahmu nanti, maafkan aku sayang” Ucap Alex, mengelus pelan punggung tangan Efira, menyalurkan ketenangan disana.
“Hm, aku akan memaafkanmu jika kau membelikan aku coklat di supermarket terdekat” Ucap Efira, ada udang dibalik batu boleh bukan?
Alex langsung mengecup pelan punggung tangan kekasihnya, gemas sendiri dengan gadisnya itu.
“Perintah akan segera dilaksanakan tuan putri” Jawab Alex.
Lelaki itu segera mencari supermarket terdekat untuk memenuhi keinginan wanitanya, baginya kebahagiaan Efira sudah terletak diatas kebahagiannya. Apapun yang Efira inginkan, harus diwujudkan sekalipun hal-hal sederhana seperti ini.
“Terimakasih” Gumam Efira, menatap lelakinya dengan sarat penuh makna.
“Tidak perlu begitu, aku melakukannya untukmu. Sudah menjadi kewajibanku untuk membuatmu bahagia”
Itu terdengar seperti anak muda yang sedang dimabuk cinta di telinga Efira.
“Kau seperti anak SMA yang baru jatuh cinta” Goda Efira.
“Sayaaaang” Rengek Alex, tidak terima dengan godaan kekasihnya. Memangnya apa salahnya mengatakan hal manis seperti itu?
“Aku akan mengatakan bahwa kalimat itu manis jika seorang suami mengatakannya kepada istrinya tapi, kita? Hahahaha”
Efira tertawa geli, tidak habis pikir bahwa kekasihnya bisa mengatakan hal seperti itu.
“Apa itu sebuah kode agar aku segera menikahimu?” Goda Alex.
Cep
Efira langsung terdiam, menghentikan tawanya sepersekian detik setelah Alex mengatakannya.
Sialan, Efira lagi-lagi terdiam. Gadis itu sangat malu. Membodohi diri sendiri karena sudah mengeluarkan kalimat itu tadi, kenapa tidak terpikirkan bahwa Alex akan menangkap sejauh itu?
“Ah tidak perlu malu sayang, bukan begitu yang kau inginkan hm?” Kali ini Alex lagi-lagi menggodanya.
“Itu tidak benar, cepat carikan aku coklat. Aku sangat menginginkan coklat itu” Efira langsung mengalihkan pembicaraan saat matanya menangkap supermarket di depan sana.
“Sayang, kau benar-benar tidak asik” Ucap Alex lalu menepikan mobilnya.
...***...
“Aku pulang” Ucap Efira saat sudah menginjakkan kakinya di kediamannya.
“Efira?”
Nyonya Javonte segera menghampiri putrinya, menuntun gadis itu hingga duduk di sofa bersama yang lainnya.
“Bagaimana perasaanmu?” Tanya nyonya Harrison.
“Aku baik-baik saja, bunda. Kalian tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku” Jawab Efira.
Gadis itu sangat sopan bukan?
“Terimakasih sudah menemaniku kemarin, terimakasih kalian sudah selalu mendukungku” Lanjut gadis itu.
“Hey, apa yang kau katakan? Kita ini sudah seperti keluarga bukan? Maka, tidak perlu berterimakasih hingga seperti ini”
Nyonya Harrison mengelus puncak kepala Efira penuh sayang, pada nyatanya memang Efira sudah dianggap seperti putrinya sendiri sejak kecil. Ditambah lagi dengan Efira yang saat ini akan segera menapaki jenjang lebih serius dengan putranya.
“Dia merasa lebih baik karena ini” Sahut Alex, membawa jajanan Efira yang tidak lain dan tidak bukan adalah jajanan-jajanan manis yang tadi diambilnya di supermarket tadi.
“Hei, apa itu?” Tanya nyonya Javonte.
“Ini adalah jajanan manis yang ia pilih di supermarket bunda, anakmu ini membodohiku dengan meminta coklat dan keluar membawa banyak jajanan yang lain” Ucap Alex, terdengar seperti rengekan seorang anak yang mengadu pada ibunya.
“Dia memang licik seperti ayahnya” Ucap nyonya Javonte.
“Bundaaaa, dia sendiri yang mengatakan, ‘Pilih saja apa yang kau mau’ lalu kenapa sekarang aku yang salah?” Ucap Efira, tidak terima dengan sang ibunda yang terlihat lebih memihak kekasihnya.
“Tapi, tidak dengan begitu banyak jajanan Efira. Lihat, bagaimana kau akan menghabiskan tiga kantong jajanan itu hm?” Sahut nyonya Javonte.
“Efira pasti akan menghabiskannya secara berkala, bunda tenang saja”
Cup
Setelah mengatakan kalimat itu, Efira langsung mengecup pipi bundanya.
“Sudahlah, jangan mendebatkan hal kecil begini. Efira, kau langsung saja istirahat. Jaga kesehatanmu okey?” Ucap nyonya Harrison.
Efira hanya mengangguk sambil tersenyum, gadis itu langsung dibawa ke kamarnya dengan nyonya Jvaonte. Sedangkan jajanannya tadi sudah dibawa oleh Bi Inah untuk disimpan di lemari khusus camilan.
“Jika bunda Javonte sudah turun, aku ingin membicarakan pertunanganku dengan Efira” Ucap Alex kepada kedua orang tuanya dan juga tuan Javonte.
Mereka mengangguk bersama, setuju untuk menunggu nyonya Javonte turun dulu setelah menemani Efira hingga terlelap.