
Acara resepsi diadakan pukul dua siang hingga malam nanti menyapa.
45 menit sebelum acara dimulai, sudah ada beberapa hiburan yang tersedia. Seperti, Bella dan Gio yang berduet di panggung hingga Deva yang malah memilih ambyar menyanyikan lagu milik Denny Caknan.
Tamu undangan pun terlihat sudah banyak yang hadir, entah itu rekan bisnis Alex maupun Efira. Tidak lupa dengan Elena dan Frans yang juga terlihat menghadiri acara tersebut.
“How are you Frans?” Tanya Bella pada Frans.
“Fine, you look so damn beautiful today” Jawab Frans.
“Elena? How about you? Long time no see” Tanya Aulia, alih-alih salaman, mereka malah cipika-cipiki.
“Feel so great, Aulia”
“Kalian menjadi bridesmaid dan groosman?” Tanya Frans pada mereka semua.
Bella and the geng memang sedang berkumpul bersama. Mereka sebenarnya akan bersiap sebentar lagi untuk acara pembukaan, berhubung melihat Frans dan Elena, mereka memilih menyapa keduanya terlebih dahulu.
“Ya, kami akan bersiap sebentar lagi untuk acara pembukaan” Jawab Deva penuh semangat.
“Apa kau juga akan menyusul? Bukankah dulu kau yang akan menikah?” Tanya Frans, aksen bahasanya memang tidak begitu baik tapi, terdengar cukup lancar.
“Kau banyak belajar rupanya. Perihal pernikahanku, aku dan dia seperti lingkaran dan segitiga yang mencoba menjadi segitiga, kami tidak cocok pada proses itu” Jawab Deva masih dengan senyumnya yang mengembang. Meskipun tidak tau bagaimana hatinya menjerit saat ini.
“Ehm, sorry. Sudah waktunya, ayo kita bersiap” Ucap Gio menyela, sengaja agar suasana tidak berubah menjadi lebih mengerikan nanti. Menurutnya, ini bukanlah waktu yang tepat.
Bella and the geng akhirnya berpamitan menuju ruang sebelah, melakukan breefing dengan MC dan orang-orang lain yang ikut berpartisipasi di acara resepsi.
Tepat pukul dua siang, MC menaiki panggung kecil yang disediakan di sebelah pelaminan.
MC membuka acara dengan ucapan selamat, terimakasih dan juga beberapa hal lumrah lain yang biasa dilakukan.
Dilanjut dengan kirab pengantin. Rombongan keluarga inti, diiring bridesmaid lalu disusul dengan Efira dan alex yang terlihat begitu serasi berjalan beriringan menuju pelaminan. Senyum merekah menghiasi wajah keduanya.
“Woah, mereka terlihat begitu serasi”
“Gemas sekali, kenapa mereka bisa terlihat begitu sempurna?”
“Pasti mereka tidak pernah canggung dalam hubungannya”
“Teman masa kecilku adalah jodohku”
Begitulah bisik-bisik para tamu disertai dengan tepuk tangannya yang meriah.
Dilanjut dengan sambutan dari tuan Javonte dan juga tuan Harrison.
“…Selamat menikmati acara hari ini” Ucap tuan Harrison sebagai penutup keformalan. Para tamu dipersilahkan untuk menyantap hidangan dan memberikan selamat kepada kedua mempelai.
Saat sedang bersantai, tiba-tiba seluruh lampu di ruangan itu padam.
Alex dengan cekatan menarik Efira mendekat.
Instingnya merasa aneh, tidak mungkin mati listrik disaat semua persiapan sudah dilakukan dengan matang.
“Sialan” Gumam Alex lalu membawa Efira menjauh dari ruang utama, hanya berbekal senter dari ponsel, lelaki itu fokus dengan jalan, mencoba membawa gadisnya menuju tempat yang aman.
“Cris, selamatkan para tamu dan juga orang tuaku dan Efira” Ucap Alex pada ponselnya. Dia memiliki akses untuk bisa berkomunikasi dengan Cris.
Efira ketakutan, dia takut gelap tapi semua ruangan terlihat gelap.
“A-Alex? Apa yang terjadi?” Bisik Efira terbata-bata, rasanya seluruh oksigennya tersedot oleh kegelapan.
“Tenanglah, aku ada disini untukmu. Kita cari jalan keluarnya” Jawab Alex menenangkan istrinya?
Lelaki itu membawa Efira menuju sebuah ruangan, dia membuka pintu pada lantai yang ternyata menuju pada sebuah tangga bawah tanah?
“Turunlah lebih dulu”
“A-Aku takut” Jawab Efira.
“Tolong, menurutlah. Ini darurat, aku akan ada di atasmu” Ucap Alex.
Dengan gaun pengantin yang masih ia gunakan, Efira mencoba turun perlahan, meskipun sulit tapi dia harus cepat, khawatir terjadi apa-apa dengan Alex yang ada di atasnya jika dirinya tidak segera turun.
Dor
Dor
Dor
Suara tembakan terdengar nyaring di luar sana.
Setelah berhasil menutup pintunya tanpa celah, Alex segera menyusul wanitanya, membawa Efira sedikit lebih cepat melewati lorong panjang dan diakhiri dengan sebuah lapangan bawah tanah?
Satu helikopter sudah menanti di lapangan tersebut.
Efira sedikit tercengang, apa-apaan? Helikopter dibawah tanah?
“Naiklah, aku akan membawamu untuk lebih aman” Ucap Alex, membawa Efira memasuki kabin helikopter itu.
“Ayo jalan” Ucap Alex pada sang pilot.
Pilot tersebut tidak segera menjalankan helikopternya.
“Hey, aku bilang jalan!” Ucap Alex.
Lagi-lagi pilot itu hanya diam tidak berkutik.
Hingga pada hitungan ke 5 detik, dia menoleh.
“Surprise!!!”
“Sialan”
Dor
Dor
Dor