The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Menghindari Masalah



Wu Yi Feng menyerang keduanya dengan dua jurus tapak beruntun, membuat mereka berdua terdorong kebelakang dengan keras hingga menghancurkan bangku dan meja yang ada disana.


"Aku harap kejadian hari ini bisa kalian jadikan sebagai pelajaran..!!" Wu Yi Feng berdiri lalu memberikan tiga keping emas kepada pelayan sebagai kompensasi kerusakan, Wu Yi Feng kemudian keluar dari kedai dan hendak melajukan kudanya ketika seorang pria paruh baya menghentikan langkahnya.


"Tuan muda, sebenarnya apa yang diperbuat kedua muridku hingga kau menghajar mereka sampai babak belur??" Ucap pria paruh baya yang ternyata adalah guru dari dua pendekar muda yang ada di dalam kedai.


Karena ingin menghormati pria paruh baya tersebut, Wu Yi Feng turun dari kudanya dan hendak menjelaskan ketika dua orang pendekar muda itu keluar dari kedai dan berseru, "Guru tolong kami, ia sudah menghajar kami tanpa alasan.."


"Menghajar kalian tanpa alasan..??" Dahi Wu Yi Feng bahkan sampai berkerut karena kesulitan mencerna ucapan kedua pendekar muda di hadapannya.


"Guru berhati - hatilah.. Dia sangat licik..." Tukas satunya.


"Kalian berdua begitu nakal, tidak mengukur kemampuan sendiri malah mencari masalah..!!!" Seru pria paruh baya tersebut sambil memukul mukul kepala kedua muridnya.


"Ampun guru, kami hanya mencoba bertanya baik - baik, tapi dia malah menyerang kami.."


"Tuan, aku tidak akan membela diri.. Tapi pemilik kedai ini bisa menjadi saksi, silahkan anda bertanya kepada beliau.." Wu Yi Feng kembali menaiki kudanya dan berpamitan, ia merasa tidak ada gunanya menjelaskan panjang lebar.


"Maafkan atas kelancangan murid - muridku, silahkan anda lanjutkan perjalanan.." Pria paruh baya itu memberikan hormatnya dan mempersilahkan Wu Yi Feng untuk pergi, sementara itu pemilik kedai keluar dan mulai bercerita.


"Kalian berdua telah mencoreng mukaku, untung saja pemuda itu hanya mendorong kalian.. Jika ia serius maka kepala kalian sudah pasti hilang dari badan.." Ucap pria paruh baya sambil menatap tajam kepada kedua muridnya.


"Maafkan kami guru.. Tapi apa benar dia sekuat itu guru? Bukankah usianya hampir sama dengan kami??"


"Usianya memang hampir sama dengan kalian, tapi kemampuannya jauh diatas kalian.. Bahkan aku sendiri tidak bisa menakar sekuat apa dia.." Seru pria paruh baya tersebut sambil memainkan jenggot hitamnya yang mulai tumbuh memanjang.


Siang itu matahari bersinar begitu teriknya hingga membuat para penduduk memilih untuk berteduh di kedai - kedai daripada harus melanjutkan perjalanan, begitu juga dengan Wu Yi Feng yang merasa gerah. Kota angin selatan dan sekitarnya memang sedang mengalami musim kemarau beberapa bulan belakangan, hal itu juga lah yang membuat sawah dan ladang mereka mengalami gagal panen.


Wu Yi Feng bisa mendengar kasak kusuk diantara para penduduk kota yang intinya mereka merasa bahwa musim kemarau tahun ini disebabkan oleh salah satu keluarga yang melanggar norma leluhur.


"Mereka harus bertanggung jawab, jika begini terus maka tak lama lagi kota ini akan ditinggalkan.."


"Benar.."


"Mari kita melapor kepada walikota.."


"Iya.. Ayoo..."


Wu Yi Feng yang merasa bahwa semua itu bukanlah urusannya hanya mendengarkan saja tanpa mau berkomentar, pemuda itu memang sebisa mungkin menghindari masalah yang tidak perlu.


Mereka ( warga yang berunjuk rasa ) meminta walikota untuk menyelidiki sebuah keluarga yang cukup terpandang di kota angin utara, tentu saja hal tersebut cukup beresiko apalagi keluarga tersebut merupakan salah satu yang terkaya dan terpandang.


"Aku harap kalian bisa membubarkan diri secara tertib, masalah ini pasti akan kami selidiki secepatnya.." Ujar salah satu jubir walikota.


"Kami tidak akan membubarkan diri sebelum ada kepastian..!!!" Seru salah seorang pengunjuk rasa.


"Benar.."


"Tanaman kami mati, panen gagal dan saat ini warga sudah kesulitan mencari air bersih..." Pungkas yang lainnya.


Wu Yi Feng mendengar semua tuntutan warga dari sebuah bangku kecil yang berada tak jauh dari kantor walikota, pemuda itu menyeruput air minumya dengan santai sambil mencari informasi yang bisa digali.


"Nampaknya situasi di kota ini sedang tidak baik - baik saja, lebih baik aku segera meninggalkan kota ini dan melanjutkan perjalanan.." Batin Wu Yi Feng.


Baru saja Wu Yi Feng hendak melangkah ketika matanya secara tidak sengaja mengangkap sebuah pemandangan yang membuatnya tertegun selama beberapa saat. Tidak jauh di depannya ada seorang pria yang sedang berjalan dengan bertelanjang dada, pria tersebut mempunyai tubuh kekar dan bertattoo.


Yang membuat Wu Yi Feng terdiam adalah sebuah tattoo yang ada di lengan kiri pria tersebut, Tatto bergambar tengkorak didalam sebuah tetesan air, Wu Yi Feng tahu dengan jelas bahwa itu adalah tanda keanggotaan dari perkumpulan bawah tanah yang bernama Persekutuan Darah.


Pemuda berusia 16 tahun tersebut menghela napas dalam dalam, niatnya untuk menghindari masalah nampaknya sulit terealisasikan. Kini mau tidak mau ia harus bertahan di kota ini untuk mencari tahu siapa pria tersebut.


Wu Yi Feng memutuskan untuk mengikuti pria misterius tersebut dari jauh, bagaimanapun ia sampai sekarang masih begidik ngeri mengingat pertarungan terakhirnya melawan salah seorang pengikut dari persekutuan darah.


Waktu itu nyawanya hampir saja melayang ditangan jenderal Huo Long, jika bukan karena bantuan teman - temannya saat ini ia pasti sudah mati. Seolah tidak ingin mengulang hal yang sama, kali ini Wu Yi Feng telah bersiap, dengan bermodalkan buku 1001 pengetahuan dan juga buku obat dan racun miliknya, Wu Yi Feng meracik sebuah pil yang hampir menyerupai pil Neraka.


Hanya saja pil buatannya tidak akan membawa efek samping seperti halnya pil neraka, pil yang diberi nama olehnya sebagai Pil Pembangkit Jiwa itu mampu mengeluarkan seluruh potensi yang ada pada diri seseorang hingga dalam tahapan maksimal, namun hanya bertahan selama kurang lebih lima menit, setelah menggunakan pil pembangkit jiwa seseorang hanya akan merasa sangat lemas karena seluruh energinya telah digunakan semuanya.


Dikarenakan bahan pembuat pil pembangkit jiwa sangat susah dicari, saat ini Wu Yi Feng hanya memiliki tiga butir pil tersebut, Wu Yi Feng masih terus mengikuti sosok misterius tersebut hingga sosok tersebut memasuki sebuah komplek rumah yang cukup besar dan luas.


Wu Yi Feng masuk ke kedai yang berada persis di samping komplek rumah untuk mencari info, kebetulan kedai tersebut juga sedang ramai saat ini.


"Tuan, mau pesan apa?" Seru pelayan kedai, ketika melihat Wu Yi Feng masuk dan duduk di salah satu kursi.


"Ambilkan seguci kecil arak terbaik kalian, dan juga seekor ayam panggang.." Jawab Wu Yi Feng seraya memberikan tiga koin perak kepada pelayan.


"Baik tuan muda, mohon ditunggu sebentar.." Pelayan kedai tersebut bergegas pergi ke dapur dengan wajah berseri seri.


"Hei tahukah kalian jika keluarga Lee saat ini sedang bersiap untuk melawan mereka - mereka yang memperotesnya..??" Ucap salah satu penduduk yang duduk tak jauh dari tempat Wu Yi Feng.