The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Berat Hati



Wu Yi Feng mengambil kedua pedang pendek milik lidah ular karena meskipun pedang pendek tersebut bukanlah termasuk senjata pusaka, namun racun yang telah dibalurkan ke sekujur bilahnya begitu mematikan dan Wu Yi Feng yakin suatu saat dirinya akan membutuhkan racun tersebut untuk menyiksa lawan - lawannya.


Sebelum mengejar ketiga anggota keluarga Huang, Wu Yi Feng putuskan untuk menggeledah rumah keluarga Huang terlebih dahulu dan mengambil apapun yang bisa diambil.


Selang beberapa saat menggeledah rumah yang cukup luas tersebut, ia berhasil mendapatkan beberapa cincin penyimpanan dimana didalamnya berisi banyak sekali koin emas dan juga lembaran cek dimana satu lembar cek bernilai minimal sepuluh ribu koin emas.


Setelah memastikan tidak ada lagi benda berharga di dalam rumah tersebut, Wu Yi Feng segera melayang dan membakar rumah besar tersebut hingga lebur tak bersisa.


"Hiyaaaa.. Hiyaaaa..."Sebuah kereta kuda membelah hutan dalam gelapnya malam, dimana didalamnya ada tiga orang laki - laki yang sedang duduk dengan gelisah.


"Kakak, apakah menurutmu lidah ular bersaudara sanggup mengatasi pemuda itu??"


"Apa kau meremehkan lidah ular bersaudara?? Mereka sudah mengikutiku selama bertahun - tahun, dan apa kau tahu jika mereka bisa membunuh seseorang hanya dengan satu telunjuknya yang begitu beracun.."


"A.. Aku tahu kak, kekejaman lidah ular bersaudara memang sudah melegenda.."


"Hahahaha... Kalau begitu apalagi yang kita takut.."


BOOOOOMMMMMM...


Belum sempat mereka menyelesaikan kata - kata mereka ketika sebuah ledakan yang cukup keras terdengar hingga membuat mereka terjungkal karena kereta yang mereka naikki hampir terguling.


"Kakak apa yang terjadi???"


"Entahlah, kalian berdua coba cek keluar.." Kakak tertua menyuruh kedua adiknya untuk turun karena setelah ia berteriak kepada kusir namun tidak ada jawaban.


"Tidak mau kak, siapa tahu ada binatang buas atau bahkan siluman."


PLAAAAKKKK...


Kakak tertua memukul kepala adiknya dengan cukup keras, "Kau ini, mau sampai kapan kau akan jadi seorang pengecut, kalian berdua cepat turun.."


"Ba.. Baik Kak.." Keduanya segera turun dari kereta kuda, baru saja mereka melangkah, mata keduanya sudah melotot karena di hadapan mereka terpampang suatu pemandangan yang mengerikan.


Sebuah lubang dengan diameter lebih dari 1 meter dan kedalaman lebih dari lima meter menganga di depan kereta yang saat ini tidak berkuda karena sang kuda tewas terpotong setengah bagian.


Kedua laki - laki yang berada di sana hanya bisa menahan napas melihat kuda mereka hanya tersisa bagian perut kebelakang, sedangkan bagian kepala dan kaki depan sudah hilang.


"Ka.. Kakak.. ayo kita segera pergi dari tempat ini.. Cepatttt..." Teriak mereka berdua.


"Ada apa? Kenapa kalian berteriak begitu kenca.." Si kakak tertua lagi - lagi tidak meneruskan kata - katanya karena melihat pemandangan mengerikan yang terhampar di hadapannya.


"Ke.. Kenapa bisa jadi seperti ini..?? Ayo kita lari.. Kita harus pergi dari tempat ini sejauh mungkin..!!!" Seru kakak tertua dari keluarga Huang.


"Ayo kak.. Cepat.."


Ketiganya mulai meninggalkan kereta kuda dan mulai berjalan dengan cepat, sementara itu Wu Yi Feng menatap ketiganya dengan tatapan yang tajam dan dingin dari puncak pohon.


"Sejauh apapun kalian pergi, aku pasti menemukan kalian..." Bisik Wu Yi Feng dengan menggunakan Qi hingga suaranya terdengar seperti desisan mengerikan di telinga ketiga orang tersebut.


"Ampun... Ampuni kami tuan pendekar yang baik hati.." Ketiganya segera bersujud memohon ampun begitu mendengar suara Wu Yi Feng.


"Apa yang bisa kalian berikan sebagai ganti nyawa kalian??" Wu Yi Feng mendarat secara perlahan tidak jauh dari tempat mereka bertiga berdiri.


"I.. Ini terimalah tuan pendekar.." Mereka bertiga maju satu persatu dan memberikan semua harta yang mereka miliki saat ini.


Wu Yi Feng tersenyum, ditangannya kini terkumpul lebih dari 10 cincin penyimpanan, dimana tiap cincinnya berisi banyak sekali harta dan juga tanaman bahan obat - obatan langka berusia ratusan hingga ribuan tahun.


"Ap.. Apa??"


"Tidak.. Tidaaaakkkkkk..."


"Jangaaaannnnnn...."


"Argggghhhhhh...."


Keesokan paginya, paman Xi terbangun tatkala mencium aroma yang luar biasa menggugah selera, pria paruh baya tersebut bergegas keluar dari kamar begitu selesai membersihkan diri.


"Selamat pagi paman, bagaimana tidurmu??"


"Cukup nyenyak, Feng'er apa yang sedang kau masak?? Kenapa aromanya begitu lezat??"


"Aku hanya memasak sup ayam ginseng dan juga madu sarang burung walet paman.."


"Benarkah?? Jangan bercanda.. Semua bahan yang kau ucapkan barusan begitu mahal.. Mana mungkin kita sanggup membelinya.."


"Kalau tidak percaya silahkan paman cicipi.." Wu Yi Feng menyingkir, supaya pamannya bisa maju dan mencicipi masakan buatannya.


"Srupppp...."


"Ahhh.. Rasa sup buatanmu benar - benar lezat dan segar.." Ucap paman Xi dengan raut wajah gembira bukan kepalang.


"Paman tunggu saja di meja makan, aku akan segera membawa semua kesana.."


"Baik - baik.. Hehehe.."


Keduanya segera menikmati hidangan tersebut, bahkan paman Xi sampai nambah berkali kali, Wu Yi Feng jadi tertawa karenanya.


"Paman terimalah, di dalamnya ada sedikit uang dan juga beberapa botol pil herbal.. Minumlah tiap hari supaya kesehatan paman tetap terjaga." Wu Yi Feng memberikan sebuah cincin penyimpanan kepada paman Xi.


"Apa ini? Aku tidak bisa menerimanya Feng'er.. Bawalah, paman masih memiliki tabungan.. Pakailah buat keseharianmu, kau masih muda tentu masih memerlukan banyak uang.." Paman Xi hendak menolak pemberian Wu Yi Feng, namun pemuda itu tidak kekurangan cara.


"Jika paman tidak mau menerimanya, aku akan marah.. Lagipula aku punya tabungan yang jauh lebih dari cukup untuk bekalku kedepan.." Tuturnya sambil memperagakan ekspresi marah.


"Hahahahaha.. Baiklah - baiklah akan paman terima.. Melihatmu tumbuh dengan sangat baik, paman sudah sangat bersyukur bahkan andai saja paman meninggal hari ini pun paman rela." Paman Xi menggenggam erat kedua tangan Wu Yi Feng sambil tersenyum hangat.


"Paman tidak boleh berkata seperti itu, paman pasti berumur panjang, lagipula paman belum melihat istri dan anakku."


"Ahh benar.. Baiklah, aku akan menunggumu sampai kau mengenalkan istri dan anakkmu padaku.. Hahahaha.." Paman Xi membelai punggung Wu Yi Feng dengan begitu lembut, membuat pemuda itu berat untuk meninggalkannya.


"Sekarang bersiap - siaplah, bukankah kau harus kembali ke sektemu?? Lebih baik berangkat sebelum siang supaya kau tidak kemalaman di hutan."


"Baiklah, kalau begitu aku akan siap - siap terlebih dahulu.." Wu Yi Feng balas menggenggam tangan paman Xi sebelum naik dan masuk ke kamarnya.


Di dalam kamar Wu Yi Feng mengambil satu buah jarum, lalu tanpa sepengetahuan paman Xi ia lemparkan jarum tersebut ke arah pamannya.


WHUSSSSS....


TRIIINNNGGGGGGG...


Jarum tersebut terpental, sejengkal sebelum mengenai tubuh paman Xi, Wu Yi Feng tersenyum karena itu berarti array pelindung yang ia pasang berhasil, dengan begini ia akan tenang meninggalkan paman Xi sendiri.